......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Senin, 03 November 2008

PROSPEK AREN DI TENGAH GONJANG GANJING KELAPA SAWIT

PROSPEK AREN DI TENGAH GONJANG GANJING KELAPA SAWIT

Oleh : Dian Kusumanto

Gejolak ekonomi global sedang terjadi. Mulanya adalah dari krisis keuangan lembaga bisnis perumahan di Amerika Serikat. Krisis yang sebenarnya hanya terjadi lokal di Amerika tersebut rupanya semacam fenomena gunung es. Yang sebenarnya terjadi adalah telah menurunnya ekonomi di Amerika Serikat paska era arogansinya sebagai polisi dunia, sehingga mempengaruhi kemampuan pembayaran kredit perumahan. Perusahaan perumahan adalah salah satu dari sekian banyak ‘gunung es’ yang muncul dahulu pada saat es atau salju penutupnya mulai mencair.

Kenapa efek tersebut sampai kepada bisnis kelapa sawit? Sebenarnya tidak hanya kelapa sawit yang terkena dampaknya tapi sangat luas, hanya di Indonesia kelapa sawit termasuk komoditi perkebunan yang paling menonjol, sehingga bisnis kelapa sawit menjadi korban imbas krisis yang paling besar.

Gonjang ganjing harga kelapa sawit ibarat kejadian atau fenomena tsunami yang terjadi pada Desember 2006 yang lalu. Pada awal gejala tsunami, air laut di pantai mengalami surut yang sangat jauh namun kemudian air laut itu kembali lagi tidak hanya ke bibir pantai tapi sampai jauh ke daratan. Semula keadaan harga sawit berangsur naik-naik terus sampai sangat tinggi dalam beberapa bulan, namun kemudian pada saat terjadinya krisis global sekarang ini harganya menurun. Menurunnya harga ini melampaui harga semula ‘bibir pantai’ , bahkan jatuh sampai sangat rendah seperti sekarang ini.

Pada saat semua orang tercengang dengan keadaan bisnis kelapa sawit banyak orang latah untuk ikut menanam atau berinvestasi. Jadi sifat emosional para pebisnis kita terpancing nalurinya untuk berbondong-bondong “berkelapa sawit ria”. Sayang naluri yang didasari sifat emosional dan ‘latah’ ini kemudian dikecewakan oleh tsunami harga kelapa sawit. Harusnya para investor bisa berhitung dan menghitung prospek, arah trend bisnis, dan potensi suatu komoditi berdasarkan perhitungan dan asumsi yang teruji dan akurat. Kalau berhitung dengan prospek, arah trend dan potensi suatu komoditi barangkali sikap emosional dan latah itu tidak banyak mengecewakan.

Kalau diperbandingkan antara kelapa sawit dengan Aren, maka sebenarnya Aren juga memiliki kelebihan-kelebihan dan keunggulan yang bisa mengalahkan kelapa sawit. Untuk menjadi komoditi utama program pengembangan komoditi perkebunan oleh swasta dan pemerintah di Indonesia, Aren mempunyai peluang yang sangat besar. Namun kenapa itu belum terjadi, beberapa alasannya sudah pernah diulas pada tulisan-tulisan yang lalu. Kelebihan dan keunggulan antara komoditi Aren dan kelapa sawit dalam hitungan bisnis masa depan disajikan berikut ini.

Persaingan komoditi dunia

Kelapa sawit termasuk komoditi bahan industri minyak nabati dan biofuel (biodiesel) yang dapat menyaingi peran kedele dan kacang tanah di Amerika, bunga matahari dan canola di Eropa, kelapa di Amerika Latin, Afrika dan beberapa negara Asia Selatan. Industri kelapa sawit pernah diserang oleh berbagai isu bahaya kesehatan tubuh (kanker) dari minyak sawit, isu lingkungan hidup, penebangan hutan atau gerakan eco labeling, dsb. Penyerangan dengan berbagai isu itu layaknya black campaign dari para pesaingnya seperti industri minyak kedelai, kacang tanah, minyak kelapa.

Kelapa sawit memang tidak salah menjadi pilihan pengembangan komoditi penghasil minyak yang diandalkan, sebab produktifitasnya yang sangat tinggi dibanding dengan komoditas penghasil minyak lainnya. Kelapa sawit ternyata memiliki berbagai keunggulan ekonomi yang cukup tinggi dan dengan dampak ekonomi yang sangat luas. Tabel di bawah ini membandingkan potensi produktivitas minyak nabati dari beberapa jenis tanaman dengan kelapa sawit.

Jenis tanaman -------------Produktifitas (kg/hektar/tahun)

Kelapa Sawit (+ inti) -------2.500 – 5.000 (sampai 6.000)
Kelapa --------------------- 600 – 1.500
Zaitun --------------------- 500 – 1.000
Jarak Pagar ---------------1.000 – 3.000
Bijan/ Wijen --------------- 340 – 1.000
Kacang tanah -------------- 340 – 440
Kedelai -------------------- 230 – 400
Rape ---------------------- 300 – 600
Safflower ------------------ 550 – 800
Bunga matahari ----------- 280 – 700

Dari tabel di atas terlihat kelapa sawit memiliki produktifitas paling tinggi diantara tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Oleh karena itu pantas kalau dulu menjadi andalan pilihan komoditas perkebunan yang mengalahkan jenis tanaman lainnya. Demikian juga dalam era bioenergi sekarang ini, kelapa sawit memiliki potensi untuk bahan baku biodiesel yang cukup besar. Bahkan pilihan kepada kelapa sawit ini juga didasari karena indutri hulunya yang sangat luas yaitu industri oleo pangan, oleo kimia, industri barang jadi sampai dengan industri bioenergi.

Sebenarnya produk kelapa sawit sangat fleksibel pada industri hilirnya. Namun sayang, di Indonesia industri hilir kelapa sawit masih belum sehebat hasil CPOnya, sehingga nilai tambahnya belum sehebat yang dirasakan oleh negeri tetangga kita, meskipun jumlah produksi CPOnya sama atau bahkan sudah lebih besar. Inilah yang mungkin menyebabkan gonjang-ganjing harga terjadi. CPO adalah barang ekspor untuk bahan mentah untuk berbagai industri hilir di luar negeri. Indonesia sangat terpengaruh oleh keadaan industri pengolahan CPO di luar negeri, krisis ekonomi menyebabkan permintaan CPO menurun drastis, maka berakibat pada harga CPO yang merosot tajam.

