......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Jumat, 10 Juni 2016

Gula Aren dengan Glikemik Indek 35 aman bagi penderita Diabetes

Gula Aren

Gula aren atau biasa yang disebut dengan gula merah. Gula aren dihasilkan dari nira pohon enau dengan pengolahan yang masih terbilang tradisional. Gula aren sudah dikenal sejak lama masyarakat Indonesia, terutama penduduk pedesaan yang masih menggunakan gula aren sebagai gula konsumi sehari-hari dibanding dengan gula tebu.
Gula aren yang dihasilkan dari bunga jantan pohon enau yang disimpah bumbung bambu dalam beberapa waktu. Kemudian menghasilkan nira yang dimasak dengan olahan tradisional untuk mendapatkan gula aren asli dan terbaik. Gula aren memiliki cita rasa yang sangat manis dibandingkan dengan gula biasa pada umumnya yang mengandung bahan pemutih gula atau campurkan pemanis buatan.
Indonesia merupakan penghasil terbesar dalam produksi gula aren terbaik. Gula aren memiliki kandungan senyawa alami tidak seperti gula biasa. Gula aren mengandung beberapa unsur kandungan senyawa seperti : vitamin B kompleks, glukosa, garam mineral dan yang paling utama memiliki kadar kalori yang cukup tinggi diselingi dengan kadar glisemik gula terendah yakni 35 GI (Indeks Glisemik).
Gula aren juga memiliki keunggulan yakni gula aren tidak secara langsung larut dalam tubuh, namun diserap secara perlahan, oleh karenanya gula aren dapat bertahan lama di dalam tubuh. Sehingga tidak secara langsung meningkat kadar gula darah dalam tubuh. Gula aren aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Gula aren yang telah dicerna di dalam tubuh akan melepaskan energi untuk tubuh dalam waktu yang cukup lama dan kandungan riboflavinnya mampu membantu melancarkan metabolisme sistem pencernaan dalam tubuh. Gula aren dapat digunakan dalam berbagai hidangan makanan atau minuman dengan mencampurkan gula aren sebagai penggantu gula tebu atau gula pasir.
Gula aren tidak seperti gula pada umumnya. Ketika konsumsi gula, gula akan memecahkan glukosa dala darah dan mampu menaikkan kadar gula darah menjadi tinggi. Berbeda dengan gula aren ketika dikonsumsi gula aren tidak secara langsung memecahkan diri menjadi glukosa secara cepat namun dengan perlahan sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah dalam tubuh sehingga aman bagi penderita diabetes.
Gula aren tidak mengandung bahan kimia negatif dalam pembuatannya. Gula aren menghasilkan rasa manis alami yang memang sudah berasal dari nira. Sehingga aman dikonsumsi bagi siapa saja termasuk penderita diabetes, maka tidak akan mengganggu produksi insulin dan dapat menentramkan kerja pankreas.
Dalam sebuah buu Perma Culture Plants di tahun 2004 menyebutkan kandungan senyawa yang dimiliki gula aren berfungsi dalam membantu menjaga dan membersihkan saluran sistem pencernaan mulai dari tenggorokan hingga ke lambung. Dengan kandungan riboflavin yang dimiliki gula aren dapat membantu melancarkan proses metabolisme dalam sistem pencernaan dan mengoptimalkan fungsi sel sehingga menghasilkan energi yang bertahan lama bagi tubuh.

