......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Jumat, 12 Desember 2008

AREN, SORGUM DAN SAPI Sinergi Pangan, Pakan dan Energi Ramah Lingkungan




AREN, SORGUM DAN SAPI 

Sinergi Pangan, Pakan dan Energi Ramah Lingkungan 
(bagian 1)

Oleh : Dian Kusumanto

Ketahanan Pangan dan Ketahanan Energi adalah dua strategi dasar dalam upaya membangun kemandirian bangsa, martabat dan sekaligus ketahanan bangsa dari situasi global yang semakin tidak menentu. Strategi dasar kemandirian bangsa memang bertumpu pada kemandirian di bidang pangan dan energi. Karena dari situ lah seluruh aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik, pertahanan dan keamanan yang paling mendasar itu dimulai.

Krisis yang terjadi di bebagai negara akan semakin sulit dipulihkan seandainya negara yang dilanda krisis tersebut sangat tergantung dengan sumber pangan dan energi dari luar. Bagi bangsa Indonesia ketahanan pangan dan energi adalah wajib hukumnya untuk segera diwujudkan, agar Indonesia terhindar dari pengaruh krisis global yang sewaktu-waktu akan terjadi, seperti sekarang ini.

Oleh karena itu perlu dirancang skema-skema yang brilian dalam mengelola sumber daya alam Nusantara ini dalam rangka segera mencapai kemandirian pangan dan energi. Pakan dalam hal ini adalah pangan untuk hewan-hewan ternak kita. Kalau pakan tidak diperhatikan juga akan berpengaruh pada berkurangnya stok bahan pangan.

Ketergantungan terhadap sumber bahan pangan dari luar seharusnya sedikit demi sedikit dikurangi hingga suatu saat menjadi paling minimal. Karena ketergantungan dengan luar akan mengakibatkan pada berkurangnya kedaulatan, martabat serta rasa kebanggaan dan percaya diri suatu bangsa. Sangat sedih apabila bangsa yang besar seperti Indonesia ini diremehkan oleh bangsa lain. Ibu Pertiwi akan menangis, para Pendiri Bangsa ini akan bersedih, dan Anak Bangsa tidak memiliki kepercayaan lagi, bahkan untuk sekedar mempertahankan kemerdekaan asasi suatu bangsa.

Walah..... kok jadi sentimentil begitu. Lho.. itu bukan sentimentil, tetapi rasa keprihatinan yang amat sangat menyesakkan dada, karena di dalam dada ini masih subur rasa nasionalisme dan keinginan melihat bangsa Indonesia ini bangkit menjadi Negara yang disegani. Ada keinginan yang sangat besar bahwa Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia, menjadi lumbung energi dunia sampai akhir jaman nanti. Karena rasanya Tuhan memang menakdirkan Indonesia terletak di daerah Tropis, dimana matahari bersinar sepanjang tahun, sumber daya alam yang melimpah, manusia-manusia yang unggul budayanya, baik perangainya dan taat kepada Tuhannya.  

Apa hubungannya dengan Aren, Sorgum dan Sapi?

Begini, Aren kita yakini mempunyai potensi yang luar biasa dan paling unggul sebagai komoditi penghasil sumber pangan (yaitu gula dan lain-lain) sekaligus sebagai sumber energi, industri masa depan (yaitu bioethanol dan aneka turunannya). Produktifitasnya yang sangat luar biasa itulah sehingga Aren dijadikan leading program dari salah satu skema menuju mandiri pangan dan energi kita.  

Namun karena Aren memerlukan waktu pertumbuhan yang cukup lama (yaitu setelah umur 6 tahun), maka pengembangannya perlu disiasati dengan cara dikombinasikan dan diintegrasikan dengan tanaman unggul jangka pendek, yaitu Sorgum Manis (Sorghum bicolor L. Moench). Sorgum Manis merupakan salah satu alternatif yang sangat arif, karena Nira yang ada di dalam batangnya mengandung Sakarosa yang tinggi (10-14 %) setara dengan yang terdapat dalam Nira Tebu (9-17 %) dengan bobot batang 30-40 ton per hektar yang dapat dipanen pada umur sekitar 4 bulan.

