......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Kamis, 06 Desember 2012

Memanen Gula Aren dari Panas Bumi






Yusuf Wungouw, petani gula aren di Kelurahan Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Senin (30/7/2012), menyadap nira di atas pohon aren miliknya. Dari hasil sadapan pohon aren ini, ia mampu menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.


Oleh Laksana Agung Saputra/Ahmad Arif

KOMPAS.com
- Dikepung gunung api tidak hanya berarti bencana. Energi panas bumi yang berlimpah menjadi sumber listrik dan ”limbahnya” bisa dipakai menggerakkan ekonomi rakyat melalui pengolahan nira menjadi gula semut.

Gunung Soputan dan Lokon yang terlihat menjulang dari Kota Tomohon, Sulawesi Utara, sepertinya tak pernah tidur. Gunung Lokon yang berstatus Siaga sejak 24 Juli 2011 terus menyemburkan belerang sepanjang tahun. Sementara Gunung Soputan meletus dan menyemburkan asap hingga 5.000 meter dari puncak pada Minggu, 26 Agustus 2012.

Namun, bagi warga Kelurahan Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan, dua gunung api yang hanya sejarak 15 kilometer itu adalah berkah. Sejak 2001, sistem geotermal yang muncul dari aktivitas kegunungapian di kawasan ini telah menghasilkan listrik 60 megawatt (MW) dan memasok sekitar 60 persen kebutuhan listrik Sulawesi Utara. Sejak 2007, sisa energi panas bumi telah dimanfaatkan untuk mengolah air nira menjadi gula.

Siang itu, wangi gula merebak di udara ketika air nira dalam wajan mulai mendidih. Perlahan, uap panas bumi yang disalurkan ke dalam tungku melalui instalasi pipa PT Pertamina Geothermal Energy Cluster 13 membuat air nira mengental.

Pipa itu mengalirkan uap panas nyaris tanpa henti. Hebatnya, sumber energi yang berlimpah itu diperoleh secara gratis. Tiap hari pabrik pengolahan gula PT Gula Aren Masarang menyerap 22.000 liter nira rakyat dan menghasilkan 3 ton gula semut.

Limbah geotermal
Pemanfaatan panas bumi untuk pabrik gula aren terbilang sederhana. Pabrik gula aren ini hanya memanfaatkan uap yang tersisa setelah dipakai untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Di pembangkit listrik tenaga panas bumi lainnya, sisa uap itu biasanya dialirkan ke kolam pendingin. Lalu, setelah jadi air, diinjeksikan lagi ke dalam tanah.

Namun, di Lahendong, sebagian uap sisa itu juga dialirkan menuju pabrik gula yang dibangun berdampingan dengan pembangkit listrik itu. ”Kami hanya membeli dan memasang pipa. Uap sisa ini diberikan gratis oleh PT Pertamina sebagai bagian dari CSR (corporate social responsibility) mereka karena yang menikmati adalah para petani,” kata Willie Smits, Ketua Yayasan Masarang, yang mengelola pabrik gula aren di Lahendong.

Sebanyak 6.285 petani, menurut Smits, ikut menikmati berkah ”limbah” geotermal tersebut. Energi panas bumi ini juga menyelamatkan 200.000 pohon per tahun jika dibandingkan dengan banyaknya kayu bakar untuk mengolah nira menjadi gula aren secara tradisional.

Keuntungan yang bisa dinikmati petani meningkat dan kerja juga menjadi efisien. Jika dengan cara tradisional bisa memakan waktu setengah hari untuk memanen nira dan mengolahnya menjadi gula, dengan dukungan ”limbah” panas bumi hanya dibutuhkan waktu kerja rata-rata 4,2 jam per hari.

Menggerakkan ekonomi
Matahari baru saja terbit ketika Armi Mende (35) selesai memanen air nira dari hutan sekunder di pinggiran Kota Tomohon. Empat jeriken ukuran 20 liter hampir terisi penuh nira yang disadap sore sebelumnya.

Warga Lahendong ini lalu menuang nira ke wajan. Ia memasak nira itu dengan kayu bakar. Dia harus terus mengaduk air nira itu hingga mengental, kemudian mencetaknya dalam batok kelapa.