Barangkali kondisi gejolak harga tidak akan terlalu parah seandainya CPO itu lebih banyak diolah di dalam negeri. Tumbuhnya industri besar dan industri menengah dan kecil di bidang pengolahan TBS dan CPO (industri Oleo pangan, Oleo Industri, Industri berbahan baku oleo kelapa sawit sampai dengan industri bio energi), akan mengungkit produktifitas dan aktifitas ekonomi riil yang berdampak sangat luas. Namun sayang keadaan itu belum seluruhnya terjadi di daerah-daerah penghasil minyak kelapa sawit di Indonesia. Harusnya palm oil cluster industry muncul di mana-mana sentra perkebunan kelapa sawit itu berada.

Belajar dari kekurangan-kekurangan pada program pengembangan komoditi kelapa sawit di atas, menjadi pelajaran untuk program pengembangan Aren di berbagai daerah se Indonesia. Artinya Aren cluster industry harus menyatu dalam pengembangan perkebunan Aren. Dalam sekala kecil pun seharusnya kita juga mengarahkan perkebunan Aren berkembang diiringi dengan industri pengolahan Aren terpadu. Harus ada alur proses dan alur kemitraan dari perkebunan yang dikelola masyarakat, pekebun kecil dan menengah dengan industri pengolahan yang berskala kecil, menengah sampai besar.

Justru disinilah peran pemerintah di Pusat sampai di daerah-daerah, yaitu memayungi seluruh stake holder dalam skema kebersamaa dalam menghadapi situasi pasar global. Jangan sampai terjadi, bahwa pemerintah daerah sampai pusat malah yang membuat kesalahan-kesalahan yang menyebabkan iklim investasi komoditas dengan regulasi-regulasi yang kontra produktif.

Bagaimana peran dan potensi Aren?

Di beberapa tulisan terdahulu potensi ekonomi Aren sudah banyak ditulis, bahkan potensinya dapat mengungguli berbagai komoditi sejenis lainnya, bahkan mengungguli komoditi kelapa sawit. Kelapa sawit bisa jadi paling unggul dibandingkan komoditi sejenisnya (seperti tabel di atas). Namun bagaimana kalau dibandingkan dengan Aren? Mari kita hitung dimana keunggulan-keunggulan potensial dari Aren dibandingkan kelapa sawit.

Tabel jenis komoditi, hasil olahan, produktifitas (per hektar per tahun) dan nilai devisa yang dihasilkan.

Komoditi ---------Hasil Olahan --Provitas (/ha/th) --Harga (Rp/kg) --Nilai (Rp/ha/th)

Kelapa Sawit -----TBS ------------15 – 25 ton ------------1.000 -------------15 – 25 juta
----------------------------------------------------------------- 750 --------------11,25 – 18,75 juta
------------------------------------------------------------------500 --------------7,5 – 12,5 juta
----------------------CPO ------------3 – 5 ton --------------6.000 -------------18 – 30 juta
----------------------------------------------------------------4.000 -------------12 – 20 juta
----------------------------------------------------------------3.000 --------------9 - 15 juta
----------------------------------------------------------------2.000 --------------6 - 10 juta

--------------------Biodiesel --------3 – 5 ton -------------4.000 -------------12 – 20 juta
----------------------------------------------------------------5.000 -------------15 – 25 juta
----------------------------------------------------------------6.000 -------------18 – 30 juta

Aren -------------Gula Aren -------36 – 72 ton ----------4.000 -------------124 – 248 juta
------------------(Gula Putih) ----------------------------- 5.000 -------------180 – 360 juta
---------------------------------------------------------------- 8.000 ------------248 - 496 juta
---------------------------------------------------------------10.000 ------------360 – 720 juta
------------------Bioethanol -------21,6 – 43,2 ton ------- 6.000 ------------129,6 – 259,2 juta
---------------------------------------------------------------- 8.000 ------------172,8 – 345,6 juta
--------------------------------------------------------------- 10.000 ----------- 216 - 432 juta
--------------------------------------------------------------- 12.000 ----------- 259,2 – 518,4 juta



Di lihat dari estimasi potensi hasil devisa dari tabel di atas, maka pada hitungan yang paling rendah di Aren dibandingkan yang paling tinggi di kelapa sawit, keunggulan Aren masih jauh lebih besar. Potensi hasil nilai rupiah kelapa sawit tertinggi adalah Rp 30 juta/ha/tahun, sedangkan Aren pada nilai terendah Rp 124 juta/ha/tahun. Bisa dikatakan perbandingan nilainya adalah 1 berbanding 4, kelapa sawit 1 dan Aren 4. Jadi Aren punya potensi ekonomi paling rendah adalah 4 kali lipatnya kelapa sawit. Kalau dibandingkan dengan nilai tertinggi Aren yang mencapai Rp 518 juta, maka angka perbandingannya menjadi 1 : 17, artinya keunggulan Aren adalah 17 kali lipatnya kelapa sawit.

Angka-angka di atas masih bisa disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi sebenarnya, artinya fluktuasi nilai kelipatan itu bisa sangat bervariasi. Silakan disesuaikan dengan angka-angka asumsi yang berlaku pada keadaan lainnya. Namun yang jelas prospek Aren terbukti masih lebih unggul dinilai dari potensi hasil dengan asumsi-asumsi sementara yang terjadi sekarang ini. Tetapi bagaimana kalau kondisinya sudah berubah.

Pada saat Aren sudah berkembang dengan pesatnya nanti, mungkin pada hitungan 10 sampai 15 tahun lagi, pada saat perkebunan Aren sudah mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu hektar. Nanti komoditi Aren akan bersaing dengan komoditi lain di pasar dunia. Industri gula dunia akan mengalami pergolakan dan dinamika yang cukup hebat. Aren sebagai komoditi penghasil gula paling potensial akan bersaing dengan komoditi tebu, jagung, bit, ubi-ubian, sorgum, dll.