Sorgum juga dapat menghasilkan biji yang mempunyai kualitas nutrisi sebanding dengan jagung dan beras, bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi sedangkan kandungan lemaknya lebih rendah. Pemanfaatan biji Sorgum menjadi berbagai produk pangan olahan merupakan salah satu upaya untuk mendukung diversifikasi pangan. Pemanfaatan Sorgum dalam bentuk tepung lebih menguntungkan karena praktis serta mudah diolah menjadi berbagai produk makanan ringan (basah dan kering), kue, roti dan mie. Nilai nutrisi Sorgum cukup memadai dengan kandungan protein 8-11 %, namun protein pembentuk glutennya tidak dapat menyamai terigu. Namun demikian tepung Sorgum dapat mensubstitusikan terhadap tepung terigu antara 50 – 75 % untuk kue kering & kue basah, kue basah 30-50 %, Roti 20-25 % dan Mie 15-20 %. 

Kalau Sapi mempunyai peran dalam memanfaatkan biomasa dari daun dan batang Sorgum sebagai bahan pakan yang sangat bermutu. Sekaligus dari peternakan Sapi akan diperoleh sumber bahan pupuk yang sangat bermutu yaitu dari tinjanya maupun dari air urin Sapi. Dengan menggunakan teknologi pembuatan yang memadai maka tinja Sapi dan air urin Sapi akan menjadi Pupuk Organik yang sangat hebat dan sekaligus menjadi Obat Pestisida Nabati yang sangat hebat. (Mudah-mudahan ada kesempatan Penulis nanti untuk memaparkan Teknologi Pembuatan Pupuk Organik dan Pestisida Nabati ini).

Dengan demikian maka kebutuhan pupuk dan obat-obatan untuk kebun Aren dan kebun Sorgum sudah bisa dicukupi dari pemanfaatan limbah ternak Sapi. Input sarana produksi dapat diminimalkan bahkan dapat dinihilkan. Inilah yang dimaksud dengan kemandirian Sistem Usaha Tani itu. Jadi sebisa-bisanya membuat sistem usaha tani itu minimal atau sama sekali tidak menggunakan input dari luar sistem. Tapi sebaliknya dari sistem usaha tani akan dihasilkan produk-produk pangan, pakan dan energi yang dibutuhkan oleh pasar dunia.

Tumpang Sari atau intercropping dari dua atau tiga jenis tanaman yaitu Aren dan Sorgum pada lahan yang sama, akan membuat produktifitas lahan meningkat, dan akan terjadi saling komplementasi, saling substitusi pada sisi-sisi kelemahan yang terjadi pada masing-masing komoditi. Kombinasinya dengan Sapi akan membuat sinergi integrasi komoditi ini lebih efisien, lebih berdaya saing dan lebih mandiri.  

Kenapa demikian? Karena yang akan dihasilkan dari sistem ini nanti adalah Produk-produk yang ramah lingkungan, karena hampir tidak ada bahan-bahan kimia yang berbahaya, semua produk yang dihasilkan serba organik. Tepung Sorgumnya organik, gula Arennya juga organik, bioethanolnya juga organik, daging Sapinya organik, dan lain-lain produk yang dihasilkan dirancang menjadi produk yang akan diterima dimana saja serta mempunyai nilai lebih. Bukankah era yang akan datang ini adalah eranya produk-produk organik yang bermutu ? Karena dari makanan yang alami dengan mutu yang terjagalah kesehatan dan kualitas hidup manusia ini terjaga.

Sorgum Manis ini dapat ditanam disela-sela kebun Aren yang baru dikembangkan, bahkan hingga pada saat Aren menjelang produksi nanti. Porsi luas penanaman Sorgum pada lahan kebun Aren ditentukan oleh pemilihan jarak tanam Aren. Untuk keperluan tumpang sari dengan tanaman Sorgum ini dapat dipilih beberapa alternatif jarak tanam untuk Aren. Salah satunya menggunakan pilihan jarak tanam 5 x 10 m2, dengan beberapa berbagai pertimbangan antara lain :
• Penghematan tenaga kerja penyadapan Nira
• Memberi ruang yang cukup bagi tanaman sela bahkan hingga tanaman Aren sudah mulai berproduksi (yaitu sekitar 30-40% dari lahan).
• Memberi kemudahan bagi proses pemeliharaan tanaman, pemungutan hasil panen dan sebagainya dengan kendaraan truk.

