......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Jumat, 06 Agustus 2010

Desa Balikterus Bawean Hidup dari Gula Aren


Desa Balikterus Bawean Hidup dari Gula Aren

OLEH ASEPTA YOGA P

Desa Balikterus Kec. Sangkapura Kab. Gresik diekanl sebagai penghasil gula aren. Hampir semua penduduknya bekerja membuat gula aren. Pekerjaan itu sudah turun temurun dari keluarga.

Warga desa laki-laki maupun perempuan, setiap pagi dan sore masuk hutan untuk mengambil bambu berisi nira dan memasangnya lagi di tangkai buah aren yang telah dipotong. Hutan desa banyak tumbuhan aren kemudian disadap niranya yang oleh warga setempat disebut la’ang.


Adenan (52) warga setempat hari itu amat trampil memanjat pohon aren untuk mengambil bumbung yang berisi nira. “Setiap pagi dan sore kami selalu memasang dan mengambil bumbung di pohon aren. Untuk satu buah tangkai buah aren ini bisa diambil la’ang-nya hingga dua bulan, sedangkan sekali ambil, satu tangkai buah aren ini bisa menghasilkan lima liter,” kata pria yang sudah penuh keriput di raut mukanya itu.

Menurut Adenan, nira yang diambil dari tangkai buah aren yang baru dipotong sangat bagus kualitasnya dijadikan gula aren. ”Warnanya merah bersih, tapi jika nira diambil dari tangkai buah aren yang sudah lama dipotong, hasil gulanya agak gelap,” kata Adenan. Selain itu, dia menambahkan, nira aren di dari pegunungan di Desa Balikterus ini sangat segar untuk diminum langsug, apalagi bila dicampur dengan es.

”Rasanya sangat segar, biasanya pada saat bulan puasa, orang Bawean banyak yang membeli nira untuk dinikmati ketika makan buka, dipercaya la’ang juga bisa meningkatkan stamina dan kejantanan lelaki,” jelasnya.

Sepulang dari mengambil nira aren di hutan, Adenan langsung menuju rumah sore itu. Dan sesampainya di rumah sederhananya, Masriyah (40), istrinya, membawa bumbung berisi nira ke dapur untuk dimasak.


”La’ang dipanaskan di wajan selama beberapa jam hingga kental berwarna kemerahan. Setelah itu, la’ang dicetak di potongan bambu berdiameter empat centimeter,” papar Masriyah.

Kemudian dibiarkan hingga mengeras. Setelah mengeras, gula aren dilepas dari cetakannya dan dibungkus daun pisang. Per bungkus isinya sepuluh biji. Harga satu bungkus gula aren saat ini Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu. Satu bungkus gula aren berisi sepuluh biji itu dibutuhkan nira dua liter. Dia menjelaskan, gula aren ini mampu bertahan lama, bisa berbulan-bulan asalkan disimpan di tempat yang hangat biar tidak meleleh.


Hampir semua penduduk yang tinggal di Balikterus, berjumlah hingga ratusan kepala keluarga memanfaatkan gula aren sebagai penghasil pendapatan utama. Mereka menjual gula aren ke pasar-pasar. Tapi seringkali, turis asing atau perantau yang bekerja di Malaysia dan Singapura pulang membawa gula aren untuk dijual di negeri jiran itu.

”Di Malaysia biasanya gula aren Bawean ini dicampur dengan kelapa muda. Jadi pesanan akan meningkat pada saat musim libur atau hari-hari Lebaran, bahkan saking banyaknya pesanan, kita kekurangan barang,” imbuh Masriyah.

Tak ayal jika pada saat pesanan ramai, warga Balikterus kehabisan stok. Meskipun jumlah keluarga yang memproduksi gula aren ini ratusan, cara mereka mengolah masih tradisional, jadi tidak mumpuni untuk memproduksi gula aren dalam jumlah massal.

