......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Sabtu, 02 April 2011

Gula Organik vs Gula Putih (versi Malaysia)

Gula Organik vs Gula Putih



Sejak bertahun yang lalu, saya telah berjaya mendidik keluarga saya supaya tidak lagi menggunakan gula putih dalam minuman ataupun makanan. Saya akan cuba elakkan menggunakan gula putih mengikut apa cara yang termampu saya lakukan. Cuma kadang-kadang apabila minum di kedai, terpaksa juga minum air yang dicampur dengan gula putih. Itupun, saya selalu membuat pesanan minuman "kurang manis" apabila memesan teh, kopi atau jus buah-buahan. Kadang-kala, bila ada minuman yang dibuat terlalu manis (walaupun sudah diberitahu), saya akan minta pembancuh minuman tersebut membuat semula minuman tersebut supaya ia jadi kurang manis. Itu hak saya sebagai pelanggan.

Biasanya mereka yang mengidap diabetes sahaja yang selalu memesan minuman kurang manis. Tetapi saya tidak mengidap penyakit diabetes. Ada sahabat yang bertanya sama ada saya mengidap diabetes setelah memesan minuman kurang manis, saya jawab "sebagai langkah pencegahan" sahaja. Sepatutnya, pesakit diabetes tidak boleh membuat pesanan air kurang manis, sebaliknya minuman tanpa gula. Kalau jus buah-buahan, rasa manis buah-buahan cukup sebagai pemanis minuman, tidak perlu ditambah gula putih walau sedikitpun.



Perbezaan Gula Organik & Gula Putih
Gula tebu organik diperbuat dari perahan jus tebu dan dikeringkan. Kandungan pekat dari perahan jus tebu atau disebut nira (molasses) tidak dibuang menjadikan warnanya perang. Ia berbeza dari gula putih kerana ia diproses (refined) secara kimia. Gula putih adalah sukros, ia adalah kristal putih yang terhasil setelah proses membuang semua vitamin, molasses, mineral, protin, serat dan lain-lain kandungan yang berfaedah terkandung di dalam air tebu. Ia tidak terdapat di alam semulajadi, sangat merbahaya kepada manusia, malah tidak sesuai untuk dimakan. Bagi saya, gula putih adalah racun yang merbahaya.

Gula Semulajadi
Selain itu, terdapat juga gula dari sumber semulajadi yang lain seperti fruktos (di dalam buah-buahan), laktosa (susu), maltosa (dalam makanan seperti oat, jagung dan lain-lain). Ia mempunyai faedah yang baik dalam bentuk nutrien.

Gula Perang
Terdapat juga gula perang (brown sugar) yang banyak terjual di pasaraya. Gula perang tidak mempunyai apa-apa faedah kepada manusia, malah ia sama bahaya seperti gula putih. Ia diproses (refined) terlebih dahulu, kemudian dicampur semula dengan sedikit molasses untuk menjadikan warnanya perang semula.





Di sini, saya ingin berkongsi jenis gula yang saya gunakan sejak bertahun yang lalu (lihat gambar-gambar yang saya ambil sendiri di rumah). Untuk mengenali gula organik dan gula perang adalah sangat mudah. Anda hanya cium baunya, gula organik mempunyai aroma seperti bau nira tebu atau kelapa manakala gula perang tidak mempunyai aroma. Gula tebu organik biasanya diimport dari luar negara.

Paraguay adalah pengeksport terbesar gula tebu organik. Filipina juga ada mengeluarkan gula organik. Walaupun harganya agak mahal dari gula putih, gambar pertama di atas menunjukkan kuantiti yang saya gunakan untuk stok yang boleh bertahan selama lebih sebulan. Terdapat 3 peket dan 1 botol gula organik di dalam gambar, jumlah perbelanjaan untuk stok tersebut tidak sampai tiga puluh ringgit. Jika harga sepeket 1kg sekitar RM6 ~ RM6.50, sebulan saya hanya perlu belanjakan hanya RM26 untuk kesihatan dan kelazatan minuman di rumah.