Porsi luas penanaman Sorgum pada lahan kebun Aren dengan penggunaan pilihan jarak tanam 5 x 10 m2 atau dengan populasi 200 pohon per hektar dapat diproyeksikan sebagai berikut :

Tahun ke : --------Perkiraan Luas Vegetasi Tanaman per hektar lahan
  ------------------Aren ----------------------------------Sorgum------------

0 sampai 1 --------200 x 4m2 = 800m2 ( 8%) -----------9.200 m2 (92%)
1 sampai 2 --------200 x 6m2 = 1.200m2 (12%)----- ----8.800 m2 (88%)
2 sampai 3 --------200 x 10m2 = 2.000m2 (20%) -------8.000 m2 (80%)
3 sampai 4 --------200 x 16m2 = 3.200m2 (32%) ------- 6.800 m2 (68%)
4 sampai 5 --------200 x 20m2 = 4.000m2 (40%) -------6.000 m2 (60%)
5 sampai 6 --------200 x 25m2 = 5.000m2 (50%) -------5.000 m2 (50%)
6 dst. -------------200 x 30m2 = 6.000m2 (60%) -------4.000 m2 (40%)
  
Untuk memenuhi suply bahan baku Pabrik BioEthanol (PBE) tentu tanaman Sorgum akan ditanam secara berjenjang, sehingga panennya dapat dilakukan berjenjang. Dengan kapasitas mesin PBE dengan nira batang sorgum 1000 liter/hari maka akan diperlukan batang Sorgum sekitar 2,5 ton/hari yang dipanen dari lahan Sorgum seluas misalnya 400 – 500 m2 atau 0,04 – 0,05 hektar per hari. (Menggunakan asumsi produksi batang sorgum 60 ton/ha/musim, dengan kandungan nira dari batang Sorgum 40% berat). Artinya setiap hari akan dipanen Sorgum seluas antara 0,04 – 0,05 hektar Sorgum yang diperas batangnya untuk dijadikan Nira Sorgum dan kemudian diolah menjadi Bioethanol.  

Untuk bisa memanen Nira Sorgum 1000 liter/hari dengan umur Sorgum 110 hari berarti perlu lahan 110 hari x (0.04 -0.05) hektar/hari = (4,4 – 5,5) hektar. Sedangkan jika ingin memiliki Pabrik BioEthanol dengan kapasitas 1000 liter BE/hari, maka diperlukan Nira Sorgum sekitar 12.500 liter Nira Sorgum (Asumsi rendemen BE dari Nira Sorgum adalah 8 %). Maka lahan Sorgum yang diperlukan adalah 12,5 x (4,4 - 5,5) hektar = (55 – 68) hektar.

Kalau pemanenan Sorgum dilakukan setiap hari, berarti penanamannya juga dilakukan berjenjang. Yang dipanen bukan hanya batang Sorgum, tapi juga biji dan daunnya. Dari Pabrik BioEthanol akan ada produk samping berupa bagase atau ampas batang Sorgum. Ampas batang Sorgum ini diperkirakan sejumlah sekitar 60% dari berat batangnya setelah diambil niranya. Ampas batang Sorgum atau bagase ini sebenarnya masih bisa diolah menjadi Bioethanol, karena ia termasuk bahan-bahan Lignoselulosa, namun teknologi untuk pengolahan yang mudah dan praktis masih terus dikembangkan. Oleh karena itu dalam proyeksi kita ini ampas batang Sorgum ini akan dijadikan sebagai pakan Sapi.