Manfaat Gula Aren

Gula aren atau biasa dikenal sebagai gula merah pada umumnya. Gula aren menurut para ahli lebih baik dibandingkan dengan gula biasa yang digunakan dalam keharian seperti gula pasir.
Gula aren memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi. Gula aren mengandung kadar glukosa, protein kasar, mineral dan vitamin. Gula aren memiliki warna yang khas yakni warna kecokelatan yang disinyalir mengandung serat yang dapat diserap oleh sistem pencernaan dengan baik dan memiliki fungsi sebagai penurun kadar kolesterol.
Meski penggunaan atau konsumsi gula selalu dikaitkan dengan suatu penyakit yakni kencing manis atau penyakit gula atau dalam bahasa kedokteran dikenal sebagai penyakit diabetes mellitus karena memiliki kada gula yang cukup tinggi di dalam darah. Gula aren memiliki kadar atau tingkat Glisemik yang cukup rendah yakni sekitar 35 GI, sedangkan konsumsi gula yang disarankan adalah kurang dari 55 GI dalam sehari.
Gula aren merupakan gula yang sudah sejak lama dikenal masyarakat Indonesia. Banyak penduduk pedesaan yang menjadikan gula aren sebagai suatu sumber penghasilan yang cukup tinggi terutama di daerah jawa tengah yang merupakan produsen asli penghasil gula aren terbaik. Gula aren tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai gula pada umumnya yang dicampur dalam jenis makanan atau minuman atau panganan tertentu.
Di samping penggunaannya, gula aren memiliki manfaat yang cukup banyak dalam bidang kesehatan, seperti :
1. Meningkatkan sistem imunitas tubuh
2. Gula aren aman bagi penderita diabetes
3. Menurunkan darah tinggi4. Membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah
5. Membantu mengatasi sakit maag, asam urat dan rematik
6. Mengobati masuk angin
7. Membantu daya ingat dan konsentrasi
8. Mengatasi osteoporosis
9. Membantu dalam meringankan serangan asma
10. Mengatasi gangguan susah tidur
11. Membantu menurunkan tingkat stres
12. Dengan penggunaan yang sesuai, gula aren dapat membantu melangsingkan tubuh
Gula aren yang berasal dari bunga jantan pohon enau atau dikenal dengan nira merupakan penghasil gula terbaik dengan rasa manis yang sangat tajam namun tetap aman dikonsumsi. Saat ini banyak gula biang atau gula buatan yang dicampur dengan bahan pengawet atau bahan senyawa lainnya, sehingga banyak orang tidak menyadari apakah gula yang dikonsumsinya cukup aman atau tidak.
Gula aren cukup aman dikonsumsi dibandingkan dengan gula manis pada umumnya. Gula aren selain memiliki kandungan senyawa alami seperti yang telah disebutkan. Gula aren juga memiliki kandungan nitrogen, klorida (CI), sulfur dan boron yang tidak dimiliki gula pemanis lainnya.
Gula aren memiliki tingkat glisemik yang cukup rendah, ketika mengkonsumsi gula aren, gula tidak secara langsung memecah glukosa dalam darah, namun melepaskan energi secara perlahan sehingga tidak akan terjadi kenaikan atau penurunan kadar gula secara serta merta (tiba-tiba), sehingga tidak perlu merasa khawatir kadar gula dalam darah langsung melonjak tinggi atau rendah. Oleh karenanya gula aren aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Bahkan dalam sebuah penelitian yang dikemukakan oleh Philippine Food Reseacrh Institute bahwa gula aren memiliki kandung makro nutrient lebih banyak dibandingkan dengan madu dan gula tebu.

Gula Aren Untuk Diabetes

Gula aren merupakan pemanis alami yang dihasilkan dari tanaman aren. Bahan ini memiliki aroma dan rasa manis yang sangat tajam sehingga sering digunakan sebagai bahan pemanis pada pembuatan jenang dan dodol. Gula aren berasal dari nira yang dihasilkan dari tandan bunga jantan pohon enau.
Cara pembuatan gula aren
Sebelum gula aren terbentuk. Lebih dahulu mengumpulkan sari nira dari bunga jantan dalam sebuah bumbung bambu. Sebelum nira mengalami peragian dan telah terjadi fermentasi maka nira tidak dapat dibuat gula aren. Oleh karenanya, bumbung bambu harus ditambahkan laru atau kawao yang berfungsi untuk pengawet nira alami.

