NIPAH PALM
Nipah is the only productive palm tree crop which likes “wet feet”, and which tolerates salt water.
Nipah does not compete with food and feed crops or oil palm and rubber.
In South Kalimantan, around 2 million hectares of land are unused because of flooding.
Around 400,000 hectares have people living on these lands.
Nipah palm yields a sap with a sugar content of around 13% to 16%, the highest sugar content of all palm trees and also much higher than sugar cane. Around late 19th century, Nipah was the prime source of fuel for cars in the Philippines and Kalimantan. It was pushed out by the ascent oil industry.
Since then it has only been used as a source of supplementary feed for ducks, pigs and geese, and for Nipah wine. Hardly any research has been devoted to Nipah, it is not yet domesticated like rice and maize. This means there is still huge potential for increase of yield and sugar content.
Nipah has a long productive life span, no need for replanting and a high area productivity and yield.
The only real source of knowledge on Nipah is indigenous knowledge. Using this knowledge, we have selected elite clones which yield up to 2.2 liters of sap per tapping.
Nipah trees are tapped twice a day. To save labour, we have developed technology which can reduce this to one tapping in two days. Trees can be tapped for around 50 to 60 days per year. This period is to be expanded to 120 days through induced flowering.
Current annual yields are estimated at 110,000 to 160,000 liters of sap per year per hectare, equal to around 16 to 22 tons of sugar. This is much higher than the highest sugar cane yield anywhere.
The sugar can be converted to Ethanol with a defraction rate of slightly over 50%, with estimated Ethanol yields would be around 8 to 11 tons.
MARKETS FOR NIPAH
Palm Sugar / Syrup
The most dynamic component of the demand for palm sugar is expanded household use and the growing recognition by consumers of the health value of palm sugar. The main driving force is the awareness that palm sugar is much healthier than bleached sugar. It does not cause a sugar rush and its glycemic index (GI) of 35 is much lower than glucose which has a GI of 100. This makes palm sugar fit for modest consumption even by diabetics.
Palm sugar is traditionally used as a tastemaker in spicy food pastes and cakes and bakery products. It is increasingly used as a sweetener for ice cream, energy drinks, lemonades and sherbets, soy sauce and bakery products.
The rationale for focusing on sugar at the initial stage of the cultivation project is the expanding demand for palm sugar in Indonesia, Asia and worldwide. The value of palm sugar in the retail market is at least ten times higher than the price of white sugar. The growing volume of exported palm sugar indicates a new trend in sugar consumption. The Philippine authorities estimated the global market for palm sugar at USD1 billion annually, and to be the fastest growing segment of the global sugar market (Philippines Department of Agriculture, 2012). The retail value of the global white sugar market is around USD170 billion per annum. Asia and Indonesia are major importers at 3 million tons per annum. China and Vietnam are also big importers. Thailand and Australia are major exporters of white sugar.
Wholesale distribution prices for palm sugar in Malaysia, the Philippines and Indonesia range around USD6 to 12 per kg, packed and processed. Farm gate prices of raw palm sugar are around USD2 in Indonesia, with lower quality products priced at USD1.20 per kg. The industry prefers to take palm sugar in syrup form at 80 % sugar content. Low quality palm sugar syrup is priced around USD1.50 – 1.70 per kg at the farm gate.
In Europe and the USA wholesale distribution prices have recently fallen, but are still substantially higher than price levels in Asia.
Coconut palm sugar is a possible substitute for Nipah palm sugar. In recent years the production of coconut palm juice, for palm sugar, has boomed in the Philippines and Indonesia especially, while localised production of palm sugar from the sugar palm and the aren palm has remained stable. Currently coconut based palm sugar is exported to Malaysia, Thailand, Vietnam, Europe and the USA, and increasingly China from the Philippines and Indonesia. At the same time coconut based palm sugar is increasingly being marketed in Indonesia for both industrial production and for household use.
