......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Selasa, 23 Desember 2014

Konservasi Lahan dengan Pohon Aren


Keunggulan Konservasi Lahan dengan Pohon Aren

Tanaman aren (enau) adalah termasuk  tanaman perkebunan yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat karena memiliki banyak kegunaan. Hampir semua bagian tanaman aren ini berguna, baik untuk pangan, bahan baku industri maupun energi terbarukan (bio ethanol). Aren juga memiliki kemampuan fungsi menyimpan air yang tinggi sehingga sangat cocok untuk tanaman konservasi.

Tanaman aren bisa menjadi tanaman konservasi. Hal ini ditunjukkan bahwa aren banyak dijumpai di lokasi yang berbukit dan rawan bencana alam, tanah longsor dan banjir. Pohon aren juga bisa menghambat erosi.
Dari pohon aren, manusia bisa mengambil ijuk, daun untuk atap rumah, batang dan pelepah untuk bahan bangunan, buah muda untuk kolang-kaling yang membuat nikmat kolak, dan cairan manis (nira) segar yang langsung bisa diteguk atau diolah jadi gula merah.

Pohon aren bisa hidup berdampingan dengan pohon lain, aren bisa bertumbuh subur di tengah pepohonan lain dan semak-semak. lahan untuk aren tidak perlu  dengan membabat hutan. Aren adalah jenis pohon yang ramah lingkungan. Dengan akarnya sedalam enam sampai delapan meter, pohon aren sangat efektif menarik dan menahan air. Aren bisa tumbuh di dataran, lereng bukit, dan gunung.
Kegunaan Pohon Aren.
Pohon aren dapat dimanfaatkan, baik berfungsi sebagai konservasi, maupun fungsi produksi yang menghasilkan berbagai komoditi yang mempunyai nilai ekonomi.
Fungsi Konservasi
Pohon aren dengan perakaran yang dangkal dan melebar akan sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya erosi tanah. Demikian pula dengan daun yang cukup lebat dan batang yang tertutup dengan lapisan ijuk, akan sangat efektif untuk menahan turunnya air hujan yang langsung kepermukaan tanah.
Pengelolaan dan pembudidayaan tanaman aren perlu dilakukan mengingat tanaman aren memiliki keunggulan dalam mencegah erosi tanah terutama pada daerah-daerah yang terjal karena akar tanaman aren dapat mencapai kurang lebih enam meter pada kedalam tanah, sehingga dapat tumbuh baik pada tebing-tebing dan akan sangat baik sebagai pohon pencegah erosi longsor.
Batang yang keras digunakan sebagai bahan pembuat alat-alat rumah tangga dan ada pula yang digunakan sebagai bahan bangunan.
Batang aren sering dimanfaatkan untuk jembatan.  Bagian luar batang aren atau ruyung berwarna hitam dan sangat keras. Biasanya bagian ini dimanfaatkan untuk membuat perkakas rumah tangga dan untuk keperluan lain, seperti gagang pisau, tangkai kapak, cangkul, dan juga tongkat. Bagian ini sering digunakan untuk membuat bahan usuk atau kaso penyangga genting rumah. Karena sifatnya yang keras, bagian luar batang aren ini juga sangat baik untuk kayu bakar.
Bunga
Tangkai bunga bila dipotong akan menghasilkan cairan berupa nira yang mengandung zat gula
Bunga jantan
Bunga aren jantan atau dangu, biasanya diperoleh setelah tangkai bunga dipotong untuk disadap niranya. Bunga ini dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, terutama ternak kambing.
Buah
Buahnya dapat diolah menjadi bahan makanan seperti kolang-kaling yang banyak digunakan untuk campuran es. kolak atau dapat juga dibuat manisan kolang-kaling.
Bila buah aren yang belum terlalu matang dipotong, maka akan terlihat bijinya yang kenyal berwarna putih jernih (bening). Daging biji inilah yang disebut kolang-kaling dan bisa digunakan sebagai bahan makan.
Kolang-kaling memang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Pada saat bulan puasa, permintaan kolang-kaling melonjak sangat tajam. Masyarakat yang beragama Islam sering menjadikan kolang-kaling sebagai menu khas di bulan puasa. Baik sebagai makanan untuk berbuka puasa ataupun santapan ringan setelah melakukan shalat tarawih.
Ijuk
Tanaman aren tampak menyeramkan karena batangnya diselimuti oleh-oleh bulu-bulu berwarna hitam yang dinamakan ijuk. Ijuk yang berupa serat-serat ini menempel pada batang di sekitar pangkal pelepah daun.
Ijuk merupakan bahan yang banyak sekali digunakan untuk berbagai macam keperluan. Antara lain untuk bahan baku anyam-anyaman, seperti tali, sapu, sikat, dekorasi, atap rumah tradisional, dan lain-lain.

