......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Minggu, 26 Juni 2016

RANCANGAN PENGEMASAN NIRA SIWALAN LEGEN



TUGAS KELOMPOK
PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN
RANCANGAN PENGEMASAN PRODUK PANGAN
“LEGEN”
Oleh:
1. Alinda Ayu Rahmawati 125100100111005
2. Aryanis Mutia Zahra 125100101111011
3. Yatik 125100101111027
4. Sella Umy Hanik 125100101111033
5. Fitrotul Muflihatin 125100101111037
Kelas: G
Dosen Pengajar: Indria Purwantiningrum, STP, MSi
PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nira siwalan atau legen merupakan minuman terbuat dari buah siwalan yang
memiliki nama latin Borassus flabellifer L. yang merupakan sejenis palma dan dikenal dengan
nama lontar atau tal. Bagian dari siwalan dapat dimanfaatkan, antara lain batang
dimanfaatkan untuk bahan bangunan, perkakas, dan kerajinan tangan. Daunnya biasa
digunakan untuk bahan kerajinan seperti tikar, kipas, topi, dan berbagai kerajinan tangan
lainnya. Buahnya biasa dimanfaatkan untuk bahan membuat es, puding, dan sirup. Karangan
bunganya (terutama tongkol bunga jantan) dapat disadap dan diambil niranya. Nira inilah
yang kemudian diolah kembali atau dapat langsung dikonsumsi yang dikenal dengan nama
legen (Wulandari dkk, 2013).
Di Indonesia, siwalan terutama tumbuh di sebelah timur pulau Jawa, Madura, Bali,
Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Potensi ini akan menjadi semakin besar jika
nira siwalan yang dihasilkan dibuat menjadi minuman lahang atau legen, karena pembuatan
minuman ini tidak menguapkan air yang terkandung dalam nira siwalan. Namun, potensi
besar ini terancam sia-sia karena sifat nira siwalan yang cepat basi akibat prose fermentai. Hal
ini membuat minuman lahang atau legen tidak tahan lama sehingga distribusinya pun terbatas
di daerah penghasil siwalan karena nira siwalan akan basi dalam perjalanan yang cukup lama
(Aditiana, 2011).
Salah satu teknologi yang ditawarkan untuk pengolahan legen yaitu metode Pulse
Electric Field atau PEF. PEF merupakan metode non termal yang menggunakan kejutan
listrik tegangan tinggi. Penggunaan metode ini lebih efektif dibandingkan pasteurisasi dengan
UHT karena tidak merubah warna, rasa dan bau dari legen itu sendiri sehingga kualitasnya
tetap terjaga.
1.2 Legen
Nira siwalan atau biasa dikenal sebagai legen. Legen terbuat dari buah siwalan yang
memiliki nama latin Borassus flabellifer L. dan dikenal dengan nama lontar atau tal yang
merupakan sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pohon ini

terutama tumbuh di daerah-daerah kering. (Wulandari
dkk, 2013).
Buah siwalan memiliki bentuknya agak bulat, bergaris
tengah 7–20 cm, memiliki warna ungu tua sampai hitam
dan pucuknya berwarna kekuningan. Buah siwalan berisi
3 bakal biji. Daging buah awalnya berwarna putih bening/transparan, sedangkan ketika telah
tua/masak daging buah berwarna kuning kemudian berubah menjadi serabut. Buah siwalan
merupakan sumber karbohidrat berupa sukrosa, glukosa dan air. Kadar protein dan lemaknya
sangat rendah dibawah 1%, serta sedikit serat (Wulandari dkk, 2013).
Legen dibuat dari penyadapan nira dari karangan
bunganya (terutama tongkol bunga jantan). Nira inilah yang
kemudian diolah kembali atau dapat langsung dikonsumsi dan
dikenal dengan nama legen. Minuman ini aman dan baik untuk
dikonsumsi karena baik untuk kesehatan. Namun legen memiliki
kecenderungan untuk mengalami fermentasi sehingga dalam
jangka waktu beberapa hari dapat berubah menjadi minuman
beralkohol. Minuman inilah yang kemudian disebut dengan tuak. Kerusakan nira siwalan
ditandai oleh penurunan pH yang disebabkan adanya perombakan gula menjadi asam organik
oleh mikroorganisme seperti khamir (Saccharomyces sp.) serta bakteri Acetobacter sp. Nira
sangat mudah terkontaminasi karena mengandung nutrisi yang lengkap seperti gula, protein,
lemak dan mineral yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Keberadaan
Saccharomyces Cerevisiae pada sari siwalan (Borassus flabellifer L.) yang secara alami akan
mengakibatkan fermentasi dalam waktu 1-2 hari, hal ini yang menyebabkan legen cepat
berubah menjadi toak. Oleh karena itu dibutuhkan teknik pengemasan lebih lanjut untuk
mempertahankan umur simpan minuman legen (Wulandari dkk, 2013). Berikut tabel
komposisi kimia nira siwalan.
  of 14 
...