Setelah nira cukup terkumpul dari bumbung bambu, nira kemudian direbus di atas tungku dalam sebuah wajan besar, untuk menghasilkan gula aren berkualitas, nira lebih enak dimasak dalam sebuah tungku dengan menggunakan kayu bakar untuk menghasilkan gula aren terbaik yang berasal dari kayu aren yang sudah tua. Nira memiliki yang diolah menjadi gula aren memiliki kalori yang tinggi. Gula aren sudah terbentuk bila nira menjadi pekat, berat ketika diaduk dan kalau diciduk dari wajan dan dituangkan kembali adukan akan putus-putus. Dan kalau tuangkan ke dalam air dingin, cairan pekat ini akan membentuk benang yang tidak putus-putus.Kalau sudah begitu, adonan diangkat dari tungku dan dicetak.
Gula aren termasuk dalam jenis gula pada umumnya. Hanya yang membedakan adalah gula aren memiliki rasa manis yang sangat tajam dibandingkan gula tebu atau yang biasa dikenal sebagai gula pasir. Gula arena dapat digunakan dalam berbagai jenis makanan dan minuman, seperti kopi, teh,, susu, coklat, sereal, bubur kacang ijo dan jenis panganan lainnya.
Gula aren memiliki kandungan gizi yang lebih banyak dibandingkan gula tebu. Gula aren memiliki kandungan kalsium, yang dapat menggantikan produk susu. Gula aren lebih murah dan sehat. Gula arena juga dapat digunakan sebagai gula tebu pengganti diabetes. Meski gula identik sekali dengan penyakit diabetes mellitus. Gula aren memiliki tingkat glisemik yang cukup rendah dibanding dengan gula tebu. Oleh karenanya, gula aren dapat dikonsumsi dengan aman bagi penderita diabetes.
Gula aren dengan tingkat glisemik yang rendah yakni 35 sehingga dengan cepat makanan yang dicampur dengan gula aren berubah menjadi glukosa. Untuk mengetahui tingkat atau nilai glisemik yang dapat dijadikan suatu acuan dalam mengkonsumsi gula berdasarkan Literatur Kesehatan, yakni :
1. Glisemik tinggi yang diubah menjadi glukosa jika nilai glisemik di atas 70 sangat rawan terhadap serangan diabetes.
2. Glisemik sedang, jika nilai glisemik berkisar 55-69
3. Glisemik rendah, jika nilai glisemik di bawah 55. Tingkat glisemik rendah inilah yang aman bagi penderita diabetes.
Tingkat glisemik yang dijelaskan di atas dapat dijadikan suatu acuan ketika seseorang ingin mengkonsumsi gula baik dalam bentuk makanan, minuman atau panganan kecil. Tingkat glisemik yang disarankan untuk dikonsumsi per harinya harus dibawah 55. Namun tak hanya itu, meski glisemik di bawah 55, tetap harus memperhatikan pola hidup yang sehat dengan tetap mengurangi atau membatasi asupan gula setiap harinya.
Makin rendah indeks glisemik, maka makin aman bagi pankreas untuk menghasilkan insulin secara normal. Dalam artian konsumsi gula aren aman bagi penderita diabetes, karena gula aren mengandung tingkat glisemik yang cukup rendah yakni 35. Namun penggunaan gula aren tetap harus dibatasi.
Sumber : http://gulaaren.org

Kamis, 09 Juni 2016

Enau Sekitar Hti Bisa Hasilkan Rp1,6 Juta Per Minggu

Enau Sekitar Hti Bisa Hasilkan Rp1,6 Juta Per Minggu


Enau (Arenga pinnata) atau lazim juga disebut aren, termasuk jenis palma, yang berakar kuat dan menjalar ke mana-mana, ternyata bisa hidup berdampingan dengan ekaliptus (Eucalyptus spp), tanaman pokok HTI (Hutan Tanaman Industri) TobaPulp (PT Toba Pulp Lestari,Tbk), industri pulp berbasis kehutanan di Parmaksian, kabupaten Tobasamosir, Sumatera Utara.