Jika dahulu, saya hanya belanjakan RM6 untuk 4 peket gula putih, tetapi kini saya sedar, sebenarnya saya membayar harga kesihatan saya dengan harga yang begitu murah untuk mengundang penyakit diabetes. Sekali penyakit itu datang, anda perlu membayar kos untuk suntikan insulin setiap hari, berulang-alik ke hospital untuk pemeriksaan berjadual, kadang-kadang terpaksa bermalam di hospital sehingga doktor memberi kebenaran untuk pulang, makan pula ubat-ubatan yang diberi oleh doktor sampai bila pun boleh sembuh, hanya Tuhan saja yang tahu. Kalau nasib anda tidak baik, mungkin akan kehilangan sebahagian anggota tubuh sebab dipotong. Itulah kos yang sebenarnya jika anda menggunakan gula putih, bukan RM6 untuk 4 peket.

Sumber : http://thesecretmedicines.blogspot.com/2009/03/gula-organik-vs-gula-putih.html

Selasa, 15 Maret 2011

Maksimalisasi produksi Nira melalui upaya memperpanjang masa sadap tandan bunga Aren

Maksimalisasi produksi Nira melalui upaya memperpanjang masa sadap tandan bunga Aren

Oleh : Dian Kusumanto


Setengah tidak percaya pada saat ada teman menelepon saya pada pada sekitar akhir Januari 2010 yang lalu. Teman saya ini, Eka Wijaya (35 Tahun), waktu itu sedang pulang kampung di wilayah Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara. Sesampainya di Nunukan Pak Eka Wijaya ini bercerita lagi tentang apa yang sudah ditemuinya pada saat pulang kampung itu. Dia berkisah tentang Bapak Kerek seorang petani ‘sukses’, pedagang Gula sekaligus juragan Tuak asal Tana Toraja di Desa Pulemo Kecamatan Puli-pulia Kabupaten Kolaka.

Pak Kerek ini memiliki sekitar 5 hektar kebun campuran. Dalam kebun ini pohon Aren sangat mendominasi. Ada sekitar 30-an orang yang bekerja untuk membantu Pak Kerek menyadap pohon Aren dari dalam kebunnya. Masing-masing pekerja mempunyai kemampuan menyadap sekitar 10-15 pohon. Nira Aren hasil sadapan ini sebagian diolah menjadi Gula, namun sebagian besar dijual sebagai Tuak Manis maupun Tuak Pahit. Penghasilan seorang penyadapnya bisa mencapai Rp 300.000 per hari. Ini penghasilan yang sangat bagus bagi seorang petani di kampung.

Yang sangat menarik adalah adanya satu tandan bunga pohon Aren yang bisa disadap selama 1 tahun 2 bulan, atau selama 14 bulan. Ada sekitar 40-an pohon yang seperti ini. Ciri pohonnya sangat tinggi berbatang besar. Pangkal tandan bunga jantannya berukuran besar berdiameter sekitar 20-25 cm, panjang tandan bisa mencapai sekitar 70 cm sampai 1 meteran.

Kenapa bisa sangat lama masa sadap tandannya? Ini yang kemudian ditelusuri Pak Eka Wijaya lebih lanjut. Ternyata para petani dalam melakukan cara-cara penyadapan tandan sebagai berikut :

  1. Mengiris tandan bunganya dengan sangat tipis
  2. Pisau yang digunakan sangat tajam
  3. Selain cara irisan sering juga dilakukan dengan gosokan menggunakan ‘daun Amplas’, kadang tandan hanya digosok-gosok dengan permukaan kasar dari daun amplas sehingga tidak perlu diiris lagi.

Daun Amplas

Menurut para peneliti dan beberapa penulis, pohon Aren dapat mengeluarkan tandan bunga jantan sebanyak 3-4 tandan per tahun. Artinya rata-rata tandan akan muncul sekitar 3-4 bulan sekali. Namun ada kalanya tandan muncul hampir bersamaan. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh keadaan intern pohonnya dan keadaan eksternnya seperti tingkat kesuburan tanah tempat tumbuhnya serta keadaan iklim dan cuaca yang sedang berlangsung.

