......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Sabtu, 11 Oktober 2014

POHON AREN, POHON UNTUK YANG INGIN KAYA RAYA

Budidaya Aren, Pohon Paling Kaya

Aren (arenga pinnata merr) telah berabad-abad dikenal dan dimanfaatkan oleh umat manusia. Aren atau enau termasuk tumbuhan suku pinang-pinangan, bersama tumbuhan rumbia, nipah, pinang. nibung, dll.
Aren menghasilkan air nira yang berasal dari mayang atau tandan buahnya yang disadap. Air nira sendiri dapat diolah menjadi gula aren, gula semut, minuman segar, sirup, bio ethanol, methanol, tuak atau sopi. Selain itu, aren juga bisa menghasilkan buah yang biasanya diolah menjadi kolang-kaling atau bargat. Produk lain dari pohon aren adalah ijuk, lidi dan sagu. Kayunya bisa dimanfaatkan menjadi bahan bangunan sederhana. Akar dan daunnya juga dapat dimanfaatkan sebagai obat.
Sayang, sampai saat ini masih sedikit orang yang mau membudidayakan pohon aren. Kebanyakan pohon aren yang ada adalah pohon yang tumbuh liar. Menyebar dengan bantuan air dan hewan musang. Padahal, aren sangatlah ekonomis dan menguntungkan bila dibudidayakan secara intensif.
Orang jarang mau membudidayakan aren karena melihat pohon aren yang tumbuh liar di alam, baru bisa berproduksi setelah berumur 10-12 tahun. Padahal bila ditanam dan dirawat dengan baik, aren sudah dapat mulai berproduksi pada umur 6-7 tahun saja.
Secara umum, aren produksi dibagi menjadi tiga jenis. Aren genjah, aren dalam dan aren tingi. Persilangan aren genjah dengan aren dalam bisa menghasilkan aren sadang. Kekurangan dan kelebihan masing-masing jenis sudah penulis paparkan pada tulisan sebelumnya. Penulis sendiri menanam aren jenis dalam, berdasarkan pertimbangan ekonomis.
Di Tawau, Malaysia, aren telah dikebunkan secara profesional dan menghasilkan methanol, ethanol fuel grade dan alcohol pharmacy grade.
Menurut perhitungan kami, bila dibudidayakan dengan baik, dalam rentang waktu 15 tahun, maka aren dapat menghasilkan uang 4-5 kali lebih banyak dibanding uang yang dihasilkan oleh tanaman kelapa sawit atau karet.
Saat berproduksi, satu pohon kelapa sawit akan menghasilkan uang rerata Rp.525/pohon/hari. Sementara itu, aren menghasilkan uang rerata Rp.14.700/pohon/hari. Semua angka sudah dipotong biaya panen, namun belum dipotong biaya produksi lain. Untuk sawit dan aren, biaya produksi relatif tak beda jauh. Produk akhir yang dijual adalah TBS dan nira.
***
Aren dapat tumbuh dengan baik di ketinggian 3-1700 mdpl. Level idealnya ada di 400-1500 mdpl. Aren akan menghasilkan nira yang banyak di daerah yang pada siang hari cuaca panas (25-32 derajat C), sementara dimalam hari suhu udara cukup dingin (15-20 derajat C).
Selain cuaca, faktor yang mempengaruhi banyaknya air nira adalah perawatan dan pemupukan, salinitas, ketersediaan air tanah, kualitas bibit, dan yang paling penting adalah perlakuan manusia. Bila manusia memotong pelepah daun aren terlalu banyak sehingga daun yang tinggal hanya sedikit, maka produksi nira akan merosot tajam.
Berdasarkan wawancara kami dengan enam orang petani penyadap aren di Sumatera Utara, berikut kami simpulkan ciri-ciri pohon aren yang bagus.
1.Batangnya besar.
2.Pelepah daunnya besar.
3.Daunnya lebar dan panjang.
4.Akarnya membentuk tunggul, makin tinggi makin baik. Akar serabutnya halus
dan tunggul akarnya ini lebih besar daripada batangnya.
5.Lengan mayangnya sedang besarnya dan tidak terlalu keras..
6.Buahnya banyak dan besar-besar (>4cm).
7.Ijuknya banyak yang halus, tidak kasar semua.
8.Saat ia berbunga betina, tidak ada pohon aren lain di dekatnya yang juga sedang berbunga betina.
Pohon aren dengan delapan kriteria di atas adalah pohon yang potensial untuk dijadikan indukan. Yang diambil adalah biji dari buah matang yang berada di bagian luar mayang, atau setengah untaian mayang yang bagian atas. Buah yang berada di bagian dalam mayang, kurang baik dijadikan bakalan benih.
***
Cara membuat bibit aren :
Buah di pohon yang sudah tua dipotong setengah bagian tandan mayangnya yang bagian bawah, lalu dibuang. Buah yang masih tersisa dibiarkan matang lalu jatuh sendiri.