Gula dari Aren akan bersaing dengan gula dari tebu, gula dari jagung, dari bit, gula dari ubi-ubian dan sorgum. Dalam kancah persaingan yang ketat, maka faktor efesiensi dan komparasi nilai lebih suatu produk akan membantu kekuatan dalam persaingan. Campur tangan politik global juga akan mewarnai kompetisi ini, namun pemenangnya pasti yang mempunyai keunggulan komparatif di berbagai hal. Oleh karena itu skema pengembangan Aren harus juga memberi trend kepada arah keunggulan komparatif itu. Artinya semua pihak yang terlibat (seluruh stake holder) pada komoditi Aren ini harus bersatu padu untuk membangun keunggulan komparatif ini.

Artinya pengembangan Aren dari awalnya haruslah dikontrol sedemikian rupa agar tetap dalam skema kerja pengembangan dan pembangunan yang mengarah pada keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif secara global. Seandainya nanti akan terjadi tsunami ekonomi global, dengan berbagai keunggulannya bisnis Aren tidak akan terpuruk seperti keadaan bisnis kelapa sawit sekarang ini. Oleh karenanya Dewan Aren Nasional diharapkan bisa menjadi lokomotif penggerak pengembangan Aren menuju keunggulannya.

Bagaimana menurut Anda?

PRODUKTIVITAS NIRA DAN FREQUENSI SADAPAN POHON AREN


PRODUKTIVITAS NIRA DAN FREQUENSI SADAPAN POHON AREN

Oleh : Dian Kusumanto

Lama tidak mengunjungi kebun Aren rasanya memang merindukan. Minggu pagi tadi akhirnya kesempatan itu menjadi takdirNya. Ada pelajaran yang menarik dari Sang Guru Aren saya, yaitu Bapak Sarman, seorang petani, penyadap nira Aren yang setiap hari selama puluhan tahun berakrab dengan pohon Aren. Sulitnya medan menuju kebun tidak menyurutkan langkah saya. Biasa, seperti di daerah lain juga, populasi pohon Aren selalu tumbuh berkembang di tempat yang jauh dari pemukiman.

Beliau masih seperti beberapa bulan yang lalu, masih energik dan selalu bersemangat kalau penulis datang. Saya mengabarkan kalau di Majalah Tani Merdeka ada publikasi tentang Aren, yang gambarnya dulu diambil di kebun itu. Waktu itu sang wartawan yaitu Mas Ardi Winangun dan sang fotografernya Mas Mustafa Kemal cukup lama mewancarai dan membuat foto di kebunnya.

Pagi tadi saya sengaja bertemu untuk menanyakan beberapa hal yang sebenarnya adalah pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Pertanyaan yang datangnya dari beberapa pembaca atau pengunjung blog ini melalui alamat email saya. Ternyata jawaban dari Sang Guru Aren ini menjadi pengetahuan yang baru bagi penulis, dan kami ingin memaparkan disini mudahan juga bermanfaat bagi para Aren mania. (memangnya fans sepakbola apa?!)

Gambar : Pak Sarman didampingi anaknya sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan penulis.

Pertanyaan 1 : Untuk suatu keperluan, bisakah penyadapan Aren dihentikan selama 36 jam, atau baru 36 jam kemudian disadap lagi ?

Jawaban Pak Sarman : Tidak bisa. Kalau 24 jam masih memungkinkan, artinya jika awalnya disadap jam 06 pagi maka bila sore tidak disadap dan baru besok yaitu jam 06 pagi hari berikutnya baru disadap, masih bisa. Sebenarnya yang ideal itu 12 jam sekali atau 2 kali dalam sehari, yaitu pagi hari antara jam 06 pagi sampai jam 08 pagi, kemudian sore antara jam 05 sore sampai jam 06 sore.
Kalau kita terlambat mengiris batang tangkai bunga sadapan, maka biasanya air nira akan menjadi lambat keluarnya. Air nira yang semula mengalir deras lama-kelamaan berkurang alirannya dan kemudian menetes-netes saja. Apabila terlalu lama kemudian berhenti menetes.

Kenapa berhenti menetes ? Pada ujung batang tangkai bunga sadapan itu ada semacam saluran-saluran air nira yang sangat kecil yang kemudian tertutup, tersumbat oleh air nira yang kemudian seperti mengental. Air nira yang seperti mengental inilah yang menyebabkan nira hanya menetes-netes atau bahkan berhenti menetes karena tidak sanggup melewati saluran kapiler (pembuluh tapis atau phloem-red) yang ada di batang tangkai bunga sadapan.

Seperti apa rupa air nira yang mengental itu?

Air nira yang mengental itu sepertinya ia membawa partikel tepung dari dalam batang aren. Seolah-olah, karena aliran air nira terhambat, maka tekanan air nira menguat sehingga dapat membawa tepung pati batang aren seolah mengaduk dan terlarut di aliran air nira. Partikel tepung yang bercampur dengan air nira menyebabkan massa air nira menjadi mengental dan alirannya melambat. Lama kelamaan seperti menumpuk dan menyumbat sehingga aliran air nira menjadi terhenti.

Apa akibatnya kalau ini berlangsung lama?

Kalau berlangsung terlalu lama akan dapat merusak saluran kapiler air nira, ibarat bagian tubuh manusia yang terpotong yang akhirnya membusuk sedikit-demi sedikit. Kalau terlalu lama akhirnya batang tangkai bunga tersebut tidak bisa lagi mengeluarkan air nira, karena saluran kapilernya sudah rusak dipenuhi oleh partikel air nira aren yang mengental dan sulit dikeluarkan dari saluran kapiler itu.

(Sebenarnya saya sedang membayangkan, kalau suatu saat nanti perkebunan aren sudah mulai produksi, saya ingin meliburkan tenaga kerja (karyawan) penyadapan libur selama 36 jam, begitu lho?!)

Kalau begitu ya diatur saja dari pergantian tenaga kerjanya, jangan mengorbankan pohon nira arennya. Karena kalau produksinya terhenti kita mesti menunggu lagi munculnya tandan bunga selanjutnya atau di bawahnya. Itu pun kita masih khawatir, kalau-kalau macetnya aliran air nira pada batang tangkai bunga di atasnya berpengaruh pada tangkai yang di bawahnya seterusnya. Jadi pohon bisa tidak berproduksi nira lagi.

Kok akibatnya bisa begitu?