Ethanol
Ethanol is a bio-fuel produced from sugar cane and oil palm. Bio-fuel is renewable, replenishing and sustainable in supply. It is a clean and environmentally sustainable resource, with significant potential for reducing the emission of greenhouse gases when compared to conventional fossil fuels. Though it is not the intention of the Company to produce ethanol from its nipah plantations in the foreseeable future, nevertheless should the Company choose to do so, by specialising in the use of degraded wetlands for the commercial cultivation of nipah palm, it will enjoy cost advantages over ethanol produced from sugar cane and oil palm.
Fermented into ethanol or butanol, the palm's large amount of sap may allow for the production of 6,480-15,600 litres (per year) of fuel per hectare. In comparison, sugarcane yields 5,000–8,000 litres per hectare (per year) and an equivalent area planted in corn would produce just 2,000 litres (per year) per hectare.
In addition nipah cultivation does not divert resources away from food production, unlike sugar cane and palm oil, which requires cultivable land.
Sabtu, 20 September 2014
Sabtu, 23 Agustus 2014
PENGOLAHAN GULA AREN DI DESA MAKIAN KECAMATAN BACAN SELATAN, HALMAHERA SELATAN
PENGOLAHAN GULA AREN DI DESA MAKIAN KECAMATAN BACAN SELATAN, HALMAHERA SELATAN
Yayat Hidayat, M. Syukur, dan Tufail I.A.
BPTP Maluku Utara
Komplek Pertanian Kusu No. 1 Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan
email : yahidz_79@yahoo.com
Pengusahaan aren di Desa Makian, Kecamatan Bacan Selatan, telah dilakukan secara turun temurun sebagai industri rumah tangga (home industry). Nurdin Elyas (2004), menyatakan bahwa industri rumah tangga atau home industry adalah usaha atau kegiatan untuk memproses dan mengolah suatu barang kebutuhan rumah tangga. Di mana pengolahan nira aren menjadi gula aren merupakan proses pengolahan yang bahan baku utamanya adalah dari produk pertanian.
Usaha pengembangan aren di Desa Makian Kecamatan Bacan Selatan masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan dalam kegiatan agroindustri. Di samping masih luasnya lahan-lahan tidak produktif sebagai sumber daya lahan pengembangan aren, juga potensi sumber daya manusia yang mendukung dalam kegiatan agroindustri aren di desa tersebut, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dari usaha tani tanaman aren dan dapat pula ikut melestarikan lingkungan hidup.
Selama beberapa tahun terakhir, perkembangan pengolahan gula aren di Desa Makian yang berskala rumah tangga berkembang cukup pesat karena teknologinya cukup sederhana, peralatan serta bahan yang diperlukan relatif mudah diperoleh di pedesaan. Namun, pada proses pemasarannya belum didukung oleh terbentuknya lembaga pemasaran/koperasi yang secara khusus menangani pemasaran gula aren. Berdasarkan hal tersebut dilakukan pengkajian untuk 1) mengetahui prospek pengolahan gula aren di Desa Makian, 2) mengetahui kelayakan usaha tani gula aren, dan 3) efektifitas kelembagaan pemasaran gula aren di Desa Makian .
1. Pemilihan dan Penyadapan Nira
Nira aren dihasilkan dari penyadapan tongkol (tandan) bunga, baik bunga jantan maupun bunga betina. Akan tetapi biasanya, tandan bunga jantan yang dapat menghasilkan nira dengan kualitas baik dan jumlah yang banyak. Oleh karena itu, biasanya penyadapan nira hanya dilakukan pada tandan bunga jantan.
Sebelum penyadapan dimulai, dilakukan persiapan penyadapan yaitu :
ü Memilih bunga jantan yang siap disadap, yaitu bunga jantan yang tepung sarinya sudah banyak yang jatuh di tanah. Hal ini dapat dilihat jika disebelah batang pohon aren, permukaan tanah tampak berwarna kuning tertutup oleh tepung sari yang jatuh.
ü Pembersihan tongkol (tandan) bunga dan memukul-mukul serta mengayun-ayunkannya agar dapat memperlancar keluarnya nira.