Buah ini dikumpulkan di tempat yang terkena sinar matahari, lalu diinjak sampai pecah. Kemudian disiram lalu dijemur. Setengah bulan kemudian bijinya diambil lalu dicuci bersih. Hati-hati mengerjakannya, karena buah aren sangatlah gatal. Bila terkena getahnya yang gatal, cuci bersih dengan sabun lalu cuci dengan abu sekam padi. Bila terjadi pembengkakan, segeralah ke dokter.
Biji lalu dijemur kering selama 2-3 hari. Kemudian direndam selama 10 hari. Tiriskan.
Buat lubang di tanah sedalam 25 cm. Panjang dan lebarnya sesuaikan dengan banyaknya biji yang akan disemai. Isi pasir setebal 12 cm. Lalu taburkan biji aren setebal 5 cm. Tutupi kembali dengan pasir setebal 8 cm. Siram setiap 2 hari sekali.
Bila berhasil, maka aren akan mulai berkecambah pada bulan ke tiga. Jika sampai bulan keenam tak jua tumbuh, maka : ANDA BELUM BERHASIL ! Hehehe…
Menurut pengalaman kami, tingkat perkecambahan hanya sekitar 20%. Yang 80% sisanya : gagal. Angka ini adalah angka kebalikan jika dibandingkan kalau kita mengkecambahkan biji kelapa sawit atau karet.
Kunci keberhasilan pengkecambahan ini adalah menjaga kelembaban. Medium tidak boleh terlalu basah atau kering. Harus selalu lembab. Karena itu disarankan agar membuat atap di atas medium persemaian.
Panen kecambah dilakukan bila apokol atau mata tunas sudah sepanjang 5 cm atau lebih. Jika kurang, maka kemungkinan apokol akan cepat kering karena masih terlalu muda. Jika akan ditanam sendiri, biarkan kecambah sampai tumbuh menjarum atau berumur sekitar 45 hari sejak mulai berkecambah.
Kecambah lalu ditanam ke dalam tanah bermedia polibag ukuran 12-17 cm atau lebih. Hindari pengunaan pupuk kandang untuk mencegah timbulnya jamur. Benamkan 2/3 bagian apokol. Lakukan dengan lembut, karena apokol ini cukup rentan. Jangan lupa untuk membasahi tanah sebelumnya. Gunakan tanah gembur dan berhumus banyak. Sebaiknya tanah dijemur terlebih dahulu, atau semprot tanah dengan fungisida semacam Bayleton atau Dithane 45. Ingat, musuh terbesar kecambah aren adalah jamur dan media yang terlalu basah/kering. Karena itu, atap masih diperlukan sampai bibit berusia 3 bulan. Setelah itu, atap diganti dengan jaring penahan panas atau paranet 60%.
Perlakuan dengan fungisida dan inseksida diberikan sesuai gejala serangan. Umumnya kami menyemprot dengan fungisida dan insektisida sebulan sekali dengan interval antar keduanya 10 hari.
Adapun pemupukan dengan urea dan TSP diberikan mulai usia sebualn . Larutkan dua genggam urea ke dalam 10 liter air, lalu siramkan untuk 200 batang benih. Perlakuan TSP seminggu kemudian. Lakukan setiap 14 hari. Boleh ditambah sedikit NPK bila media tanam kurang subur.
Bibit aren dapat ditanam ke lapangan saat berusia 7-8 bulan terhitung sejak dipindahkan ke polibag. Dua bulan sebelum ditanam, bibit harus dilatih untuk terbiasa dengan terik matahari. Buka paranet dan siram setiap sore secukupnya.
Cara tanam :
1.Jarak tanam untuk monokultur paling rapat adalah 5×5 meter. Bila masih mau ditumpangsarikan dengan palawija atau bumbu-bumbuan dan tanaman muda lainnya, maka jarak tanam yang kami anjurkan adalah 5×7 meter. Untuk selingan tanaman keras semisal kopi, maka jarak tanam menjadi 5×8 meter. Dua baris kopi dapat ditanam di jalur gawang yang lebarnya 8 meter itu. Barisan dibuat sejajar Utara-Selatan.
Untuk jarak tanam aren sistim tumpangsari dengan tanaman jenis lainnya, dapat merujuk pada tulisan kami sebelumnya.
2.Gali lubang ukuran lebar 30 cm, panjang 30 cm dan dalam 40 cm. Pisahkan tanah bagian atas dengan tanah bagian bawah. Semprot lubang dengan Dithane 45. Taburkan Dolomit atau Dotani 3 genggam ke dalam lubang. Biarkan 10-15 hari.
3.Masukkan sebagian tanah bagian atas. Beri NPK dua gengam lalu tutupi lagi dengan tanah bagian atas.
4.Buka polibag dengan pisau, lalu tanamkan bibit tegak lurus.
5.Uruk dengan tanah bagian bawah hingga cukup.
6.Untuk lembah tangkapan air, sisakan bagian atas lubang sedalam 7-8 cm. Artinya, lubang tidak diuruk semua.