Bisa saja terjadi pengaruh yang melebar akibat tidak kita sadapnya air nira yang macet tadi, tangkai-tangkai tandan yang di bawahnya tidak mau mengeluarkan niranya. Kalau sudah begitu kerugiannya menjadi sangat banyak, sebab yang semestinya setiap tangkai bisa disadap sampai 3 bulan, kadang bisa sampai 7 bulan itu macet berproduksi.

(Sayang sekali memang! Kalau sehari 10 liter saja berapa ruginya, 10 liter kali 3 sampai 7 bulan kali 30 hari, berarti kerugiannya sekitar antara 900 sampai 2100 liter nira. Wah.. banyak sekali ! Iya memang sayang sekali, kalau di Nunukan ini 1 bolol Aqua besar (isi 1,5 liter) nira dihargai Rp 4.000,- per botol. Kalau 900 liter berarti ada 600 botol, kalau 2100 liter berarti ada 1400 botol dikalikan Rp 4000,-, berarti kerugiannya antara Rp 2,4 juta sampai dengan Rp 5,6 juta setiap tangkai bunga yang tidak disadap).

Memang setiap tangkai bisa disadap sampai lama begitu ?

Bisa, tergantung keahlian para penyadap, selain itu tergantung juga dengan pisaunya. Pisau sadap harus tajam sekali dan mengirisnya harus ahli dan sabar, sehingga mengirisnya sangat tipis sekali. Kalau bisa setipis kertas. Kalau begitu bisa sampai 7 bulan, seperti orang tua saya dulu. (Rupanya dulu orang tua Pak Sarman sering membantu menyadap pada saat Pak Sarman ada keperluan yang lain).

(Ternyata orang tua Pak Sarman pada waktu di kampungnya dulu, yaitu di Enrekang Sulsel, adalah penyadap nira pohon Aren. Karena memang daerah Enrekang itu banyak sekali pohon Aren).

Sebenarnya apa saja yang membuat penyadapan tangkai bunga berlangsung lama?

Ya tergantung dari panjangnya tangkai bunganya itu sendiri serta keahlian orang yang menyadap. Jadi, pohon yang subur yang berbatang besar dan tinggi dengan daun yang hijau segar dan banyak, akan mengeluarkan tangkai bunga dengan ukuan besar dan panjang. Semakin panjang dan besar tangkai bunga, akan semakin banyak pula nira yang dikeluarkan. Pohon yang berbatang kecil biasanya tangkai tandan bunganya juga akan kecil dan pendek, seandainya tangkainya besar dia akan pendek juga. Artinya batang yang kokoh besar dengan daun yang hijau segar berpengaruh terhadap produksi air niranya nanti.

Bagaimana dengan pohon Aren yang pendek atau pohon Aren genjah?

Memang ada pohon Aren yang pendek, yang umurnya juga agak cepat. Barangkali sekitar 5 tahun sudah bisa diambil hasilnya. Pohon genjah demikian biasanya juga umur produktifnya juga tidak terlalu lama, tidak seperti yang pohonnya tinggi. Jumlah ruas-ruas daunnya juga lebih sedikit, berarti jumlah calon tandan bunganya juga sedikit. Selain itu biasanya tandan bunganya juga tidak terlalu panjang, sehingga penyadapannya juga tidak akan lama.

(Berarti pohon Aren Genjah potensi produksinya juga akan lebih sedikit dibandingkan dengan yang berumur panjang).

Kembali kepada kasus air nira yang mengental. Bagaimana cara untuk memperbaiki keadaan ini?

Air nira mengental memang bisa saja terjadi pada saat awal penyadapan. Setelah perlakuan pemukulan yang berturut-turut (periodik) dilakukan, kemudian tangkai bunga Aren menunjukan tanda-tanda sudah bisa mengeluarkan air nira. Maka mulailah kita mengiris tandan bunga pada tangkai paling ujung. Adakalanya air nira mengalir langsung dengan keadaan encer dan bagus, namun adakalanya juga air nira agak mengental. Kalau begitu kita harus melakukan beberapa perlakuan agar niranya kembali encer dan lancar mengalirnya.

Ada cara yang biasa dilakukan Pak Sarman dan para penyadap Aren di Nunukan, yang merupakan ilmu pengetahuan yang diturunkan dari orang tuanya terdahulu di kampungnya di Enrekang Sulsel. Caranya cukup sederhana, yaitu :

Cara yang pertama dengan menggunakan kunyit. Kunyit dipotong kemudian pada bekas potongannya itu digosok-gosokkan pada bekas luka sayatan sadap pada tangkai bunga Aren. Menggosok bekas luka sayatan ini dilakukan dengan cara mengiris sayatan baru dan kemudian menggosoknya dengan kunyit. Ini dilakukan berulang-ulang pagi dan sore sebagaimana jadwal penyadapan. Untuk penyembuhannya kadang memerlukan waktu sampai 4 (empat) hari. Namun sebelunya perlu dilakukan juga upaya pembersihan atau pencucian wadah penampung nira Aren. Kalau perlu dicuci dengan pasir agar bersih sekali dan tidak meninggalkan bekas dan dibilas dengan air panas. (Kalau bahasa ilmiahnya disterilisasi).

Cara kedua, bisa dengan menggunakan daun sirih yang dilumatkan kemudian digosok-gosokkan pada bekas sayatan sadap di tangkai bunga Aren tadi. Dua cara ini bisa dipilih salah satunya, tergantung bahan mana yang lebih mudah diperoleh. Sama caranya dengan yang menggunakan kunyit tadi, yaitu dilakukan penggosokan dengan daun sirih pada bekas luka irisan sadap pada setiap pagi dan sore. Upaya ini dilakukan sampai sembuh, yang ditandai bahwa nira kembali mengalir lancar dan encer. Hal ini biasanya memerlukan waktu sekitar 4 (empat) hari.

Cara yang ketiga adalah dengan mencari rumput alang-alang, kemudian dipilin-pilin menjadi agak panjang dan diikatkan di batang pohon. Cara ketiga ini menurut Pak Sarman biasa dilakukan bersamaan dengan cara penggosokan di atas. Alang-alang yang sudah dipilin memanjang tadi biasanya diikatkan pada batang pohon tidak jauh dari tangkai bunga yang mengalami masalah tadi. Bisa pada sisi atas, bisa juga pada sisi bawah dari tangkai bunganya.


