......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Minggu, 23 November 2008

Bibit Aren di Persemaian Nunukan Kaltim

Pembibitan Aren di Persemaian Nunukan Kaltim

Pak Daeng Lao dengan bibit Aren umur sekitar 2 bulan


Pak Daeng Lao dengan bibit Aren umur sekitar 4-6 bulan


Bibit Aren tahan banting meski lahan habis tergenang banjir


Bapak Ir. Purwanto, M.M.  Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Kalimantan Timur sedang memperhatikan bibit Aren di Persemaian Bibit Aren Nunukan


Bibit Aren yang berumur antara 4 - 6 bulan

Kamis, 20 November 2008

MENCARI INDUK POHON AREN YANG UNGGUL


Gambar-gambar penyiapan pengiriman bibit jarak jauh.


Bibit sebelum dikirim dicuci dulu, dilembabkan, dicelup di larutan fungisida, kemudian dibilas dan dicelupkan lagi dalam larutan nutrisi untuk masa pengiriman selama 4-7 hari.

MENCARI INDUK POHON AREN YANG UNGGUL


Oleh Dian Kusumanto

Ada kriteria unggul yang diinginkan oleh para penyadap nira Aren. Mungkin bisa agak berbeda dengan kriteria unggul yang diinginkan oleh perusahaan perkebunan Aren. Lalu kriteria mana yang akan kita pergunakan. Ya semuanya lah biar unggulnya bisa diakui oleh para penyadap sekaligus oleh perusahaan perkebunan. Oke, kalau begitu kita mulai saja dengan kriteria keunggulan yang diingini oleh para petani pemilik sekaligus sebagai penyadapnya yang memang menginginkan produksi air niranya yang unggul.

Mungkin Pak Sarman untuk sementara kita anggap bisa mewakili para petani pekebun Aren. Karena pengalamannya yang cukup panjang yang digelutinya setiap hari, maka pendapatnya bisa dijadikan referensi yang rasanya lebih alami dan apa adanya.  

Pertama. Tanaman Aren yang unggul syaratnya yang pertama adalah yang mudah disadap. Kalau susah disadap berarti pekerjaan yang rutin ini terasa akan menjengkelkan dan menyusahkan. Pohon Aren yang mudah disadap biasanya ditandai dengan tangkai tandan buahnya terasa agak lunak atau tidak terlalu keras, sehingga akan lebih mudah disayat.  

Tanda yang lain biasanya adalah kalau pokok batangnya disayat atau dilubangi sedikit saja sudah dapat mengeluarkan air nira. Itu berarti pohon Aren itu mudah disadap dan mudah mengeluarkan nira. Nantinya, kegiatan rutin penyayatan atau pengirisan ini dilakukan 2 (dua) kali sehari pagi dan sore, maka kalau tandannya keras dan sulit disayat akan sangat berpengaruh pada kenyamanan pekerjaan harian ini.  

Kerasnya tangkai tandan bunga bisa jadi disebabkan karena faktor genetis, artinya ada faktor keturunan dari nenek moyangnya. Namun mungkin juga karena faktor fisiologis biologis yang dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Kandungan unsur hara dan tingkat kemasaman tanah bisa sangat berpengaruh pada tingkat kekerasan tangkai tandan. Kelunakan jaringan tanaman biasanya sangat dipengaruhi oleh tersedianya secara cukup unsur N dan P tanah, yang mana ketersediaan dan tingkat absorsi oleh tanaman juga dipengaruhi oleh faktor fisik dan kemis tanah.

Kedua. Biasanya pokok batangnya besar dan tinggi dengan daunnya yang hijau lebat meskipun dia agak terlindung oleh pepohonan yang lain. Barangkali sifat ini dipengaruhi oleh tingkat respon tanaman terhadap hara disekitarnya. Kalau tanah tempat tumbuhnya subur dengan keadaan fisik dan kimia tanah yang normal, maka tanaman yang memang unggul juga akan tumbuh dengan batang yang besar dan pohon yang tinggi menjulang. Ada juga pohon yang meninggi karena pengaruh kurang cahaya matahari pada saat pertumbuhannya atau sering disebut sebagai etiolasi. Namun biasanya pohon yang mengalami etiolasi pokok batangnya agak kecil dengan ruas-ruas buku batangnya yang agak memanjang.  

Respon tanaman yang baik terhadap pemupukan akan menjadi kriteria bagi perusahaan perkebunan, karena nanti akan dilakukan pemupukan dan pemeliharaan yang intensif, sebagaimana sistem budidaya pada tanaman perkebunan yang lain. Berbeda dengan kondisi kebiasaan petani Aren kita sekarang ini yang tidak pernah melakukan pemupukan. Yang biasa dilakukan petani biasanya hanya membersihkan lingkungan di sekitar pohon Aren dari pohon-pohon lain yang melindunginya.

Ketiga. Tandannya berukuran besar dan panjang. Sebab ini berpengaruh pada banyaknya dan lamanya frekuensi penyadapan serta banyaknya nira yang bisa dikumpulkan. Tangkai yang panjang bisa disadap sampai dengan 7 bulan, tergantung dari keahlian dan kesabaran cara mengiris tangkai tandan dari penyadapnya. Tangkai tandan yang besar mempengaruhi banyaknya nira yang mengalir. Sehingga kalau tangkai tandan bunga ini selain besar juga panjang, maka hasil nira yang dihasilkan juga akan banyak volumenya dan periode penyadapannya akan lama. Oleh karena itu pohon yang unggul adalah pohon yang produksi niranya juga tinggi.