Artinya, seandainya setiap tandan bisa disadap minimal selama 4 bulan, maka sepanjang tahun pohon akan terus bias menyediakan tandan untuk siap disadap. Produksi akan lancar sepanjang tahun, tidak pernah stop alias berhenti produksi. Dengan kata lain masa istirahat berproduksi dari pohon menjadi nol, alias tidak mengalami masa istirahat berproduksi dan pohon terus-menerus menghasilkan nira setiap hari sepanjang tahun, seminggu 7 hari, sebulan 30 hari dan 12 bulan dalam setahun, full sadap setiap hari dari semua pohon.


Upaya memperpanjang masa sadap

Lama masa sadap setiap tandan bunga Aren ini dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut :

  1. Panjangnya tandan bunga atau bidang sadap, semakin besar maka semakin lama tandan bunga bias disadap. Misalnya, kalau panjang tandan 60 cm dan ketebalan irisan setiap hari rata-rata 0,4 cm, maka lama penyadapannya adalah 60 cm : 0,4 cm/hari = 150 hari. Namun kalau pengirisan rata-rata 0,6 cm per hari maka lama sadapnya menjadi 100 hari.
  2. Kemudahan tandan untuk mengeluarkan nira saat diiris, ini berpengaruh pada tebal tipisnya irisan sadap. Semakin mudah diiris artinya diiris sedikit saja sudah bisa mengalirkan nira lagi.
  3. Keahlian mengiris dari para penyadap juga dipengaruhi oleh ketajaman dari pisau.
  4. Ketajaman dari pisau sadap.
  5. Kebersihan pisau, sebab pisau bisa membawa kontaminan.
  6. Terjadinya kontaminasi yang berakibat pada buntunya ujung sadapan yang diakibatkan dari munculnya lendir (bakteri) di ujung sadapan.
  7. Terjadinya oksidasi pada permukaan pelukaan pada ujung sadapan sehingga membuat pori-pori seolah mongering dan menutup sehingga air nira tidak mengalir lagi.
  8. Selalu menjaga ujung sadapan tetap steril, tidak mudah terkontaminasi oleh mikroba (bakteri atau jamur), tidak terpapar matahari langsung, dan tidak terkena terpaan angin serta tetesan air yang mungkin terkontamisasi.
  9. Dll.

Oleh karena itu upaya memperpanjang masa sadap setiap tandan ini sangat signifikan, sangat mutlak (absolute) dalam mempengaruhi produktifitas nira dari setiap pohon Aren. Dari produksi setiap pohon inilah yang akan mempengaruhi produktifitas nira dari kebun Aren. Jadi upaya ini mutlak harus dilakukan jika kita menginginkan pengelolaan kebun secara maksimal. Dengan kata lain, kalau ingin mengelola kebun yang baik maka hal ini menjadi bagian Standar Operasional Prosedur (SOP) yang wajib dilakukan.


APUS (Alat Pengaman Ujung Sadapan)

Untuk menginisiasi teknologi yang mengarah pada pengelolaan ujung sadapan tandan bunga Aren, maka penulis mencoba merancang alat pengaman ujung sadapan yang disebut sebagai APUS. APUS ini paling tidak memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :

  1. Melindungi ujung sadapan dari kontaminasi hewan/ serangga/ angin/ udara kotor/ bakteri/ jamur/ air hujan/ air tetesan / air embun/ cahaya langsung.
  2. Sebagai corong penghubung dengan selang (pipa plastik) penyalur nira pada jaringan pipanisasi nira yang kuat/ aman.
  3. Memungkinkan untuk melakukan sterilisasi/ kebersihan ujung sadapan agar tidak mengalami kontaminasi dan penyumbatan aliran nira, yaitu dengan cara misalnya meneteskan anti bakteri/ disenfektan alami atau yang aman di ujung sadapan.
  4. Berpotensi untuk lebih memperpanjang masa penyadapan setiap tandan bunga serta meminimalkan masa istirahat produksi nira.

Berikut gambar rancangan dari APUS generasi pertama.


Mudahan ini sebagai pemicu awal bagi teknologi yang lebih baik yang akan diterapkan pada masa yang akan datang.