Pemukulan dan pengayunan dilakukan berulang-ulang selama tiga minggu dengan selang dua hari pada pagi dan sore dengan jumlah pukulan kurang lebih 250 kali. Untuk mengetahui, apakah bunga jantan yang sudah dipukul-pukul dan diayun-ayun tersebut sudah atau belum menghasilkan nira, dilakukan dengan cara menorah (dilukai) tongkol (tandan) bunga tersebut. Apabila torehan tersebut mengeluarkan nira maka bunga jantan sudah siap disadap.
Penyadapan dilakukan dengan memotong tongkol (tandan) bunga pada bagian yang ditoreh. Kemudian pada potongan tongkol dipasang bumbung bambu sebagai penampung nira yang keluar.
Penyadapan nira dilakukan 2 kali sehari (dalam 24 jam) pagi dan sore. Rata-rata hasil sadapan nira tiap harinya 10-15 liter, tergantung banyaknya jumlah pohon aren yang disadap. Pada setiap penggantian bumbung bambu dilakukan pembaharuan irisan potongan dengan maksud agar saluran/pembuluh kapiler terbuka, sehingga nira dapat keluar dengan lancar. Setiap tongkol (tandan) bunga jantan dapat dilakukan penyadapan selama 3 – 4 bulan sampai tandan mengering.
2. Cara pengolahan
1) Ambil bumbung dan dibersihkan, kemudian diberi kapur sirih basah seujung sendok teh.
2) Bersihkan alat-alat pembuatan gula aren.
3) Pengambilan nira sebaiknya dua kali dalam sehari untuk menghindari keasaman.
4) Masak nira selama kurang lebih 3-4 jam sesuai dengan banyaknya nira yang dimasukkan ke wajan. Masak dalam panas api lebih dari 200 0C dengan sebaran panas yang merata.
5) Jika nira sudah mulai mengental, maka bagian pinggir wajan harus digosok dengan alat sutil agar tidak terlalu banyak gula yang mengering di pinggir.
6) Setelah benar-benar menjadi gula, kemudian diangkat dari api, digosok bagian pinggir adonan dengan gerakan melingkar selama kurang lebih ½ - 1 jam.
7) Rendam cetakan dalam air beberapa menit. Masukkan gula dalam cetakan dan biarkan selama 10 menit.
8) Selanjutnya dikemas dengan daun pisang dan untuk siap di pasarkan. (proses pengolahan gula aren dapat dilihat pada Lampiran)
3. Proses Pengolahan Gula Aren
Pembuatan gula aren pada prinsipnya terdiri atas proses pemanasan, pengadukan dan pencetakan, seperti yang terdapat pada diagram alir (Gambar 1).
4. Prospek Gula Aren di Desa Makian
a. Faktor Endowment atau Faktor Sumber Daya yang Melimpah
Dilihat dari potensi sumber daya alam yang mendukung, peluang pengembangan aren di desa Makian masih terbuka. Di mana luas areal pertanaman aren sekitar 450 ha dengan kepadatan populasi aren di desa Makian rata-rata antara 35 – 50 pohon/ha, dan pohon aren tersebut tumbuh liar di lahan-lahan petani tanpa dibudidayakan secara intensif. Pemanfaatan pohon aren tersebut dimanfaatkan dengan diambil niranya oleh masyarakat untuk diolah menjadi gula aren. Rata-rata pengrajin gula aren di Desa Makian menyadap pohon aren antara 20 – 25 pohon/hari.
Nira yang dihasilkan per pohon di desa Makian rata-rata 10 – 15 L/hari dengan penyadapan dilakukan pagi dan sore. Produksi gula yang dihasilkan dari penyadapan sekitar 25 pohon aren, dihasilkan + 72 buah gula aren atau + 24 kg/hari. Dengan adanya potensi sumber daya pertanian yang melimpah tersebut, maka dalam kegiatan agroindustri produk gula aren dari desa Makian mempunyai daya saing yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya.