Semakin tipis sayatan atau irisan akan semakin lama pula tangkai tandan bisa mengeluarkan air nira. “Kalau bisa sayatannya setipis kertas”, kata Pak Sarman. Sayatan tipis sebenarnya hanya untuk menghilangkan jaringan pembuluh tapis tanaman yang tersumbat akibat dari pengaruh oksidasi atau bersentuhan dengan udara luar.  
Oksidasi yang terjadi menyebabkan browning (pencoklatan) pada jaringan terluar pembuluh yang teriris dan berhubungan dengan udara bebas.  

Apakah ada cara untuk menghambat proses tertutupnya pembuluh atau saluran kapiler nira ini? Barangkali dengan cara membuat vacum pada permukaan jaringan yang terbuka karena disayat atau diiris, tapi bagaimana caranya? Atau membuat alat pengiris yang dapat mengiris tangkai tandan itu setipis mungkin. Atau kombinasi antara alat vacum sekaligus dengan pisau pengirisan yang tipis. Mungkin nanti akan dibahas pada tulisan yang lain. InsyaAllah!

Keempat. Masa produksi panjang dan masa istirahat berproduksi pendek. Menurut beberapa petani yang ditemui penulis, sepertinya ada hubungan antara besarnya diameter batang pohon Aren dengan masa produksi dan masa istirahatnya. Pohon yang berbatang kecil biasanya tangkai tandan bunganya juga kecil dan pendek. Kalau tandannya pendek berarti masa produksi atau panen pendek, sedang masa istirahatnya lebih panjang.  

Kalau pohonnya besar biasanya akan mengeluarkan tangkai tandan bunga yang lebih besar dan panjang, sehingga masa sadapnya menjadi lebih lama dan masa istirahat atau masa menunggu munculnya tangkai tandan bunga yang siap disadap lebih pendek. Hal ini sebenarnya juga dipengaruhi oleh tingkat keahlian cara mengiris dari para penyadapnya serta tingkat kemudahan atau kelunakan tangkai tandan yang diiris.

Kelima. Perlakuan pemukulan untuk merangsang keluarnya nira tidak terlalu lama. Sebab ada pohon yang agak susah dan lama mengeluarkan air nira meskipun sudah dilakukan perlakuan pemukulan, dan perlakuan lainnya. Namun ada jenis pohon Aren yang gampang sekali mengeluarkan meskipun perlakuan pemukulannya belum terlalu lama. Respon terhadap perlakuan pemukulan perangsangan keluarnya air nira memang bisa tidak sama di berbagai tempat, sehingga ada kemungkinan di daerah yang pohon Arennya berkembang dan dimanfaatkan adalah yang gampang merespon perangsangan.  

Ada juga daerah yang banyak pohon Arennya namun penyadapnya kurang, mungkin disebabkan juga karena pohon sulit dirangsang dan sulit mengeluarkan nira. Namun ada juga yang sebaliknya, yaitu ada daerah yang banyak pohonnya banyak juga yang menyadap, hampir semua pohon dimanfaatkan.  

Perlakuan pemukulan ini sebenarnya bertujuan untuk merangsang terbukanya saluran kapiler, saluran menjadi longgar dan mampu di lewati air nira mulai dari pangkal tangkai tandan bunganya sampai ke ujungnya. Pemukulan dilakukan dengan bantuan alat pemukul dengan bentuk yang khas dan terbuat dari bahan kayu-kayuan tertentu. Alat pemukul ini cukup untuk memberi getaran-getaran tetapi tidak melukai atau membuat kulit tangkai tandan bunga menjadi seperti memar-memar.  

Ada juga petani yang selain melakukan pemukulan-pemukulan juga melakukan gerakan-gerakan pada tangkai tandan dengan arah ke kanan dan kekiri, ke atas dan ke bawah dengan berulang-ulang. Namun cara menggerakkan tangkai tandan tadi dilakukan agak lembut dan pelan dengan segenap perasaan dan pengharapan.  

Pada perkebunan besar bisa saja pekerjaan pemukulan dan perlakuan lain untuk merangsang keluarnya nira ini akan digantikan dengan alat khusus. Barangkali alat itu seperti alat getar untuk pemijatan yang dipasang pada tangkai tandan, yang secara periodik digetarkan sehingga seperti melakukan pemukulan ringan yang berulang-ulang. Alat ini juga bisa menggerakkan tangkai tandan ini atau meliukkan ke kanan dan ke kiri ke atas dan ke bawah. Bagaimana dengan listriknya? Mungkin menggunakan baterai saja.  

Perangsangan memang selalu dilakukan untuk setiap tangkai tandan bunga baru yang akan dipungut air niranya. Jadi frequensi perangsangan tangkai tandan ini mengikuti jumlah tandan yang keluar. Kalau dalam setahun rata-rata setiap pohon akan mengeluarkan tangkai tandan sebanyak 2-5 tandan. Jadi dalam setiap hektarnya dengan populasi tanaman 200 pohon, maka akan dilakukan perangsangan tangkai tandan pohon sebanyak 400 sampai 1000 kali/tahun/hektar. Angka yang besar sekali, apalagi kalau luasan kebunnya mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan hektar. Maka penciptaan alat untuk merangsang tangkai tandan bunga menjadi suatu yang strategis dalam pengembangan Aren skala luas.

