......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Jumat, 02 Juli 2010

Mengurangi kandungan air dari Nira Aren dengan Teknologi Membran dan Reverse Osmosis

Nira mengalir terus menerus dari pohon melalui pipa-pipa hingga ke tempat penampungan Nira Akhir di Pabrik

Pemanasan awal Nira di Pan Evaporator

Pemasakan Nira yang sudah kental (setelah melalui alat RO) di Pan Evaporator hingga menjadi Syrup dengan kadar Gula (Brix) mencapai sekitar 66 %.

Dapur Pemasakan yang sangat bersih sehingga produk hasil pengolahannya bermutu sangat baik, bersih dan hiegenis, sangat layak ke pasar Super Market dan Pasar Ekspor.

Alat ini berfungsi untuk pemompa nira agar apabila jaringan pipa tidak bisa mengandalkan gaya gravitasi, maka nira tetap akan mengalir menuju penampungan akhir dan sekaligus pengolahan Nira selanjutnya.


Alat RO untuk Nira dari pohon Maple (Maple saccharrum)  di Canada dan Amerika Bagian Utara.  Sekarang hampir setiap perajin di Canada sudah memiliki alat RO ini.


Alat RO untuk mengeluarkan massa air murni dari Nira Maple di Canada


Mengurangi kandungan air  dari Nira Aren dengan Teknologi  Membran dan Reverse Osmosis

Oleh : Dian Kusumanto


Mengolah  Nira menjadi Gula adalah tujuan utama dari perkebunan Aren.   Namun untuk mengolah Nira menjadi Gula Aren Cetak, para perajin tradisional memerlukan bahan bakar berupa kayu bakar yang sangat banyak untuk memasaknya.   Memasak Nira sebenarnya bertujuan untuk  menguapkan air dari Niranya.   Nira yang terdiri dari Gula dan Air, akan semakin mengental pada saat dimasak,  karena air dalam nira berkurang sedangkan kadar Gula semakin meningkat.    

Selama ini,  untuk mengurang kadar air Nira dilakukan dengan cara mendidihkan air, yaitu dengan memasak nira pada suhu yang tinggi dengan waktu yang lama.  Air mulai mendidih pada suhu 100 derajat Celcius,  air akan berubah menjadi uap air yang panas, dan uap air yang panas akan naik ke atas karena memiliki masa jenis yang sangat ringan.   Untuk menguapkan massa air yang sangat banyak maka memerlukan energy panas yang sangat besar dan diekspose dengan waktu yang lama.

Untuk mendidihkan Nira biasanya dilakukan dengan memanaskan Nira di atas wadah logam atau keramik.  Wadah  atau  “Pan” tempat  memanaskan, mendidihkan,  menguapkan Nira sering disebut dengan “Pan Evaporator”.   Wadah  ditaruh di atas tungku, atau pemanas yang terbuat dari tanah liat, batu atau dari logam.  Pada umumnya petani atau perajin Gula Aren menggunakan Dapur tanah liat dengan bahan bakar kayu.

Sistem Tungku dan Wadah Masak Nira yang lazim digunakan, antara lain :

  •     Sistem Tungku Tanah Liat dengan Kuali Tanah Liat
  •     Sistem Tungku Tanah Liat dengan Wadah Logam (Wajan)
  •     Sistem Tungku Tanah Liat dengan Wadah Masak dari Drum bekas
  •     Sistem Tungku Semen dengan Wajan Besar dari Logam
  •     Sistem Tungku Semen dengan Wadah Nira Drum Bekas
  •     Sistem Tungku Semen dengan Wadah masak Nira Stainlees Still
  •     Sistem Tungku Tertutup berbahan Semen dan atau Logam dengan Wadah masak Nira Logam/ stainless still.