Sumber : http://sekorakyat.org/keunggulan-konservasi-lahan-dengan-pohon-aren.html


Senin, 22 Desember 2014

Analisis pohon Aren untik Mencegah Banjir, Erosi dan longsor



Analisis Struktur Anatomi Batang dan Akar Pohon Aren (Arenga Epinnata) sebagai Pohon yang dapat Mencegah Banjir dan Erosi.

Jumat, 13 Januari 2012 | Ayun

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Biologi.
Institut Pertanian Bogor
PENDAHULUAN
Bencana alam datang secara silih berganti di berbagai penjuru Nusantara. Sehingga, selama kurun waktu 1997-2009 terjadi 6.632 bencana alam. Jenis bencana yang melanda wilayah Indonesia didominasi banjir yang mencapai 35% dari total 6.632 kali bencana, disusul kekeringan (18%), tanah longsor, angin topan dan kebakaran, masing-masing 11%. Sementara itu, bencana banjir yang disusul tanah longsor tercatat sebanyak 3% (Anwar 2010). Menurut ISDR, jenis bencana yang paling sering terjadi dan meningkat adalah bencana Hydro-Meteorologis. Bencana jenis ini di Indonesia terutama banjir dan bencana ikutannya yaitu longsoran (Rovicky 2009).
clip_image002
Grafik 1 Data statitistik kejadian bencana di pulau Jawa (BNPB 2008)
Dalam menanggulangi masalah bencana alam, berbagai penelitian telah dilakukan untuk melestarikan alam. Salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon aren (Arenga pinnata) merupakan salah satu jenis palm yang memiliki berbagai kegunaan dalam kehidupan setelah pohon kelapa (Cocos nucifera). Selain dari pemanfaatan materialnya, Arenga pinnata dapat dimanfaatkan dalam melestarikan alam dan mencegah bencana banjir dan erosi tanah. Mengetahui kegunaan tersebut, budidaya pohon aren semakin digencarkan oleh pemerintah. Pemerintah akan mengembangkan penanaman pohon aren sebagai program nasional. Hal ini dikarenakan manfaat pohon aren yang begitu besar, terutama dalam bidang pelestarian lingkungan. Pohon aren memiliki kemampuan terlama dan terbanyak dalam menahan volume air hujan di atas pohon. Saat hujan, setiap batang pelepah daun dapat menahan 1-2 liter selama beberapa jam. Pada umur 5-7 tahun, pohon aren memiliki pelepah dari pangkal batang hingga ke ujung pohon, sehingga memberikan waktu yang panjang untuk tanah di bawah pohon untuk dapat menyerap lebih banyak air, dan dengan sendirinya akan menyimpan air tanah yang paling banyak. Penelitian sementara dari ahli geologist, pohon aren dapat menyimpan dan menyerap 200 liter air. Dengan demikian akan sangat berperan untuk mencegah banjir, dalam umur 3 tahun saja sudah dapat menjapai tingkat maksimal peran penyerapan air.
Selain sangat baik menyimpan air, Pohon aren juga sangatlah efektif menahan tanah. Hal ini disebabkan sistem peakaran pohon aren sangat dalam menancap kedalam tanah. Bukti yang menunjukkan kuatnya sistem perakaran pohon aren adalah kekuatannya dalam menahan tanah pada saat banjir dan tanah longsor melanda Minahasa pada akhir tahun 2000. Terdapat satu lokasi tanah longsor didaerah setelah Motoling, Minahasa selatan, dimana tebing tanpa vegetasi pohon aren mengalami kerusakan akibat longsor yang parah, sementara pada tebing yang terdapat vegetasi pohon aren tidak mengalami longsor sama sekali.
Dengan sifatnya yang banyak menyimpan air dapat menyuburkan pohon dan tanaman lainya yang ada dibawah atau disekitarnya, pohon aren dijadikan tanaman perintisan pada lahan-lahan gundul. Pohon aren akan tetap tumbuh dan tetap memberikan nilai ekonomi meskipun nantinya telah tertutupi oleh pohon lainnya yang tumbuh menyusul, karena pohon aren memiliki batas ketinggian dan akan selalu tumbuh dan mati setelah mencapai umur dan ketinggian tertentu (Maramis 2008)
PEMBAHASAN
Aren merupakan tanaman yang termasuk jenis palm dengan nama latin Arenga pinnata. Sebagian orang menyebutnya dengan nama latin alternatif Arenga saccharifera. Aren termasuk suku Arecaceae (pinang-pinangan) dan merupakan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) (Tabel 1.). Tanaman aren tersebar mulai dari pantai barat India hingga ke sebelah selatan Cina dan kepulauan Guam. Habitat aren juga banyak terdapat di Filipina, Malaysia, Dataran Assam di India, Laos, Kamboja, Vietnam, Birma (Myanmar), Srilanka, dan Thailand (Lutony, 1993). Di Indonesia, aren banyak terdapat dan tersebar di seluruh wilayah nusantara, khususnya di daerah-daerah perbukitan yang lembab.clip_image004
Tabel 1. Taksonomi Tanaman Aren (Arenga pinnata)
Menurut Shukla dan Misra (2002), ciri utama jenis palem adalah berbatang lurus, tinggi, dan kolumnar. Daun palmately atau pinnately membentuk tajuk dari batang kokoh yang tidak bercabang, dasar petiole luas, berpelepah, dan berserat.
Palem memiliki perbungaan yang berkaitan erat dengan siklus hidupnya. Palem menghasilkan perbungaan pada ujung batangseperti Corypha.palm Coryphamerupakan palem yang bersifat hapasantik,yaitu setelah berbunga dan berbuah lalu mati.Selain di ujung batang, perbungaan ada yang tumbuh di antara daun (interfoliar), makin ke atas, perbungaan yang muncul semakin muda (Witono et al. 2000)
Palem yang besar dan tinggi, dapat mencapai 25 m dan berdiameter hingga 65 cm. Daun Arenga pinnata menyirip dengan panjang 6- 10 m, tangkai daun 1-1,5 m dengan pelepah daun pada pangkalnya. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya. Sistem perakaran pohon aren menyebar dan cukup dalam hingga 6 m (Withington et al. 1988).