Menyadap nira dan mengolahnya menjadi gula aren adalah rutinitas yang nyaris tak pernah dilewatkan Armi meski hari Minggu sekali pun. Sekali mayang telah dipotong, menyadap nira, atau dalam bahasa Minahasa disebut batifar, tak boleh absen. ”Absen sehari saja bisa merusak mayang,” kata Armi.

Setiap pagi dan sore, ayah tiga anak itu mengambil nira. Hasil sadapan pagi rata-rata 50 liter dan sore hari 25 liter.

Dengan rata-rata 75 liter nira per hari, Armi mampu memproduksi 15 batok gula aren per hari. Gula aren dibeli pengepul dengan harga Rp 8.000 per batok. Artinya, omzet kotor Rp 120.000 per hari.

Jika dijual langsung ke PT Gula Aren Masarang, nira dihargai Rp 1.500 per liter. Jadi, hasil panen 75 liter per hari menghasilkan omzet bersih Rp 112.500.

”Saya lebih memilih menjual air nira langsung ke pabrik karena tidak perlu memasak seharian sehingga bisa melakukan pekerjaan lain. Saya juga tidak perlu membeli kayu,” kata Armi.

Tingginya minat petani membuat Smits berancang-ancang mengganti pipa pemasok gas panas bumi menjadi berdiameter 10 inci (25,4 sentimeter) agar bisa memproduksi 9 ton gula aren per hari. ”Ke depan, kami harap bisa menyerap 100.000 liter nira per hari,” katanya.

Smits juga menyiapkan industri aren berbasis koperasi desa. Setiap desa diharapkan mendirikan koperasi untuk mengelola pabrik mini di desa masing-masing. ”Sudah ada beberapa investor yang tertarik membangun pabrik mini ini,” katanya.

Anggota koperasi berhak menjadi pemegang saham pabrik mini itu maksimal 49 persen. Sisanya tetap dipegang investor. Dengan sistem ini, petani berhak mendapat bagian keuntungan pabrik mini. ”Cara menjadi pemegang saham cukup dengan menyediakan nira di bawah harga. Selisih harga itu digunakan untuk membeli saham,” katanya.

Smits mengklaim bahwa pabrik gula aren Masarang yang memanfaatkan panas bumi tersebut merupakan yang pertama di dunia. Ini merupakan upaya pengoptimalan potensi panas bumi yang berlimpah di negeri ini.

Indonesia memiliki potensi panas bumi 40 persen dari cadangan dunia atau mencapai 29.038 MW. Lokasinya tersebar di 276 titik, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, sampai Papua. Potensi ini merupakan yang terbesar di dunia. Namun, potensi itu baru dimanfaatkan 1.332 MW (4,7 persen dari potensi), yang menempatkan Indonesia di bawah Filipina (2.000 MW) dan Amerika Serikat (2.700 MW).

Jika potensi panas bumi ini dioptimalkan, Indonesia tak hanya bisa menjadi superpower energi listrik, sebagaimana disampaikan Al Gore di Jakarta beberapa waktu lalu. Panas bumi juga bisa memberikan banyak nilai lebih untuk menggerakkan ekonomi rakyat.(Amir Sodikin/Aswin Rizal Harahap)
Ikuti perjalanan Ekspedisi Cincin Api Kompas di www.cincinapi.com

Sumber : http://ekspedisi.kompas.com/cincinapi/index.php/detail/articles/2012/08/29/11065345/Memanen.Gula.Aren.dari.Panas.Bumi
 



Aneka alat pembuat Gula Semut Aren

ALAT PEMBUAT GULA SEMUT



PRICE : RP 16.500.000

FUNGSI : MEMBUAT GULA SEMUT













PENGAYAK TEPUNG



PRICE : RP 12.000.000

FUNGSI : MEMISAHKAN TEPUNG YANG HALUS DAN YANG KASAR

Mesin Pembuat Gula Semut dan Karamel

Alat ini digunakan dalam proses pembuatan gula semut, dari bahan cair seperti nira hingga menjadi gula semut. Selain itu alat ini juga dapat digunakan untuk pembuatan karamel.
Info lengkap, silahkan hubungi kontak kami.
Sumber : http://www.mesin-industri.com/mesin-pengolah-pangan/mesin-pembuat-gula-semut-dan-karamel
 