Sistem dehidrasi Nira (pengurangan air nira)  dengan tungku daan wadah terbuka ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :

 Kelebihannya adalah :

 

Kekurangannya :


  •   Biaya pembuatan (investasi)nya murah.
  •   Tidak perlu keahlian khusus dalam pembuatannya.
  •   Bahan-bahan biasanya mudah didapat,  tanah liat, bata semen, drum wajan, wadah keramik  mudah diperoleh.
  • Mudah dioperasikan oleh siapa saja, tinggal mengaduk terus menerus.

 

  •   Boros bahan bakar, memerlukan bahan bakar yang sangat banyak (4-5 kg kayu per 1 liter Nira).
  •   Memasak Nira memerlukan waktu yang lama (5-6 jam). 
  •   Kualitas Gulanya sangat bervariasi tergantung pengalaman si pemasaknya.
  •   Dapur atau tempat masaknya biasanya kotor, penuh jelaga hitam dan kurang hiegenis.  Biasanya dapur dibuat  di tengah-tengah kebun yang agak jauh dari pemukiman.
  •   Biaya operasional  (unit cost) menjadi sangat mahal, namun biasanya tidak disadari.
  •   Kurang efisien, tenaga kerja yang diperlukan banyak.  Seorang perajin biasanya hanya memiliki kemampuan mengolah Gula jadi sekitar 20-50 kg sehari.
  •   Kapasitas pengolahannya sangat terbatas.

Beberapa kemajuan system  tungku  dalam pengolahan Nira menjadi Gula  dapat kita lihat di Canada dan Amerika Utara, yaitu dalam industry Maple Syrup.    Maple (Maple Saccharrum)  adalah satu jenis pohon yang bisa mengeluarkan  Nira  (air yang mengandung Gula) yang banyak tumbuh di Canada dan Amerika Utara.    Perkembangan teknologi pengolahan Nira menjadi Gula Cair atau Syrup sangat pesat.  Oleh karena itu bisa kita jadikan rujukan untuk teknologi pengolahan Nira Aren, Nira Kelapa,  Nira Siwalan dan Nipah sebagai  Gula Sirup, Gula Semut, Gula Merah Serbuk, Gula Merah Cetak, dll.

Pada industry pengolahan Nira Maple di Canada misalnya, system tungku sudah menggunakan system tungku tertutup.  Sistem tungku tertutup memiliki  ciri sebagai berikut :

  •      Tempat perapian atau pembakaran tertutup, tidak ada celah untuk keluarnya api pembakaran.
  •      Antara tungku dan wadah penampung yang dipanaskan tertutup rapat dan tidak ada celah yang memungkinkan api (energy) keluar percuma.
  •      Biasanya dilengkapi dengan Cerobong asap yang ujungnya keluar dari ruangan tempat pemasakan, sehingga dapur bersih dari kemungkinan adanya jelaga atau debu hasil pembakaran.

Pola tungku tertutup sendiri memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :

Kelebihan

 

Kekurangan

  • Energi yang hilang diminimalkan
  • Lebih hemat bahan bakar
  • Lebih cepat
  • Mutu hasil olahan lebih bersih dan baik
  • Lebih hemat  tenaga kerja
  • Ruangan Dapur tidak panas, sehingga Pekerja lebih nyaman

 

  • Harganya Mahal
  • Biayanya pembuatannya mahal
  • Pengoperasiannya perlu ketrampilan khusus
  • Teknologi masih langka (tidak semua bengkel bisa).
  • Dll.

 

 

Pada perkembangan baru teknologi pengolahan Nira, dikenal alat yang dinamakan RO Mechine atau Alat Reverse Osmosis.  Alat RO ini berfungsi untuk memisahkan antara Nira dengan Air murninya dengan system membrane.   Penggunaan RO ini tidak memerlukan pemanasan,  namun hanya energy listrik untuk menjalankan pompa tekanan agar massa Nira yang terdiri dari air dan gula  dapat melalui atau menerobos pori-pori membrane .  Karena molekul Gula lebih besar dari pada pori-pori membrane , maka hanya molekul Air saja yang dapat lolos dari pori-pori membrane.   Sehingga sebagian massa air memisahkan diri dari Niranya,  yang menyebabkan Nira mengalami pengurangan kadar air, sehingga  meningkat kadar gulanya  atau semakin kental.