Kemampuan Arenga pinnata dalam menyimpan air dapat dikarenakan anatomi dan morfologi batangnya yang menunjang. Berdasarkan sifat internal dan eksternalnya, tipe batang Arenga pinnata termasuk ke dalam jenis pohon. Menurut Mulyani (2006), struktur umum yang dimiliki pada batang, pada bagian luar terdapat epidermis yang ditutupi oleh bahan lemak alam yang sangat tahan air (kutin). Lapisan kutin disebut dengan kutikula. Pada Arenga pinnata, kutikulanya cukup tebal, bersifat kedap air dan gas (impermeabel). Bagian sebelah dalam epidermis terdapat korteks yang terdiri dari jaringan parenkim, kolenkim, dan sklerenkim. Di sebelah dalam korteks terdapat silinder pusat yang berisi jaringan pembuluh tersusun yang biasa disebut ikatan pembuluh (berkas pengangkut). Setiap berkas pengangkut terdiri atas xilem di bagian dalam dan floem di bagian luar. Pada Arenga pinata, berkas pengangkut tersebar pada seluruh batang. Di antara xilem dan floem tidak terdapat kambium, sehingga disebut dengan tipe kolateral tertutup.
Struktur tumbuhan yang paling berperan dalam pencegahan banjir adalah jaringan parenkim. Jaringan parenkim merupakan jaringan dasar yang terdapat di seluruh tubuh tumbuhan. Sebagian besar tubuh tumbuhan, seperti empulur, hampir semua korteks akar dan batang, perisikel, mesofil daun, dan daging buah terdiri atas parenkim. Sel parenkim juga terdapat di dalam xilem dan floem. Berdasarkan fungsinya, parenkim dapat dibedakan menjadi parenkim asimilasi, parenkim penimbun, parenkim air, dan arenkim. Parenkim air merupakan sel parenkim yang berfungsi menyimpan air sebagai bahan cadangan. Umumnya sel berukuran besar, berdinding tipis, lapisan sitoplasmanya tipis, mengandung hanya sedikit kloroplas atau bahkan tidak ada sama sekali. Sel penyimpan air memiliki vakuola besar yang berisi cairan berlendir. Senyawa berlendir ini dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan air dan juga terdapat dalam sitoplasma maupun dinding sel (Mulyani 2006). Sel parenkim pada Arenga pinnata terdapat pada akar, batang, maupun daunnya. Porsi terbesar yang dapat menampung air terletak pada batangnya. Hal tersebut dikarenakan volume batang merupakan organ yang paling terbesar yang memungkinkan tertampungnya air. 
Batang Arenga pinnatatertinggi memiliki tinggi hingga 25 m dengan diameter mencapai 65 cm. Jika ditotalkan, volume batang dapat mencapai 16,25 m2. Jika dikurangi bagian epidermis serta lapisan yang tidak berparenkim, dan ditambah dengan parenkim yang terdapat pada akar, daun dan pelepahnya, sebuah Arenga pinnata dapat menampung air hingga 200 liter. Air dapat tertampung di dalam tubuh tumbuhan dengan watku yang relatif lama dikarenakan tingkat transpirasi yang rendah. Transpirasi dicegah dengan adanya lilin yang cukup tebal pada bagian daun, serta kutikula yang tebal dan berlilin pada bagian batang. Sehingga, laju transpirasi dapat diperlambat. Anatomi palem tersebut yang dimanfaatkan oleh para konservaser alam dalam mencegah banjir.