Foto: bibit Aren (dokpri)
Sumber : http://indonesiana.tempo.co/read/22631/2014/09/24/bangpilot/budidaya-aren-pohon-paling-kaya

Kamis, 09 Oktober 2014

GERAKAN MENANAM AREN UNTUK KESEJAHTERAAN DI KAWASAN UMPUNGENG KABIPATEN SOPPENG SULAWESI SELATAN






Saat ini kami mencanangkan konservasi kawasan Umpungeng melaluia pembibitan dan penanaman pohon aren secara menyeluruh. Sasaran kami adalah mengembalikan fungsi utama kawasan ini sebagai daerah resapan air yang akan mengsuplai kebutuhan pengairan di sekitar kabupaten Soppeng melalui sungai Walennae. Kami mengajak partisipasi anda  dengan cara yang anda bisa. Anda bisa menyampaikan donasi anda dalam bentuk  tanaman atau dana. Kami akan mengelola setiap kepercayaan yang diberikan secara teransparan dan acountable dibawah pengawasan  Konsultan Lingkungan. 

Sebagai kawasan resapan air untuk menyuplai kebutuhan pengairan di Kabupaten Soppeng dan sekitarnya, Umpungeng juga dikenal sebagai sentra produsen gula aren. Dua kepentingan inilah yang kemudian mendorong kami untuk bergerak menyusun rencana sederhana yakni melakukan konservasi lingkungan sekaligus budidaya pohon hebat yang selama ini telah menjadi sumber mata pencaharian masyarakat setempat yakni pohonAREN

Secara umum tujuan dari program ini adalah :

  1. Konservasi untuk menjaga Umpungeng sebagai kawasan resapan air 
  2. Mengembalikan potensi kawasan Unpungeng sebagai sentra gula areng.
  3. Membangun budaya menanam pohon bibit aren bagi masyarakat, yang selama ini hanya mengandalkan pembibitan alami dari sebaran yang dilakukan oleh binatan yang hidup dihutan.
  4. Memberi peluang alternatif usaha bagi warga untuk mendapatkan upah / penghasilan sehingga dapat mengurangi aktifitas perusakan hutan. 
  5. Memberdayakan masyarakat lokal melalui usaha kerajinan yang berbahan dasar pohon enau seperti kerajinan Sapu Ijuk, Sapu Lidi, kolang kaling, minuman nira dan Gula aren.
Pelaksanaan program:
Program ini sepenuhnya akan dijalankan oleh warga dibawah managemen tim Umpungeng ecovillage mulai dari pembibitan, penanaman sampai perawatannya. Hanya saja dalam proses penanaman pohonnya, kami akan menawarkan kerjasama ke lembaga-lembaga pendidikan dengan tujuan agar:
  1. Kegiatan menanam pohon dapat di jadikan tradisi bagi anak-anak sekolah sebagai upaya membangun karakter yang berwawasan lingkungan.
  2. Kegiatan ini dapat dirasakan oleh anak-anak usia sekolah sebagai kegiatan yang menyenangkan dan berkesan positif hingga usia dewasa.
  3. Kegiatan menanam dapat dijadikan sebagai kegiatan extra kurikuler yang sarat pendidikan dan manfaat.  
Bagaimana keunggulan pohon Aren, bagaimana membudidayakannya? berikut beberapa alasan kami memilih tanaman super hebat ini.