Teknologi Membran sebenarnya sudah berkembang luas untuk berbagai bidang kehidupan.   Di bidang pengolahan Nira sudah diterapkan sejak 1980-an di Canada dan Amerika Utara pada pengolahan Nira pohon Maple.  Nira pohon Maple yang memiliki kadar Gula 2 % didehidrasi dengan system membrane dengan alat RO sehingga air murni dapat dipisahkan  antara 2/3 sampai  3/4 bagian volumenya dari Nira.   Nira menjadi lebih kental dengan kadar Gula Nira sekitar 12 %.  Dari kadar gula  2% menjadi 12% berarti 6 kali lipatnya, ini seandainya diolah dengan pemanasan tentu sangat lama dan butuh bahan bakar sangat banyak.

Gambar kiri adalah Nira Tebu sebelum di filtrasi, sedangkan gambar kanan adalah Nira Tebu yang sudah difiltrasi menggunakan Teknologi Membran.  Nira yang bersih, jernih dengan warna yang sangat cerah ini diproses tanpa bahan kimia, tanpa pemanasan, dan zat aditif lainnya yang berbahaya, tetapi hanya dengan menggunakan Teknologi Membran.

Dr. Ir. I Gede Wenten dengan alat Filtrasi Membran dari Teknik Kimia ITB Bandung.


Di Indonesia sebenarnya ada Seorang ahli membrane tingkat dunia, yaitu  Dr. Ir. I Gede Wenten dari Teknik Kimia ITB Bandung.    Teknologi Membran yang dikembangkannya  sudah mencakup berbagai bidang, termasuk bidang industry Gula.   Menurut  Dr.  Ir.  I Gede Wenten,  Nira Tebu maupun Nira Aren  juga bisa menggunakan Teknologi Membran.   Nira Aren  jika dilakukan  pengolahan menggunakan alat RO  kandungan  Gula Nira dapat ditingkatkan dari 10-12% awalnya  menjadi sampai  30%.   Artinya massa air murni yang terdapat dalam larutan Nira dapat dipisahkan sebanyak sekitar 60 % (atau hampir 2/3) bagian dari Nira.    Pada proses ini tidak menggunakan energy panas, sehingga sangat hemat bahan bakar.

Alat RO sudah tidak bisa lagi mengeluarkan massa air dari dalam nira yang kandungan Gulanya sudah 30 % .  Oleh karena itu jika ingin diolah menjadi Syrup Arena tau Gula Aren Cair dengan kadar Brix atau kadar Gula 66%, maka tetap diperlukan alat penguapan air nira dengan menggunakan Pan Evaporator,  alat Vacum Evaporator,  Thin Layer Evaporator, Rotary Evaporator, Falling Thin Layer Evaporator, dll.  Karena kadar Gulanya sudah tinggi, maka untuk pemasakan hingga mencapai kadar Gula 66 %, tidak terlalu lama memasaknya.  Inilah yang dikatakan bahwa teknologi membrane  sangat membantu penghematan dalam pengolahan Nira.

Ujicoba Teknologi Membran Filtrasi untuk pengolahan Nira Tebu di salah satu Pabrik Gula di Jawa Timur.

Nira segar yang bersih, jernih dengan warna yang menarik  siap dikemas dalam botol, diproses hanya dengan Teknologi Membran tanpa pemanasan.

Tidak hanya penghematan namun Teknologi Membran ini  dapat membangkitkan ekspektasi yang luar biasa pada bisnis Aren yang cemerlang, karena beberapa hal  antara lain :

  •       Nira menjadi sangat bersih dan hiegenis, karena bisa dipisahkan dengan partikel-partikel kotoran yang mungkin terlarut.
  •       Nira bisa distrerilkan dari kandungan organisme renik yang menyebabkan mutu nira berubah.
  •       Nira bahkan bisa dikemas dan dijual dalam keadaan segar tanpa proses pemanasan.
  •       Dll.