b. Sumber Daya Manusia
Daya dukung sumber daya manusia di desa Makian dalam pengolahan gula aren sangat potensial, di mana pengusahaan aren tersebut telah dilakukan secara tutun-temurun (home industry). Pengolahan gula aren merupakan usaha pokok bagi sebagian masyarakat yang berusaha dalam pengolahan gula aren, sedangkan usaha pertanian khususnya tanaman perkebunan biasanya dijadikan sebagai usaha sampingan dalam mengisi waktu-waktu luang pada proses pengolahan gula aren tersebut. Dalam proses pengolahan gula aren tersebut, biasanya dikerjakan oleh tenaga kerja dalam keluarga. Di mana pada proses penyadapan dilakukan oleh kepala keluarga/anak yang dewasa, sedangkan pada proses pengolahan dilakukan oleh beberapa orang (ayah, ibu dan anak) yang biasanya dilakukan pada siang hari setelah nira terkumpul. Sehingga dengan banyaknya pengrajin gula aren yang profesional tersebut merupakan potensi bagi pengembangan gula di desa Makian dalam kegiatan agroindustri.
Pengolahan gula aren di desa Makian yang dilakukan dalam skala home industrydilakukan secara kontinyu. Gula aren dipasarkan langsung ke pasar lokal melalui pedagang pengumpul, sehingga ketersediaan gula aren untuk di pasar-pasar lokal di wilayah Halmahera Selatan dapat terus tersedia. Potensi yang dimiliki di desa Makian tersebut merupakan keunggulan komparatif yang perlu dikembangkan dalam kegiatan agroindustri pengolahan gula aren sebagai usaha home industry.
Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan Bungaran Saragih (2001) pengertian yang lebih operasional dari keunggulan daya saing adalah kemampuan untuk memasok barang dan jasa pada waktu, tempat, dan bentuk yang diinginkan konsumen, baik di pasar domestik maupun pasar internasional, pada harga sama atau lebih baik dibandingkan dengan pasar pesaing, dengan keuntungan paling tidak sebesar biaya opportunitas sumber daya yang digunakan.
5. Analisis Usaha Tani
Analisis finansial menunjukkan pengusahaan aren di desa Makian sangat menguntungkan. Pada pengusahaan gula aren secara riil, tenaga pengolah dan bahan bakar kayu tidak dikenakan biaya. Hal ini dikarenakan tenaga pengolah adalah tenaga kerja keluarga sehingga pada kenyataannya tidak diperhitungkan, sedangkan bahan bakar kayu menggunakan kayu yang ada di kebun petani/pengolah, dari hutan yang letaknya berdekatan dengan kebun petani/pengolah.
Berdasarkan hasil analisis finansial dengan memperhitungkan semua masukkan (input) termasuk tenaga kerja dalam keluarga dan bahan bakar kayu disetarakan berdasarkan pembelian dari orang lain, dalam proses produksi gula aren di desa Makian, ternyata masih tetap memberikan keuntungan. Dari analisis tersebut, rata-rata produksi petani pengolah gula aren per bulan dengan rerata hari efektif 22 hari kerja sebanyak 1.584 buah dengan harga jual Rp. 3.000,- /buahnya, sehingga penerimaan yang didapat petani sebesar Rp. 4.752.000/ bulan. Keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp. 1.147.500,- dan nilai R/C-nya 1,32 berarti bahwa setiap Rp. 1,- biaya yang dikeluarkan dari kegiatan agroindustri gula aren akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp. 1,32. Maka kegiatan pengolahan gula aren sebagai kegiatanhome industry di Desa Makian layak untuk terus diusahakan dan dikembangkan.
Tabel 2. Analisis usaha pengolahan gula aren per bulan di desa Makian
Sumber : Data primer diolah
Kelembagaan, Pemasaran, dan Prospek Pengembangan
Pemerintah Daerah harus mengambil kebijakan yang mencakup seluruh aspek yang berkenaan dengan budi daya aren sampai dengan proses pemasaran. Peran stake holder dalam usaha tani gula aren sangat menentukan keberhasilan pengembangan gula aren khususnya di Desa Makian, Kecamatan Bacan Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan.