Adakah Anda menemukan cara atau alat yang lebih baik lagi? Bagi-bagi dong!!

(Terima kasih disampaikan kepada Bapak Dr. Sigit W. Sp.OG yang telah member beberapa masukan tentang ‘sterilisasi ujung sadapan’ lewat email penulis)

Jumat, 11 Maret 2011

MENGOLAH NIRA MENJADI GULA CAIR BERMUTU TINGGI DENGAN VACUUM EVAPORATOR


MENGOLAH NIRA MENJADI GULA CAIR BERMUTU TINGGI DENGAN VACUUM EVAPORATOR

Oleh : Dian Kusumanto


Setelah beberapa kali saling kenal lewat blog dan telpon, akhirnya saya mengenal dari dekat sosok Bapak Slamet Sulaiman. Dari logat bicara dan uraian kata-kata yang terucap dari Beliau, saya merasa energy yang besar untuk obsesinya membangun industry gula yang berbasis rakyat. Maka saya lontarkan beberapa angan-angan saya tentang membangun industry Gula Aren Rakyat kepada beliau. Beliau banyak memberi gambaran kepada penulis tentang pabrik gula mini yang sudah di bangun di daerah asalnya yaitu di Jombang.

Dari beliau saya mendapat gambaran dan optimisme yang sangat berharga dan patut saya tularkan kepad a para pembaca atau para calon pelaku bahkan investor industry Gula Aren Rakyat. Mudah-mudahan uraian di bawah ini dapat menginspirasi kita untuk pengembangan Gula Aren di masa kini dan yang akan datang.

Beliau memang tidak mengelola Gula dari Aren, tetapi Bapak Slamet ini mendapatkan Nira Kelapa dari Blitar yang disuplai oleh kelompok perajin melalui seorang penghubung. Setiap hari rata-rata ada sekitar 2000 liter nira Kelapa yang diangkut dari Blitar dibawa ke Pabrik Gula Mini Pak Slamet di Kedungmlati Kesamben Jombang. Jarak tempuh dari sumber nira kelapa dan pabrik kurang lebih 3 jam perjalanan. Ya lumayan jauh juga. Tapi begitulah, karena sumber Nira yang cukup banyak itu ada di Blitar, disana banyak sekali penderes nira kelapa yang sekaligus pengrajin gula merah.

Nira dari tanaman palma

Di dalam Pabrik Gula Mini Pak Slamet ada alat yang berperan menghasilkan Gula Cair dengan kualitas yang sangat tinggi. Nama alat itu adalah Vacuum Evaporator Double Effect (VEDE). Alat ini dapat mendidihkan nira pada suhu hanya sekitar 60 derajat Celcius. Pada saat mendidih uap air akan naik memisahkan diri dengan nira, sehingga Nira yang ditinggalkan oleh masa air sedikit-demi sedikit itu menjadi semakin kental. Nira yang semula berkadar gula sekitar 10-15 % itu setelah dimasukkan alat VEDE ini akan menjadi sirup (Gula Cair) yang kental dengan kadar gula 75 %.


Sirup hasil pengolahan Nira dengan kadar gula 75 %

Bagaimana jika Nira kelapa ini diganti dengan gula Aren? Apakah karakteristik dan hasilnya bisa sama? Menurut beberapa ahli, nira kelapa dan nira Aren memiliki ciri khas yang hampir sama. Pada kadar kandungan gula, protein, air hampir sama, sedikit perbedaannya adalah pada kadar lemak dan kadar abunya bahwa nira Aren lebih sedikit dibanding nira kelapa. . Tabel di bawah ini menunjukkan hal itu.

Alat yang didesign sendiri oleh Bapak Slamet ini memiliki kapasitas mengolah nira secara kontinyu sebesar sekitar 500 liter per jam. Bahan bakar utamanya adalah dari biomassa yaitu berupa aneka limbah seperti sekam padi, limbah batang jagung, kayu-kayu ranting pohon, sabut dan bathok kelapa, ampas tebu, dll. Sistem pasokan energinya ke VEDE adalah panas dari pembakaran biomassa dalam reactor yang disebut dengan teknologi Gassifier Biomass, atau Gas yang dihasilkan dari biomasa. Sistem ini sangat hemat energy dibandingkan dengan pola tungku tradisional. Bahan bakarnya pun sembarang biomasa atau limbah organic yang ada di sekitar kita.