 

Mesin Gula Semut

Mesin Gula Semut adalah alat untuk membantu proses pembuatan gula semut. Gula semut sendiri bisa terbuat dari Nira aren/nira kelapa langsung atau juga bisa dibuat dari gula aren / gula kelapa. Untuk membuat gula semut, setidaknya ada 2 mesin yang harus disediakan, antara lain mesin kristalisator gula semut dan oven pengering gula

1. Mesin Kristalisator Gula Semut

Mesin Pengolah Gula Semut adalah mesin yang dibuat untuk membuat kristal gula semut atau kristalisator gula semut. Bahan baku gula semut bisa menggunakan gula aren / merah yang cetakan atau bisa langsung dari Nira. Mesin pengolah Gula semut ini sudah TERBUKTI sangat baik menghasilkan Gula Semut yang berkualitas.

Cara Kerja :

Gula Aren / Gula Kelapa atau Nira Aren / Nira Kelapa dimasukkan ke dalam wajan mesin pengolah gula semut ini, jika gula aren sebelumnya dihancurkan atau dilarutkan terlebih dahulu, namun jika Nira aren bisa langsung dimasukkan, kemudian semuanya dipanaskan sampai mengental, pengaduk tetap dijalankan, menjelang kental, panas dimatikan dan pengaduk tetap dijalankan, saat tersebut maka kristal akan bisa terbentuk yang diawali dengan pembentukan rambut gula semut.

Fungsi

Spesifikasi

  • Pengaduk kayu model garpu
  • kontak produk stenliss
  • Kerangka besi siku
  • Penggerak Eletro Motor 3/4 atau 1  Hp 220V / Motor Bensin 5,5 HP
  • Dimensi 800x600x800mm

Kapasitas

  • 35 kg/jam
  • 50 kg/jam
  • atau sesuai permintaan

2. Oven Pengering Gula Semut

Oven Pengering Gula Semut merupakan alat yang sangat dibutuhkan setelah proses pengkristalan gula semut selesai. Pengkristalan Gula semut memakai mesin pengolah gula semut, lalu dilanjutkan pengovenan memakai oven pengering gula semut bertujuan untuk mengurangi kadar air pada gula semut.

Fungsi

  • Untuk mengurangi kadar air pada gula semut hasil kristalisasi
  • Untuk mengeringkan gula semut agar lebih tahan lama

Spesifikasi

  • kontak produk stenliss
  • Platezzer
  • Kerangka besi siku
  • pemanas gas
  • Dimensi 800x600x800mm

Kapasitas

  • 35 kg/jam
  • 50 kg/jam
  • atau sesuai permintaan

Keunggulan :

  • Sudah teruji dan terpasang di Petani Kulonprogo Yogyakarta
  • Mudah dioperasikan
  • Mudah dibawa kemana-mana
  • Hemat energi dan bahan bakar

Info Pemesanan

Hub : Mansur Mashuri | Cp. 0813 2804 2283 | email : rumahmesin@gmail.com
Sumber : http://rumahmesin.com/mesin-gula-semut/


Mesin Pembentuk Gula Semut

Mesin Evavorator
Mesin Stem Boiler

Sumber : http://www.cahayaabaditeknik.com/produk/

Jumat, 30 November 2012

Kisah Sunan Kalijogo dan Kilau Emas Pohon Aren

Kisah X - Jogo mencari Titik Ba'

Bismillahirrohanirrohim..........

Kisah ini sudah tidak asing lagi di Babat tanah Jawa, dikala seorang pemuda yang sedang menghentikan langkah sosok orang tua yang telah renta, yang bermaksud untuk merampas/merampok harta-nya. Dengan tenan dan tanpa ada-nya rasa takut si Tua Renta tadi bertanya :

Tua Renta : Apa yang engkau inginkan dari-ku wahai anak muda...???

Si Pemuda : Keluarkan hatra yang kau punya..!!!