Kebijakan tersebut antara lain :
(1) memfasilitasi sistem usaha pengolahan hasil aren bersama investor dan stake holder lainnya dalam rangka menumbuhkembangkan agroindustri (off farm );
(2) koordinasi dengan instansi terkait untuk pengembangan gula aren terutama Dinas Perkebunan, Industri dan Perdagangan, Koperasi, dan Bappeda;
(3) meningkatkan jaringan kerja antarpetani produsen dengan para asosiasi pengumpul gula merah di daerah, antardaerah maupun nasional dan menyediakan informasi pasar;
(4) pembangunan sarana dan prasarana pendukung untuk memperlancar akses transportasi dan pemasaran;
(5) mengadopsi teknologi untuk mendukung budi daya aren dan pasca panen pengolahan gulan aren; dan
(6) menetapkan kawasan pengembangan aren di Kabupaten Halmahera Selatan yang potensial dan sesuai agroklimatnya, sentra baru penghasil gula aren.
Guna mendukung pengembangan usaha tani pengolahan gula aren di Desa Makian diperlukan optimalisasi pemanfaatan seluruh petani dalam mengelola usaha taninya melalui pembinaan berorganisasi (kelompok tani) serta memanfaatkan lembaga yang sudah ada seperti UPP, Koperasi, menciptakan koordinasi yang baik antara perangkat-perangkat yang terkait dalam melaksanakan pembinaan serta menumbuhkembangkan dan membina kelembagaan petani, membangun kerja sama yang setara atau saling menguntungkan, baik investor bidang industri maupun eksportir dengan petani, melalui lembaga petani (kelompok atau koperasi).
Dalam hal ini, pemasaran gula aren di Desa Makian masih belum optimal, bahkan masih belum terorganisasi dengan baik. Pemasaran produk aren berupa gula aren yang dilakukan pengrajin gula aren pada umumnya dilakukan petani/pengolah dengan menjual ke kios atau pedagang pengumpul desa setempat. Biasanya pemasaran produk aren yang langsung dijual petani ke pasar tradisional relatif kurang. Adapun alur pemasaran gula aren dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Diagram pemasaran gula aren
Apabila dalam pemasaran gula aren di Desa Makian telah terorganisasi dengan baik, misalnya dengan dibentuknya koperasi yang menampung gula aren, dengan terorganisasinya pemasaran gula aren tersebut akan mengefisienkan rantai tata niaganya. Secara garis besar biaya tata niaga digunakan untuk pengumpulan, pengangkutan dan distribusi. Dalam tata niaga gula aren ketiga jenis biaya tersebut belum tentu dikeluarkan oleh setiap mata rantai lembaga tata niaga tersebut. Sehingga dengan mengoptimalkan rantai tata niaga tersebut dapat memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar bagi pengrajin gula aren.
Beberapa permasalahan yang dihadapi di tingkat pengrajin gula aren, salah satunya yaitu rendahnya perhatian terhadap sistem pengemasan /pengepakan untuk menarik minat konsumen, sehingga diperlukan perbaikan sistem pengemasan gula aren yang dapat menarik minat konsumen.
SIMPULAN
1. Pengembangan gula aren di desa Makian sangat prospektif, hal tersebut dapat dilihat dari potensi sumber daya (faktor endowment) dan faktor sumber daya manusia yang ada, sehingga pengembangan agroindustri aren sangat potensial. Hal tersebut dilihat luas areal pertanaman aren + 450 ha, dengan populasi rerata 35-50 pohon/ha dan produksi nira rerata 10-15 liter/pohon per hari pada pohon yang produktif.
2. Secara finansial, pengolahan gula aren memberikan keuntungan yang besar. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai R/C > 1.
3. Rantai pemasaran gula aren di desa Makian masih kurang efektif, di mana pemasaran gula aren masih melalui pedagang pengumpul/agen.
SARAN
1. Diharapkan dengan tersedianya potensi aren di Halmahera Selatan, pemerintah selaku pemegang kebijakan dapat lebih meningkatkan pengembangan agroindustri aren dengan lebih meningkatkan peran serta stake holder terkait maupun peluang-peluang kerja sama dengan pihak swasta.
2. Pemerintah diharapkan mengarahkan untuk membentuk dan membina kelembagaan dalam meningkatkan agroindustri aren sebagai home industry, sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih besar bagi pengrajin gula aren.
3. Adanya introduksi teknologi agar gula aren tidak saja dijual dalam bentuk batangan, tapi dapat dibuat tepung gula/(gula semut) atau gula aren cair dalam kemasan.