PENGEMASAN LEGEN 1

by yatika-istiqomah
on 
Category:

DOCUMENTS

Download: 28
Comment: 0
41
views

Comments

Description

kemasan legen
Download PENGEMASAN LEGEN 1

Transcript

TUGAS KELOMPOK PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN RANCANGAN PENGEMASAN PRODUK PANGAN “LEGEN” Oleh: 1. Alinda Ayu Rahmawati 125100100111005 2. Aryanis Mutia Zahra 125100101111011 3. Yatik 125100101111027 4. Sella Umy Hanik 125100101111033 5. Fitrotul Muflihatin 125100101111037 Kelas: G Dosen Pengajar: Indria Purwantiningrum, STP, MSi PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nira siwalan atau legen merupakan minuman terbuat dari buah siwalan yang memiliki nama latin Borassus flabellifer L. yang merupakan sejenis palma dan dikenal dengan nama lontar atau tal. Bagian dari siwalan dapat dimanfaatkan, antara lain batang dimanfaatkan untuk bahan bangunan, perkakas, dan kerajinan tangan. Daunnya biasa digunakan untuk bahan kerajinan seperti tikar, kipas, topi, dan berbagai kerajinan tangan lainnya. Buahnya biasa dimanfaatkan untuk bahan membuat es, puding, dan sirup. Karangan bunganya (terutama tongkol bunga jantan) dapat disadap dan diambil niranya. Nira inilah yang kemudian diolah kembali atau dapat langsung dikonsumsi yang dikenal dengan nama legen (Wulandari dkk, 2013). Di Indonesia, siwalan terutama tumbuh di sebelah timur pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Potensi ini akan menjadi semakin besar jika nira siwalan yang dihasilkan dibuat menjadi minuman lahang atau legen, karena pembuatan minuman ini tidak menguapkan air yang terkandung dalam nira siwalan. Namun, potensi besar ini terancam sia-sia karena sifat nira siwalan yang cepat basi akibat prose fermentai. Hal ini membuat minuman lahang atau legen tidak tahan lama sehingga distribusinya pun terbatas di daerah penghasil siwalan karena nira siwalan akan basi dalam perjalanan yang cukup lama (Aditiana, 2011). Salah satu teknologi yang ditawarkan untuk pengolahan legen yaitu metode Pulse Electric Field atau PEF. PEF merupakan metode non termal yang menggunakan kejutan listrik tegangan tinggi. Penggunaan metode ini lebih efektif dibandingkan pasteurisasi dengan UHT karena tidak merubah warna, rasa dan bau dari legen itu sendiri sehingga kualitasnya tetap terjaga. 1.2 Legen Nira siwalan atau biasa dikenal sebagai legen. Legen terbuat dari buah siwalan yang memiliki nama latin Borassus flabellifer L. dan dikenal dengan nama lontar atau tal yang merupakan sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pohon ini terutama tumbuh di daerah-daerah kering. (Wulandari dkk, 2013). Buah siwalan memiliki bentuknya agak bulat, bergaris tengah 7–20 cm, memiliki warna ungu tua sampai hitam dan pucuknya berwarna kekuningan. Buah siwalan berisi 3 bakal biji. Daging buah awalnya berwarna putih bening/transparan, sedangkan ketika telah tua/masak daging buah berwarna kuning kemudian berubah menjadi serabut. Buah siwalan merupakan sumber karbohidrat berupa sukrosa, glukosa dan air. Kadar protein dan lemaknya sangat rendah dibawah 1%, serta sedikit serat (Wulandari dkk, 2013). Legen dibuat dari penyadapan nira dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga jantan). Nira inilah yang kemudian diolah kembali atau dapat langsung dikonsumsi dan dikenal dengan nama legen. Minuman ini aman dan baik untuk dikonsumsi karena baik untuk kesehatan. Namun legen memiliki kecenderungan untuk mengalami fermentasi sehingga dalam jangka waktu beberapa hari dapat berubah menjadi minuman beralkohol. Minuman inilah yang kemudian disebut dengan tuak. Kerusakan nira siwalan ditandai oleh penurunan pH yang disebabkan adanya perombakan gula menjadi asam organik oleh mikroorganisme seperti khamir (Saccharomyces sp.) serta bakteri Acetobacter sp. Nira sangat mudah terkontaminasi karena mengandung nutrisi yang lengkap seperti gula, protein, lemak dan mineral yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Keberadaan Saccharomyces Cerevisiae pada sari siwalan (Borassus flabellifer L.) yang secara alami akan mengakibatkan fermentasi dalam waktu 1-2 hari, hal ini yang menyebabkan legen cepat berubah menjadi toak. Oleh karena itu dibutuhkan teknik pengemasan lebih lanjut untuk mempertahankan umur simpan minuman legen (Wulandari dkk, 2013). Berikut tabel komposisi kimia nira siwalan. (http://kebunsiwalan.blogspot.com/2011/01/tabel-komposisi-kimia-dari-nira-siwalan.html) BAB II PEMBAHASAN 2.1 Bahan Pengemas Produk Untuk memilih jenis kemasan, hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain sifat dari karakteristik produk yang akan diproduksi, sasaran distribusi produk, cost production, serta umur simpan produk. Legen merupakan salah satu food beverage dengan kadar gula cukup tinggi sekitar 12–15%, sehingga dapat dikemas dari jenis kemasan plastik jenis PET (Polyetilen treptarat). Pemilihan kemasan plastik jenis PET (Polyetilen treptarat) dengan mempertimbangkan aspek kualitas pangan, foodgrade dandari segi harga kemasannya sendiri. Kemasan yang akan digunakan ada 2 jenis yaitu kemasan mini cup ukuran 150 ml dan kemasan botol ukuran 250 ml. (www.indonesian.alibaba.com, 2015) (www.indonesian.alibaba.com, 2015) Spesifikasi Keterangan Bahan PET (Polyetilen Treptarat) Volume 250 ml Ukuran kotak 5x5 cm, tinggi 14 cm Keunggulan Ramah lingkungan, kualitas tinggi, biodegradable Untuk melindungi produk akibat adanya interaksi migrasi komponen kemasan ke dalam produk, maka kemasan PET yang diajukan tidak hanya memiliki sifat foodgrade, namun juga mampu bersifat sebagai biodegradable. Untuk mendapatkan kemasan plastic PET biodegradable, maka dalam teknik pembuatannya menggunakan teknologi nano–composite partikel penyusun matrix plastic antara lain Etylen, CaCO3 dan pati tapioka termodifikasi sebagai filler. 2.2 Desain dan Label Kemasan 1. Bentuk dan ukuran kemasan Kemasan yang akan digunakan ada 2 jenis yaitu kemasan mini cup ukuran 150 ml dan kemasan botol ukuran 250 ml. Untuk gambar dapat dilihat di halaman pada Subbab 2.1. 