Enauatau aren (Arenga pinnata, suku Arecaceae) adalah palma yang terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sd.); akol, akel, akere, inru, indu (bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara), dan lain-lain. [1]. Bangsa mengenalnya sebagai arenpalm atau zuikerpalm dan bangsa Jerman menyebutnya zuckerpalme. Dalam bahasa Inggris disebut sugar palm atau Gomuti palm.

Tanaman aren (enau) adalah termasuk  tanaman perkebunan yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat karena memiliki banyak kegunaan. Hampir semua bagian tanaman aren ini berguna, baik untuk pangan, bahan baku industri maupun energi terbarukan (bio ethanol). Aren juga memiliki kemampuan fungsi menyimpan air yang tinggi sehingga sangat cocok untuk tanaman konservasi.
Tanaman aren bisa menjadi tanaman konservasi. Hal ini ditunjukkan bahwa aren banyak dijumpai di lokasi yang berbukit dan rawan bencana alam, tanah longsor dan banjir. Pohon aren juga bisa menghambat erosi.
Dari pohon aren, manusia bisa mengambil ijuk, daun untuk atap rumah, batang dan pelepah untuk bahan bangunan, buah muda untuk kolang-kaling yang membuat nikmat kolak, dan cairan manis (nira) segar yang langsung bisa diteguk atau diolah jadi gula merah.
Pohon aren bisa hidup berdampingan dengan pohon lain, aren bisa bertumbuh subur di tengah pepohonan lain dan semak-semak. lahan untuk aren tidak perlu  dengan membabat hutan. Aren adalah jenis pohon yang ramah lingkungan. Dengan akarnya sedalam enam sampai delapan meter, pohon aren sangat efektif menarik dan menahan air. Aren bisa tumbuh di dataran, lereng bukit, dan gunung.

Fungsi dan kegunaan pohon Aren.
Pohon aren dapat dimanfaatkan, baik berfungsi sebagai konservasi, maupun fungsi produksi yang menghasilkan berbagai komoditi yang mempunyai nilai ekonomi.

Fungsi Konservasi
Pohon aren dengan perakaran yang dangkal dan melebar akan sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya erosi tanah. Demikian pula dengan daun yang cukup lebat dan batang yang tertutup dengan lapisan ijuk, akan sangat efektif untuk menahan turunnya air hujan yang langsung kepermukaan tanah. Pengelolaan dan pembudidayaan tanaman aren perlu dilakukan mengingat tanaman aren memiliki keunggulan dalam mencegah erosi tanah terutama pada daerah-daerah yang terjal karena akar tanaman aren dapat mencapai kurang lebih enam meter pada kedalam tanah, sehingga dapat tumbuh baik pada tebing-tebing dan akan sangat baik sebagai pohon pencegah erosi longsor.

Batang yang keras digunakan sebagai bahan pembuat alat-alat rumah tangga dan ada pula yang digunakan sebagai bahan bangunan. Batang aren sering dimanfaatkan untuk jembatan.  Bagian luar batang aren atau ruyung berwarna hitam dan sangat keras. Biasanya bagian ini dimanfaatkan untuk membuat perkakas rumah tangga dan untuk keperluan lain, seperti gagang pisau, tangkai kapak, cangkul, dan juga tongkat. Bagian ini sering digunakan untuk membuat bahan usuk atau kaso penyangga genting rumah. Karena sifatnya yang keras, bagian luar batang aren ini juga sangat baik untuk kayu bakar.