Keunggulan pertama sampai dengan kelima adalah untuk pohon Aren yang diharapkan dalam produksi air niranya. Namun sebenarnya tanaman Aren juga bisa diharapkan dari hasil lainnya seperti ijuknya, kolang-kalingnya, sagunya, lidinya, dan lain-lainnya.

Mungkin ada lagi kriteria unggul yang lainnya, bagaimana menurut Anda?  

Bibit mini dibungkus dengan koran yang lembab.  Bibit akan tetap segar dan sehat bila tetap tertutup atau kedap, selalu lembab dan tidak kena angin atau cahaya matahari langsung.

Bibit mini ini berumur antara 2-4 bulan dari mulai kecambah. Dibungkus dengan koran yang berlapis agar kuat dan tetap segar selama pengiriman antara 4-7 hari.

Bibit mini dikemas dan dikirimkan dengan paket kiriman TIKI 

Senin, 03 November 2008

MENUJU SISTEM AGRIBISNIS AREN INDONESIA (SAAI) YANG EFEKTIF

MENUJU SISTEM AGRIBISNIS AREN INDONESIA (SAAI) YANG EFEKTIF
Oleh : Dian Kusumanto

Di dunia agribisnis kelapa sawit dikenal Sistem Agribisnis Kelapa Sawit Indonesia (SAKSI) dengan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) sebagai lokomotifnya. SAKSI idealnya adalah sebagai suatu sistem besar yang mengontrol arah pengembangan agribisnis kelapa sawit Indonesia saat ini. DMSI dengan mekanisme SAKSI idealnya dapat mengarahkan bisnis kelapa sawit Indonesia menjadi bisnis yang mampu menyejahterakan bangsa secara berkelanjutan (sustainable).

Belajar dari skema pengembangan komoditi kelapa sawit maka untuk pengembangan Aren adalah dengan skema Sistem Agribisnis Aren Indonesia (SAAI) yang dilokomotifi oleh Dewan Aren Indonesia (DAI) atau dengan nama Dewan Aren Nasional Indonesia (DANI). Tulisan terdahulu yang diusulkan adalah Dewan Aren Nasional (DAN), tapi apalah arti sebuah nama apakah DAN, DAI atau DANI, boleh-boleh saja, yang penting nanti adalah aksi-aksinya dalam membangun sistem agribisnis Aren berkembang dengan baik yang mampu menyejahterakan seluruh yang terlibat di dalamnya maupun dapat menyejahterakan bangsa Indonesia secara berkelanjutan.

Bagaimana model dari SAAI sebagai organisasi yang mampu mengarahkan agribisnis Aren menuju keunggulannya, maka pembentukan Dewan komoditas seperti DANI, DAI atau DAN sebagaimana amanat Undang-undang Perkebunan, perlu dibentuk lebih dulu. Perumusan SAAI mengarahkan agribisnis Aren mampu berkembang menghadapi dinamika perubahan lingkungan bisnis nasional, regional dan global yang berkelanjutan (sustainble), selanjutnya dapat mengentaskan kemiskinan dan permasalahan ekonomi lainnya di Indonesia, sehingga agribisnis Aren dapat menjadi penghela ekonomi nasional yang menyejahterakan para pelakunya.

Siapa saja yang seharusnya terlibat dalam Dewan Aren Nasional Indonesia (DANI)? (Sepertinya nama DANI lebih keren ya?! Oke selanjutnya kita pakai DANI saja). Idealnya seluruh stake holder dapat dilibatkan secara proporsional. Untuk efektivitas organisasi diperlukan tintervensi pada tingkat organisasi dengan melibatkan tiga pilar utama yang dinamakan ABG (academician, businessman dan government). ABG ini akan melaksanakan berbagai skema aksi yang masing-masing terpadu sehingga secara simultan mengarahkan pembangunan dan pengembangan agribisnis Aren ke GOAL atau tujuan yang diharapkan bersama.

Menyitir paparan Bapak Iyung Pahan dalam bukunya Kelapa Sawit, Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir, berbagai program yang dilaksanakan oleh triparted ABG itu ada 8 (delapan) skema aksi yang disebut sebagai 8P. Yang dimaksud 8 P itu adalah Program, Politik, People, Planet, Profit, Pengelolaan, Pemasaran dan Penelitian.

Government (pemerintah) berperan dalam skema aksi antara lain : Politik, People, Planet dan Profit yang dikemas dengan berbagai Program. Academician (akademisi atau Perguruan Tinggi) memfokuskan diri pada skema aksi Penelitian Aren. Sedangkan Businessman (Pengusaha, Pekebun, Petani, Pedagang, Koperasi) melaksanakan skema aksi Pengelolaan dan Pemasaran. Semua pelaku (ABG) ini akan bersama-sama patuh dalam skema aksi masing-masing dalam suatu Sistem Agribisnis Aren Indonesia (SAAI).

Ibarat suatu permainan musik dalam orkestra, maka simfoni suara alat musik yang dimainkan oleh para pemain musik mengalun mengikuti aransemen yang diciptakan oleh aranger yang sangat piawi dan profesional. Aranger dalam orkestra agribisnis Aren ini adalah DANI sedangkan aransemennya adalah SAAI. Pemain-pemain musiknya adalah para stake holder yang terlibat dalam komposisi ABG tadi, yang memainkan aransemen dengan pimpinan Sang Aranger.