2. Warna, tulisan, gambar label kemasan Label kemasan yang akan dibuat adalah berwarna hijau, menggambarkan kesegaran dan natural dari produk minuman legen tersebut, serta penyajian produk pada kondisi dingin. Informasi yang tertera pada label kemasan adalah sebagai berikut. Gambar 1. Label kemasan Cup 150 ml Gambar 2. Contoh Kemasan Cup 150 ml Gambar 3 . Label kemasan Botol 250 ml Gambar 4 . Contoh kemasan Botol 250 ml Label kemasan yang akan dibuat adalah berwarna hijau, menggambarkan kesegaran dan natural dari produk minuman legen tersebut, serta penyajian produk pada kondisi dingin. Informasi yang tertera pada label kemasan adalah sebagai berikut. · Nama produk: “My Legen”, Energy Drink. “My Legen”, Energy Drink merupakan salah satu produk minuman berbahan dasar legen alami tanpa campuran bahan additive yang mengandung sumber energy alami yakni kandungan gula yang mampu menghasilkan energy jika dikonsumsi. · Daftar bahan yang digunakan Bahan untuk membuat produk “My Legen” yakni 100% nira siwalan alami tanpa campuran bahan lainnya, sehingga kemurnian nira legen dapat dirasakan sensasinya. · Berat bersih Untuk berat bersih produk legen pada kemasan cup sebesar 150 ml, sedangkan pada kemasan botol sebesar 250 ml. · Nama dan alamat produsen “My Legen” diproduksi oleh badan usaha “Yamata Coorporation” berlokasi di kota Malang, Indonesia. · Label halal Untuk mendapatkan sertifikasi label halal, harus melalui beberapa tahap persyaratan yang berlaku. Karena badan usaha “Yamata Coorporation” masih baru berdiri dan berkembang, maka pengajuan label sertifikasi halal masih dalam proses. · Tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa “My Legen” diproses menggunakan teknologi PEF (Pulse Electrict Field), sehingga produk dapat tahan lama ± 8 bulan. Pada kemasan dicantumkan tanggal produksi produk 25 Mei 2015, maka Expired date sekitar 25 Januari 2015. Adapun alasan menggunakan Expired date, karena produk “My Legen” mengandung kadar air yang tinggi dan mudah terfermentasi (kadar gula tinggi) apabila proses pengemasan dan penyimpanan tidak dilakukan dengan tepat. 2.3 Metode Pengemasan 2.3.1 Alat pengemas Dalam melakukan pengemasan minuman legen, digunakan mesin pengemas sekaligus filling untuk mempertahankan proses aseptis setelah diberi perlakuan PEF. Berikut spesifikasi mesin pengemas yang digunakan: Model                        : GD Series Mechanical 2 Line Sealing Speed   : 1800 Cup/ Jam Energi yang digunakan : 1500 Watt Energi yang dibutuhkan          : 220-240V / 50-60Hz 1 Phase Pengisian                        : 180-240 ml Proses kerja            : Feeding-Filling-Coding-Sealing1-Cutting Ukuran mesin              : 2000 x 450 x 1450 Mm Berat mesin         : 350 Kg Seperti yang telah dijelaskan diatas, sebelum dilakukan pengemasan, minuman legen diberi treatment PEF menggunakan mesin berikut: (a) (b) Gambar 3. (a) PEF Tampak Depan, (b) PEF Tampak Samping (Setiawan, 2013) Pada bagian kontrol panel dari PEF tersebut terdapat pengatur besar tegangan input, frekuensi, on/off, serta pengatur waktu lama proses yang bersifat otomatis. 2.3.2 Metode pengemasan 2.3.2.1 Pulsed Electric Field (PEF) Sebelum dilakukan pengemasan, minuman legen diberi treatment PEF. Treatment ini merupakan salah satu pilihan teknologi pengawetan yang ditawarkan adalah pengolahan pangan dengan metoda non termal yang menggunakan kejutan listrik tegangan tinggi (Pulse Electric Field atau PEF), yaitu sistem pengolahan bahan pangan yang didasarkan pada aplikasi denyut pendek pada tegangan tinggi (antara 20 – 80 kV/cm) ke bahan makanan yang ditempatkan diantara dua elektroda pada suhu kamar atau di bawahnya selama beberapa detik. Dibandingkan dengan pasteurisasi dengan UHT, PEF memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan menggunakan metode ini memberikan kualitas yang lebih segar dan kandungan gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasteurisasi termal. contohnya pada susu yang tidak mendapatkan perlakuan panas dapat memelihara kualitas susu agar tetap segar (Aguilar, 2002). Selain itu metode ini sangat efektif karena dapat menginaktifkan mikroorganisme sampai 99% tanpa merubah warna, rasa dan bau dan kandungan gizi dalam waktu yang sangat singkat (Barbosa et al, 1999). Metode pengawet pangan non-thermal yang menggunakan kejut listrik untuk membunuh mikroba yang memberikan efek minimal atau bahkan tidak mengurangi kualitas produk (Ramaswamy et al., 2006). Sehingga dengan metode tersebut akan didapatkan legen yang berkualitas, dari segi rasa maupun kesegarannya tanpa merubah fisik dan keaslian dari legen segar murni. Sistem proses PEF meliputi power source voltage, capacitor bank, pembatas arus resistor, tombol pembebasan energi dari kapasitor menuju pangan dan treatment chamber. Oscilloscope digunakan untuk mengamati gelombang sinyal. Power source, generator tegangan tinggi DC, konversi tegangan dari garis (110 V) menuju tegangan tinggi AC kemudian menuju tegangan tinggi DC. Energi dari power source disimpan di capacitor dan dibebaskan melalui treatment chamber untuk menghasilkan medan listrik dalam material pangan. Tegangan maksimum melalui capacitor sama dengan tegangan melalui generator. Capacitor diisi langsung melalui arus power source yang diperoleh dari amplifikasi dan rektifikasi reguler melalui sumber utama. Tombol elektrik digunakan untuk pembebasan energi (1 juta/detik) disimpan dalam capacitor melalui pangan dalam treatment chamber. Dalam sistem yang kontinu, pompa digunakan untuk mengalirkan legen ke dalam treatment chamber. Chamber cooling system digunakan untuk meminimalisir efek ohmic heating dan kontrol suhu pangan selama perlakuan. Probe tegangan tinggi dan arus tinggi digunakan untuk mengukur tegangan dan arus yang dikirim ke chamber (Maged et al, 2012). Berikut unit treatment dasar PEF: Gambar 4. Skema diagram operasi PEF Setelah itu dilakukan pengemasan aseptis menggunakan mesin cup sealer 2 line, full auto. Mesin cup sealer 2 line ini juga dilengkapi dengan konveyor untuk perpindahan cup/kemasan gelas. Mesin Cup Sealer ini sangat cocok untuk mesin filling dan packing minuman gelas. Dengan mesin cup sealer 2 line ini  produksi akan lebih meningkat karena lebih cepat, hemat ,dan praktis (Anggoro, 2014). Untuk minuman legen setelah diberi treatment PEF, langsung dialirkan menuju mesin sealer untuk dilakukan pengemasan secara aseptis. Mesin sealer ini merupakan mesin pengemas otomatis yang tidak membutuhkan campur tangan manusia yang terlalu banyak sehingga dapat meminimalisir terjadinya kontaminasi pada minuman. Dalam mesin pengemas ini terdapat proses Feeding-Filling-Coding-Sealing-Cutting. Feeding merupakan proses penurunan cup ke dalam cup hole atau lubang-lubang cup pada rangkaian. Kemudian filling yaitu pengisian minuman legen ke dalam cup. Dilakukan coding yaitu pencetakan tanggal kadaluarsa, kode produksi, kode produk, dll. Setelah itu dilakukan cutting yaitu pemotongan kelebihan lidcup pada bibir cup (Wahana Malang Media, 2013). 2.4 Metode Penyimpanan Produk 2.4.1 Kondisi ruang penyimpanan produk Menurut Fardiaz (1993) pada umumnya kisaran suhu pertumbuhan untuk khamir adalah sama dengan suhu pada kapang sekitar 25-470C dan suhu optimum 35-400C. sehingga untuk menghambat pertumbuhan mikroba sebaiknya disimpan pada suhu dingin (