Oleh karena itu dalam system pengolahan yang melibatkan alat RO ini maka proses pengolahan Nira menjadi Gula  Aren Cair (Palm Sugar Syrup)  adalah sebagai berikut :

  •       Nira menetes dari tandan bunga dan mengalir ke  jaringan pipa  melalui dulu APUS (alat pengaman ujung sadapan).
  •       Nira mengalir dari pipa pohon ke pipa antar pohon yang lebih besar ukurannya.
  •       Nira kemudian mengalir menuju ke penampungan akhir di pabrik pengolahan, namun di tengah perjalanan Nira melalui pompa pendorong yang berfungsi untuk mendorong Nira ini lebih kuat hingga sampai ke penampungan nira akhir di pabrik.
  •       Dari penampungan Nira di pabrik nira, sebelumnya Nira sudah melalui alat-alat penyaring  sebelum penampungan, yaitu yang berada sebelum penampungan akhir.
  •       Setelah di penampungan Nira mulai diolah dengan Alat RO Nira guna mengurangi kadar air  hingga  sekitar 60% sekaligus menaikkan kadar Gula hingga sekitar 30 %.
  •       Selanjutnya Nira kental ini diolah lanjut untuk menjadi Gula Aren Cair (Syrup) dengan Alat Pan Evaporator.    Nira kental dimasak di atas Pan sampai kadar Gula (Brix) mencapai  66 %.  Pada Pan Evaporator ini nira dipanaskan menggunakan bahan bakar kayu, minyak atau uap panas.  Nira akan mendidih dan menguapkan air yang masih terkandung di dalam nira hingga nira menjadi semakin kental.
  •       Bila sudah memenuhi syarat  mutu syrup, maka kemudian dilakukan pengemasan yang menarik dan baik untuk Gula Cair ini dengan  menggunakan wadah botol, wadah kaleng,  plastic kemasan, atau wadah lainnya.

 Dengan cara-cara seperti di atas maka produk Gula Cair kita akan sangat bermutu, tidak kalah dengan Maple Syrupnya Canada, tidak kalah dengan Arenga Syrupnya Malaysia,  dan sirup-sirup dari Negara manapun.

Bagaimana menurut Anda?

Belajar Jembatanisasi Kebun Kelapa di Phillippina untuk Kebun Aren


Rabu, 23 Juni 2010

Maksimalisasi produksi Nira melalui upaya memperpanjang masa sadap tandan bunga Aren

Maksimalisasi produksi Nira melalui upaya memperpanjang masa sadap  tandan bunga Aren

Oleh : Dian Kusumanto

 

Setengah tidak percaya pada saat ada teman menelepon saya pada pada sekitar akhir Januari 2010 yang lalu.   Teman saya ini, Eka Wijaya (35 Tahun), waktu itu sedang pulang kampung di wilayah Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara.   Sesampainya di Nunukan Pak Eka Wijaya ini bercerita lagi tentang apa yang sudah ditemuinya pada saat pulang kampung itu.   Dia berkisah tentang Bapak Kerek  seorang petani ‘sukses’, pedagang Gula sekaligus  juragan Tuak  asal  Tana Toraja di Desa Pulemo Kecamatan Puli-pulia Kabupaten Kolaka.

Pak Kerek ini memiliki sekitar 5 hektar kebun campuran.  Dalam kebun ini pohon Aren sangat mendominasi.  Ada sekitar 30-an orang yang bekerja untuk membantu Pak Kerek menyadap pohon Aren dari dalam kebunnya.   Masing-masing pekerja mempunyai kemampuan menyadap sekitar 10-15 pohon.   Nira Aren hasil sadapan ini sebagian diolah menjadi Gula, namun sebagian besar dijual sebagai Tuak Manis maupun Tuak Pahit.   Penghasilan seorang penyadapnya bisa mencapai Rp 300.000 per hari.  Ini penghasilan yang sangat bagus bagi seorang petani di kampung.