Sebenarnya, penghasil gula aren di Bawean tidak hanya di Desa Balikterus di beberapa daerah lainnya juga terkenal dengan produksi gula arennya, tapi penghasil gula aren dengan kualitas terbaik di Bawean adalah di Balikterus.

Desa yang berjarak lima kilometer dari kecamatan Sangkapura itu berada di daerah datarang tinggi. Pegunungan Balikterus sangat lebat dengan tanaman aren. Jadi, bahan baku gula aren di Balikterus sangat berlimpah, karena itu kualitas gula aren Balikterus terbaik.

Sumber : http://www.bawean.net/2010/05/desa-balikterus-bawean-hidup-dari-gula.html

Kamis, 29 Juli 2010

M. Azlan Petani Aren dari Ambalat











M. Azlan Petani Aren dari Ambalat



M. Azlan adalah seorang pembuat gula aren di Dusun Maspul Desa Aji Kuning Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur, Kawasan Desa Aji Kuning ini merupakan kawasan yang dekat sekali dengan garis perbatasan Negara antara RI dan Malaysia, dekat sekali dengan Kawasan Ambalat. Pulau Sebatik sendiri sebagian ikut Malaysia dan sebagian masuk wilayah Indonesia.

Pacci Dalle begitulah biasanya di panggil. Pacci Dalle adalah generasi kedua di keluarganya yang membuat gula setelah Bapaknya yaitu Almarhum Baco.
Kebiasaan membuat Gula dari penyadapan nira pohon Aren ini telah terbawa dari tanah kelahirannya di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Kebiasaan ini ternyata terbawa hingga Bapak Aco merantau ke Pulau Sebatik yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Nunukan ini. Namun demikian memanjat pohon Aren dan membuat gula aren merupakan pekerjaan sampingan setelah penghasilan utama yaitu berkebun Kakao atau tanaman Cokelat. Meski sebagai pekerjaan sampingan membuat gula aren ini ternyata cukup membantu perekonomian keluarga.

Pacci Dalle memiliki pohon Aren kurang lebih 20 pohon. Setiap pohon Aren yang terdapat di dalam kebunnya akan mengeluarkan cairan nira aren dapat dihasilkan hampir setiap hari, namun hasil sadapan nira biasanya bervariasi tergantung dari kualitas pohon arennya. Cairan nira aren bisa didapat dari setiap pohon antara 5 sampai 40 liter/ pohon, tetapi bisa juga tidak ada sama sekali. Namun kebanyakan pohon Aren menghasilkan nira aren antara 5-10 liter/ pohon sekali sadap, sedangkan dalam satu hari dilakukan sebanyak 2 (dua) kali sadap, yaitu pagi dan sore atau petang.

Maka dalam sehari Pacci Dalle ini dapat menyadap antara 10 sampai 20 liter nira Aren per pohon. Nira Aren yang sudah dikumpulkan semuanya dimasak untuk dijadikan Gula Aren. Dari setiap 10 liter cairan nira aren jika dimasak dan diolah menjadi Gula Aren bisa didapatkan 5 biji gula aren, dan dalam penjualannya setiap 2 biji gula dikemas menjadi satu bungkus. Jadi kalau 5 biji maka akan dikemas menjadi 2,5 bungkus. Adapun berat sebungkus Gula Aren ini bervariasi, namun rata-rata berisi sekitar 8 ons atau 0,8 kg.

Untuk harga satu bungkusnya (yang terdiri dari 2 biji) di kebun sudah dihargai yaitu 2.00 RM (Ringgit Malaysia). Jadi untuk penghasilan per hari per pohon aren akan menghasilkan gula Aren senilai antara 5.00 – 10.00 RM atau kalau dirupiahkan menjadi sekitar Rp 14.000 – Rp 28.000 per pohon per hari. Jadi seandainya 20 pohon ini dikelola semua dan menghasilkan nira setiap hari, maka potensi pendapatan Bapak M. Azlan ini bisa mencapai antara Rp 280.000 sampai Rp 560.000 per hari.