Pakai Sulis, Susu Bisa Awet 6 Bulan


Pakai Sulis, Susu Bisa Awet 6 Bulan

Tanpa perlu dimasak, cukup dengan tenaga listrik, Sulis bisa mengawetkan susu hingga tahan enam bulan dalam freezer. Bagaimana cara memproses susu agar awet?

Hadi Apriliawan sedang menjelaskan kemampuan dan cara kerja mesin Milk Electricity atau Susu Listrik kepada pengunjung di arena Wirausaha Mandiri Expo 2015 yang diadakan di Jakarta Convention Center, Jumat (13/3/2015). (Foto: Aulia Afrianshah/ VARIA.id)
VARIA.id, Jakarta – Ide-ide kreatif bisa datang dari mana pun. Bisa dari referensi buku, internet, teman, maupun pengalaman pribadi. Seperti yang terjadi pada Hadi Apriliawan.
Berangkat dari keprihatinan terhadap orang tuanya yang berprofesi sebagai penjual susu sapi perah, ia menciptakan inovasi mesin pengolahan susu. Alat ciptaannya adalah mesin pasteurisasi atau alat pengawet susu.
Konsep kerja alat yang diberi nama Sulis (susu listrik) ini adalah mengawetkan susu dengan mengandalkan aliran listrik. Susu dimasukkan dalam tabung berbahan alumunium yang bisa menampung 10 liter susu. Susu tersebut dipanasi terlebih dahulu dengan listrik pada suhu 50 derajat celcius.
Lalu, susu dialirkan ke tabung yang lain. Proses selanjutnya berupa kejut listrik yang diberikan pada susu. Pada proses ini ada semacam pipa-pipa besi yang dialiri listrik.
Setelah itu, susu dimasukkan ke tabung lain yang berfungsi sebagai pendingin. Pada sisi ini, ada semacam pipa dengan kran untuk mengalirkan hasil output.
”Dengan proses ini, bakteri yang terkandung seperti salmonella dan E.coli mati. Tetapi, tidak menghilangkan protein yang terkandung. Kalau cuma dimasak, bakteri belum tentu mati, protein yang terkandung juga berkurang,” ungkap Hadi Apriliawan kepadaVARIA.id, di Jakarta, Sabtu, 14 Maret 2015.
Menurut Hadi, setelah bakteri mati, susu yang sudah diproses dengan alat ciptaannya mampu tahan lama. Dia memperkirakan, susu bisa tahan sampai enam bulan jika disimpan dalam freezer.
“Alat ini juga bisa digunakan untuk bahan lain, yang penting berbentuk cairan. Misalnya, jus buah,”ujar dia.