Silase Sorgum untuk Pakan Sapi

Sapi biasanya diberi pakan berupa rumput atau hijauan makanan ternak (HMT) lainnya dan suplemen pakan untuk menambah asupan protein, mineral serta minuman probiotik bagi pencernaan Sapi. Dari panen tanaman Sorgum diperoleh daun, dari pemerasan batang Sorgum diperoleh Bagase atau Ampas Batang Sorgum, semuanya bisa dijadikan pakan bagi Sapi. Daun dan bagase dari Sorgum ini merupakan bahan pakan yang lebih baik dari pada HMT lainnya, karena kandungan proteinnya yang lebih tinggi. Sehingga kalau diberikan ke Sapi maka memberikan pertumbuhan daging dan produktifitas daging yang lebih banyak.

Berapa keperluan pakan harian untuk Sapi? Sapi memerlukan HMT sekitar 10 % dari bobot badannya. Kalau dihitung rata-rata berat Sapi 250 kg per ekor berarti dibutuhkan pakan HMT sekitar 25 kg per ekor per hari. Dalam setiap hektar Sorgum yang dipanen akan menghasilkan daun sekitar 40 ton/hektar/musim. Kalau mengikuti asumsi di atas, kita akan memanen 0,04 – 0,05 hektar Sorgum, berarti akan memanen daun Sorgum sebanyak 40 ton/hektar x 0,04 hektar/hari = 1,6 ton/hari atau 1.600 kg/hari. Berarti ada 64 ekor Sapi yang bisa dipelihara (1600 kg/hari : 25 kg/hari/ekor = 64 ekor), dengan 4,4 sampai 5,5 hektar. Berarti dalam setiap hitungan per hektar Sorgum dapat dipelihara Sapi sejumlah maksimal 11 - 14 ekor, kita asumsikan saja sebanyak 10 ekor Sapi.  

Kalau mengikuti kapasitas mesin PBE 1000 liter/hari, maka lahan Sorgum yang ditanam sekitar 55 – 68 hektar, katakanlah 50 hektar, berarti dengan asumsi 10 ekor Sapi per hektar maka ternak Sapi yang bisa dipelihara ada 500 ekor. Jadi angka asumsi sementara dengan kapasitas PBE 1000 liter/hari, dengan sekitar 50 hektar Sorgum dan ternak Sapi sekitar 500 ekor.

Sapi dalam hal ini memanfaatkan produk sampingan dari pada tanaman Sorgum berupa daun dan bagase batang Sorgum. Namun Sapi juga sekaligus akan menghasilkan bahan pangan berupa daging, menghasilkan juga bahan baku pupukdan bahan baku pestisida organik yang hebat, aneka enzime dan ZPT alami yang hebat bagi tanaman Aren dan Sorgum sekaligus. Sinergi keterpaduan usaha antara Aren, Sorgum dan ternak Sapi ini sangat meminimalkan input sarana produksi dari luar, dengan demikian akan berperan mengefisienkan biaya-biaya produksi untuk kebun Aren dan pertanaman Sorgum. Dengan demikian produk-produk yang dihasilkan, yaitu Gula Aren, Bioethanol, dan produk turunan lainnya akan dapat berdayasaing karena sistem usahanya sangat efisien. (bersambung).

Senin, 01 Desember 2008

Foto-foto benih kecambah Aren

Buah Aren dari yang muda untuk kolang-kaling,

buah tua warna sudah kuning, biji dan bibit mini cabutan


Perkembangan Aren dari biji sampai berkecambah


Kecambah benih Aren dengan stolon yang gemuk dan segar


Kumpulan benih kecambah Aren


Benih kecambah yang sehat dan segar siap dibibitkan di polibag


Minggu, 23 November 2008

Bibit Aren di Persemaian Nunukan Kaltim

Pembibitan Aren di Persemaian Nunukan Kaltim

Pak Daeng Lao dengan bibit Aren umur sekitar 2 bulan


Pak Daeng Lao dengan bibit Aren umur sekitar 4-6 bulan


Bibit Aren tahan banting meski lahan habis tergenang banjir


Bapak Ir. Purwanto, M.M.  Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Kalimantan Timur sedang memperhatikan bibit Aren di Persemaian Bibit Aren Nunukan


Bibit Aren yang berumur antara 4 - 6 bulan

Kamis, 20 November 2008

MENCARI INDUK POHON AREN YANG UNGGUL


Gambar-gambar penyiapan pengiriman bibit jarak jauh.