Menurut Pacci Dalle kalau gula aren ini betul-betul dikembangkan hasilnya akan sangat memuaskan. Jika lahan se hektar dijadikan kebun Aren dengan populasi 200 pohon, potensi pendapatan yang akan diperoleh itu sekitar Rp 2,8 sampai Rp 5,6 juta per hari.
Kalau demikian maka sebenarnya Aren dapat menjadi harapan baru yang jauh lebih menguntungkan dari pada Kelapa Sawit, Kakao dan lain-lain.

Sekian...........................................
Hasil wawancara Syamsul Daris (PPL Desa Ajikuning) dengan Pacci Dalle pada tanggal 5 oktober 2009 di Maspul, Desa Ajikuning, Kecamatan Sebatik Barat Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur.

Rabu, 28 Juli 2010

Potensi AREN untuk kesejahteraan rakyat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan


Potensi AREN untuk kesejahteraan rakyat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST)  Kalimantan Selatan

(Antara/Ekonomi)

Seluas 667,5 hektare lahan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan sangat potensial untuk pengembangan tanaman aren.  Menurut Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan (Dipertabun) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), H Sofyan di Barabai, Senin luasan lahan itu tersebar diseluruh kecamatan yang ada di kabupaten tersebut.

"Dari 11 kecamatan yang ada di HST, seluruhnya memiliki lahan yang potensial sebagai pengembangan pohon aren dengan luasan yang berbeda," ujarnya di ibu kota HST itu.
Dari 11 kecamatan yang ada tercatat lahan terluas yang potensial untuk pengembangan pohon aren terletak di Kecamatan Batang Alai Timur (BAT), yaitu seluas 130 ha.


Sedang lahan yang terkecil di Kecamatan Batang Alai Utara, yaitu hanya seluas tiga hektare.
Sembilan kecamatan lain seperti Pandawan, Labuan Amas Utara (LAU) Limpasu, Haruyan, Labuan Amas Selatan (LAS), Barabai, Hantakan dan Batu Benawa masing-masing memiliki lahan potensial seluas 24 ha, 20 ha, 25 ha, 100 ha, 20 ha, 8 ha, 120 ha, 55 ha dan 50 ha.

Pohon aren merupakan tanaman yang mengandung banyak manfaat bagi masyarakat di HST, karena semua bagian dari tanaman itu dapat digunakan.  Mayoritas penduduk HST menggunakan pohon aren sebagai bahan baku pengolahan gula merah yang didapat dari hasil penyulingan nira dari pohon tersebut.

Selain itu, daun pohon aren dapat diolah menjadi atap, yang oleh masyarakat setempat disebut dengan istilah atap Rumbia, untuk kemudian dijual dengan harga antara Rp250 hingga Rp350 per satuannya.   Bukan hanya nira dan daunnya yang dapat diolah menjadi produk menghasilkan, para peternak itik di HST juga menggunakan parutan batang pohon aren sebagai campuran pakan ternak mereka.

Di HST, tepatnya di Desa Panggung, Kecamatan Haruyan merupakan sentra kerajinan sapu yang bahan bakunya berasal dan didapat dari serabut pohon aren.
Karena itulah, tahun 2008 lalu tercatat masyarakat dari Desa Panggung pernah mengajukan permohonan permintaan bibit unggul pohon aren kepada Dipertabun HST.

"Saat itu permintaan masyarakat telah kita penuhi dan bibit yang diberikan ditanam mereka untuk pemenuhan kebutuhan akan serabut pohon aren sebagai bahan baku pembuatan sapu," tambahnya.