Lahir dari Keprihatinan
Hadi mengungkapkan, ide pembuatan ini tercetus karena keprihatinnya terhadap pekerjaan orang tuanya. Putra pasangan Tumirin dan Sudarmi ini selalu mendengar keluhan orang tuanya saat masih duduk di bangku SMA.
Orang tuanya yang  beternak sapi perah mengeluhkan harga jual susu selalu rendah.
“Pembeli biasanya membeli dengan harga murah. Mereka sengaja membeli agak sore hari. Karena mereka tahu, susu yang diperas pagi tidak akan tahan lama hingga sore hari,” kenang Hadi.
Berangkat dari situ, Hadi kemudian mencari referensi untuk membuat alat pengawet susu. Namun, upaya yang dilakukan Hadi terhenti karena terbentur anggaran.
Ide yang sudah lama tercetus itu kembali muncul saat Hadi mendapat tugas praktik dari kampusnya, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Hadi  mengusulkan alat pengawet susu saat mengajukan bahan ujian akhir akademi.
Berbekal uang tabungan dan bantuan dari kampus, pemuda kelahiran Banyuwangi, 21 April 1989 ini mengawali pembuatan mesin pengawet susu. “Pelan-pelan saya garap, penelitian saya sampai dua tahun,” ujarnya.

Tabel Produksi Susu Nasional
susu

Meski belum terlalu sempurna, saat kuliah Hadi kerap mengikutkan mesin rancangannnya di perlombaan tentang teknologi. Hadiah yang didapat dari memenangi lomba digunakan untuk mengembangkan mesin pengawet susu.
“Waktu mesin pertama, modalnya sangat besar. Bisa sampai ratusan juta, soalnya bongkar pasang. Saya baru menemukan, ternyata perbedaan kejut listrik untuk benda padat dan benda cair terletak pada voltase, untuk benda cair lebih rendah,” jelasnya.
Tepat bulan April 2011, mesin rancangan Hadi selesai. Setelah dikenalkan ke publik, beberapa peternak di kampungnya mulai melirik mesin buatan Hadi. Mereka meminta untuk dibuatkan.
Hadi membanderol alat pengawet susu buatannya seharga Rp 12,5 juta untuk kapasitas 10 liter.
“Alat ini pertama kali dan satu-satunya di Indonesia,” klaim dia.
Dia menambahkan, sejak 2013 lalu, dia mulai mematenkan brand Sulis atau Milk Electricity di bawah naungan CV Inovasi Anak Negeri. Hadi mengungkapkan, sejauh ini sudah lebih dari 50 alat pengawet susu terjual.
“Laporan penjualan 2014, omzet penjualan Milk Electricity dan alat-alat pertanian lain mencapai Rp 1,2 miliar per tahun. Keuntungan kami sekitar 50-60 persen,” ujarnya berbungah.
Editor: Drajat Kurniawan
Sumber : http://www.varia.id/2015/03/15/pakai-sulis-susu-bisa-awet-6-bulan/#ixzz4CcpmZ7E6