Bibit sebelum dikirim dicuci dulu, dilembabkan, dicelup di larutan fungisida, kemudian dibilas dan dicelupkan lagi dalam larutan nutrisi untuk masa pengiriman selama 4-7 hari.

MENCARI INDUK POHON AREN YANG UNGGUL


Oleh Dian Kusumanto

Ada kriteria unggul yang diinginkan oleh para penyadap nira Aren. Mungkin bisa agak berbeda dengan kriteria unggul yang diinginkan oleh perusahaan perkebunan Aren. Lalu kriteria mana yang akan kita pergunakan. Ya semuanya lah biar unggulnya bisa diakui oleh para penyadap sekaligus oleh perusahaan perkebunan. Oke, kalau begitu kita mulai saja dengan kriteria keunggulan yang diingini oleh para petani pemilik sekaligus sebagai penyadapnya yang memang menginginkan produksi air niranya yang unggul.

Mungkin Pak Sarman untuk sementara kita anggap bisa mewakili para petani pekebun Aren. Karena pengalamannya yang cukup panjang yang digelutinya setiap hari, maka pendapatnya bisa dijadikan referensi yang rasanya lebih alami dan apa adanya.  

Pertama. Tanaman Aren yang unggul syaratnya yang pertama adalah yang mudah disadap. Kalau susah disadap berarti pekerjaan yang rutin ini terasa akan menjengkelkan dan menyusahkan. Pohon Aren yang mudah disadap biasanya ditandai dengan tangkai tandan buahnya terasa agak lunak atau tidak terlalu keras, sehingga akan lebih mudah disayat.  

Tanda yang lain biasanya adalah kalau pokok batangnya disayat atau dilubangi sedikit saja sudah dapat mengeluarkan air nira. Itu berarti pohon Aren itu mudah disadap dan mudah mengeluarkan nira. Nantinya, kegiatan rutin penyayatan atau pengirisan ini dilakukan 2 (dua) kali sehari pagi dan sore, maka kalau tandannya keras dan sulit disayat akan sangat berpengaruh pada kenyamanan pekerjaan harian ini.  

Kerasnya tangkai tandan bunga bisa jadi disebabkan karena faktor genetis, artinya ada faktor keturunan dari nenek moyangnya. Namun mungkin juga karena faktor fisiologis biologis yang dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Kandungan unsur hara dan tingkat kemasaman tanah bisa sangat berpengaruh pada tingkat kekerasan tangkai tandan. Kelunakan jaringan tanaman biasanya sangat dipengaruhi oleh tersedianya secara cukup unsur N dan P tanah, yang mana ketersediaan dan tingkat absorsi oleh tanaman juga dipengaruhi oleh faktor fisik dan kemis tanah.

Kedua. Biasanya pokok batangnya besar dan tinggi dengan daunnya yang hijau lebat meskipun dia agak terlindung oleh pepohonan yang lain. Barangkali sifat ini dipengaruhi oleh tingkat respon tanaman terhadap hara disekitarnya. Kalau tanah tempat tumbuhnya subur dengan keadaan fisik dan kimia tanah yang normal, maka tanaman yang memang unggul juga akan tumbuh dengan batang yang besar dan pohon yang tinggi menjulang. Ada juga pohon yang meninggi karena pengaruh kurang cahaya matahari pada saat pertumbuhannya atau sering disebut sebagai etiolasi. Namun biasanya pohon yang mengalami etiolasi pokok batangnya agak kecil dengan ruas-ruas buku batangnya yang agak memanjang.  

Respon tanaman yang baik terhadap pemupukan akan menjadi kriteria bagi perusahaan perkebunan, karena nanti akan dilakukan pemupukan dan pemeliharaan yang intensif, sebagaimana sistem budidaya pada tanaman perkebunan yang lain. Berbeda dengan kondisi kebiasaan petani Aren kita sekarang ini yang tidak pernah melakukan pemupukan. Yang biasa dilakukan petani biasanya hanya membersihkan lingkungan di sekitar pohon Aren dari pohon-pohon lain yang melindunginya.