Dari 2000 liter nira kelapa yang kadar gulanya antara 10 – 12 % itu, setiap harinya diproses menjadi sekitar 350 liter sirup atau gula cair yang kental dengan kadar gula sekitar 75 %. Gula cair yang dihasilkan dengan proses suhu yang relative rendah (sekitar 60 derajat Celcius), maka hasil gulanya juga sangat jernih dan menarik. Maka tidak heran kalau Bapak Slamet bisa membandrol dengan harga US$ 1.50, atau kalau di kurs uang kita menjadi Rp 13.500 per liter sirup. Artinya dari 350 liter Gula Cair ini akan dijual dengan harga US$ 525 atau Rp 4.725.000,- dalam setiap harinya.

Ternyata Bapak Slamet ini juga melakukan kerjasama dengan beberapa pihak, yaitu beberapa perajin atau penderes Gula kelapa, kemudian dengan pihak transportasi serta distributor gula cair yang ada di Bali. Bisa dikatakan peran pemrosesan nira menjadi Gula cair ini adalah bagian Pak Slamet yang dibantu pabrik gula mininya dengan alat utamanya yang disebut sebagai Vacuum Evaporator Double Effect (VEDE). Nilai jasa pengolahan Nira menjadi Gula cair ini dipatok Rp 4.500 per liter. Maka kalau setiap harinya menghasilkan 350 liter, berarti nilai jasanya adalah sebesar Rp 1.575.000.

Harga jasa pengolahan itu sudah pantas karena mutu Gula Cair yang dihasilkan juga sangat jernih dan sangat pantas untuk diekspor. Lalu berapa nilai pembelian Nira dari petani? Petani penderes Nira kelapa ini setidaknya bisa mendapatkan harga jual Nira sekitar Rp 800 sampai dengan Rp 1.000 per liter. Jadi dari 2000 liter nira setiap harinya harus dibayarkan sebesar antara Rp 1.600.000 sampai dengan Rp 2.000.000 per hari.

Lalu berapa harga Sirup Gula Kelapa yang dibandrol untuk harga konsumennya? Ini yang belum jelas. Soalnya bisa jadi gula cair ini diolah lagi menjadi gula serbuk alias gula semut dengan alat pembuat gula semut. Dengan demikian sudah tidak perlu berlama-lama lagi memasaknya, karena memasak menjadi Gula semut yang kering dengan kadar air di bawah 5 % dari Sirup yang kental (kadar gula 75%). Atau kalau gula cair sebanyak 350 liter akan dihasilkan Gula Semut dengan berat sebanyak sekitar 400 kg. Harga penerimaan pedagang besar gula semut dengan mutu yang super sekitar Rp 17.000 per kilogram dan eceran dibandrol sangat variatif minimal Rp 20.000 per kilogram.

Gambar syrup gula tebu dan Syrup gula kelapa dari negara lain diprediksi juga dengan menerapkan closed pan tecknology. Teknologi kita rupanya tidak kalah.

Rabu, 09 Februari 2011

Tabel Komposisi Kimia Nira dan Gula Aren

Tabel Komposisi Kimia Nira dan Gula Aren dibandingkan dengan Palma yang lain

Oleh : Dian Kusumanto (dari berbagai sumber)


Tabel Komposisi Kimia Nira berbagai tanaman Palma


Tabel Sifat Kimia dan Tingkat Produksi Nira pada Kelapa, Aren & Lontar


Tabel Komposisi Kimia Gula Aren, Gula Kelapa & Gula Siwalan


Tabel Komposisi Kimia Gula Aren, Gula Kelapa dan Buah Kelapa


Tabel Hasil Analisa Gula Aren dari Tomohon dan Rangkasbitung

Senin, 07 Februari 2011

Pilih Gula Aren atau Pemanis Lainnya?