Kegunaan 

Pohon enau menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman yang serbaguna, terutama sebagai penghasil gula.
  1. Nira dan gula, Tongkol bunga jantan (kanan) dan yang disadap niranya (sebelah kiri) Gula aren diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan di ujungnya digantungkan tahang bambu untuk menampung cairan yang menetes. Cairan manis yang diperoleh dinamai nira (alias legen atau saguer), berwarna jernih agak keruh. Nira ini tidak tahan lama, maka tahang yang telah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya; biasanya sehari dua kali pengambilan, yakni pagi dan sore. Setelah dikumpulkan, nira segera dimasak hingga mengental dan menjadi gula cair. Selanjutnya, ke dalam gula cair ini dapat dibubuhkan bahan pengeras (misalnya campuran getah nangka dengan beberapa bahan lain) agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula gandu). Atau, ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak kelapa, agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai gula semut. Di banyak daerah di Indonesia, nira juga biasa difermentasi menjadi semacam minuman beralkohol yang disebut tuak atau di daerah timur juga disebut saguer. Tuak ini diperoleh dengan membubuhkan satu atau beberapa macam kulit kayu atau akar-akaran (misalnya kulit kayu nirih (Xylocarpus) atau sejenis manggis hutan (Garcinia)) ke dalam nira dan membiarkannya satu sampai beberapa malam agar berproses. Bergantung pada ramuan yang ditambahkan, tuak yang dihasilkan dapat berasa sedikit manis, agak masam atau pahit. Dengan membubuhkan bahan yang lain, atau dengan membiarkan begitu saja selama beberapa hari, nira dapat berfermentasi menjadi cuka. Cuka dari aren ini kini tidak lagi populer, terdesak oleh cuka buatan pabrik. Nira mentah (segar) bersifat pencahar (laksativa), sehingga kerap digunakan sebagai obat urus-urus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan roti.[1]
  2. Kolang-kaling: Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam dalam air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun.[1]. Cara lainnya, buah muda dikukus selama tiga jam dan setelah dikupas, inti bijinya dipukul gepeng dan kemudian direndam dalam air selama 10-20 hari. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai buah atep (buah atap) atau kolang-kaling. Kolang-kaling disukai sebagai campuran es, manisan atau dimasak sebagai kolak. Teristimewa sebagai hidangan berbuka puasa di bulan Ramadhan.
  3. Atap Rumah: Sebagaimana nipah dan rumbia, daun pohon enau juga biasa digunakan sebagai bahan atap rumah rakyat. Pucuk daunnya yang masih kuncup (janur) juga dipergunakan sebagai daun rokok, yang dikenal pasar sebagai daun kawung. 
  4. Sapu lidi :Lembar-lembar daunnya di Jawa Barat biasa digunakan sebagai pembungkus barang dagangan, misalnya gula aren atau buah durian. Lembar-lembar daun ini pun kerap dipintal menjadi tali, sementara dari lidinya dihasilkan barang anyaman sederhana dan sapu lidi.
  5. Tali Pintal :Seperti halnya daun, ijuk dari pohon enau pun dipintal menjadi tali. Meski agak kaku, tali ijuk ini cukup kuat, awet dan tahan digunakan di air laut. Ijuk dapat pula digunakan sebagai bahan atap rumah, pembuat sikat dan sapu ijuk. Dari pelepah dan tangkai daunnya, setelah diolah, dihasilkan serat yang kuat dan tahan lama untuk dijadikan benang, tali pancing dan senar gitar Batak.Batangnya mengayu di sebelah luar dan agak lunak berserabut di bagian dalam atau empulurnya.
  6. Papan : Kayunya yang keras ini dipergunakan sebagai papan, kasau atau dibuat menjadi tongkat. Empulur atau gumbarnya dapat ditumbuk dan diolah untuk menghasilkan sagu, meski kualitasnya masih kalah oleh sagu rumbia. Batang yang dibelah memanjang dan dibuang empulurnya digunakan sebagai talang atau saluran air. Dari akar dihasilkan serat untuk bahan anyaman, tali pancing atau cambuk.[1]

Ekologi dan penyebaran
Pohon enau mudah tumbuh. Memiliki asal-usul dari wilayah Asia tropis, enau diketahui menyebar alami mulai dari India timur di sebelah barat, hingga sejauh Malaysia, Indonesia, dan Filipina di sebelah timur. Di Indonesia, enau tumbuh liar atau ditanam, sampai ketinggian 1.400 m dpl.. [2] Biasanya banyak tumbuh di lereng-lereng atau tebing sungai.  Meskipun getahnya amat gatal, buah enau yang masak banyak disukai hewan. Musang luwak diketahui sebagai salah satu hewan yang menyukai buah enau ini, dan secara tidak langsung berfungsi sebagai hewan pemencar biji enau. Di Bangka, pada masa lalu orang-orang Tionghoa memasang perangkap di bawah pohon enau yang tengah berbuah, untuk menangkap rombongan babi hutan yang berpesta buah enau yang berjatuhan. 