Ketiga. Tandannya berukuran besar dan panjang. Sebab ini berpengaruh pada banyaknya dan lamanya frekuensi penyadapan serta banyaknya nira yang bisa dikumpulkan. Tangkai yang panjang bisa disadap sampai dengan 7 bulan, tergantung dari keahlian dan kesabaran cara mengiris tangkai tandan dari penyadapnya. Tangkai tandan yang besar mempengaruhi banyaknya nira yang mengalir. Sehingga kalau tangkai tandan bunga ini selain besar juga panjang, maka hasil nira yang dihasilkan juga akan banyak volumenya dan periode penyadapannya akan lama. Oleh karena itu pohon yang unggul adalah pohon yang produksi niranya juga tinggi.

Semakin tipis sayatan atau irisan akan semakin lama pula tangkai tandan bisa mengeluarkan air nira. “Kalau bisa sayatannya setipis kertas”, kata Pak Sarman. Sayatan tipis sebenarnya hanya untuk menghilangkan jaringan pembuluh tapis tanaman yang tersumbat akibat dari pengaruh oksidasi atau bersentuhan dengan udara luar.  
Oksidasi yang terjadi menyebabkan browning (pencoklatan) pada jaringan terluar pembuluh yang teriris dan berhubungan dengan udara bebas.  

Apakah ada cara untuk menghambat proses tertutupnya pembuluh atau saluran kapiler nira ini? Barangkali dengan cara membuat vacum pada permukaan jaringan yang terbuka karena disayat atau diiris, tapi bagaimana caranya? Atau membuat alat pengiris yang dapat mengiris tangkai tandan itu setipis mungkin. Atau kombinasi antara alat vacum sekaligus dengan pisau pengirisan yang tipis. Mungkin nanti akan dibahas pada tulisan yang lain. InsyaAllah!

Keempat. Masa produksi panjang dan masa istirahat berproduksi pendek. Menurut beberapa petani yang ditemui penulis, sepertinya ada hubungan antara besarnya diameter batang pohon Aren dengan masa produksi dan masa istirahatnya. Pohon yang berbatang kecil biasanya tangkai tandan bunganya juga kecil dan pendek. Kalau tandannya pendek berarti masa produksi atau panen pendek, sedang masa istirahatnya lebih panjang.  

Kalau pohonnya besar biasanya akan mengeluarkan tangkai tandan bunga yang lebih besar dan panjang, sehingga masa sadapnya menjadi lebih lama dan masa istirahat atau masa menunggu munculnya tangkai tandan bunga yang siap disadap lebih pendek. Hal ini sebenarnya juga dipengaruhi oleh tingkat keahlian cara mengiris dari para penyadapnya serta tingkat kemudahan atau kelunakan tangkai tandan yang diiris.

Kelima. Perlakuan pemukulan untuk merangsang keluarnya nira tidak terlalu lama. Sebab ada pohon yang agak susah dan lama mengeluarkan air nira meskipun sudah dilakukan perlakuan pemukulan, dan perlakuan lainnya. Namun ada jenis pohon Aren yang gampang sekali mengeluarkan meskipun perlakuan pemukulannya belum terlalu lama. Respon terhadap perlakuan pemukulan perangsangan keluarnya air nira memang bisa tidak sama di berbagai tempat, sehingga ada kemungkinan di daerah yang pohon Arennya berkembang dan dimanfaatkan adalah yang gampang merespon perangsangan.  

Ada juga daerah yang banyak pohon Arennya namun penyadapnya kurang, mungkin disebabkan juga karena pohon sulit dirangsang dan sulit mengeluarkan nira. Namun ada juga yang sebaliknya, yaitu ada daerah yang banyak pohonnya banyak juga yang menyadap, hampir semua pohon dimanfaatkan.  