Cara yang keempat. Ada juga petani lain yang menyarankan untuk melakukan melubangi batang pohon di bagian bawahnya. Alasannya agar pati sagu tidak ikut keluar bersama nira, yang akhirnya menyebabkan nira menjadi mengental. Menurut Pak Sarman, air nira yang terkumpul biasanya agak pekat dan menyisakan endapan yang terasa seperti tepung sagu yang licin kalau diremas dengan jari. Lubang yang dibuat tidak terlalu lebar dan tidak terlalu dalam, cukup untuk bisa memberi jalan keluar bagi ‘sagu’ yang berlebih. Ini merupakan cara terakhir yang sebenarnya Pak Sarman belum pernah melakukannya.

Apakah “penyakit” air nira mengental ini dialami oleh setiap pohon?

Tidak. Tidak setiap pohon mengalami gangguan ini. Yang sering terjadi, adalah karena wadah penampungan itu kotor (terkontaminasi-red). Wadah air nira yang kotor bisa menyebabkan air nira mengental. Cara mengatasinya yang dengan menggunakan cara-cara di atas, sekaligus dengan membersihakan wadah penampung nira, dengan cara dicuci yang bersih bahkan dengan menggunakan pasir atau serbuk abu dapur dan dibilas dengan air panas. Jangan lupa menggosok-gosok luka bekas irisan sadap itu dengan kunyit atau daun sirih serta mengikatkan alang-alang sebagai tanda pohon yang sedang bermasalah.

(Bersambung)

Sabtu, 25 Oktober 2008

MEMILIH AREN SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETHANOL




MEMILIH AREN SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETHANOL  

Oleh : Dian Kusumanto


Pada pertengahan Bulan Agustus 2008 yang lalu penulis mengikuti Pelatihan Produksi Bioethanol yang diselenggarakan oleh Majalah TRUBUS di Cimanggis Depok. Penulis bertemu dengan para ahli di bidang Bioethanol Indonesia, antara lain : Bapak Arief Yudiarto, Bapak Roy Hendroko, Bapak Ronny Purwadi, Bapak Cecep Sudirman dan Bapak Bambang Purnomo. Beliau semua adalah para ahli yang bertindak sebagai nara sumber dan instruktur pelatihan tersebut.

Bapak Arief Yudiarto dan Bapak Roy Hendroko mengakui bahwa Aren adalah salah satu bahan baku bioethanol yang paling produktif. Dalam catatannya disebutkan bahwa Aren yang diolah dari niranya dapat menghasilkan bioethanol sekitar 25.000 dan 40.000 liter/hektar/tahun. Sedangkan komoditi lain jauh lebih rendah. Nipah, Kelapa dan Lontar yang diambil dari niranya potensi bioethanolnya antara 15.000, 10.000 dan 8.000 liter/hektar/tahun. Ubijalar, Tebu, Jagung, Sorgum manis, dan Ubikayu memiliki produktivitas bioethanol lebih rendah lagi yaitu antara 7.800, 6.000, dan 4.500 liter/hektar/tahun.

Antara Tebu dan Aren 

Selama ini bahan baku yang paling banyak digunakan untuk bioethanol adalah Tebu, terutama memanfaatkan Molases (tetes tebu) yang merupakan ‘limbah’ (atau lebih tepat produk samping) dari pabrik gula tebu. Tebu dari batang segarnya mempunyai produktivitas bioethanol mencapai 6.000 liter/hektar/tahun, sedangkan dari molasesnya mencapai 1.000 liter/hektar/tahun, kalau dijumlah menjadi sekitar 7.000 liter/hektar/tahun.  

Menurut Bapak Bambang Purnomo dari 100 kg tebu segar akan dihasilkan 85 kg nira tebu (press dua kali). Dari nira 85 kg tersebut diperoleh 6,6 liter bioethanol 95%(v/v). Kalau 1 hektar tebu, yang menurut Dr. Sunyoto (dari P3GI) Pasuruan, potensi produktivitas Tebu tahun 2007 sebesar 82 ton/hektar, maka akan diperoleh nira sebanyak 69.700 kg dan akan menjadi bioethanol sebanyak 82.000/100 x 6,6 = 5.412 liter/hektar. Jadi angka 6.000 liter di atas masih agak dekat dengan 5.412 liter.

Sekarang masalahnya adalah apakah sama kandungan gula antara nira dari Tebu dan dengan dari Aren. Karena yang akan diubah menjadi bioethanol dari kedua nira tersebut adalah gulanya, makanya kandungan gulanya perlu dibandingkan. Namun kita bisa saja mengambil hitungan di atas, maksud saya berapa kandungan bioethanol dari nira. 85 kg Nira Tebu dapat menghasilkan 6,6 liter bioethanol 95% (BE 95), berarti sekitar 7,7 %.  

Pengalaman di Minahasa Selatan Nira Aren dapat mengasilkan BE 95 antara 6 sampai 7 %, tetapi ada yang mengatakan sampai 7,5 %. Kalau dibandingkan dengan Nira Tebu hampir sama. Misalnya kita ambil angka terendah yaitu 6 % saja. Jadi berapa hasil BE 95 jika kita berkebun Aren seluas 1 hektar dalam satu tahunnya? Asumsi kita setiap hari dalam satu hektar dari 200 pohon yang menghasilkan ada 100 pohon saja, dengan rata-rata produksi nira 15 liter/hari/pohon. Jadi hasil nira dalam satu hari setiap hektar adalah sekitar 1.500 liter/ha/hari, maka akan menghasilkan BE sebanyak 1.500 liter x 6 % = 90 liter/hari. Kalau dihitung sebulan menjadi 30 hari/bulan x 90 liter/hari = 2.700 liter/bulan, dan menjadi dalam setahun menjadi 12 x 2.700 liter = 32.400 liter BE 95 /hektar/tahun.

Produktifitas BE dari kebun Aren yang mencapai 32.400 liter itu dihitung dengan asumsi hasil nira 15 liter/pohon/hari. Kalau menggunakan angka produksi nira Aren 10 liter/pohon/hari angka produksi BE-nya menjadi 21.600 liter/ha/tahun. Sedangkan kalau asumsinya produksi nira Aren 20 liter/pohon/hari, maka angka produksi BE dari kebun Aren seluas 1 hektar dalam setahunnya adalah 43.200 liter BE/hektar/tahun. Kita bisa hitung-hitung sendiri berapa banyak produksi nira dari kebun Aren kita seandainya akan diolah menjadi BE semua. Dari pengalaman lah yang nanti dapat menetapkan angka-angka pastinya produksi BE.