DAFTAR PUSTAKA
Desa Makian. 2007. Monografi Desa 2006.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah Propinsi Maluku Utara. 2006. Laporan Tahunan 2006.
Elyas, Nurdin. 2004. Sukses dengan Home Industry. ABSOLUT Yogyakarta.
Listyati, D. 1994. Tanaman Aren (Arenga pinnata Merr) dan Pemanfaatannya di Jawa Barat. Buletin Balitka No. 2000 hal 47 – 52.
Saragih, Bungaran. 2001. Suara dari Bogor, Membangun Sistem Agribisnis. Sucofindo Bogor.
Soekartawi. 2002. Analisis Usaha Tani. Universitas Indonesia Press. Hal 85-87.
Soekartawi. 2001. Pengantar Agroindustri. PT. Raja Grafindo Persada Jakarta.
Smits, W. 2004. Pengalaman Pengembangan Tanaman Aren untuk Koservasi Lahan dan Lingkungan Hidup. Makalah Seminar Pengembangan Aren, Tondano, 19 April 2004.
Sumber : http://boedakrimbun.blogspot.com/2012/06/prospek-dan-kelayakan-pengolahan-gula.html
MENENGOK USAHA GULA AREN RAKYAT DI PASIRIAN LUMAJANG JAWA TIMUR
Menengok Gula Aren Pasirian
Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, seakan tak pernah lepas dari Ingatan kita. Selain Panorama Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa serta keindahan Pantai Watu Gedheg di pesisir selatan Pulau Jawa yang memanjakan mata, hasil perkebunannya juga menjadi daya tarik jika kita berkunjung di Kabupaten yang berada di sekitar lereng Gunung Semeru ini.
Dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam dari Surabaya mengunakan mobil, mata kita akan dimanjakan dengan hamparan perkebunan pisang di sepanjang jalan menuju pintu masuk Kota Lumajang. Lalu, sebuah monumen Patung berbentuk seorang petani membawa cangkul dan buah pisang setinggi 4 meter terpampang di pintu masuk Kota Lumajang. Monumen tersebut dibuat agar orang – orang mengetahui bahwa Kabupaten Lumajang merupakan Kota Pisang. Salah satu jenis pisang yang terkenal asli dari Lumajang adalah Pisang Agung.
Dari Kota Lumajang sekitar 20 kilometer menuju arah Selatan, tepatnya di desa Kalibendo, Kecamatan Pasirian, Lumajang. Suasana hening perkebunan dan hangatnya sambutan warga desa sekitar, seolah membuat kita pulang ke kampung halaman sendiri. Warganya yang kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani ternyata mempunyai kesibukan yang unik tiap harinya, yakni memanjat Pohon Aren. Para penyadap Nira tersebut bisa 15 sampai 20 kali memanjat pohon Aren yang tingginya mencapai 10 meter tiap harinya. Dengan berbekal pisau dan jerigen yang diikatkan ke pinggang, mereka memanjat tanpa memakai alat pengaman keselamatan, hanya keahlian dan nyali yang mereka andalkan.
“Tiap harinya, saya bersama suami dapat membuat 20 hingga 30 kilogram gula Aren. Namun, jika cuaca sedang buruk dan turun hujan, produksi gula aren sedikit terhambat, karena getahnya tidak keluar atau mungkin basi saat proses penyadapan,” tuturnya.
Pembuatan Gula Aren tergolong mudah, yang pertama, getah Nira Aren harus disadap untuk bahan dasar membuat Gula Aren. Selanjutnya, Getah tersebut di didihkan selama kurang lebih 4 jam. Nira Aren yang telah mendidih tersebut harus diaduk selagi panas hingga mengeras dan berwarna merah kecokelatan. kemudian adonan Gula tersebut dicetak dalam mangkok atau dakon (untuk ukuran yang lebih kecil). Per kilogram Gula Aren buatan warga Kalibendo biasanya dihargai Rp 6.500, itu bila mereka menyetorkan Gulanya kepada pengepul atau juragan. lalu, dipasarkan ke beberapa wilayah Jawa Timur, di antaranya Pasuruan, Surabaya dan Malang.