Arenga pinnata pun digunakan dalam mencegah erosi ataupun longsor. Sebagai tumbuhan kelas monokotil, Arenga pinnata memiliki akar tipe serabut. Akar serabut dan bulu akar yang banyak berfungsi untuk berpegangan pada tanah. Kelebihan akar Arenga pinnata adalah, sistem perakarannya kuat dan panjang. Menurut Mogea,, Seibert, dan Smits (1991), sistem perakaran Arenga pinnata sangat dalam hingga mencapai kedalaman 15 meter dengan lebar mencapai 10 meter. Dengan sistem perakaran yang cukup kokoh dan sangat panjang tersebut dapat memberikan kestabilan pada tanah. Selain sebagai alat transportasi mineral dan zat hara, akar pada Arenga pinnata lebih berfungsi sebagai jangkar, melihat sistem perakarannya yang begitu kokoh dan panjang.
KESIMPULAN
Arenga pinnata dapat berfungsi sebagai tumbuhan pencegah banjir dengan kapasitas jaringan parenkim dan volume tubuhnya yang cukup besar untuk dapat menampung air. Adanya kutikula dan lilin akan menurunkan laju transpirasi sehingga air dapat tertampung dengan waktu yang lama. Sementara sistem perakaran yang kuat dan panjang hingga mencapai kedalaman 15 meter dapat memberikan kestabilan pada tanah, sehingga dapat mencegah erosi dan longsor.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar WMK. 2010. Statistik Bencana Alam. Jakarta : Kompas
Maramis Franky. 2008. PROYEK TERPADU : Penanaman Massal Pohon Seho Di Tanah Toar Lumimuut Minahasaraya Serta Menjadikan Danau Tondano “Galilea In Minahasa” [terhubung berkala] http://arenindonesia.wordpress.com/proyek-aren/ [10 November 2010]
Mogea J, Seibert B, Smits W. 1991. Multipurpose palms: the sugar palm (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.). Agroforestry Systems 13:111-129.
Mulyani Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Kanisius.
Lutony Tony Luqman. 1993. Tanaman Sumber Pemanis. Jakarta : Penebar Swadaya
Rovicky. 2009. Menghadapi Tahun Depan dengan Lebih Optimis dan Waspada [terhubung berkala] http://rovicky.wordpress.com/2009/12/22/menghadapi-tahun-depan-dengan-lebih-optimis-dan-waspada/ [10 November 2010].
Shukla P dan Misra P.S. 2002. An Introduction to Axonomy of Angiosperms. New Delhi : Vikas Publishing Houde PUT LTD.
Withington D et al. (eds.). 1988. Arenga pinnata: a palm of agroforestry. In: Multipurpose trees species for small-farm use: proceedings. Winrock International/ IDRC.
Witono J.R.A, Suhatman N., Suryana dan R.S. Purwantoro.2000. Koleksi Palem Kebun Raya Cibodas. Seri Koleksi Kebun Raya-LIPI Vol.II, No.I Sindang Laya-Cianjur.