Simfoni indah itu adalah agribisnis Aren yang mandiri, berdaya saing dan maju. Untuk dapat mandiri, berdaya saing dan maju, maka sistem yang dikembangkan harus dapat mengelola berbagai keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dari Agribisnis Aren ini. Bagaimana mengelola keunggulan-keunggulan Aren ini? Maka, ibarat intan maka untuk mencapai keindahan dan nilainya yang tinggi perlu diasah, dipoles, digosok sampai gemerlap.

Bagaimana menurut Anda, wahai Aren mania?

PROSPEK AREN DI TENGAH GONJANG GANJING KELAPA SAWIT

PROSPEK AREN DI TENGAH GONJANG GANJING KELAPA SAWIT

Oleh : Dian Kusumanto

Gejolak ekonomi global sedang terjadi. Mulanya adalah dari krisis keuangan lembaga bisnis perumahan di Amerika Serikat. Krisis yang sebenarnya hanya terjadi lokal di Amerika tersebut rupanya semacam fenomena gunung es. Yang sebenarnya terjadi adalah telah menurunnya ekonomi di Amerika Serikat paska era arogansinya sebagai polisi dunia, sehingga mempengaruhi kemampuan pembayaran kredit perumahan. Perusahaan perumahan adalah salah satu dari sekian banyak ‘gunung es’ yang muncul dahulu pada saat es atau salju penutupnya mulai mencair.

Kenapa efek tersebut sampai kepada bisnis kelapa sawit? Sebenarnya tidak hanya kelapa sawit yang terkena dampaknya tapi sangat luas, hanya di Indonesia kelapa sawit termasuk komoditi perkebunan yang paling menonjol, sehingga bisnis kelapa sawit menjadi korban imbas krisis yang paling besar.

Gonjang ganjing harga kelapa sawit ibarat kejadian atau fenomena tsunami yang terjadi pada Desember 2006 yang lalu. Pada awal gejala tsunami, air laut di pantai mengalami surut yang sangat jauh namun kemudian air laut itu kembali lagi tidak hanya ke bibir pantai tapi sampai jauh ke daratan. Semula keadaan harga sawit berangsur naik-naik terus sampai sangat tinggi dalam beberapa bulan, namun kemudian pada saat terjadinya krisis global sekarang ini harganya menurun. Menurunnya harga ini melampaui harga semula ‘bibir pantai’ , bahkan jatuh sampai sangat rendah seperti sekarang ini.

Pada saat semua orang tercengang dengan keadaan bisnis kelapa sawit banyak orang latah untuk ikut menanam atau berinvestasi. Jadi sifat emosional para pebisnis kita terpancing nalurinya untuk berbondong-bondong “berkelapa sawit ria”. Sayang naluri yang didasari sifat emosional dan ‘latah’ ini kemudian dikecewakan oleh tsunami harga kelapa sawit. Harusnya para investor bisa berhitung dan menghitung prospek, arah trend bisnis, dan potensi suatu komoditi berdasarkan perhitungan dan asumsi yang teruji dan akurat. Kalau berhitung dengan prospek, arah trend dan potensi suatu komoditi barangkali sikap emosional dan latah itu tidak banyak mengecewakan.

Kalau diperbandingkan antara kelapa sawit dengan Aren, maka sebenarnya Aren juga memiliki kelebihan-kelebihan dan keunggulan yang bisa mengalahkan kelapa sawit. Untuk menjadi komoditi utama program pengembangan komoditi perkebunan oleh swasta dan pemerintah di Indonesia, Aren mempunyai peluang yang sangat besar. Namun kenapa itu belum terjadi, beberapa alasannya sudah pernah diulas pada tulisan-tulisan yang lalu. Kelebihan dan keunggulan antara komoditi Aren dan kelapa sawit dalam hitungan bisnis masa depan disajikan berikut ini.

Persaingan komoditi dunia

Kelapa sawit termasuk komoditi bahan industri minyak nabati dan biofuel (biodiesel) yang dapat menyaingi peran kedele dan kacang tanah di Amerika, bunga matahari dan canola di Eropa, kelapa di Amerika Latin, Afrika dan beberapa negara Asia Selatan. Industri kelapa sawit pernah diserang oleh berbagai isu bahaya kesehatan tubuh (kanker) dari minyak sawit, isu lingkungan hidup, penebangan hutan atau gerakan eco labeling, dsb. Penyerangan dengan berbagai isu itu layaknya black campaign dari para pesaingnya seperti industri minyak kedelai, kacang tanah, minyak kelapa.

Kelapa sawit memang tidak salah menjadi pilihan pengembangan komoditi penghasil minyak yang diandalkan, sebab produktifitasnya yang sangat tinggi dibanding dengan komoditas penghasil minyak lainnya. Kelapa sawit ternyata memiliki berbagai keunggulan ekonomi yang cukup tinggi dan dengan dampak ekonomi yang sangat luas. Tabel di bawah ini membandingkan potensi produktivitas minyak nabati dari beberapa jenis tanaman dengan kelapa sawit.