Perlakuan pemukulan ini sebenarnya bertujuan untuk merangsang terbukanya saluran kapiler, saluran menjadi longgar dan mampu di lewati air nira mulai dari pangkal tangkai tandan bunganya sampai ke ujungnya. Pemukulan dilakukan dengan bantuan alat pemukul dengan bentuk yang khas dan terbuat dari bahan kayu-kayuan tertentu. Alat pemukul ini cukup untuk memberi getaran-getaran tetapi tidak melukai atau membuat kulit tangkai tandan bunga menjadi seperti memar-memar.  

Ada juga petani yang selain melakukan pemukulan-pemukulan juga melakukan gerakan-gerakan pada tangkai tandan dengan arah ke kanan dan kekiri, ke atas dan ke bawah dengan berulang-ulang. Namun cara menggerakkan tangkai tandan tadi dilakukan agak lembut dan pelan dengan segenap perasaan dan pengharapan.  

Pada perkebunan besar bisa saja pekerjaan pemukulan dan perlakuan lain untuk merangsang keluarnya nira ini akan digantikan dengan alat khusus. Barangkali alat itu seperti alat getar untuk pemijatan yang dipasang pada tangkai tandan, yang secara periodik digetarkan sehingga seperti melakukan pemukulan ringan yang berulang-ulang. Alat ini juga bisa menggerakkan tangkai tandan ini atau meliukkan ke kanan dan ke kiri ke atas dan ke bawah. Bagaimana dengan listriknya? Mungkin menggunakan baterai saja.  

Perangsangan memang selalu dilakukan untuk setiap tangkai tandan bunga baru yang akan dipungut air niranya. Jadi frequensi perangsangan tangkai tandan ini mengikuti jumlah tandan yang keluar. Kalau dalam setahun rata-rata setiap pohon akan mengeluarkan tangkai tandan sebanyak 2-5 tandan. Jadi dalam setiap hektarnya dengan populasi tanaman 200 pohon, maka akan dilakukan perangsangan tangkai tandan pohon sebanyak 400 sampai 1000 kali/tahun/hektar. Angka yang besar sekali, apalagi kalau luasan kebunnya mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan hektar. Maka penciptaan alat untuk merangsang tangkai tandan bunga menjadi suatu yang strategis dalam pengembangan Aren skala luas.

Keunggulan pertama sampai dengan kelima adalah untuk pohon Aren yang diharapkan dalam produksi air niranya. Namun sebenarnya tanaman Aren juga bisa diharapkan dari hasil lainnya seperti ijuknya, kolang-kalingnya, sagunya, lidinya, dan lain-lainnya.

Mungkin ada lagi kriteria unggul yang lainnya, bagaimana menurut Anda?  

Bibit mini dibungkus dengan koran yang lembab.  Bibit akan tetap segar dan sehat bila tetap tertutup atau kedap, selalu lembab dan tidak kena angin atau cahaya matahari langsung.

Bibit mini ini berumur antara 2-4 bulan dari mulai kecambah. Dibungkus dengan koran yang berlapis agar kuat dan tetap segar selama pengiriman antara 4-7 hari.

Bibit mini dikemas dan dikirimkan dengan paket kiriman TIKI 

Senin, 03 November 2008

MENUJU SISTEM AGRIBISNIS AREN INDONESIA (SAAI) YANG EFEKTIF

MENUJU SISTEM AGRIBISNIS AREN INDONESIA (SAAI) YANG EFEKTIF
Oleh : Dian Kusumanto

Di dunia agribisnis kelapa sawit dikenal Sistem Agribisnis Kelapa Sawit Indonesia (SAKSI) dengan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) sebagai lokomotifnya. SAKSI idealnya adalah sebagai suatu sistem besar yang mengontrol arah pengembangan agribisnis kelapa sawit Indonesia saat ini. DMSI dengan mekanisme SAKSI idealnya dapat mengarahkan bisnis kelapa sawit Indonesia menjadi bisnis yang mampu menyejahterakan bangsa secara berkelanjutan (sustainable).