Selain berdasarkan permintaan dari masyarakat, pihak Dipertabun juga melakukan penanaman pohon aren di beberapa wilayah yang rawan terjadi abrasi.   Manfaat pohon aren yang sangat banyak dan menghasilkan bagi masyarakat, membuat harganya sangat tinggi.  Namun sayangnya, tipikal pohon aren yang hanya dapat tumbuh pada kondisi lahan tertentu membuat tanaman tersebut sulit untuk dikembangkan.

Sumber : http://kalsel.antaranews.com/berita/192/potensi-pohon-aren


Minggu, 25 Juli 2010

Warga Jateng Diimbau Tanam Pohon Aren

Warga Jateng Diimbau Tanam Pohon Aren

(30 Maret 2010,  Ferdinand,  ANTARA/Saiful Bahri/SOLO/MI)

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengimbau warganya untuk menanam pohon aren. Selain bermanfaat menyerap air, pohon itu juga dapat memberikan manfaat ekonomi.  Imbauan itu disampaikannya kepada bupati dan wali kota serta para camat se-Solo Raya yang hadir dalam acara Forum Pengendalian Pelaksanaan Pembangunan di Balai Kota Solo, Selasa (30/3). 

 "Tanaman aren itu banyak manfaatnya. Arennya untuk bahan gula, buahnya untuk bahan minuman, daunya untuk sapu lidi, serabutnya untuk sikat, akarnya sebagai penahan tanah," kata Bibit.  Bila setiap orang bisa menanam satu pohon aren saja, ujarnya, hasilnya akan sangat luar biasa. Apalagi saat ini pasar buah aren yang dikenal dengan nama kolang-kaling sedang terbuka lebar, salah satunya di Cina.

Negara tirai bambu itu membutuhkan ratusan ribu ton kolang-kaling setiap bulan. Namun yang bisa dipenuhi oleh petani Jawa Tengah saat ini baru sekitar 20%. Hal tersebut, menurut Bibit, merupakan sebuah peluang yang sangat sayang untuk dilewatkan. Karena itulah ia mengimbau agar bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.   Disamping manfaat ekonomi, gerakan satu pohon satu orang juga akan berdampak positif bagi pelestarian lingkungan. Apalagi di tengah ancaman perubahan iklim yang sudah didepan mata saat ini. 













"Sekarang kita sedang menghadapi cuaca ekstrim, banjir, longsor, terjadi di mana-mana. Alam akan semakin ganas kalau kita tidak cinta alam. Saya meminta bupati dan wali kota menggerakan itu," tegasnya. (FR/OL-01)

 Sumber  :  http://www.mediaindonesia.com/read/2010/03/03/132833/124/101/Warga-Jateng-Diimbau-Tanam-Pohon-Aren

Kamis, 15 Juli 2010

MENGHEMAT BIAYA PROSESING GULA DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN









MENGHEMAT BIAYA PROSESING GULA DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN

Oleh : Dian Kusumanto

Minggu malam tanggal 4 Juli yang lalu saya berhasil kontak dengan Dr. Ir. I Gede Wenten, seorang ahli membrane kelas dunia yang dimiliki Indonesia. Kontak lewat telepon itu saya manfaatkan untuk berkonsultasi tentang kemungkinan penerapan teknologi membrane untuk pengolahan Nira Aren menjadi Gula Aren. Beliau sangat respon dengan antusiasme penulis akan teknologi yang diyakini akan membangkitkan optimisme baru dalam industry Gula Aren di negeri ini.

Saya menanyakan kepada Beliau kira-kira kemampuan Alat RO dapat mengurangi kandungan air murni dari Nira Aren, maka beliau menjawab hingga kadar Gula dari Nira mencapai 30 %. Lalu saya juga menanyakan tentang harga Alat RO dengan kapasitas 1000 sampai 2000 liter per hari yang sudah bisa dirakit di Indonesia sendiri, yaitu tepatnya di Bandung dengan harga sekitar Rp 40 juta. Alat ini umur ekonomisnya bisa mencapai 5 tahun atau lebih. Adapun tentang Cartridge Membrane beliau mengatakan perlu diganti sekitar setahun sekali dengan biaya sekitar Rp 2,5 sampai Rp 3 juta per unit.