Jadi hasil BE antara sehektar lahan Tebu dan sehektar kebun Aren berbanding antara 5.412 : 32.400 = 1 : 5,98 atau 1 : 6 (satu dibanding enam). Jadi kalau kita menanam 6 hektar Tebu baru lah sebanding dengan 1 hektar kebun Aren. Atau sebaliknya kalau kita memiliki 1 hektar kebun Aren maka akan menghasilkan Bioethanol yang setara dengan menanam Tebu seluas 6 hektar.

Aren vs Nipah dan Kelapa

Bagaimana dengan Nipah dan Kelapa yang juga sebagai sumber bahan pemanis yang bisa diolah niranya menjadi Bioethanol? Nipah adalah tanaman yang merupakan anugerah alam di sekitar pantai atau perairan yang payau. Nipah tumbuh sendiri secara liar di kanan kiri sungai yang berair payau, pertemuan antara air tawar dan air laut. Namun yang menjadi kendala pengelolaan nira Nipah adalah sulitnya menjangkau pokok-pokok Nipah karena tumbuhnya secara liar di pinggir sungai. Untuk mengumpulkan nira dari pohon ke pohon tingkat kesulitannya sangat tinggi, karena tanah berlumpur, populasi Nipah yang rapat, banyak nyamuk, banyak buaya, dll. Produksi nira per pohon per harinya juga sangat kecil, sehingga pekerjaan pengambilannira dirasa sangat ribet, rumit, dan kurang praktis.

Kalau Kelapa masih banyak gunanya untuk keperluan pangan yang lain, sehingga meskipun produktivitasnya cukup tinggi dengan kemudahan pemungutannya hampir seperti Aren, belum menjadi pilihan untuk diolah menjadi bioethanol. Kadang yang sering menjadi pertimbangan adalah faktor pasar serta kemudahannya dalam memprosesnya. Kalau pasarnya untuk Kelapa segar sudah bagus, mengapa harus bersusah-susah diolah menjadi bioethanol. Kalau harga Kopra untuk bahan minyak goreng saja sudah bagus menapa harus diolah menjadi Bioethanol. Jadi begitulah mungkin cara berpikir yang pragmatis, realistis dan mungkin ekonomis. Dengan demikian Aren memang lebih unggul dan lebih efisien jika dibandingkan dengan sumber bahan yang lain untuk Bioethanol.


Aspek Teknologi Pengolahan Bioethanol

Dari aspek teknologi prossesing-nya mengolah nira Aren menjadi Bioethanol ternyata yang paling sederhana dengan peralatan yang paling minimum. Bahkan nira bila dibiarkan saja akan mengalami fermentasi dan menjadi alkohol, yang disebut sebagai bioethanol itu. Saking sederhananya masyarakat di Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dll. sudah membudayakan cara mengolah Nira Aren menjadi Tuak atau Cap Tikus untuk dimurnikan menjadi Bioethanol bagi keperluan industri dan bahan bakar nabati.

Di Minahasa Selatan sudah dari dulu kala, secara turun menurun masyarakat memanfaatkan Nira Aren mengelolanya menjadi Bioethanol. Caranya sebagai berikut, pertama nira Aren disadap selama 24 jam, kemudian dibiarkan selama 12-24 jam lagi sehingga terbentuklah ethanol berkadar 6-7 %. Kemudian nira yang telah terfermentasi tersebut dimasak dalam Drum dan uapnya diembunkan lewat Bambu. Dari uap air yang merambat di bambu tersebutlah diperoleh bioethanol berkadar antara 18 – 70%.

Omset pendapatan petani Aren dari bioethanol dengan kebun sehektar 

Kalau angka produksi yang digunakan adalah 32.400 liter/hektar/tahun, sedangkan tingkat harga Bioethanol seharga Rp 8.000,-/liter BE, maka omset pendapatan petani setiap hektar/tahun mencapai Rp 259.200.000,- (dua ratus limapuluh sembilan juta rupiah) per hektar/tahun. Kalau harga Bioethanol mencapai Rp 10.000,-/liter, maka omset pendapatannya akan mencapai Rp 324 juta/ha/tahun. Tentu saja angka ini masih dikurangi segala jenis biaya-biaya yang diperlukan dari pengelolaan kebun, pengelolaan nira sampai menjadi bioethanol, dll. Tapi barangkali proporsinya sekitar 30-45% saja, jadi masih ada hasil bersihnya sekitar 55-70% dari omset pendapatan tadi. Kalau toh hasil bersih yang diperoleh petani 50 % saja juga masih sangat bagus.

Oleh karena itu para pekebun Aren tidak hanya boleh KAYA tapi harusnya menjadi KAYA RAYA. Nah… kalau sudah KAYA atau KAYA RAYA jangan lupa mengeluarkan hak para fakir, miskin, kaum lemah, dan siapa saja yang membutuhkan pertolongan, yang jumlahnya masih sangat banyak di negeri kita ini. Makanya dengan membuka KEBUN AREN sekarang , sekitar delapan sampai sepuluh tahun kemudian kita akan bisa berbagi dengan hak-hak mereka, karena kita akan KAYA dan KAYA RAYA. Kita tidak perlu lagi merompak seperti Raden Said, … karena kita sudah menemukan emasnya Kanjeng Sunan Bonang pada KEBUN AREN kita. InsyaAllah!

Bagaimana menurut Anda?

Jumat, 24 Oktober 2008

DEWAN AREN NASIONAL, APAKAH PERLU?

Bapak Drs. H. Rusfian MM. (dua dari kanan) bersama rombongan Bapak Menteri Pertanian di Sukamandi pada acara Pekan Padi Nasional bulan Agustus yang lalu.


Bapak H. Drs. Rusfian MM. (paling kiri) Wakil Sekjen HKTI Pusat bersama Bapak Dirjen PLA dan Bapak Dirjen Hortikultura, Kadispertanak (Ir. Jabbar, MSi) dan Cholid Mohammad, SP. (Ketua Harian HKTI Kabupaten Nunukan)

DEWAN AREN NASIONAL, APAKAH PERLU?