Sumber :  http://stationofwords.blogspot.com/2012/01/analisis-struktur-anatomi-batang-dan.html





Pohon Aren prosek ekonomi hingga dan pengamanan terhadap banjir dan longsor


Jeinner J Rawung

AREN Berpotensi dan Bernilai Ekonomis

Menuju Kubar, Kukar dan Samarida Bebas Banjir
Oleh : Jeinner J Rawung


Sederhananya, banjir dicegah, belajar anak usia sekolah di sepanjang jalur Mahakam tidak terganggu. Tujuan mengkualitaskan Sumber Daya Manusia (SDM) mudah tercapai. Belum lagi, indikasi ekonomis yang mengikuti jika upaya seperti yang diharapkan dilakukan. Masyarakat punya sumber pendapatan, pabrik pembuatan gula dan sebagainya dibangun, warga dapat lapangan pekerjaan, ya ujung-ujungnya SDM di Kaltim berdaya.

Jujur saja, penulis sangat mengapresiasi usaha kampanye budidaya Aren oleh Direktur Borneo Orangutan Survival (BOS) Willie Smith dan Anggota DPRD Kukar Saiful Aduar. Dalam beberapa pemberitaan Kaltim Post, ’Orang asing’ seperti Willie (pengelola Samboja Lestari) mau mati-matian memperjuangkan gerakan budidaya Aren. Begitu pula Saiful serta beberapa kolega di DPRD Kukar sangat peduli dan lebih memilih berguru dan mengunjungi sentra budidaya Aren di Minahasa Sulawesi Utara (Kolom Pro Kutai Kertanegara, dalam Kaltim Post, Sabtu, 7/7).

Dari berbagai riset termasuk hasil studi kunjungan, anggota DPRD Kukar mengkomunikasikan kelebihan pohon Aren yang secara nyata mendukung pencapaian program Gerbang Dayaku II. Saiful menuturkan, bahwa tanaman Aren bernilai ekonomis tinggi dan berpotensi dikembangkan di Kukar. Pernyataan itu tepat. Hampir semua bagian pohon Aren bisa dimanfaatkan. Selain untuk dikonsumsi (seperti nira dan buah), produk pohon Aren dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak (batangnya) untuk atap rumah (daunnya) sampai perlengkapan rumah tangga lainnya.

Di Minahasa, kisaran harga Gula Aren (gula merah) yang diproduksi Pabrik Gula Aren pertama dan terbesar di Indonesia serta diekspor ke berbagai negara itu, sudah mencapai Rp. 96 Ribu Rupiah per kilogram (bandingkan dengan Karet yang hanya Rp 6 Ribu Rupiah). Belum lagi, jika nira Aren difermentasi, akan menghasilkan ethanol. Ethanol digunakan berbagai negara maju sebagai bahan bakar kendaraan bermotor pengganti bensin. Dengan membudidayakan Aren, terbuka juga lapangan pekerjaan, baik petani Aren itu sendiri, dan karyawan (jika telah dibangun pabrik Aren). Hebatnya lagi, mengkonsumsi gula Aren dapat memperpanjang angka harapan hidup sampai 12 Tahun.

Selanjutnya, tanaman Aren itu mudah dibudidayakan di tanah Kalimantan. Sebagai contoh, masyarakat adat Dayak di Hulu Mahakam, sangat akrab dan familir dengan Pohon Aren. Observasi Penulis dan Tim LBP2SDM, banyak warga Kampung Sakaq Tada, Kampung Gemuruh dan Kampung Sakaq Lotoq di Kubar menjadi petani Aren. Produksi Gula Aren para petani Aren di tiga Desa itu, dikenal luas berkualitas baik, meskipun pengolahannya masih secara tradisional.