Menurut beberapa orang yang mengkonsumsi gula buatan Daerah Pasirian rasanya sedikit lebih gurih, dibandingkan dengan Gula aren produksi Kota Blitar. Namun, silahkan Anda merasakannya sendiri bila penasaran, atau langsung datang ke Pasirian, Lumajang.
naskah dan foto: frannoto
SEJARAH BERDIRINYA UD.SARI AREN DI REJANG LEBONG
SEJARAH BERDIRINYA UD.SARI AREN
Bapak Suparmanto adalah seorang pengrajin gula aren. Beliau memulai usaha sebagai pengrajin gula batok aren pada tahun 1996. Pembuatan gula batok aren ditekuni oleh Bapak Parman sampai tahun 2000.
Dalam proses pembuatan gula batok di Kabupaten Rejang Lebong, diproses akhir ada yang dikenal dengan namanya “Kereng”. “Kereng” adalah sisa dari air nira yang sudah mengental siap cetak (pekatan Nira) dan ketika proses pencetakan pekatan nira yang ada di bagian pinggir kuali mongering, sehingga tidak dapat dicetak. Pembuatan gula batok menghasilkan kereng setiap harinya. Biasanya “kereng” dikonsumsi sendiri oleh pengrajin. Karena setiap hari menghasilkan “kereng”, Bapak Parman iseng-iseng menghaluskan “kereng” tersebut dikuali. Ternyata kereng menjadi butiran-butiran halus yang kering. Dari sini Bapak parman berfikir bahwa air nira bisa dibuat menjadi gula aren yang berbentuk butiran-butiran halus seperti gula pasir. Setelah mencoba beberapa kali menghaluskan “kereng”, Bapak parman merasa butiran-butiran gula aren ini siap dikonsumsi dengan praktis, berbeda dengan gula batok yang harus diiris-iris terlebih dahulu. Selain itu butiran-butiran gula aren ini pun dapat dikemas dengan mudah disbanding dengan gula batok.
Mulai tahun 2000 Bapak parman mencoba memproduksi gula aren menjadi butiran-butiran halus. Pada proses pembuatan butiran gula aren, saat pekatan nira diaduk, pekatan ini berbentuk seperti gerombolan semut yang banyak dan bergerumun, sehingga Bapak Parman menamai butiran gula aren dengan nama “gula semut”. Untuk pembuatan gula ini masih disesuaikan dengan kondisi air nira, jika air nira bagus diproduksi menjadi gula semut, namun jika nira kurang bagus diproduksi menjadi gula batok. Awalnya gula ini dikonsumsi sendiri dan diperkenalkan kepada tamu-tamu Bapak Parman, Bapak parman juga mencoba mengemas dengan kemasan biasa dan dititipkan ke warung-warung.
Ketekunan Bapak Parman ini mengundang perhatian Dinas Perindustrian Kabupaten Rejang Lebong. Pada tahun 2005 pihak Industri mulai melakukan pembinaan dan Bapak Parman sering diikutkan pelatihan pengembangan usaha. Pada tahun 2007 pihak industry membentuk kelompok usaha bersama gula semut dengan nama UD.Sari Aren. UD. Sari Aren terdiri dari para pengrajin gula batok yang terdiri dari 5 anggota.
Dari hasil diagnosa Dinas Industri, permasalahan utama yang dihadapi UD.Sari Aren adalah proses pembuatan bergantung pada cuaca dan hasil yang didapat masih berskala kecil. Dinas Industri mengikutsertakan UD.Sari Aren studi banding ke pabrik pengolahan gula semut kelapa ditangerang. Dari hasil studi banding ini, Bapak Parman mendapat ilmu baru dalam pengolahan gula semut, yaitu bahan baku dialihkan ke gula batok. Proses pembuatan gula semut dari gula batok ini menggunakan mesin-mesin sehingga dapat memproduksi dalam jumlah banyak. Dari pengalaman itu, Bapak Parman mencoba mengajukan proposal bantuan mesin pengolahan gula semut ke Dinas Peririndustrian Kabupaten Rejang Lebong. Pada Maret 2010, UD.Sari Aren mendapat bantuan satu paket mesin pengolahan gula semut, yaitu mesin perajang, mesin pengopen, mesin penggiling, mesin pengayak.