Oleh : Dian Kusumanto

Adalah Bapak Drs. H. Rusfian, MM. Wakil Sekjen HKTI Pusat di Jakarta yang melalui SMSnya beliau mempunyai tekad untuk menghidupkan dan menggerakkan Dewan Aren nasional. Beliau juga sangat optimis karena Aren sudah selayaknya mendapat perhatian yang sedemikian besar dan utama karena berbagai keunggulannya. Beliau juga setuju dengan ungkapan bahwa Aren punya prospek emas yang PRO JOB, PRO POOR, PRO GROWTH & PRO PLANET, beliau malah menambahkan dengan PRO HEALTH.

Apresiasi demikian besar terhadap pengembangan Aren ini sering sekali penulis terima semenjak lahirnya blog kebunaren.blogspot.com ini. Meskipun jauh sebelumnya penulis sudah berusaha mengangkat wacana Aren ini di lingkungan penulis yang tentu saja masih sangat terbatas. Tidak bisa dipungkiri bahwa Majalah TRUBUS termasuk sebagai media yang sering menggugah penulis agar lebih intensif lagi memperhatikan dan mengelola informasi seputar Aren ini. Beberapa lembaga swasta seperti Yayasan Masarang, DIVA’S Maju Bersama, Koperasi Serba Usaha Suka Jaya, dan banyak juga lembaga-lembaga lainnya turut menyemarakkan Dunia Aren Nasional.

Tentang perlu segera dibentuknya Dewan Aren Nasional memang didasari oleh beberapa pertimbangan, antara lain :

1. Prospek Agribisnis Aren menjanjikan potensi yang paling unggul dibandingkan dengan komoditi-komoditi lainnya.

2. Komoditi Aren sangat selaras dengan berbagai isu nasional yang menyangkut Pangan dan Energi, karena Aren bisa mendukung Swa Sembada Pangan melalui substitusinya terhadap kebutuhan gula, mengurangi tekanan penggunaan lahan tanaman pangan dari industri gula berbasis tebu, potensi besar dari niranya yang dapat diolah menjadi BIOFUEL alias BIOETHANOL dengan produktifitas paling tinggi.

3. Komoditi Aren dikenal sebagai komoditi yang sudah diandalkan dalam membangun ekonomi kerakyatan pada masa lalu di beberapa daerah, sekarang pun masih diandalkan di beberapa daerah. Produk utama maupun produk lainnya dari Aren sangat dekat dengan pembangunan ekonomi rakyat, industri bisa dikelola oleh rakyat, kerajinan dari seluruh produknya dapat menyerap tenaga kerja sedemikian banyaknya.

4. Pada era dimana kelestarian lingkungan hidup dan keseimbangan alam semakin mengancam kehidupan planet ini, maka dipandang perlu segera ada restrukturisasi pola pilihan komoditas agribisnis selaras lingkungan. Dimana aspek ekonomi (agribisnis) tercapai sekaligus faktor lingkungan tetap bisa terjaga secara berkesinambungan. Sebab Aren dikenal sebagai tanaman yang tidak ’egois’, bisa ber’kolaborasi’ dengan jenis tanaman lainnya, terutama pada saat awal pertumbuhannya. Pembungaannya yang terus menerus sepanjang tahun banyak dimanfaatkan untuk memelihara lebah madu, makanya masyarakat sekitar hutan bisa cukup ekonominya dengan memanfaatkan Aren yang tumbuh di situ.

5. Pada saat di beberapa daerah sangat bersemangat mengembangkan komoditi industri non pangan dengan perkebunan sekala besar (seperti Kelapa Sawit, Karet, dll.) maka sebenarnya daerah tersebut sedang membangun ketidak seimbangan. Sebab pada saat komoditi non pangan merajalela sedangkan komoditi pangannya tersisihkan, maka pangan daerah tersebut sangat bergantung dari daerah lain. Pada saat ada keadaan dimana daerah lain protektif juga dengan stok pangannya maka hal tersebut akan menjadi ancaman bagi daerah yang tidak mandiri pangannya. Belum lagi pada saat komoditi ekspor berupa bahan non pangan menurun harganya atau permintaannya, maka kondisi ekonomi daerah tersebut bisa mengalami penurunan yang drastis, terjadi krisis ekonomi lokal. Dengan pertimbangan ini maka keragaman komoditi antara yang berbasis pangan dan non pangan menjadi pertimbangan. Aren dalam hal ini bisa menjadi komoditi penyeimbang, karena Aren bisa diarahkan pada industri pangan maupun non pangan.

6. Pengembangan Aren sekarang ini masih diprakarsai oleh lembaga-lembaga non pemerintah, bahkan hanya oleh personal-personal secara mandiri, perhatian pemerintah dirasa masih sangat kurang. Badan Litbang Pertanian juga masih belum mengagendakan penelitian dan pengembangan Aren, Lembaga Penelitian Perguruan Tinggi juga belum melirik Aren. Oleh karena itu Dewan Aren Nasional inilah nanti yang diharapkan dapat mendorong Pemerintah, Departemen Pertanian, Badan Litbang, Perguruan Tinggi, Lembaga Swasta untuk meneliti, mengembangkan Aren dan segala produknya menjadi produk andalan baru yang sangat menguntungkan.

7. Manajemen pengembangan Aren ini menjadi sangat penting karena adanya ancaman klaim dari Malaysia yang sekarang sangat getol namun sembunyi-sembunyi mengembangkan Aren ini. Klaim itu bisa saja berupa patent akan produk-produk olahannya seperti gula kristal, gula semut, gula sirup aren, gula instant dengan campuran aneka rasa, kecap yang berbasis gula aren, sampai dengan produk-produk olahan fiber yang berbasis ijuk dari Aren. Demikian bahan-bahan industri dan kerajinan yang terbuat dari lidi Aren. Dengan adanya Dewan Aren Nasional, maka diharapkan dapat membagi peran dan tugas untuk siapa mengerjakan apa, dan kapan harus dimulai serta kapan hasilnya dapat diperoleh. Dewan Aren nasional bersama stake holder yang ada juga akan menyusun Road Map Pengembangan Aren Nasional.

8. dll.