Yang sangat menarik adalah adanya satu tandan bunga pohon Aren yang bisa disadap selama 1 tahun 2 bulan, atau selama 14 bulan.    Ada sekitar 40-an pohon yang seperti ini.  Ciri pohonnya sangat tinggi berbatang besar.  Pangkal tandan bunga jantannya berukuran besar  berdiameter sekitar 20-25 cm,  panjang tandan bisa mencapai  sekitar 70 cm sampai 1 meteran.  

Kenapa bisa sangat lama masa sadap tandannya?  Ini yang kemudian ditelusuri  Pak Eka Wijaya lebih lanjut.   Ternyata  para petani  dalam melakukan cara-cara penyadapan tandan sebagai berikut :

  •    Mengiris tandan bunganya dengan  sangat tipis
  •    Pisau yang digunakan sangat tajam
  •    Selain cara irisan sering juga dilakukan dengan gosokan menggunakan ‘daun Amplas’, kadang tandan hanya digosok-gosok dengan permukaan kasar dari daun amplas sehingga tidak perlu diiris lagi.

Menurut para peneliti dan beberapa penulis,  pohon Aren dapat mengeluarkan tandan bunga jantan sebanyak 3-4 tandan per tahun.   Artinya rata-rata tandan akan muncul sekitar 3-4 bulan sekali.   Namun ada kalanya tandan muncul hampir bersamaan.  Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh keadaan intern pohonnya dan keadaan eksternnya seperti  tingkat kesuburan tanah  tempat tumbuhnya serta keadaan iklim dan cuaca yang sedang berlangsung.

Artinya, seandainya setiap tandan bisa disadap  minimal selama 4 bulan, maka sepanjang tahun pohon akan terus bias menyediakan tandan untuk siap disadap.   Produksi akan lancar sepanjang tahun, tidak pernah stop alias berhenti produksi.  Dengan kata lain masa istirahat berproduksi dari pohon menjadi nol, alias tidak mengalami masa istirahat berproduksi dan pohon terus-menerus menghasilkan nira setiap hari sepanjang tahun,   seminggu 7 hari, sebulan 30 hari dan 12 bulan dalam setahun,  full sadap.

 Upaya memperpanjang masa sadap

 Lama masa sadap setiap tandan bunga Aren ini dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut :

  •     Panjangnya tandan bunga atau bidang sadap, semakin besar maka semakin lama tandan bunga bias disadap.   Misalnya,  kalau panjang tandan  60 cm dan ketebalan irisan setiap hari rata-rata 0,4 cm, maka lama penyadapannya adalah   60 cm : 0,4 cm/hari  = 150 hari.  Namun kalau pengirisan rata-rata 0,6 cm per hari maka lama sadapnya menjadi 100 hari.
  •     Kemudahan tandan untuk mengeluarkan nira saat diiris, ini berpengaruh pada tebal  tipisnya irisan sadap.  Semakin mudah diiris artinya diiris sedikit saja sudah bisa mengalirkan nira lagi.
  •    Keahlian mengiris dari para penyadap juga dipengaruhi oleh ketajaman dari pisau. 
  •    Ketajaman dari pisau sadap.
  •    Kebersihan  pisau, sebab pisau bisa membawa kontaminan.
  •    Terjadinya kontaminasi yang berakibat pada buntunya ujung  sadapan yang diakibatkan dari munculnya lendir (bakteri) di ujung sadapan.
  •    Terjadinya oksidasi pada permukaan pelukaan pada ujung sadapan sehingga membuat pori-pori seolah mongering dan menutup sehingga air nira tidak mengalir lagi.
  •   Selalu menjaga ujung sadapan tetap steril, tidak mudah terkontaminasi oleh mikroba (bakteri atau jamur), tidak terpapar matahari langsung, dan tidak terkena terpaan angin serta tetesan air yang mungkin terkontamisasi.
  •   Dll. 