Cara Perbanyakan
Enau atau aren dapat dikembang biakkan secara generatif yaitu melalui bijinya. Agar diperoleh keturunan yang baik, benih sebaiknya diambil dari pohon induk yang memiliki kriteria sebagai berikut :
  1. Batang pohon harus besar dengan pelepah daun merunduk dan rimbun. Sampai saat ini dikenal dua macam tanaman aren yaitu Aren Genjah yang memiliki batang agak kecil dan pendek dengan produksi nira antara 10–15 liter/tandan/hari, dan Aren Dalam yang memiliki batang besar dan tinggi dengan produksi nira 20–30 liter/tandan/hari. Untuk kepentingan produksi nira dan turunannya, dianjurkan untuk menggunakan varietas Dalam sebagai pohon induknya.
  2. Pohon terpilih harus memiliki produktivitas yang tinggi. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon aren dan tidak semua mayang (tandan bunga) jantan yang keluar (9 – 11 mayang) menghasilkan nira. Hal ini sangat dipengaruh oleh proses fisiologi tanaman. Calon pohon induk perlu diperiksa produktivitasnya dengan menyadap nira dari mayang jantan pertama atau kedua; jika hasilnya banyak maka pohon itu pantas dijadikan pohon induk. Kemudian pohon induk ini tidak lagi disadap niranya, agar kualitas benih yang dihasilkan tetap baik.
Selanjutnya tahapan penyediaan bibit tanaman aren adalah sebagai berikut:
  1. Pengumpulan buah yang digunakan sebagai sumber benih harus matang, sehat yang ditandai dengan kulit buah yang berwarna kuning kecoklatan, tidak terserang hama dan penyakit dengan diameter buah ± 4 cm. Sebaiknya buah yang diambil adalah yang terletak di bagian luar rakila. Buah aren ini dapat disimpan selama 2 minggu pada karung plastik atau dus untuk memudahkan pemisahan biji (benih) dari kulit.
  2. Pengambilan biji dari dari dalam buah aren harus menggunakan sarung tangan karena buah aren mengandung asam oksalat yang akan menimbulkan rasa gatal apabila kena kulit. Cara lain, yaitu dengan memeram buah-buah aren yang telah dikumpulkan sampai kulit buah menjadi busuk sehingga biji terpisah dengan sendirinya dari daging buah. Dengan cara ini, biji dapat diambil dengan mudah dan kulit buah aren tidak gatal lagi.
  3. Anakan (semai) pohon aren, Perkecambahan. Benih disemaikan dalam tempat persemaian dengan media campuran pasir dan serbuk gergaji dengan perbandingan 2:1. Untuk mempercepat perkecambahan, tempurung biji dapat digosok dengan kertas pasir (ampelas) di bagian punggungnya, tempat keluar apokol, selebar kira-kira 3 mm kemudian biji direndam dalam air agar air meresap ke dalam endosperm sampai jenuh, lalu disemaikan. Benih disiram setiap hari untuk mempertahankan kelembaban yang tinggi sekitar 80%.
  4. Pembibitan, Semai aren yaitu setelah terbentuk apokol yang telah mencapai panjang 3 – 5 cm dipindahkan ke tempat pembibitan atau ke dalam kantong plastik (polibag) yang berdiameter 25 cm, yang telah diisi ¾ bagiannya dengan tanah-tanah lapisan atas yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:2. Bibit-bibit yang telah dipindahkan ini memerlukan penyiraman dan naungan agar terhindar dari cahaya matahari secara langsung. Bibit aren dapat dipindahkan (ditanam) ke lapangan setelah berumur 6-8 bulan sejak daun pertama terbentuk
Sumber : http://umpungeng.blogspot.com/2009/03/conservasi-hutan-enau.html