Jenis tanaman -------------Produktifitas (kg/hektar/tahun)

Kelapa Sawit (+ inti) -------2.500 – 5.000 (sampai 6.000)
Kelapa --------------------- 600 – 1.500
Zaitun --------------------- 500 – 1.000
Jarak Pagar ---------------1.000 – 3.000
Bijan/ Wijen --------------- 340 – 1.000
Kacang tanah -------------- 340 – 440
Kedelai -------------------- 230 – 400
Rape ---------------------- 300 – 600
Safflower ------------------ 550 – 800
Bunga matahari ----------- 280 – 700

Dari tabel di atas terlihat kelapa sawit memiliki produktifitas paling tinggi diantara tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Oleh karena itu pantas kalau dulu menjadi andalan pilihan komoditas perkebunan yang mengalahkan jenis tanaman lainnya. Demikian juga dalam era bioenergi sekarang ini, kelapa sawit memiliki potensi untuk bahan baku biodiesel yang cukup besar. Bahkan pilihan kepada kelapa sawit ini juga didasari karena indutri hulunya yang sangat luas yaitu industri oleo pangan, oleo kimia, industri barang jadi sampai dengan industri bioenergi.

Sebenarnya produk kelapa sawit sangat fleksibel pada industri hilirnya. Namun sayang, di Indonesia industri hilir kelapa sawit masih belum sehebat hasil CPOnya, sehingga nilai tambahnya belum sehebat yang dirasakan oleh negeri tetangga kita, meskipun jumlah produksi CPOnya sama atau bahkan sudah lebih besar. Inilah yang mungkin menyebabkan gonjang-ganjing harga terjadi. CPO adalah barang ekspor untuk bahan mentah untuk berbagai industri hilir di luar negeri. Indonesia sangat terpengaruh oleh keadaan industri pengolahan CPO di luar negeri, krisis ekonomi menyebabkan permintaan CPO menurun drastis, maka berakibat pada harga CPO yang merosot tajam.

Barangkali kondisi gejolak harga tidak akan terlalu parah seandainya CPO itu lebih banyak diolah di dalam negeri. Tumbuhnya industri besar dan industri menengah dan kecil di bidang pengolahan TBS dan CPO (industri Oleo pangan, Oleo Industri, Industri berbahan baku oleo kelapa sawit sampai dengan industri bio energi), akan mengungkit produktifitas dan aktifitas ekonomi riil yang berdampak sangat luas. Namun sayang keadaan itu belum seluruhnya terjadi di daerah-daerah penghasil minyak kelapa sawit di Indonesia. Harusnya palm oil cluster industry muncul di mana-mana sentra perkebunan kelapa sawit itu berada.

Belajar dari kekurangan-kekurangan pada program pengembangan komoditi kelapa sawit di atas, menjadi pelajaran untuk program pengembangan Aren di berbagai daerah se Indonesia. Artinya Aren cluster industry harus menyatu dalam pengembangan perkebunan Aren. Dalam sekala kecil pun seharusnya kita juga mengarahkan perkebunan Aren berkembang diiringi dengan industri pengolahan Aren terpadu. Harus ada alur proses dan alur kemitraan dari perkebunan yang dikelola masyarakat, pekebun kecil dan menengah dengan industri pengolahan yang berskala kecil, menengah sampai besar.

Justru disinilah peran pemerintah di Pusat sampai di daerah-daerah, yaitu memayungi seluruh stake holder dalam skema kebersamaa dalam menghadapi situasi pasar global. Jangan sampai terjadi, bahwa pemerintah daerah sampai pusat malah yang membuat kesalahan-kesalahan yang menyebabkan iklim investasi komoditas dengan regulasi-regulasi yang kontra produktif.

Bagaimana peran dan potensi Aren?

Di beberapa tulisan terdahulu potensi ekonomi Aren sudah banyak ditulis, bahkan potensinya dapat mengungguli berbagai komoditi sejenis lainnya, bahkan mengungguli komoditi kelapa sawit. Kelapa sawit bisa jadi paling unggul dibandingkan komoditi sejenisnya (seperti tabel di atas). Namun bagaimana kalau dibandingkan dengan Aren? Mari kita hitung dimana keunggulan-keunggulan potensial dari Aren dibandingkan kelapa sawit.

Tabel jenis komoditi, hasil olahan, produktifitas (per hektar per tahun) dan nilai devisa yang dihasilkan.

Komoditi ---------Hasil Olahan --Provitas (/ha/th) --Harga (Rp/kg) --Nilai (Rp/ha/th)

Kelapa Sawit -----TBS ------------15 – 25 ton ------------1.000 -------------15 – 25 juta
----------------------------------------------------------------- 750 --------------11,25 – 18,75 juta
------------------------------------------------------------------500 --------------7,5 – 12,5 juta
----------------------CPO ------------3 – 5 ton --------------6.000 -------------18 – 30 juta
----------------------------------------------------------------4.000 -------------12 – 20 juta
----------------------------------------------------------------3.000 --------------9 - 15 juta
----------------------------------------------------------------2.000 --------------6 - 10 juta

--------------------Biodiesel --------3 – 5 ton -------------4.000 -------------12 – 20 juta
----------------------------------------------------------------5.000 -------------15 – 25 juta
----------------------------------------------------------------6.000 -------------18 – 30 juta

Aren -------------Gula Aren -------36 – 72 ton ----------4.000 -------------124 – 248 juta
------------------(Gula Putih) ----------------------------- 5.000 -------------180 – 360 juta
---------------------------------------------------------------- 8.000 ------------248 - 496 juta
---------------------------------------------------------------10.000 ------------360 – 720 juta
------------------Bioethanol -------21,6 – 43,2 ton ------- 6.000 ------------129,6 – 259,2 juta
---------------------------------------------------------------- 8.000 ------------172,8 – 345,6 juta
--------------------------------------------------------------- 10.000 ----------- 216 - 432 juta
--------------------------------------------------------------- 12.000 ----------- 259,2 – 518,4 juta