Oleh karena itu upaya memperpanjang masa sadap setiap tandan ini sangat signifikan, sangat mutlak (absolute) dalam mempengaruhi produktifitas  nira dari setiap pohon Aren.   Dari produksi  setiap pohon inilah yang akan mempengaruhi produktifitas nira dari kebun Aren.   Jadi upaya ini mutlak harus dilakukan jika kita menginginkan pengelolaan kebun secara maksimal.  Dengan kata lain, kalau ingin mengelola kebun yang baik maka hal ini menjadi bagian Standar Operasional Prosedur (SOP) yang wajib dilakukan.

APUS (Alat Pengaman Ujung Sadapan)

Untuk menginisiasi teknologi yang mengarah pada pengelolaan ujung sadapan tandan bunga Aren, maka penulis mencoba merancang alat pengaman ujung sadapan yang disebut sebagai APUS.  APUS ini paling tidak memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :

  1. Melindungi ujung sadapan dari kontaminasi hewan/ serangga/ angin/ udara  kotor/   bakteri/ jamur/ air hujan/ air tetesan / air embun/ cahaya langsung.
  2. Sebagai corong penghubung dengan selang (pipa plastik)  penyalur nira pada   jaringan pipanisasi nira yang kuat/ aman.
  3. Memungkinkan untuk melakukan sterilisasi/ kebersihan ujung sadapan agar  tidak mengalami kontaminasi dan penyumbatan aliran nira, yaitu dengan  cara misalnya meneteskan anti bakteri/ disenfektan alami atau yang aman di ujung sadapan.
  4. Berpotensi untuk lebih memperpanjang masa penyadapan setiap tandan  bunga serta meminimalkan masa istirahat produksi nira.

Mudahan ini sebagai pemicu awal bagi teknologi yang lebih  baik yang akan diterapkan pada masa yang akan datang.

Adakah Anda menemukan cara atau alat yang lebih baik lagi?  Bagi-bagi dong!!

 (Terima kasih disampaikan kepada Bapak Dr. Sigit W.  Sp.OG yang telah member beberapa masukan tentang ‘sterilisasi ujung sadapan’ lewat email penulis)

Sabtu, 19 Juni 2010

APUS (Alat Pengaman Ujung Sadapan)

APUS : Alat Pengaman Ujung Sadapan

Oleh : Dian Kusumanto

Fungsi  APUS (Alat Pengaman Ujung Sadapan) :

1.  Melindungi ujung sadapan dari kontaminasi hewan/ serangga/ angin/ udara

      kotor/ bakteri/ jamur/ air hujan/ air tetesan / air embun/ cahaya langsung.

2.  Sebagai corong penghubung dengan selang (pipa plastik)  penyalur nira pada

      jaringan pipanisasi nira yang kuat/ aman.

3.  Memungkinkan untuk melakukan sterilisasi/ kebersihan ujung sadapan agar

      tidak mengalami kontaminasi dan penyumbatan aliran nira, yaitu dengan

      cara misalnya meneteskan anti bakteri/ disenfektan alami atau yang aman di

      ujung sadapan.

4.   Berpotensi untuk lebih memperpanjang masa penyadapan setiap tandan

      bunga serta meminimalkan masa istirahat produksi nira.






Jumat, 04 Juni 2010

MENCETAK MILYARDER DARI KEBUN AREN






MENCETAK MILYARDER DARI KEBUN AREN

(Bagian 1)

Oleh : Dian Kusumanto

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat laporan dari Saudara Alianto dari Kabupaten Paser Kalimantan Timur  tentang Perajin Gula Aren di sekitar Sungai Kandilo.   Di sepanjang Sungai Kandilo Kabupaten Paser  dikenal banyak ditumbuhi pohon Aren secara liar.  Pohon-pohon Aren tersebut  berkembang biak sejak dari dahulu kala tanpa campur tangan manusia.   Para Perajin Gula yang berada di sekitar Sungai Kandilo tinggal mencari pohon mana yang akan mereka sadap untuk diambil niranya kemudian dimasak dijadikan Gula Aren.  