Jumat, 10 Juni 2016

Gula Aren dengan Glikemik Indek 35 aman bagi penderita Diabetes

Gula Aren

Gula aren atau biasa yang disebut dengan gula merah. Gula aren dihasilkan dari nira pohon enau dengan pengolahan yang masih terbilang tradisional. Gula aren sudah dikenal sejak lama masyarakat Indonesia, terutama penduduk pedesaan yang masih menggunakan gula aren sebagai gula konsumi sehari-hari dibanding dengan gula tebu.
Gula aren yang dihasilkan dari bunga jantan pohon enau yang disimpah bumbung bambu dalam beberapa waktu. Kemudian menghasilkan nira yang dimasak dengan olahan tradisional untuk mendapatkan gula aren asli dan terbaik. Gula aren memiliki cita rasa yang sangat manis dibandingkan dengan gula biasa pada umumnya yang mengandung bahan pemutih gula atau campurkan pemanis buatan.
Indonesia merupakan penghasil terbesar dalam produksi gula aren terbaik. Gula aren memiliki kandungan senyawa alami tidak seperti gula biasa. Gula aren mengandung beberapa unsur kandungan senyawa seperti : vitamin B kompleks, glukosa, garam mineral dan yang paling utama memiliki kadar kalori yang cukup tinggi diselingi dengan kadar glisemik gula terendah yakni 35 GI (Indeks Glisemik).
Gula aren juga memiliki keunggulan yakni gula aren tidak secara langsung larut dalam tubuh, namun diserap secara perlahan, oleh karenanya gula aren dapat bertahan lama di dalam tubuh. Sehingga tidak secara langsung meningkat kadar gula darah dalam tubuh. Gula aren aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Gula aren yang telah dicerna di dalam tubuh akan melepaskan energi untuk tubuh dalam waktu yang cukup lama dan kandungan riboflavinnya mampu membantu melancarkan metabolisme sistem pencernaan dalam tubuh. Gula aren dapat digunakan dalam berbagai hidangan makanan atau minuman dengan mencampurkan gula aren sebagai penggantu gula tebu atau gula pasir.
Gula aren tidak seperti gula pada umumnya. Ketika konsumsi gula, gula akan memecahkan glukosa dala darah dan mampu menaikkan kadar gula darah menjadi tinggi. Berbeda dengan gula aren ketika dikonsumsi gula aren tidak secara langsung memecahkan diri menjadi glukosa secara cepat namun dengan perlahan sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah dalam tubuh sehingga aman bagi penderita diabetes.
Gula aren tidak mengandung bahan kimia negatif dalam pembuatannya. Gula aren menghasilkan rasa manis alami yang memang sudah berasal dari nira. Sehingga aman dikonsumsi bagi siapa saja termasuk penderita diabetes, maka tidak akan mengganggu produksi insulin dan dapat menentramkan kerja pankreas.
Dalam sebuah buu Perma Culture Plants di tahun 2004 menyebutkan kandungan senyawa yang dimiliki gula aren berfungsi dalam membantu menjaga dan membersihkan saluran sistem pencernaan mulai dari tenggorokan hingga ke lambung. Dengan kandungan riboflavin yang dimiliki gula aren dapat membantu melancarkan proses metabolisme dalam sistem pencernaan dan mengoptimalkan fungsi sel sehingga menghasilkan energi yang bertahan lama bagi tubuh.

Manfaat Gula Aren

Gula aren atau biasa dikenal sebagai gula merah pada umumnya. Gula aren menurut para ahli lebih baik dibandingkan dengan gula biasa yang digunakan dalam keharian seperti gula pasir.
Gula aren memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi. Gula aren mengandung kadar glukosa, protein kasar, mineral dan vitamin. Gula aren memiliki warna yang khas yakni warna kecokelatan yang disinyalir mengandung serat yang dapat diserap oleh sistem pencernaan dengan baik dan memiliki fungsi sebagai penurun kadar kolesterol.
Meski penggunaan atau konsumsi gula selalu dikaitkan dengan suatu penyakit yakni kencing manis atau penyakit gula atau dalam bahasa kedokteran dikenal sebagai penyakit diabetes mellitus karena memiliki kada gula yang cukup tinggi di dalam darah. Gula aren memiliki kadar atau tingkat Glisemik yang cukup rendah yakni sekitar 35 GI, sedangkan konsumsi gula yang disarankan adalah kurang dari 55 GI dalam sehari.
Gula aren merupakan gula yang sudah sejak lama dikenal masyarakat Indonesia. Banyak penduduk pedesaan yang menjadikan gula aren sebagai suatu sumber penghasilan yang cukup tinggi terutama di daerah jawa tengah yang merupakan produsen asli penghasil gula aren terbaik. Gula aren tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai gula pada umumnya yang dicampur dalam jenis makanan atau minuman atau panganan tertentu.
Di samping penggunaannya, gula aren memiliki manfaat yang cukup banyak dalam bidang kesehatan, seperti :
1. Meningkatkan sistem imunitas tubuh
2. Gula aren aman bagi penderita diabetes
3. Menurunkan darah tinggi4. Membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah
5. Membantu mengatasi sakit maagasam urat dan rematik
6. Mengobati masuk angin
7. Membantu daya ingat dan konsentrasi
8. Mengatasi osteoporosis
9. Membantu dalam meringankan serangan asma
10. Mengatasi gangguan susah tidur
11. Membantu menurunkan tingkat stres
12. Dengan penggunaan yang sesuai, gula aren dapat membantu melangsingkan tubuh
Gula aren yang berasal dari bunga jantan pohon enau atau dikenal dengan nira merupakan penghasil gula terbaik dengan rasa manis yang sangat tajam namun tetap aman dikonsumsi. Saat ini banyak gula biang atau gula buatan yang dicampur dengan bahan pengawet atau bahan senyawa lainnya, sehingga banyak orang tidak menyadari apakah gula yang dikonsumsinya cukup aman atau tidak.
Gula aren cukup aman dikonsumsi dibandingkan dengan gula manis pada umumnya. Gula aren selain memiliki kandungan senyawa alami seperti yang telah disebutkan. Gula aren juga memiliki kandungan nitrogen, klorida (CI), sulfur dan boron yang tidak dimiliki gula pemanis lainnya.
Gula aren memiliki tingkat glisemik yang cukup rendah, ketika mengkonsumsi gula aren, gula tidak secara langsung memecah glukosa dalam darah, namun melepaskan energi secara perlahan sehingga tidak akan terjadi kenaikan atau penurunan kadar gula secara serta merta (tiba-tiba), sehingga tidak perlu merasa khawatir kadar gula dalam darah langsung melonjak tinggi atau rendah. Oleh karenanya gula aren aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Bahkan dalam sebuah penelitian yang dikemukakan oleh Philippine Food Reseacrh Institute bahwa gula aren memiliki kandung makro nutrient lebih banyak dibandingkan dengan madu dan gula tebu.