Penghasilan Rp 30 ribu/hari dari satu pohon Aren

Pohon Ini Menghasilkan Rp30.000/Pohon/Hari

Namanya pohon arenga pinnata merr. Atau aren, enau, atau bargat.
Nah, kalau anda punya 200 pohon saja, dan 50% berproduksi, berapa penghasilan kotor anda perhari?
Pohon aren ada dua varietas, varietas dalam dan varietas genjah.
No.
Uraian
Aren Dalam
Aren Genjah
1
Umur mulai berproduksi
10-12 tahun
6-7 tahun
2
Tinggi pohon
16-22 meter
7-13 meter
3
Diameter batang
60-70 cm
40-55 cm
4
Masa produksi
12-15 tahun
6-9 tahun
5
Jumlah tandan selama hidup
18-22 tandan
9-13
6
Jumlah nira perhari
10-25 liter
6-15 liter
7
Rendemen
15-23%
10-20%
8
Harga nira/liter
rp.2.500
rp.2.500










Pohon aren pertumbuhannya tidak sama dengan pohon sawit. Pohon aren tumbuh dulu sampai tinggi puncak, baru kemudian keluar tandan buah (betina). Setelah keluar 3-9 tandan betina, barulah dibawahnya keluar tandan bunga (jantan). Bila aren sudah keluar tandan betina, maka berarti ia sudah tidak tumbuh lagi secara vegetatif. Bahkan, pelepah daunnya pun tidak akan bertambah lagi. STOP sudah.
* Tips : Jangan potong pelepah daun aren yang pohonnya sudah mengeluarkan tandan, untuk alasan apapun. Minimal harus ada 18 pelepah aren dalam satu pohon. Makin sedikit pelepah daun, makin sedikit air niranya.
Pohon aren yang sudah keluar tandan ini, cuma akan tumbuh secara generatif, yakni berbuah dan berbunga. Tandan buah dan bunganya tumbuh dimulai dari pelepah atas, lalu turun ke bawah, dan terakhir tandan akan tumbuh dari celah bekas pelepah daun yang paling bawah, dekat dengan tanah. Setelah itu, maka pohon pun akan mati otomatis secara perlahan.
* Tips : Bersihkan ijuk yang menyelimuti batang pohon aren bila tandannya sudah keluar. Ijuk yang tebal akan mencegah keluarnya tandan jantan yang akan disadap untuk diambil niranya.
Kami ulangi, bila sudah sampai puncak pertumbuhan vegetatif, maka aren akan mengeluarkan tandan betina, yang kemudian menjadi buah. Buah aren bisa diolah menjadi kolang-kaling alias bargat. Satu tandan buah aren bisa menghasilkan kolang-kaling s.d 50 kg. Jumlah tandan betina ini antara 3-9 tandan per pohon.
Orang tua dulu umumnya tidak mau menyadap tandan betina ini, berdasarkan kearifan lokal. Padahal bila disadap, air niranya lebih banyak daripada tandan jantan yang akan keluar kemudian. Tetapi kami menduga, ada juga hubungan antara keluarnya tandan jantan dengan adanya tandan betina atau tandan buah di atasnya. Karena itu kami sarankan untuk mulai menyadap tandan aren pada tandan ke dua. Artinya, tandan pertama dibiarkan menjadi buah, lalu dituakan untuk bibit, apabila nira dari pohon itu ternyata cukup banyak.