Menurut pengamatan  Saudara Alianto terhadap 2 orang perajin yang diwawancarainya, mereka rata-rata setiap orang perajin hanya mengelola 6 pohon Aren untuk disadap.   Dari 6 pohon rata-rata akan dihasilkan Gula Aren dalam bentuk cetak sebanyak  antara 20 – 30 biji setiap harinya.  Atu biji Gula Aren Cetak beratnya tidak sampai 1 kg, seringkali hanya sekitar 8 ons.   Harga jual Gula Aren dari petani adalah Rp 5.000 per biji.   Sehingga pendapatan kotor setiap perajin yang rata-rata mengelola 6 pohon itu antara Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per hari.  Atau kalau dihitung produktifitas setiap pohon dapat menghasilkan sekitar Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per pohon per hari.

Potensi yang sangat menguntungkan ini ternyata hanya sebagai pekerjaan sampingan masyarakat setempat, dan tidak  terpikir untuk dijadikan pekerjaan utama.  Ini sangat aneh bin ajaib, heran kan?

Kalau menurut logika bisnis kan tinggal memperbanyak jumlah pohon yang akan disadap.  Jika ada 100 pohon yang disadap berarti akan berpeluang memiliki penghasilan Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta per hari.  Atau kalau mau 200 pohon maka potensi pendapatan per hari menjadi Rp 3 juta sampai Rp 5 juta.  Nah… ?!   Kalau setahun maka kita akan menjadi seorang Milyarder.

Namun pasti ada suatu kendala yang dialami oleh perajin, sehingga dia tidak bias menerapkan logika bisnis seperti hitungan di atas.  Godaan berpenghasilan besar, apalagi menjadi Milyarder tentu sangat besar.  Namun rupanya kendala yang dialami ternyata lebih besar, sehingga para perajin Gula hanya mengelola hanya sekitar 6 pohon saja.  Beberapa kendala klasik itu antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Penyadapan Aren dianggap hanya sebagai sambilan saja.
  2. Semakin sulit dan semakin jauh untuk mencari kayu bakar.
  3. Kapasitas alat pengolahan sangat terbatas.
  4. Pengelolaan usaha hanya secara individual belum berkelompok atau korporasi.

Keadaan seperti di atas adalah kondisi rata-rata petani dan perajin Aren di seluruh negeri  ini. Mereka belum sanggup keluar dari kondisi tersebut, dari sejak dahulu kala.  Belum ada gerakan yang sanggup mengentas keadaan ini, sehingga petani Aren belum dapat merubah nasibnya.  Meskipun potensi produktifitas per pohonnya tinggi  dan jumlah pohon yang tersedia banyak, para petani belum mampu mengelolanya semua.  

Dari 4 kendala di atas, maka langkah untuk meretasnya tidak lain adalah merubah pola usaha yang harus berorientasi antara lain kepada :

  1. Usaha Aren  sebagai bisnis utama
  2. Pola korporasi atau berkelompok
  3. Menerapkan teknologi yang efisien dalam penggunaan bahan bakar
  4. Pengelolaan kebun yang tertata sehingga tenaga kerja  maksimal dan efisien

Dengan  merubah orientasi seperti diatas, maka potensi Aren sebagai usaha tani (agribisnis)  sangat besar dalam menyumbangkan pendapatan bagi para petani Aren.   Setiap petani bisa meningkatkan jumlah pohon yang dikelolanya.   Dari yang semula 6 sampai 10 pohon per orang, menjadi sekitar 100 sampai 200 pohon setiap  orang.   Maka penghasilan juga akan meningkat dari yang biasanya ‘hanya’ Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu  menjadi   Rp 1,5 juta sampai Rp 5 juta per orang per hari.   Maka dari bisnis Aren ini nanti dengan pengelolaan baru  akan lahir milyarder-milyarder baru dari kebun-kebun aren, karena pengolahan gula Arennya juga di dalam kebun.

(Insya Allah bersambung)