Di lihat dari estimasi potensi hasil devisa dari tabel di atas, maka pada hitungan yang paling rendah di Aren dibandingkan yang paling tinggi di kelapa sawit, keunggulan Aren masih jauh lebih besar. Potensi hasil nilai rupiah kelapa sawit tertinggi adalah Rp 30 juta/ha/tahun, sedangkan Aren pada nilai terendah Rp 124 juta/ha/tahun. Bisa dikatakan perbandingan nilainya adalah 1 berbanding 4, kelapa sawit 1 dan Aren 4. Jadi Aren punya potensi ekonomi paling rendah adalah 4 kali lipatnya kelapa sawit. Kalau dibandingkan dengan nilai tertinggi Aren yang mencapai Rp 518 juta, maka angka perbandingannya menjadi 1 : 17, artinya keunggulan Aren adalah 17 kali lipatnya kelapa sawit.

Angka-angka di atas masih bisa disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi sebenarnya, artinya fluktuasi nilai kelipatan itu bisa sangat bervariasi. Silakan disesuaikan dengan angka-angka asumsi yang berlaku pada keadaan lainnya. Namun yang jelas prospek Aren terbukti masih lebih unggul dinilai dari potensi hasil dengan asumsi-asumsi sementara yang terjadi sekarang ini. Tetapi bagaimana kalau kondisinya sudah berubah.

Pada saat Aren sudah berkembang dengan pesatnya nanti, mungkin pada hitungan 10 sampai 15 tahun lagi, pada saat perkebunan Aren sudah mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu hektar. Nanti komoditi Aren akan bersaing dengan komoditi lain di pasar dunia. Industri gula dunia akan mengalami pergolakan dan dinamika yang cukup hebat. Aren sebagai komoditi penghasil gula paling potensial akan bersaing dengan komoditi tebu, jagung, bit, ubi-ubian, sorgum, dll.

Gula dari Aren akan bersaing dengan gula dari tebu, gula dari jagung, dari bit, gula dari ubi-ubian dan sorgum. Dalam kancah persaingan yang ketat, maka faktor efesiensi dan komparasi nilai lebih suatu produk akan membantu kekuatan dalam persaingan. Campur tangan politik global juga akan mewarnai kompetisi ini, namun pemenangnya pasti yang mempunyai keunggulan komparatif di berbagai hal. Oleh karena itu skema pengembangan Aren harus juga memberi trend kepada arah keunggulan komparatif itu. Artinya semua pihak yang terlibat (seluruh stake holder) pada komoditi Aren ini harus bersatu padu untuk membangun keunggulan komparatif ini.

Artinya pengembangan Aren dari awalnya haruslah dikontrol sedemikian rupa agar tetap dalam skema kerja pengembangan dan pembangunan yang mengarah pada keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif secara global. Seandainya nanti akan terjadi tsunami ekonomi global, dengan berbagai keunggulannya bisnis Aren tidak akan terpuruk seperti keadaan bisnis kelapa sawit sekarang ini. Oleh karenanya Dewan Aren Nasional diharapkan bisa menjadi lokomotif penggerak pengembangan Aren menuju keunggulannya.

Bagaimana menurut Anda?

PRODUKTIVITAS NIRA DAN FREQUENSI SADAPAN POHON AREN


PRODUKTIVITAS NIRA DAN FREQUENSI SADAPAN POHON AREN

Oleh : Dian Kusumanto

Lama tidak mengunjungi kebun Aren rasanya memang merindukan. Minggu pagi tadi akhirnya kesempatan itu menjadi takdirNya. Ada pelajaran yang menarik dari Sang Guru Aren saya, yaitu Bapak Sarman, seorang petani, penyadap nira Aren yang setiap hari selama puluhan tahun berakrab dengan pohon Aren. Sulitnya medan menuju kebun tidak menyurutkan langkah saya. Biasa, seperti di daerah lain juga, populasi pohon Aren selalu tumbuh berkembang di tempat yang jauh dari pemukiman.

Beliau masih seperti beberapa bulan yang lalu, masih energik dan selalu bersemangat kalau penulis datang. Saya mengabarkan kalau di Majalah Tani Merdeka ada publikasi tentang Aren, yang gambarnya dulu diambil di kebun itu. Waktu itu sang wartawan yaitu Mas Ardi Winangun dan sang fotografernya Mas Mustafa Kemal cukup lama mewancarai dan membuat foto di kebunnya.

Pagi tadi saya sengaja bertemu untuk menanyakan beberapa hal yang sebenarnya adalah pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Pertanyaan yang datangnya dari beberapa pembaca atau pengunjung blog ini melalui alamat email saya. Ternyata jawaban dari Sang Guru Aren ini menjadi pengetahuan yang baru bagi penulis, dan kami ingin memaparkan disini mudahan juga bermanfaat bagi para Aren mania. (memangnya fans sepakbola apa?!)

Gambar : Pak Sarman didampingi anaknya sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan penulis.

Pertanyaan 1 : Untuk suatu keperluan, bisakah penyadapan Aren dihentikan selama 36 jam, atau baru 36 jam kemudian disadap lagi ?