Nira asal dengan kadar gula 10-12 % akan diolah dengan alat RO yang dijalankan dengan tenaga listrik, karena dalam alat RO ini ada pompa bertekanan tertentu yang menekan masa larutan nira ini melewati atau menembus membrane. Namun karena nira terdiri dari gula dan air murni, maka yang bisa melewati (flush) membrane adalah hanya sebagian air saja, sedangkan gula tidak bisa menerobos membrane atau tertolak (rejection). Dengan demikian nira menjadi kental , menurut Dr. Ir. I Gede Wenten, yaitu sampai nira berkadar gula sekitar 30 %. Artinya ada sekitar 60% dari volume awal nira yang berasal dari masa air murni yang dipisahkan dari Nira, maka Nira menjadi lebih kental.

Kita patut berterima kasih dengan para Peneliti seperti Dr. Ir. I Gede Wenten ini, yang telah menghasilkan penemuan yang sangat berarti bagi Industri Gula pada umumnya, dan para perajin Gula Aren khususnya, karena teknologi ini akan dapat secara revolusioner merubah paradigma Industri Gula yang lebih hemat, efisien, berkualitas dan berdaya saing di masa datang.

Para Ahli dan Peneliti teknologi membrane yang lain juga sudah banyak yang memperhatikan pengolahan Nira. Para ahli telah melakukan penelitian tentang penggunaan membran untuk pemisahan nira dengan hasil sebagai berikut : 

1. Pengotor-pengotor non gula dengan berat molekul rendah dan air dapat terpisahkan dari gula (Zanto, dkk).
2. Menghasilakan juice dengan kemurnian yang tinggi, intensitas warna yang rendah serta bebas pati dan partikel-partikel yang tidak mudah terlarut (Kishihara, dkk).
3. Mampu mereduksi 67% zat warna dan 47% partikel non gula, penurunan viskositas 20% (Day).
4. Campuran nira dan larutan kapur dingin hasil defekasi sangat efisien dipisahkan dengan ultrafikasi pada pH 7,2 (Madsen).

Secara hitungan ekonomis bisa kita bandingkan begitu sangat efisiennya teknologi membrane ini untuk mengolah Nira Aren menjadi Gula Aren yang berkualitas. Penulis mencoba menghitung dengan asumsi-asumsi yang sudah pernah disampaikan sebelumnya, yaitu sebagai berikut.
Biaya pengolahan Nira secara tradisional yang menggunakan tungku ala kadarnya dengan bahan bakar kayu limbah untuk mengolah 1000 liter Nira, kurang lebih sebagai berikut :
1. Kayu Bakar sebanyak 1 truk (4 ton) Rp 375.000,- - Rp 400.000,-
2. Tenaga kerja 5 HOK @ Rp 40.000 = Rp 200.000,-
3. Biaya penyusutan tungku, wajan, alat-alat masak, dll. (Sengaja tidak dihitung).
4. Jumlah biaya sekitar Rp 600.000 per 1000 liter Nira, atau Rp 600 per liter.
5. Jika 5 liter Nira bisa diolah menjadi 1 kg Gula, maka biaya pemasakan dengan cara tradisional mencapai : Rp 600/liter x 5 liter/kg = Rp 3.000 /kg gula.

Pemekatan nira ditujukan untuk meningkatkan konsentrasi nira dari 13-16 Bx menjadi 55-65 Bx agar gula dapat dikristalkan yang biasa dilakukan dengan menguapkan sebagian besar air yang ada pada nira pada tekanan hampa dan temperatur rendah. RO merupakan proses berbasis membran dengan gaya dorong tekanan, biasa digunakan untuk pemisahan zat terlarut dari pelarutnya dengan memberikan tekanan di atas tekanan osmotiknya. 