Aren sebagai Pelestari Alam dan Pencegah Banjir

Sekali lagi, belajar dari banyak penelitian, Pohon Aren punya banyak keunggulan dan manfaat. Pohon Aren sangat efektif dan dapat diandalkan mencegah banjir maupun tanah longsor. Berikut hasil riset yang terus dipublikasikan Tokoh Adat Minahasa Vence Sumual (pimpinan Permesta yang dahulunya memperjuangkan Otonomi Daerah, yang secara tidak langsung terbukti saat ini), di berbagai daerah :

1. Pohon Aren memiliki kemampuan menahan terlama dan terbanyak volume air hujan di atas pohon, saat hujan (setiap batang pelepah daun bisa menahan 1-2 liter selama beberapa jam, pada umur 5-7 tahun memiliki pelepah dari pangkal batang sampai ke ujung pohon) sehingga memberikan waktu yang panjang untuk tanah di bawah pohon untuk dapat menyerap lebih banyak air, dan dengan sendirinya akan menyimpan air tanah yang paling banyak (penelitian sementara para profesor dan para peneliti geologist, Pohon Aren bisa menyimpan / menyerap 200 liter air – 10 galon minyak atau galon Aqua). Tak dipungkiri, ini berperan mencegah banjir.

2. Bukan hanya menahan air, Pohon Aren sangat efektif menahan tanah. Ini karena Pohon Aren sangat dalam menancap di tanah (padahal untuk menanamnya gampang, dilempar saja bibit, apalagi di daerah tebing). Di Minahasa telah terbukti, sewaktu banjir dan tanah longsor melanda wilayah itu akhir Tahun 2000 lalu. Lokasinya teramati di Kecamatan Motoling Minahasa Selatan. Ada satu tebing di sebelah jalan, semuanya longsor, kecuali bagian tebing yang ada rumpun Pohon Aren. Jelas bahwa Pohon Aren kuat dan tegar menahan banjir dan tanah longsor.

3. Dengan sifatnya yang banyak menyimpan air, jelas dapat menyuburkan pohon atau tanaman lain yang ada di bawahnya atau disekitarnya. Jadi Pohon Aren dapat dijadikan tanaman perintis pada lahan gundul. Pohon Aren akan tetap tumbuh dan memberikan nilai ekonomis, meskipun nantinya telah tertutup dengan pohon lain yang tumbuhnya menyusul. Karena, Pohon Aren memiliki batas ketingian dan akan selalu tumbuh dan mati setelah mencapai umur ketinggian tertentu.

Penutup
Dahlan Iskan (dalam, Kaltim Post, Senin, 2/7) tertarik membahas lompatan ekonomi Tiongkok (Cina) yang cepat dan spektakuler. Penilaiannya Dahlan Iskan itu adalah : apa yang dibicarakan (diprogramkan pemerintah Cina), langsung diputuskan, dibangun (dilaksanakan) dan jadi (berhasil). Namun, Penulis dan LBP2SDM mampu hanya sebatas mewacanakan.
Nanti, setelah bersama adikuat mengidentifikasi bahwa masalah banjir itu diakibatkan oleh gundulnya hutan Kalimantan (kayunya sudah habis), berikut memprediksi bahwa jika tak acuh malah akan lebih fatal akibatnya. Sebaliknya input Penanaman Pohon Aren ternyata mampu mencegah banjir. Maka, untuk soal pengambilan keputusan (Decition), sudah ada di tangan kita selaku masyarakat, lebih-lebih Pemerintah terkait (Pemprov, Pemkab-Pemkot). Setelah diputuskan banjir harus dicegah, umpamanya, dengan gerakan penanaman sejuta Pohon Aren, maka harus segera dieksekusi. Jangan malah terus terlambat, menyengsarakan dan memuakkan, begitu.***

*) Penulis adalah Direktur LBP2SDM dan Deputi Perencanaan Brigade Manguni Kalimantan

Sumber : https://arenindonesia.wordpress.com/artikel-aren/jeinner-j-rawung/

Minggu, 21 Desember 2014

Gula yang tidak harus putih, gula Aren lah kalau begitu !!

Gula Yang Tidak Harus Putih

Bila ada produk industri legal yang sangat massif di dunia tetapi penggunaaannya diupayakan ditekan juga oleh lembaga-lembaga resmi di dunia – maka produk itu adalah gula putih. Tahun 2012 United Nation World Health Assembly mencanangkan untuk menurunkan angka kematian dari apa yang mereka sebut Non Communicable Diseases (NCDs) 25 % pada tahun 2025. Saat ini sekitar 35 juta orang meninggal karena NCDs ini diantaranya jantung, diabetes , cancer dlsb setiap tahunnya. Lantas mengapa penggunaan gula putih ikut ditekan ?