Untuk pemasaran produk gula semut, harus dilakukan package yang tepat dan menarik. Pada juli 2010 UD.Sari Aren diikut sertakan pelatihan kemasan di D & D Pack Jakarta, dan kemasan gula semut langsung dipesan di D & D Pack.
Untuk pengembangan usaha lebih lanjut, UD.Sari Aren diikutkan pada pelatihan manfaat air nira palma serta macam-macam pengolahan produk air nira. Pelatihan ini dilaksanakan di Balai Besar Industri Agro Bogor.
Saat ini UD.Sari Aren telah memproduksi gula semut mencapai 3 ton perbulan. Namun, untuk perkembangan permintaan kapasitas dapat ditingkatkan.
Sumber : http://gula-semut.blogspot.com/p/sejarah-berdirinya-ud.html
MANIS YANG SEHAT DENGAN GULA AREN
Manis yang Sehat
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa semua manusia terlahir lebih mudah menikmati rasa manis. Seorang bayi akan tersenyum ketika lelehan gula menempel di bibirnya. Mungkin ini sebabnya Anda memanggil orang-orang yang Anda kasihi dengan sebutan manis, sweetie, sugar, atau honey.
Berbicara soal manis, gula putih (tebu) tidaklah sendirian. Gula aren dan gula jawa juga mampu menggelitik sensor motorik. Pemakaian gula aren sering ditemukan di makanan Asia dan Eropa dalam bentuk cookies. Gula aren menjadi alternatif sehat dari gula putih, terutama bagi orang-orang yang memiliki masalah obesitas dan diabetes. Karena dalam proses pembuatannya, gula aren tidak memakai bahan kimia (pemutih makanan misalnya) sehingga kandungan nutrisi penting seperti riboflavin, thiamin, dan niacin, tetap utuh. Tak heran apabila gula aren kerap disebut sebagai gula alami.
Industri gula aren di hutan Kaiti, Riau, dikenal berkualitas tinggi karena pengolahannya secara autentik. Mulai dari proses menampung air gula dari batang aren menggunakan bambu sampai mengentalnya di atas api dan siap untuk dicetak hingga mengeras, membuat kami penasaran akan pembuatannya. Rasa dari gula aren yang memiliki aroma khas dan lumayan smokey, membuat para koki ibu kota haus bereksperimen membubuhi kreasi pastry-nya dengan sentuhan merahnya eksotisme Asia. “Rasa orisinalnya sangat menonjol dibandingkan gula biasa. Setelan paling pas untuk pemanis ini adalah kelapa atau daun pandan karena membuat seimbang saat kita menggigit pencuci mulut,” bilang Biderman Philippe, Executive Pastry Chef Sari Pan Pacific, Jakarta.
Penggunaan sehari-hari gula yang kadang disebut gula jawa dari kelapa ini bisa dilihat di makanan Indonesia atau Thailand. Bentuknya yang seperti butiran pasir atau bongkahan batu bisa diubah menjadi karamel, dan mewujudkan rasa manis di cre?me brulee, wafel, atau minuman kopi. Tak hanya itu, saat proses penyulingan gula kelapa fermentasi juga dapat digunakan menjadi minuman yang mengandung lebih dari 30 persen alkohol.
Sementara itu, Pastry Chef Arief Anshari dari The Dharmawangsa, membubuhkan gula aren di dalam dessert dinginnya. “Bahan ini adalah bahankhaslokal namunjikatidakberani mencobanya dalam berbagai bentuk hidangan, gula aren terasa asing. Jika kita berani, dan ingin bereksplorasi maksimal, olahan Indonesian-European fusion bisa mengangkat cita rasa Indonesia.”
(Teks: Kenia Agha, Foto: Richard Gatordus, Dok. Esquire)
Sumber : http://www.esquire.co.id/article/2014/6/41-Manis-yang-Sehat
Langganan:
Postingan (Atom)