Dari kajian yang telah dilakukan, aplikasi teknologi RO untuk peningkatan konsentrasi 20 Bx dapat mengurangi beban evaporasi sekitas 50% sehingga konsumsi energi dapat ditekan. Selain itu beberapa keuntungan lain penggunaan RO adalah :

1. Kebutuhan energi rendah karena tidak terjadi perubahan fase. 

2. Temperatur operasi rendah sehingga dapat mengurangi kerusakan gula.

3. Perancangan sistem sederhana.

Sedangkan perkiraan biaya pengolahan Nira dengan menggunakan membrane filtrasi dan Pan Evaporator untuk pengolahan lebih lanjut terhadap 1000 liter nira, adalah sebagai berikut :

1. Biaya penyusutan alat RO dan membrane Rp 45 juta selama 5 tahun dan Cartride Membrane Rp 3 juta pertahun untuk kapasitas 300 hari x 1.000 liter nira/hari. Jadi unit cost alat RO = Rp 45 juta : 5 tahun : 300 hari/tahun = Rp 30.000 per hari, sedangkan untuk cartride membrane = Rp 3 juta : 1 tahun : 300 hari/tahun = Rp 10.000, jadi jumlah penyusutan sekitar Rp 40.000 per hari/ 1000 liter atau Rp 40/ liter nira. Biaya untuk Alat RO ini bisa mengurangi air murni dari nira hingga nira lebih kental dan berkadar gula 30 % atau berkadar air 70%.
2. Biaya pemasakan menggunakan Pan Evaporator yang hemat bahan bakar hingga menjadi Gula Kental yang siap dicetak atau diserbukkan sekitar 20% dari 4 ton kayu, atau sekitar 0,8 ton kayu dengan nilai sekitar Rp 80.000/hari/1000 liter nira, atau dengan unit cost sekitar Rp 80 per liter Nira. Sedangkan penyusutan untuk Pan Evaporatornya sendiri dihitung dengan harga sekitar Rp 30 juta selama umur ekonomis sekitar 5 tahun, yaitu Rp 6 juta per tahun atau sekitar Rp 20.000 per hari, atau dengan unit cost Rp 20 per liter nira. Jumlah unit cost bahan bakar dan alat Pan Evaporatornya menjadi Rp 100 per liter nira.
3. Tenaga kerja untuk alat RO dan Pan Evaporator 1 HOK @ Rp 75.000 = Rp 75.000 per hari/1000 liter nira, atau dengan unit cost Rp 75 per liter nira.
4. Tenaga listrik untuk pengoperasian alat RO dan yang lainnya sekitar Rp 450.000 per bulan atau Rp 15.000 per hari atau dengan unit cost Rp 15 per liter nira.
5. Jumlah biaya pemasakan menjadi sekitar Rp 230 per liter Nira.
6. Jika 5 liter Nira bisa diolah menjadi 1 kg Gula, maka biaya pemasakan dengan cara teknologi membrane dan Pan Evaporator Rp 230/liter x 5 liter/kg = Rp 1.150 /kg gula.

Sedangkan secara kualitas maka hasil produksi dengan alat RO ini akan lebih bersih, lebih cerah warnanya, lebih menarik, lebih hiegenis, dst. Maka akan dapat dengan mudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) bahkan standard dunia alias berkualitas ekspor. Dengan demikian nila harga juga akan mampu menembus harga yang lebih tinggi seperti produk serupa yang sudah beredar di pasaran dunia. Beberapa jenis palm sugar (Gula Palem) seperti Gula Kelapa Organik dari Big Tree Farm, atau Sweet Tree atau Gula Siwalan Organik dari Kamboja dibandrol dengan harga sekitar 9 US$ untuk 240 gram atau sekitar 36 US$ untuk 1 kilogram, jika dirupiahkan menjadi sekitar Rp 360.000 per kilogram.

Bagaimana pendapat Anda?