Gula Aren Untuk Diabetes

Gula aren merupakan pemanis alami yang dihasilkan dari tanaman aren. Bahan ini memiliki aroma dan rasa manis yang sangat tajam sehingga sering digunakan sebagai bahan pemanis pada pembuatan jenang dan dodol. Gula aren berasal dari nira yang dihasilkan dari tandan bunga jantan pohon enau.
Cara pembuatan gula aren
Sebelum gula aren terbentuk. Lebih dahulu mengumpulkan sari nira dari bunga jantan dalam sebuah bumbung bambu. Sebelum nira mengalami peragian dan telah terjadi fermentasi maka nira tidak dapat dibuat gula aren. Oleh karenanya, bumbung bambu harus ditambahkan laru atau kawao yang berfungsi untuk pengawet nira alami.

Setelah nira cukup terkumpul dari bumbung bambu, nira kemudian direbus di atas tungku dalam sebuah wajan besar, untuk menghasilkan gula aren berkualitas, nira lebih enak dimasak dalam sebuah tungku dengan menggunakan kayu bakar untuk menghasilkan gula aren terbaik yang berasal dari kayu aren yang sudah tua. Nira memiliki yang diolah menjadi gula aren memiliki kalori yang tinggi. Gula aren sudah terbentuk bila nira menjadi pekat, berat ketika diaduk dan kalau diciduk dari wajan dan dituangkan kembali adukan akan putus-putus. Dan kalau tuangkan ke dalam air dingin, cairan pekat ini akan membentuk benang yang tidak putus-putus.Kalau sudah begitu, adonan diangkat dari tungku dan dicetak.
Gula aren termasuk dalam jenis gula pada umumnya. Hanya yang membedakan adalah gula aren memiliki rasa manis yang sangat tajam dibandingkan gula tebu atau yang biasa dikenal sebagai gula pasir. Gula arena dapat digunakan dalam berbagai jenis makanan dan minuman, seperti kopi, teh,, susu, coklat, sereal, bubur kacang ijo dan jenis panganan lainnya.
Gula aren memiliki kandungan gizi yang lebih banyak dibandingkan gula tebu. Gula aren memiliki kandungan kalsium, yang dapat menggantikan produk susu. Gula aren lebih murah dan sehat. Gula arena juga dapat digunakan sebagai gula tebu pengganti diabetes. Meski gula identik sekali dengan penyakit diabetes mellitus. Gula aren memiliki tingkat glisemik yang cukup rendah dibanding dengan gula tebu. Oleh karenanya, gula aren dapat dikonsumsi dengan aman bagi penderita diabetes.
Gula aren dengan tingkat glisemik yang rendah yakni 35 sehingga dengan cepat makanan yang dicampur dengan gula aren berubah menjadi glukosa. Untuk mengetahui tingkat atau nilai glisemik yang dapat dijadikan suatu acuan dalam mengkonsumsi gula berdasarkan Literatur Kesehatan, yakni :
1. Glisemik tinggi yang diubah menjadi glukosa jika nilai glisemik di atas 70 sangat rawan terhadap serangan diabetes.
2. Glisemik sedang, jika nilai glisemik berkisar 55-69
3. Glisemik rendah, jika nilai glisemik di bawah 55. Tingkat glisemik rendah inilah yang aman bagi penderita diabetes.
Tingkat glisemik yang dijelaskan di atas dapat dijadikan suatu acuan ketika seseorang ingin mengkonsumsi gula baik dalam bentuk makanan, minuman atau panganan kecil. Tingkat glisemik yang disarankan untuk dikonsumsi per harinya harus dibawah 55. Namun tak hanya itu, meski glisemik di bawah 55, tetap harus memperhatikan pola hidup yang sehat dengan tetap mengurangi atau membatasi asupan gula setiap harinya.
Makin rendah indeks glisemik, maka makin aman bagi pankreas untuk menghasilkan insulin secara normal. Dalam artian konsumsi gula aren aman bagi penderita diabetes, karena gula aren mengandung tingkat glisemik yang cukup rendah yakni 35. Namun penggunaan gula aren tetap harus dibatasi.
Sumber : http://gulaaren.org

Kamis, 09 Juni 2016

Enau Sekitar Hti Bisa Hasilkan Rp1,6 Juta Per Minggu

Enau Sekitar Hti Bisa Hasilkan Rp1,6 Juta Per Minggu


Enau (Arenga pinnata) atau lazim juga disebut aren, termasuk jenis palma, yang berakar kuat dan menjalar ke mana-mana, ternyata bisa hidup berdampingan dengan ekaliptus (Eucalyptus spp), tanaman pokok HTI (Hutan Tanaman Industri) TobaPulp (PT Toba Pulp Lestari,Tbk), industri pulp berbasis kehutanan di Parmaksian, kabupaten Tobasamosir, Sumatera Utara.