Pohon enau, atau dalam bahasa Batak bagot, penghasil air nira untuk dijadikan gula aren atau gula merah, dapat mendatangkan penghasilan sampai Rp1,6 juta per minggu bagi Goklen Damanik, 31, petani yang bermukim di dusun Sihapas-hapas, nagori (desa) Gorat, kecamatan Pamatang Sidamanik, kabupaten Simalungun, tidak jauh dari garis konsesi HTI TobaPulp di sektor Aeknauli.
Pohon-pohon ekaliptus muda --sebagaimana layaknya tanaman perkebunan--juga dipupuk untuk memastikannya tumbuh dengan baik dan pada usia sekitar 6 tahun sudah dapat dipanen. Rupanya, pupuk HTI itu –yang segelintir disebar secara alami oleh hujan ke luar garis konsesi— ikut ”diserap” sebagai tambahan nutrisi oleh pohon-pohon enau masyarakat.
Pohon enau menumbuhkan tandan. Setiap tandan terdiri atas 10 tangkai atau lebih. Dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah hijau sampai coklat kekuningan. Buahnya tidak bisa dimakan langsung karena getahnya gatal. Hanya, hewan seperti musang luwak dan babi hutan gemar mengonsumsinya.
 Kata Goklen, Kamis (14/11) ada indikator yang jelas bahwa produktivitas nira pohon-pohon enau yang berdekatan dengan HTI lebih banyak dari pohon yang berjauhan. Rasanya pun menjadi lebih manis. Ia memberi ilustrasi begini, ”Dari 30 botol air nira bisa dihasilkan 4 kg gula. Saya pernah menghasilkan 60 kg gula per minggu. Waktu itu harganya Rp28 ribu per kg. Itu sudah tergolong bagus.” Goklen seperti ingin menggambarkan kalkulasi penjualannya setara dengan Rp1,68 juta per minggu, atau Rp240 ribu per hari.

HASIL TERPENTING
Gula aren adalah salah satu hasil terpenting pohon enau. Pohon yang biasa tumbuh di lereng-lereng atau tebing sungai –-pada ketinggian 1.400 m diatas permukaan laut—ini, memang masih menghasilkan manfaat lain, misalnya pembungkus makanan (daun), sapu (lidi), atap, saringan (ijuk), obat herbal (akar), bahan pertukangan (batang), dan manisan kolang-kaling, kolak (buah).
Khusus produksi gula dari air nira, prosesnya berawal dari penyadapan tandan bunga jantan yang mulai menghamburkan serbuk sari berwarna kuning. Tandan dimemarkan lebih dulu dengan cara memukul-mukulnya selama beberapa hari. Setelah keluar cairan dari dalamnya, tandan dipotong, dan pada ujungnya digantungkan wadah –dulu lazimnya dari bambu, sekarang pakai jerigen—untuk menampung jutaan tetesan air. Cairan itulah nira atau legen atau saguer. Warnanya jernih agak keruh. Sifatnya tidak tahan lama. Karena itu wadah yang telah terisi harus segera diambil untuk diolah niranya. Biasanya dalam sehari dilakukan 2 kali pengambilan nira, pagi dan sore.
Nira dimasak sampai mengental dan menjadi gula cair. Kemudian dibentuk dalam tuangan, dan itulah gula aren. Di beberapa tempat gula cair dicampur getah nangka supaya membeku dan dapat dicetak menjadi bongkahan gula. Ada juga yang mencampurnya dengan bahan pemisah, seperti minyak kelapa, supaya nantinya terbentuk gula bubuk (kristal) yang disebut sebagai gula semut.
Selain dijadikan gula, di banyak daerah di Indonesia nira juga biasa di-fermentasi menjadi minuman beralkohol yang disebut tuak. Di daerah timur disebut juga saguer. Tuak diperoleh dengan membubuhkan satu atau beberapa macam kulit kayu atau akar-akaran (misalnya kulit kayu nirih - Xylocarpus atau sejenis manggis hutan) ke dalam nira, dan membiarkannya satu sampai beberapa malam agar berproses.
Di daerah Toba, yang umumnya berudara sejuk, hampir semua kedai minum (bahasa Batak: lapo) menyajikan tuak sebagai minuman rakyat sekaligus sebagai ciri khas. Selain menjadi tuak, nira dulu bisa dijadikan sebagai cuka. Tapi kini sudah tidak lagi dipakai oleh masyarakat, karena sudah ada cuka buatan pabrik yang lebih praktis.
Nira
 Sardi Sinaga sedang memanen air nira.
PEMBIBITAN ENAU
Peran TobaPulp dalam hal enau, selama ini, adalah melindunginya di konsesi yang tidak di-plot menjadi blok kerja HTI agar tetap dapat diambil hasilnya, serta membantu penanaman baru di luar kosesi melalui pembibitan.
Menurut Sardi Sinaga, 40, warga dusun Negeri Dolok, desa Pondok Bulu, kecamatan Dolok Panribuan, yang sudah lama menjadikan gula aren dan minuman tuak sebagai barang dagangannya, kini ada sekitar 1.500 bibit baru dalam perawatan TobaPulp, dan pada waktunya dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam.
TobaPulp sebenarnya membeli bibit cabutan dari hutan itu dari masyarakat, untuk dirawat, antara lain dengan menyiramnya setiap hari. Pada saatnya nanti, bibit itu ditanam di lahan masyarakat, bersama-sama dengan warga. Kegiatan ini menjadi semacam re-planting (peremajaan), mengingat sebagian dari ribuan pohon enau yang masih hidup di sekitar konsesi HTI Aeknauli, sudah berusia tua. Yang menarik, hasilnya kelak, bukan untuk perusahaan, melinkan untuk masyarakat.
Bentuk dukungan TobaPulp ini, kata Sardi Sinaga, semata-mata bertujuan melestarikan –dan memperbesar populasi— sehingga secara terus-menerus masyarakat dapat ”manambang” manfaat dari pohon enau sebagai pohon kehidupan dan pohon unggulan di kawasan sekitar Danau Toba.
buahenau
Buah enau yang gatal, tapi disukai oleh hewan.