Jawaban Pak Sarman : Tidak bisa. Kalau 24 jam masih memungkinkan, artinya jika awalnya disadap jam 06 pagi maka bila sore tidak disadap dan baru besok yaitu jam 06 pagi hari berikutnya baru disadap, masih bisa. Sebenarnya yang ideal itu 12 jam sekali atau 2 kali dalam sehari, yaitu pagi hari antara jam 06 pagi sampai jam 08 pagi, kemudian sore antara jam 05 sore sampai jam 06 sore.
Kalau kita terlambat mengiris batang tangkai bunga sadapan, maka biasanya air nira akan menjadi lambat keluarnya. Air nira yang semula mengalir deras lama-kelamaan berkurang alirannya dan kemudian menetes-netes saja. Apabila terlalu lama kemudian berhenti menetes.

Kenapa berhenti menetes ? Pada ujung batang tangkai bunga sadapan itu ada semacam saluran-saluran air nira yang sangat kecil yang kemudian tertutup, tersumbat oleh air nira yang kemudian seperti mengental. Air nira yang seperti mengental inilah yang menyebabkan nira hanya menetes-netes atau bahkan berhenti menetes karena tidak sanggup melewati saluran kapiler (pembuluh tapis atau phloem-red) yang ada di batang tangkai bunga sadapan.

Seperti apa rupa air nira yang mengental itu?

Air nira yang mengental itu sepertinya ia membawa partikel tepung dari dalam batang aren. Seolah-olah, karena aliran air nira terhambat, maka tekanan air nira menguat sehingga dapat membawa tepung pati batang aren seolah mengaduk dan terlarut di aliran air nira. Partikel tepung yang bercampur dengan air nira menyebabkan massa air nira menjadi mengental dan alirannya melambat. Lama kelamaan seperti menumpuk dan menyumbat sehingga aliran air nira menjadi terhenti.

Apa akibatnya kalau ini berlangsung lama?

Kalau berlangsung terlalu lama akan dapat merusak saluran kapiler air nira, ibarat bagian tubuh manusia yang terpotong yang akhirnya membusuk sedikit-demi sedikit. Kalau terlalu lama akhirnya batang tangkai bunga tersebut tidak bisa lagi mengeluarkan air nira, karena saluran kapilernya sudah rusak dipenuhi oleh partikel air nira aren yang mengental dan sulit dikeluarkan dari saluran kapiler itu.

(Sebenarnya saya sedang membayangkan, kalau suatu saat nanti perkebunan aren sudah mulai produksi, saya ingin meliburkan tenaga kerja (karyawan) penyadapan libur selama 36 jam, begitu lho?!)

Kalau begitu ya diatur saja dari pergantian tenaga kerjanya, jangan mengorbankan pohon nira arennya. Karena kalau produksinya terhenti kita mesti menunggu lagi munculnya tandan bunga selanjutnya atau di bawahnya. Itu pun kita masih khawatir, kalau-kalau macetnya aliran air nira pada batang tangkai bunga di atasnya berpengaruh pada tangkai yang di bawahnya seterusnya. Jadi pohon bisa tidak berproduksi nira lagi.

Kok akibatnya bisa begitu?

Bisa saja terjadi pengaruh yang melebar akibat tidak kita sadapnya air nira yang macet tadi, tangkai-tangkai tandan yang di bawahnya tidak mau mengeluarkan niranya. Kalau sudah begitu kerugiannya menjadi sangat banyak, sebab yang semestinya setiap tangkai bisa disadap sampai 3 bulan, kadang bisa sampai 7 bulan itu macet berproduksi.

(Sayang sekali memang! Kalau sehari 10 liter saja berapa ruginya, 10 liter kali 3 sampai 7 bulan kali 30 hari, berarti kerugiannya sekitar antara 900 sampai 2100 liter nira. Wah.. banyak sekali ! Iya memang sayang sekali, kalau di Nunukan ini 1 bolol Aqua besar (isi 1,5 liter) nira dihargai Rp 4.000,- per botol. Kalau 900 liter berarti ada 600 botol, kalau 2100 liter berarti ada 1400 botol dikalikan Rp 4000,-, berarti kerugiannya antara Rp 2,4 juta sampai dengan Rp 5,6 juta setiap tangkai bunga yang tidak disadap).

Memang setiap tangkai bisa disadap sampai lama begitu ?

Bisa, tergantung keahlian para penyadap, selain itu tergantung juga dengan pisaunya. Pisau sadap harus tajam sekali dan mengirisnya harus ahli dan sabar, sehingga mengirisnya sangat tipis sekali. Kalau bisa setipis kertas. Kalau begitu bisa sampai 7 bulan, seperti orang tua saya dulu. (Rupanya dulu orang tua Pak Sarman sering membantu menyadap pada saat Pak Sarman ada keperluan yang lain).

(Ternyata orang tua Pak Sarman pada waktu di kampungnya dulu, yaitu di Enrekang Sulsel, adalah penyadap nira pohon Aren. Karena memang daerah Enrekang itu banyak sekali pohon Aren).

Sebenarnya apa saja yang membuat penyadapan tangkai bunga berlangsung lama?

Ya tergantung dari panjangnya tangkai bunganya itu sendiri serta keahlian orang yang menyadap. Jadi, pohon yang subur yang berbatang besar dan tinggi dengan daun yang hijau segar dan banyak, akan mengeluarkan tangkai bunga dengan ukuan besar dan panjang. Semakin panjang dan besar tangkai bunga, akan semakin banyak pula nira yang dikeluarkan. Pohon yang berbatang kecil biasanya tangkai tandan bunganya juga akan kecil dan pendek, seandainya tangkainya besar dia akan pendek juga. Artinya batang yang kokoh besar dengan daun yang hijau segar berpengaruh terhadap produksi air niranya nanti.