Pilih Gula Aren atau Pemanis Lainnya?

Oleh : Dadang Gusyana, Alumnus Biologi Unpad.


TREN back to nature, merupakan kesadaran konsumen untuk menggunakan produk yang aman dan bergizi. Hasil penelitian yang menunjukkan efek samping dalam penggunaan pemanis sintetis telah memicu meningkatnya penggunaan pemanis natural gula dari pati-patian (starch sweetener) seperti gula aren.

Gula aren sering juga disebut gula merah, diasosiasikan dengan segala jenis gula yang dibuat dari nira, yaitu cairan yartg dikeluarkan dari bunga pohon dari keluarga palma, seperti kelapa, aren, dan siwalan. Gula aren merupakan pemanis alami terbuat dari nira aren, diproduksi tanpa memakai zat kimia.

Hasil penelitian dari Philippine Food and Nutrition Research Institute memaparkan gula aren memiliki kandungan makro nutrient yang lebih banyak dari madu dan gula tebu, sertakandungan nitrogen, klorida (CI), sulfur, dan boron yang tidak terdapat pada jenis pemanis lainnya.

Secara alamiah gula aren memiliki Index Glycemic (IG) yang rendah. Rendahnya IG ini bermanfaat bagi pengidap diabetes, atau untuk yang ingin menurunkan berat badan. Gula aren memiliki rata-rata IG-35, lebih rendah dibandingkan dengan madu (IG-55) dan gula tebu (IG-68).

Gula aren melepaskan energinya secara perlahan (slow energy release), sehingga tidak akan terjadi kenaikan atau penurunan kadar gula yang secara tiba-tiba, terlalu tinggi, atau terlalu rendah. Mengapa demikian? Kandungan gula aren yang utama adalah sukrosa (70-79 persen) kemudian glukosa dan fruktosa masing-masing sekitar 3-9 persen.

Pemanis lainnya

Xylitol terdapat secara umum pada serat berbagai macam buah-buahan dan sayuran seperti raspberry, straw-berry, blueberry, blackberry, plum, jagung, gandum, dan birch. Xylitol 1,2 kali lebih manis dari sukrosa, tetapi hal ini masih tergantung pada pH larutan.

Saat ini pembuatan xylitol menggunakan jagung sebagai bahan bakunya. Dalam produksi skala besar dilakukan dengan proses kimiawi dan bioteknologi. Proses kimiawi dilakukan dengan hidrogenasi xylose menggunakan larutan asam. Sementara proses bioteknologi dilakukan menggunakan proses enzimatik dengan bantuan mikro- ba jenis yeast seperti Candida dan Saccharomyces.

Xylitol disebui tooth friendly atau ramah terhadap kesehatan gigi. Pemanis ini memicu produksi air liur yang mengandung banyak mineral penting bagi email gigi sehingga akan memperbaiki kondisi lapisan luar gigi.

Selain itu, dikenal juga sukralosa, palatinosa, dan palatinit. Sukralosa dihasilkan melalui proses klorinasi sukrosa. Pemanis ini mempunyaitingkat kemanisan yang sangat tinggi terhadap sukrosa yaitu 550-750 kali, memiliki kalori yang sangat rendah, yaitu sekitar 2 kalori per satu sendok teh, sedangkan palatinosa merupakan turunan sukrosa sebagai hasil proses enzimatis.

Palatinosa mempunyai kemanisan lebih rendah yaitu 0,42 kalinya sukrosa, tetapi mempunyai keuntungan yaitu tidak merusak gigi dan kandungan kalorinya sekitar 4 kkal/gram. Palatinit merupakan campuran dari 6-O-(x-D-glukopiranosil)-D-manitol dan 6-O-(x-D-glukopiranosil)-D-sorbitol dan diproduksi melalui tiga tahap, yaitu hidrogenasi palatinosa, pemurnian, dan rekristalisasi.

Jadi, perhatikan kandungan pemanis dalam makanan/minuman apakah yang tergolong aman untuk dikonsumsi?"*

(Dadang Gusyana, Alumnus Biologi Unpad)
Sumber : http://bataviase.co.id/node/247056