Buah aren cukup lama untuk menjadi tua, bisa mencapai dua tahun, sehingga tandan jantan sudah keluar sampai yang ke empat atau kelima. Artinya, tandan jantan sudah habis disadap sampai tandan yang kelima, barulah buah aren itu tua dan jatuh dengan sendirinya. Buah aren yang baik untuk bibit, ialah buah yang berasal dari mayang yang bagian luar.
* Tips : gunakan pisau yang luar biasa tajam saat menyadap aren. Pisau yang tumpul akan membuat air nira sedikit dan tandan cepat mati sebelum habis disadap. Jangan pakai pisau sadap untuk keperluan apapun selain untuk menyadap. Jauhkan pisau dari anak-anak, dan terutama dari bumbu dapur.
Penyadap aren harus memiliki jerigen penampung nira dua kali lipat dari jumlah tandan pohon yang disadap. Jerigen harus dibersihkan dan dikeringkan sebelum dipakai. Sedapat-dapatnya tutup lubang yang ada saat jerigen menampung nira, agar bakteri yang ada di udara bebas tidak masuk lalu mencemari nira hingga menjadi masam.
* Tips : masukkan 50-60 gram sabut kelapa yang segar ke dalam jerigen penampung nira. Ini akan mengawetkan nira anda dari bakteri selama tiga jam terhitung sejak diturunkan. Bisa juga memakai getah manggis, kulit buah manggis, getah nangka, serutan buah nangka muda, minyak makan 50 ml dan tumbukan buah kemiri 4 buah, dan beberapa resep lainnya. Jangan pakai deterjen ! Berbahaya ! Berdosa ente !
Air nira bisa dibuat gula aren, gula semut, alkohol 70% untuk farmasi dan methanol 99,6% (fuel grade). Nira tidak boleh dibuat menjadi Tuak, Sager, Cap Tikus, Arak, dll. Pembuat dan peminumnya berdosa dan akan masuk api neraka. Tobat ente, bro!
Yang populer saat ini adalah, nira dijual dalam bentuk air nira manis, dicampur dengan es batu. Harganya satu gelas rp.3.000.- Satu liter nira bisa menjadi 5 gelas. Artinya, satu liter nira bisa menghasilkan uang 14.500 rupiah. Yang 500 rupiahnya = biaya es batu.
Es nira itu selain rasanya manis segar, juga sehat, karena GI (Glikemics Index ) nira cuma 35. Jauh dibawah batas atas yang dibolehkan, yakni 70. Bandingkan dengan gula putih atau gula produk tebu lainnya yang GI-nya 90.
Menanam aren tidaklah sulit, sangat mudah malah. Tidak ada trik-trik tertentu. Ia bahkan tidak memiliki penyakit seperti pada pohon kelapa sawit, misalnya. Dibiarkan hidup alami saja, aren dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan nira yang cukup banyak, apalagi bila dirawat.
Jarak tanam yang kami rekomendasikan adalah 5x12 meter dengan sistim tumpang sari dengan tanaman lain. Jenis tanaman yang dapat ditanam di sela penanaman aren, sudah kami tulis sebelumnya.
Hanya saja, aren membutuhkan naungan yang baik saat baru ditanam di lapangan. Bila hujan jarang turun, maka perlu disiram. Karenanya, penanaman aren dianjurkan di awal menuju pertengahan musim penghujan.

Untuk varietas, kami sarankan untuk menanam aren varietas dalam. Memang lama baru berproduksi, tetapi sekali berproduksi, hasilnya sangat memuaskan. Lagi pula kita kan menanamnya dengan sistim tumpang sari, sehingga masih dapat penghasilan dari ubi, jahe, palawija, cabai, kopi, cengkeh, bibit sawit, dan lain-lain tanaman yang kita usahakan di sela tanaman aren. Percayakah anda jika kami katakan bahwa satu hektar tanaman aren memberikan hasil 12 kali lebih banyak daripada satu hektar tanaman sawit, dalam masa yang sama, yakni 20 tahun?

Perhitungan ekonomis tanaman aren telah kami paparkan dalam tulisan sebelumnya.
*Tips : jika membeli bibit aren via kiriman kilat, hati-hatilah. Ada beberapa produsen bibit yang kurang pandai mengemas bibit, dan gagal menentukan usia bibit yang potensial untuk dikirim jauh, hingga bibit akan mati setelah anda tanam di polibag 4-5 hari kemudian. Meskipun sudah dinaungi dan dijaga kelembabannya pada nisbi 80-85%.
Jadi, jika anda membeli atau membuat sendiri bibit aren, tanamlah dulu ke polibag besar ukuran 30/40 ( polibag bibit sawit besar). Sepuluh bulan kemudian baru anda tanam ke lapangan. Ciri bibit aren yang sudah siap tanam ke lapangan: daunnya sudah 4-5 helai, tinggi 40-50 cm dengan akar yang sudah cukup banyak. Cara ini jauh lebih baik dibanding anda beli bibit aren siap tanam tapi dikirim tanpa polibag. Pengiriman dengan mengikutkan semua tanah yang ada di dalam polibag memang hampir tidak mungkin dilakukan, karena akan terlalu berat sehingga ongkos kirim akan menjadi terlalu mahal

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/576338/1/pohon-ini-menghasilkan-rp30000pohonhari.html