Bagaimana dengan pohon Aren yang pendek atau pohon Aren genjah?

Memang ada pohon Aren yang pendek, yang umurnya juga agak cepat. Barangkali sekitar 5 tahun sudah bisa diambil hasilnya. Pohon genjah demikian biasanya juga umur produktifnya juga tidak terlalu lama, tidak seperti yang pohonnya tinggi. Jumlah ruas-ruas daunnya juga lebih sedikit, berarti jumlah calon tandan bunganya juga sedikit. Selain itu biasanya tandan bunganya juga tidak terlalu panjang, sehingga penyadapannya juga tidak akan lama.

(Berarti pohon Aren Genjah potensi produksinya juga akan lebih sedikit dibandingkan dengan yang berumur panjang).

Kembali kepada kasus air nira yang mengental. Bagaimana cara untuk memperbaiki keadaan ini?

Air nira mengental memang bisa saja terjadi pada saat awal penyadapan. Setelah perlakuan pemukulan yang berturut-turut (periodik) dilakukan, kemudian tangkai bunga Aren menunjukan tanda-tanda sudah bisa mengeluarkan air nira. Maka mulailah kita mengiris tandan bunga pada tangkai paling ujung. Adakalanya air nira mengalir langsung dengan keadaan encer dan bagus, namun adakalanya juga air nira agak mengental. Kalau begitu kita harus melakukan beberapa perlakuan agar niranya kembali encer dan lancar mengalirnya.

Ada cara yang biasa dilakukan Pak Sarman dan para penyadap Aren di Nunukan, yang merupakan ilmu pengetahuan yang diturunkan dari orang tuanya terdahulu di kampungnya di Enrekang Sulsel. Caranya cukup sederhana, yaitu :

Cara yang pertama dengan menggunakan kunyit. Kunyit dipotong kemudian pada bekas potongannya itu digosok-gosokkan pada bekas luka sayatan sadap pada tangkai bunga Aren. Menggosok bekas luka sayatan ini dilakukan dengan cara mengiris sayatan baru dan kemudian menggosoknya dengan kunyit. Ini dilakukan berulang-ulang pagi dan sore sebagaimana jadwal penyadapan. Untuk penyembuhannya kadang memerlukan waktu sampai 4 (empat) hari. Namun sebelunya perlu dilakukan juga upaya pembersihan atau pencucian wadah penampung nira Aren. Kalau perlu dicuci dengan pasir agar bersih sekali dan tidak meninggalkan bekas dan dibilas dengan air panas. (Kalau bahasa ilmiahnya disterilisasi).

Cara kedua, bisa dengan menggunakan daun sirih yang dilumatkan kemudian digosok-gosokkan pada bekas sayatan sadap di tangkai bunga Aren tadi. Dua cara ini bisa dipilih salah satunya, tergantung bahan mana yang lebih mudah diperoleh. Sama caranya dengan yang menggunakan kunyit tadi, yaitu dilakukan penggosokan dengan daun sirih pada bekas luka irisan sadap pada setiap pagi dan sore. Upaya ini dilakukan sampai sembuh, yang ditandai bahwa nira kembali mengalir lancar dan encer. Hal ini biasanya memerlukan waktu sekitar 4 (empat) hari.

Cara yang ketiga adalah dengan mencari rumput alang-alang, kemudian dipilin-pilin menjadi agak panjang dan diikatkan di batang pohon. Cara ketiga ini menurut Pak Sarman biasa dilakukan bersamaan dengan cara penggosokan di atas. Alang-alang yang sudah dipilin memanjang tadi biasanya diikatkan pada batang pohon tidak jauh dari tangkai bunga yang mengalami masalah tadi. Bisa pada sisi atas, bisa juga pada sisi bawah dari tangkai bunganya.


Cara yang keempat. Ada juga petani lain yang menyarankan untuk melakukan melubangi batang pohon di bagian bawahnya. Alasannya agar pati sagu tidak ikut keluar bersama nira, yang akhirnya menyebabkan nira menjadi mengental. Menurut Pak Sarman, air nira yang terkumpul biasanya agak pekat dan menyisakan endapan yang terasa seperti tepung sagu yang licin kalau diremas dengan jari. Lubang yang dibuat tidak terlalu lebar dan tidak terlalu dalam, cukup untuk bisa memberi jalan keluar bagi ‘sagu’ yang berlebih. Ini merupakan cara terakhir yang sebenarnya Pak Sarman belum pernah melakukannya.

Apakah “penyakit” air nira mengental ini dialami oleh setiap pohon?

Tidak. Tidak setiap pohon mengalami gangguan ini. Yang sering terjadi, adalah karena wadah penampungan itu kotor (terkontaminasi-red). Wadah air nira yang kotor bisa menyebabkan air nira mengental. Cara mengatasinya yang dengan menggunakan cara-cara di atas, sekaligus dengan membersihakan wadah penampung nira, dengan cara dicuci yang bersih bahkan dengan menggunakan pasir atau serbuk abu dapur dan dibilas dengan air panas. Jangan lupa menggosok-gosok luka bekas irisan sadap itu dengan kunyit atau daun sirih serta mengikatkan alang-alang sebagai tanda pohon yang sedang bermasalah.

(Bersambung)