Bila penyakit-penyakit itu ditimbulkan oleh rokok atau alcohol, maka biasanya negara-negara di dunia sudah punya aturan untuk menekan produk-produk jenis ini. Tetapi gula putih tidak, produksinya secara resmi diijinkan tanpa batas di seluruh dunia dan menjadi salah satu kebutuhan pokok bahkan untuk negara-negara yang tidak memproduksinya sendiri secara cukup.

Di dunia barat, gula putih sekarang dianggap sebagai musuh nomor satu dalam menu makanan mereka. Saat ini konsumsi mereka sungguh berlebihan sampai ada peneliti yang memperkirakan mencapai 22 sendok teh gula putih per orang setiap harinya.

Padahal menurut mereka sendiri berbeda dengan lemak dan protein yang dibutuhkan tubuh, gula putih tidak memberikan nilai nutrisi pada tubuh. Dia memberikan energi tubuh sesaat tetapi setelah itu dia tidak meninggalkan sesuatu kecuali penyakit bagi orang-orang tertentu.

Karena karakternya yang demikian, WHO didukung oleh kajian ilmiahnya menyarankan kontribusi energi dari gula seharusnya tidak lebih dari 5 % dari energi yang dibutuhkan tubuh manusia – inipun sudah termasuk gula dari buah-buahan, madu dan sumber gula  lainnya.

Bila gula putih begitu banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya tersebut di atas, lantas mengapa dia tetap menjadi produksi industri yang sangat massif di seluruh dunia ? Disinilah masalahnya, industri pada umumnya digerakkan oleh motif mencari keuntungan – sehingga maslahat bagi masyarakat sering menjadi nomor yang kesekian.

Produk industri yang menambahkan zat-zat yang tidak perlu ke tubuh sambil sebaliknya mengambil zat-zat yang sesungguhnya diperlukan tubuh ya antara lain gula putih ini.

Dalam proses produksi gula putih umumnya melibatkan Sulphur Dioxide, Phosphoric Acid,  Calcium Hydroxide dan Carbon Active – yang semuanya sebenarnya tidak diperlukan kehadirannya dalam gula. Sebaliknya zat-zat yang berguna dari dalam tebu malah dihilangkan ketika tebu diproses menjadi gula putih. Zat-zat tersebut adalah  Calcium, Zat Besi, Magnesium, Potassium dan Phosphorus – yang semuanya dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan mineral di dalam tubuh kita.

Dengan proses dan kandungannya tersebut di atas, maka dengan mudah kita sekarang bisa tahu bahwa mengapa penggunaan gula putih berusaha ditekan oleh bahkan lembaga-lembaga resmi seperti WHO, juga Departemen Kesehatan R.I. yang berusaha menekan penggunaan gula, garam dan minyak.

Lantas bagaimana solusinya bagi kita yang terlanjur menyukai rasa manis di hampir semua menu makanan apalagi minuman kita ? Rasa manis bisa datang dari perbagai produk alam seperti madu, buah dan bahkan juga dari tebu itu sendiri.

Tebu yang menjadi salah satu penghasil gula atau rasa manis yang paling efektif, sebenarnya tidak harus dibuat gula putih. Bila tebu diproses menjadi gula yang disebut secara international sebagai brown sugar – gula coklat, maka prosesnya tidak memerlukan begitu banyak zat-zat yang tidak diperlukan – dan sebaliknya mempertahankan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh.

Bagi para juru masak professional, brown sugar sebenarnya lebih mereka sukai karena flavor (aroma) dan teksturnya yang khas – flavor dan tekstur yang khas ini hilang ketika tebu diproses menjadi gula putih.

Jadi selain alasan kesehatan, alasan cita rasa semestinya juga mengunggulkanbrown sugar yang lebih alami ketimbang gula putih – mengunggulkan produk industri yang sederhana dengan tidak melibatkan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh, ketimbang produk industri canggih yang malah melibatkan zat-zat yang tdak memberi manfaat.

Ini mengingatkan kita betapa pentingnya kita memperhatikan petunjuk Al-Qur’an untuk mencari makanan yang lebih murni – Azkaa Tho’aaman, ketimbang makanan yang sudah bercampur baur dengan zat-zat yang tidak jelas peruntukannya.

Dari sisi ekonomi, gula yang diproses alami seperti brown sugar juga akan lebih membuka peluang untuk dikembangkan dalam industri yang skalanya lebih kecil ketimbang gula putih. Ini baik untuk negeri ini yang lahan-lahan perkebunan tebunya banyak yang sempit dan menyebar.