Sumber :http://www.tobapulp.com/ina/Berita/enau-sekitar-hti-bisa-hasilkan-rp1-6-juta-per-minggu.html

Sabtu, 07 November 2015

Perkebunan Aren di Bangka Belitung akan dikembangkan



Perkebunan Aren akan Dikembangkan di Babel

(Berita Daerah – Sumatera) Pemerintah Provinsi Bangka Belitung akan mengembangkan perkebunan aren untuk menjamin kelangsungan usaha produk gula aren di daerah itu.
“Pengembangan tanaman aren dilakukan secara serius melalui program pembinaan, fasilitas perluasan kawasan perkebunan dan bantuan bibit aren berkualitas kepada petani,” kata Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Babel Sunardi di Pangkalpinang, Jumat.
Ia menjelaskan, pengembangan perkebunan aren ini karena potensi peningkatan pendapatan petani cukup tinggi, sementara pohon aren yang tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung, Belitung Timur semakin berkurang karena penebangan hutan liar, perluasan perkebunan skala besar dan pemukiman penduduk.
“Berdasarkan wawancara petugas di lapangan, petani aren mampu mendapatkan hasi Rp100.000 per batang pohon aren, bisa dibayangkan petani tersebut mampu menyadap empat batang pohon aren per hari tentu penghasilannya Rp400.000 per hari,” ujarnya.
Ia mengatakan, selama ini, produksi gula aren telah memberikan kontribusi cukup besar bagi perekonomian masyarakat, karena itu Pemerintah sangat serius memberikan dukungannya.
“Pengembangan perkebunan aren ini, karena ketersediaan lahan baku nira aren yang dihasilkan dari pohon gula aren yang semakin berkurang,” ujarnya.
Menurut dia, produksi gula aren cenderung semakin menurun. Untuk itu, sehingga pihaknya akan terus berupaya semaksimal mungkin guna meningkatkan populasi tanaman aren dengan cara memberikan bantuan bibit aren secara cuma-cuma kepada masyarakat.
“Aren atau enau merupakan salah satu keluarga pohon palma yang memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi, karena petani tidak hanya mengambil nira, tetapi juga biji, lidi, ijuk dan lainnya, sehingga akan sangat membantu petani dalam meningkatkan pendapatan keluarganya,” ujarnya.
Untuk itu, kata dia, dalam menyukseskan pengembangan tersebut, yang harus dilakukan di masing-masing kabupaten dan kota, yakni adanya perluasan areal tanam pada lahan-lahan kritis, seperti bekas penambangan biji timah.
Kemudian membangun kebun pembibitan tanaman aren, pemetaan daerah pengembangan untuk sentra produksi aren, melakukan budidaya tanaman aren secara intensif dengan varitas unggul.
Selain itu, memberikan kemudahan akses permodalan bagi petani atau pengrajin gula aren, pelatihan manajemen usaha kepada petani, transfer teknologi budidaya dan pengolahan aren dari hasil-hasil penelitian yang ada.
“Jika itu bisa dilakukan, kami yakin Bangka belitung mampu menjadi pusat komoditi andalan di Indonesia,” ujarnya.
(et/EA/bd-ant)

Sumber : http://beritadaerah.co.id/2013/10/18/perkebunan-aren-akan-dikembangkan-di-babel/