Wah.... kalau begitu adanya Dewan Aren Nasional patut ditunggu agar lahir tidak terlalu lama lagi. Setelah lahir agar cepat memahami peran dan tugasnya, cepat bergerak namun tetap sistematis dan strategis. Dewan Aren Nasional juga diharapkan mampu meyakinkan Pemerintah dan seluruh Stake Holder di bidang pengembangan Aren agar bisa saling bekerja sama mengembangkan Aren.  Dalam SMSnya  Pak Rusfian juga mengusulkan agar Dewan Aren Nasional diketuai oleh orang-orang yang 'kuat' dalam usaha pengembangan Aren secara nasional.  Beliau tak lupa menyebut satu nama yaitu Bapak Hasyim Djojohadikusumo, seorang tokoh nasional, pengusaha besar nasional yang banyak bergerak membangkitkan Aren nasional. 

Bagaimana menurut Anda ?


Selasa, 14 Oktober 2008

Gula aren laris manis

Gula aren laris manis


Tak banyak yang mengenal pohon aren atau enau. Padahal, pohon yang banyak tersebar di seluruh wilayah Nusantara ini memiliki banyak manfaat, termasuk sebagai penghasil gula. Pohon aren banyak tumbuh di Kendal, Sumedang, Sukabumi, Tasikmalaya, Rangkasbitung, Lebak, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, hingga Papua.

Gula aren diperoleh dari sari gula atau yang sering disebut sebagai nira, yaitu tangkai bunga jantan yang dapat disadap ketika tanaman aren berumur lima tahun dengan puncak produksi pada umur 15-20 tahun. Nira diolah menjadi gula dalam bentuk padat, bubuk dan cair, atau dapat pula diolah lebih lanjut menjadi cuka dan alkohol.

Gula aren berbeda dengan gula biasa. Dibandingkan dengan gula pasir, gula dari pohon enau ini dapat digunakan untuk semua keperluan, mulai dari pemanis minuman, dan bumbu masakan. Makanan pempek khas Palembang yang enak konon karena menggunakan gula aren sebagai pilihan salah satu pemanisnya.

Kelebihan lainnya, gula yang terbuat dari nira ini tidak mengandung bahan kimia dan bisa menjadi obat. Kandungan kalorinya dan glisenik indeknya yang rendah membuat gula aren tidak berbahaya bagi penderita diabetes. Ini tampaknya cocok dengan gaya hidup sehat yang semakin populer. Masyarakatnya juga makin selektif mengkonsumsi makanan. Boleh jadi, meski saat ini masih kalah populer dengan gula pasir, gula aren makin banyak dicari pembeli.

"Gula aren produk organik," ujar Indrawanto, pemilik CV Diva Maju Bersama. Indrawanto merupakan pengusaha gula aren yang sukses merintis bisnisnya sejak 2005. Diva Maju Bersama mengolah nira menjadi gula aren semut (kristal) dan gula aren cair di Tangerang, Banten. Indrawanto menerima pasokan aren dari para petani setempat untuk diolah menjadi gula dengan kemasan sachet, ukuran 0,5 kg dan 25 kg. Pelanggannya tidak hanya di Banten dan Jakarta, tetapi sudah meluar ke daerah lain di Sumatra, dan Kalimantan. Harga aren lebih mahal 30% dibandingkan gula pasir. Tapi, menurut Indrawanto, hal tersebut tidak menjadi masalah karena ada nilai tambah yang ditawarkan produk gula nira ini.

Tak hanya Diva, Koperasi Serba Usaha (KSU) Sukajaya juga menjadi pemain gula aren yang terbilang sukses. Koperasi yang berbasis di Lebak, Banten, ini sudah menangani bisnis gula aren sejak berdiri pada 1999. Berdasarkan riset Burhanuddin bertajuk Prospek Pengembangan Usaha Koperasi dalam Produksi Gula Aren, tiga tahun lalu KSU Sukajaya sudah menangani bisnis gula aren hingga 50 ton per bulan.

Penjualan di pasar regional (Jabotabek) dilakukan melalui pasar modern seperti Giant, Hypermarket, Sogo Supermarket, dan Kem Chicks. Potensi permintaan pasar domestik masih terbuka lebar. Permintaan gula aren ditaksir mencapai 120 per bulan, dan pada musim tertentu seperti bulan puasa dan Lebaran, bisa mencapai 180 ton.

Potensi permintaan gula aren makin besar, mengingat industri makanan dan minuman terus bertumbuh. Gula aren bisa menjadi substitusi gula rafinasi bahan baku yang selama ini masih diiimpor. Masalahnya, memang ada pada harga yang belum komptetitif.

Meski pasar dalam negeri belum tergarap secara maksimal, KSU Sukajaya melakukan terobosan pasar ekspor ke Jerman bekerja sama dengan GTZ melalui sistem bagi hasil. Harga jual ekspor mencapai US$2 per kg, sedangkan harga pokok produksi ditaksir US$1. Untuk menangkap peluang lebih besar, SKU Sukajaya telah mengusahakan penambahan lima sentra budidaya tanaman aren seluas 3 ha, agar petani sebelumnya hanya menyadap tiga pohon per hari bertambah menjadi 20 pohon.

Koperasi ini juga melakukan mekanisasi produksi, untuk menjamin keberlangsungan produksi, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas yang standard pasar. Ryuji Nishi, konsultan bisnis gula aren, mengungkapkan peluang produk pangan dari Indonesia di Jepang terbuka. Gula aren yang diminati tidak mengandung bahan kimia dan berasal dari tanaman organik.

Untuk mengembangkan ekspor gula aren ke Jepang perlu mencari mitra di Jepang, seperti produsen makanan khas Jepang, produsen gula pasta atau pemilik kedai kopi. Harga jenis gula aren di Jepang sebulan terakhir, seperti dikutip www.divafood.indonetwork.co.id, palm sugar Y735 per 200 gram, apple sugar Y1000-2000 per kg, brown sugar Y240 per 0,5 kg, crystal sugar JPY160 per 0,5 kg, gula pasta Y 500 per 0,5 kg.

Pemasok gula aren di Jepang saat ini didominasi Thailand yang menguasai pasar 49%, Australia 39%, dan Afrika Selatan 12%. Bila saja, potensi gula aren ini dikembangkan, Indonesia tentu bakal meraup devisa lebih besar lagi. (redaksi@bisnis.co.id)

Oleh Sepudin Zuhri (Kontributor Bisnis Indonesia)
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/laporan-khusus/1id73516.html