Pohon enau, atau dalam bahasa Batak bagot, penghasil air nira untuk dijadikan gula aren atau gula merah, dapat mendatangkan penghasilan sampai Rp1,6 juta per minggu bagi Goklen Damanik, 31, petani yang bermukim di dusun Sihapas-hapas, nagori (desa) Gorat, kecamatan Pamatang Sidamanik, kabupaten Simalungun, tidak jauh dari garis konsesi HTI TobaPulp di sektor Aeknauli.
Pohon-pohon ekaliptus muda --sebagaimana layaknya tanaman perkebunan--juga dipupuk untuk memastikannya tumbuh dengan baik dan pada usia sekitar 6 tahun sudah dapat dipanen. Rupanya, pupuk HTI itu –yang segelintir disebar secara alami oleh hujan ke luar garis konsesi— ikut ”diserap” sebagai tambahan nutrisi oleh pohon-pohon enau masyarakat.
Pohon enau menumbuhkan tandan. Setiap tandan terdiri atas 10 tangkai atau lebih. Dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah hijau sampai coklat kekuningan. Buahnya tidak bisa dimakan langsung karena getahnya gatal. Hanya, hewan seperti musang luwak dan babi hutan gemar mengonsumsinya.
 Kata Goklen, Kamis (14/11) ada indikator yang jelas bahwa produktivitas nira pohon-pohon enau yang berdekatan dengan HTI lebih banyak dari pohon yang berjauhan. Rasanya pun menjadi lebih manis. Ia memberi ilustrasi begini, ”Dari 30 botol air nira bisa dihasilkan 4 kg gula. Saya pernah menghasilkan 60 kg gula per minggu. Waktu itu harganya Rp28 ribu per kg. Itu sudah tergolong bagus.” Goklen seperti ingin menggambarkan kalkulasi penjualannya setara dengan Rp1,68 juta per minggu, atau Rp240 ribu per hari.

HASIL TERPENTING
Gula aren adalah salah satu hasil terpenting pohon enau. Pohon yang biasa tumbuh di lereng-lereng atau tebing sungai –-pada ketinggian 1.400 m diatas permukaan laut—ini, memang masih menghasilkan manfaat lain, misalnya pembungkus makanan (daun), sapu (lidi), atap, saringan (ijuk), obat herbal (akar), bahan pertukangan (batang), dan manisan kolang-kaling, kolak (buah).
Khusus produksi gula dari air nira, prosesnya berawal dari penyadapan tandan bunga jantan yang mulai menghamburkan serbuk sari berwarna kuning. Tandan dimemarkan lebih dulu dengan cara memukul-mukulnya selama beberapa hari. Setelah keluar cairan dari dalamnya, tandan dipotong, dan pada ujungnya digantungkan wadah –dulu lazimnya dari bambu, sekarang pakai jerigen—untuk menampung jutaan tetesan air. Cairan itulah nira atau legen atau saguer. Warnanya jernih agak keruh. Sifatnya tidak tahan lama. Karena itu wadah yang telah terisi harus segera diambil untuk diolah niranya. Biasanya dalam sehari dilakukan 2 kali pengambilan nira, pagi dan sore.
Nira dimasak sampai mengental dan menjadi gula cair. Kemudian dibentuk dalam tuangan, dan itulah gula aren. Di beberapa tempat gula cair dicampur getah nangka supaya membeku dan dapat dicetak menjadi bongkahan gula. Ada juga yang mencampurnya dengan bahan pemisah, seperti minyak kelapa, supaya nantinya terbentuk gula bubuk (kristal) yang disebut sebagai gula semut.
Selain dijadikan gula, di banyak daerah di Indonesia nira juga biasa di-fermentasi menjadi minuman beralkohol yang disebut tuak. Di daerah timur disebut juga saguer. Tuak diperoleh dengan membubuhkan satu atau beberapa macam kulit kayu atau akar-akaran (misalnya kulit kayu nirih - Xylocarpus atau sejenis manggis hutan) ke dalam nira, dan membiarkannya satu sampai beberapa malam agar berproses.
Di daerah Toba, yang umumnya berudara sejuk, hampir semua kedai minum (bahasa Batak: lapo) menyajikan tuak sebagai minuman rakyat sekaligus sebagai ciri khas. Selain menjadi tuak, nira dulu bisa dijadikan sebagai cuka. Tapi kini sudah tidak lagi dipakai oleh masyarakat, karena sudah ada cuka buatan pabrik yang lebih praktis.
Nira
 Sardi Sinaga sedang memanen air nira.
PEMBIBITAN ENAU
Peran TobaPulp dalam hal enau, selama ini, adalah melindunginya di konsesi yang tidak di-plot menjadi blok kerja HTI agar tetap dapat diambil hasilnya, serta membantu penanaman baru di luar kosesi melalui pembibitan.
Menurut Sardi Sinaga, 40, warga dusun Negeri Dolok, desa Pondok Bulu, kecamatan Dolok Panribuan, yang sudah lama menjadikan gula aren dan minuman tuak sebagai barang dagangannya, kini ada sekitar 1.500 bibit baru dalam perawatan TobaPulp, dan pada waktunya dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam.
TobaPulp sebenarnya membeli bibit cabutan dari hutan itu dari masyarakat, untuk dirawat, antara lain dengan menyiramnya setiap hari. Pada saatnya nanti, bibit itu ditanam di lahan masyarakat, bersama-sama dengan warga. Kegiatan ini menjadi semacam re-planting (peremajaan), mengingat sebagian dari ribuan pohon enau yang masih hidup di sekitar konsesi HTI Aeknauli, sudah berusia tua. Yang menarik, hasilnya kelak, bukan untuk perusahaan, melinkan untuk masyarakat.
Bentuk dukungan TobaPulp ini, kata Sardi Sinaga, semata-mata bertujuan melestarikan –dan memperbesar populasi— sehingga secara terus-menerus masyarakat dapat ”manambang” manfaat dari pohon enau sebagai pohon kehidupan dan pohon unggulan di kawasan sekitar Danau Toba.
buahenau
Buah enau yang gatal, tapi disukai oleh hewan.

Sumber :http://www.tobapulp.com/ina/Berita/enau-sekitar-hti-bisa-hasilkan-rp1-6-juta-per-minggu.html