Trend masyarakat dunia yang eager untuk kembali ke produk-produk alami juga bisa menjadi peluang Indonesia di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), bahkan era perdagangan global – bila kita bisa fokus di produk-produk alami, ketimbang kita bersaing secara global dengan industri yang sudah massif seperti industri gula putih.

Maka disinilah peluangnya bagi kita semua, bagi muslim yang mencari makanan yang lebih murni – ini bisa menjadi jalan kita untuk memperoleh makanan yang lebih murni untuk rasa manis/gula yang kita sukai. Bagi perekonomian nasional, bisa menjadi cara untuk mengerem impor gula sekaligus peluang ekspor untuk gula jenis lainnya – yaitu brown sugar.

Lantas bagaimana membumikan ini semua agar masalah tidak tetap menjadi masalah, peluang tidak tetap menjadi sekedar peluang ? Disitulah peran Startup, untuk mengolah suatu masalah menjadi peluang dalam irama kerja yang cepat.

Startup baru yang saya tawarkan kepada para pembaca yang saya sebut Natural.ID misalnya, salah satunya bisa mengolah masalah gula ini menjadi peluangnya, demikian pula masalah tahu tempe yang saya ulas di tulisan kemarin (17/12/14) dan perbagai potensi lain yang terkait dengan hasil bumi negeri ini.

Bila kita bersungguh-sungguh berjuang di jalanNya, seperti berjuang untuk mencari makanan-makanan yang lebih murni ini (QS 18:19) – insyaAllah akan dibukakan perbagai jalan olehNya.

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS 29:69)

Sumber : http://www.geraidinar.com/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1527-gula-yang-tidak-harus-putih

Pohon Aren bisa menahan lahan longsor di Banjarnegara

SATU BUKTI LAGI KEHEBATAN POHON AREN

Berkat Pohon Aren dan Bebatuan Rumah ini Selamat Dari Bencana Tanah Longsor

Bencana tanah longsor yang menimpa puluhan rumah di Dusun Jemblung Desa Sampang Kecamatan Karangkobar menyisaka duka mendalam.
Namun, ada satu hal pelajaran yang bisa diambil dari musibah yang telah terjadi. Sebab, dari 35 rumah yang tertimbun longsor, ada satu rumah yang tetap berdiri kokoh.

Meskipun rumah itu berada di antara rumah-rumah lainnya yang tertimbun longsor. Namun, satu rumah itu masih utuh berkat adanya bebatuan dan sejumlah pohon aren yang berada di samping rumah tersebut.

Bahkan, satu lagi yang membuat takjub adalah, rumah satu-satunya itu lah yang mampu memecah atau membelok arahkan longsoran tanah dari atas bukit Tlogolele.

"Lihat saja satu rumah berwarna putih yang masih kokoh berdiri, tepat di samping kanan rumah itu terdapat sejumlah pohon aren yang juga tetap berdiri kokoh. Ya meskipun juga ada bebatuan, tapi batu itu tidak besar," ujar Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno, Sabtu (20/12/2014).

Menurut dia, rumah satu-satunya yang selamat berkat bebatuan dan pohon aren yang mampu memecah atau membelok arahkan longsoran tanah saat terjadi.

"Memang sungguh luar biasa pohon aren mampu menahan tanah agar tidak bergerak,"kata dia.

Maka dari itu, pihaknya mengimbau warganya untuk menanam pohon aren. Selain bermanfaat menyerap air, pohon itu juga dapat memberikan manfaat ekonomi.

"Apakah anda tau jika tanaman aren itu banyak manfaatnya. Arennya untuk bahan gula, buahnya untuk bahan minuman, daunya untuk sapu lidi, serabutnya untuk sikat, akarnya sebagai penahan tanah," jelasnya.

Selain manfaat ekonomi, penanaman pohon aren juga berdampak positif bagi pelestarian lingkungan.

"Kondisi saat ini sedang menghadapi cuaca ekstrim, banjir, longsor, terjadi di mana-mana. Alam akan semakin ganas kalau kita tidak cinta alam. Saya harap masyarakat agar peduli dengan lingkungan sekitarnya," papar dia. (*)

Sumber : https://id.berita.yahoo.com/berkat-pohon-aren-dan-bebatuan-rumah-ini-selamat-005104835.html