Belajar dari skema pengembangan komoditi kelapa sawit maka untuk pengembangan Aren adalah dengan skema Sistem Agribisnis Aren Indonesia (SAAI) yang dilokomotifi oleh Dewan Aren Indonesia (DAI) atau dengan nama Dewan Aren Nasional Indonesia (DANI). Tulisan terdahulu yang diusulkan adalah Dewan Aren Nasional (DAN), tapi apalah arti sebuah nama apakah DAN, DAI atau DANI, boleh-boleh saja, yang penting nanti adalah aksi-aksinya dalam membangun sistem agribisnis Aren berkembang dengan baik yang mampu menyejahterakan seluruh yang terlibat di dalamnya maupun dapat menyejahterakan bangsa Indonesia secara berkelanjutan.

Bagaimana model dari SAAI sebagai organisasi yang mampu mengarahkan agribisnis Aren menuju keunggulannya, maka pembentukan Dewan komoditas seperti DANI, DAI atau DAN sebagaimana amanat Undang-undang Perkebunan, perlu dibentuk lebih dulu. Perumusan SAAI mengarahkan agribisnis Aren mampu berkembang menghadapi dinamika perubahan lingkungan bisnis nasional, regional dan global yang berkelanjutan (sustainble), selanjutnya dapat mengentaskan kemiskinan dan permasalahan ekonomi lainnya di Indonesia, sehingga agribisnis Aren dapat menjadi penghela ekonomi nasional yang menyejahterakan para pelakunya.

Siapa saja yang seharusnya terlibat dalam Dewan Aren Nasional Indonesia (DANI)? (Sepertinya nama DANI lebih keren ya?! Oke selanjutnya kita pakai DANI saja). Idealnya seluruh stake holder dapat dilibatkan secara proporsional. Untuk efektivitas organisasi diperlukan tintervensi pada tingkat organisasi dengan melibatkan tiga pilar utama yang dinamakan ABG (academician, businessman dan government). ABG ini akan melaksanakan berbagai skema aksi yang masing-masing terpadu sehingga secara simultan mengarahkan pembangunan dan pengembangan agribisnis Aren ke GOAL atau tujuan yang diharapkan bersama.

Menyitir paparan Bapak Iyung Pahan dalam bukunya Kelapa Sawit, Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir, berbagai program yang dilaksanakan oleh triparted ABG itu ada 8 (delapan) skema aksi yang disebut sebagai 8P. Yang dimaksud 8 P itu adalah Program, Politik, People, Planet, Profit, Pengelolaan, Pemasaran dan Penelitian.

Government (pemerintah) berperan dalam skema aksi antara lain : Politik, People, Planet dan Profit yang dikemas dengan berbagai Program. Academician (akademisi atau Perguruan Tinggi) memfokuskan diri pada skema aksi Penelitian Aren. Sedangkan Businessman (Pengusaha, Pekebun, Petani, Pedagang, Koperasi) melaksanakan skema aksi Pengelolaan dan Pemasaran. Semua pelaku (ABG) ini akan bersama-sama patuh dalam skema aksi masing-masing dalam suatu Sistem Agribisnis Aren Indonesia (SAAI).

Ibarat suatu permainan musik dalam orkestra, maka simfoni suara alat musik yang dimainkan oleh para pemain musik mengalun mengikuti aransemen yang diciptakan oleh aranger yang sangat piawi dan profesional. Aranger dalam orkestra agribisnis Aren ini adalah DANI sedangkan aransemennya adalah SAAI. Pemain-pemain musiknya adalah para stake holder yang terlibat dalam komposisi ABG tadi, yang memainkan aransemen dengan pimpinan Sang Aranger.

Simfoni indah itu adalah agribisnis Aren yang mandiri, berdaya saing dan maju. Untuk dapat mandiri, berdaya saing dan maju, maka sistem yang dikembangkan harus dapat mengelola berbagai keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dari Agribisnis Aren ini. Bagaimana mengelola keunggulan-keunggulan Aren ini? Maka, ibarat intan maka untuk mencapai keindahan dan nilainya yang tinggi perlu diasah, dipoles, digosok sampai gemerlap.

Bagaimana menurut Anda, wahai Aren mania?