(Dengan tersenyum yang menghiasi bibir) si Tua Renta ini menyerahkan seuntai Tasbih kepada si pemuda, karena memang itu-lah harta satu2-nya yang Ia bawa. Seraya berkata: )

Tua Renta : Silahkan ambil ini wahai anak-ku..!! Tapi, bila engkau ingin yang lebih banyak lagi dari ini, cobalah engkau tengok pohon Enau itu..!!!

(Sungguh terhenyak-nya si pemuda itu, tatkala melihat pohon Enau yang ditunjuk si Tua Renta tadi telah berubah menjadi Emas mulai dari Akar sampai Daun2-nya. Dan pada akhir-nya si pemuda menyadari bahwa yang berada di hadapan-nya bukan-lah manusia biasa, tetapi orang yang sakti mandraguna, dan segera-lah si pemuda minta maaf serta mencium tangan-nya, berlutut seraya memohon: )

Si Pemuda : Wahai Orang Tua, perkenankan-lah hamba yang hina ini untuk bisa menjadi murid-mu..!!! hamba mohon ampun atas perlakuan tadi terhadap-mu...

(Dengan sorot mata yang tajam, si Tua memandang serius kepada si pemuda itu, dan berkata: )

Tua Renta : Ilmu apa yang engkau inginkan dari-ku, anak-ku..!!!

Si Pemuda : Ilmu TITIK BA' tuan..!!!

(Sambil tersenyum, Si Tua meraih bahu si pemuda dan menyuruh-nya untuk berdiri)

Tua Renta : Baik-lah, tetapi aku harus meneruskan perjalanan dahulu, Engkau tunggu aku di sini dan tolong jagakan tongkat-ku ini..!!! (ditancapkan di pinggir/tepi sungai/kali) sampai aku kembali..!!!

Si Pemuda : Baik guru..!!!

Akhir-nya Si Tua Renta tadi pergi meninggalkan si Pemuda yang telah menunggu di sungai (KALI : Jawa,red:) Konon, kurang lebih sekitar 3 Tahun, si Tua Renta tadi teringat punya janji kepada orang yang pernah hendak merampas harta-nya untuk mengajarkan Ilmu TITIK BA' Beliau-pun segera bergegas berangkat menuju arah tempat pertemuan mereka dahulu:)

Dan betapa terkejut-nya si Tua Renta tadi, melihat sosok si pemuda yang belum beranjak dari duduk semadi-nya, yang kurus kering kerontang dan dilingkari oleh jalaran dedaunan..!!! yang menunggu untuk mendapatkan pelajaran Ilmu TITIK BA'. Si Tua Renta itu-pun membangunkan si pemuda itu dan memberi-nya nama : "K A L I J O G O" yang arti-nya (Penjaga Sungai).

Adapun si Tua Renta yang sakti mandraguna tadi tidak lain adalah seorang yang 'Arif Billah, seorang Khowasul Khowwas, seorang Waliyulloh yaitu : MAKDUM IBRAHIM yang di kenal dengan sebutan Sunan "B O N A N G"

Dari Kisah ini dapat di pahami, bahwa Ilmu TITIK BA' sudah menjadi pegangan para Wali di Tanah Jawa, meskipun kisah ini di anggap oleh sebagian orang hanya-lah legenda belaka.

Ulama' khusus-nya di kalangan Ahlu Isyarat, bahwa pendalaman rahasia2 huruf dalam Kitab Suci Al-Qur'an adalah suatu bagian dari Ijtihad. Merujuk keterangan para 'Arif Billah,

"Likulli ayatin wa-kharfin wa-nuqthotin minal-Qur'ani Hikmatun"

Wallohu A'lamu Bis-Showab......................

Created by : Mr. Com

Sumber : http://shafauqi.blogspot.com/2012/06/kisah-x-jogo-mencari-titik-ba.html

Jumat, 23 November 2012

MERANCANG PERKEBUNAN AREN INTENSIF DENGAN INDUSTRI GULA YANG MODERN



Gambar Sistem Industri Gula Moden


Gambar Pengelolaan Nira dengan Sistem Membran Reverse Osmose 
di Industri Maple Syrup Canada


 
 Gambar  Industri Maple Syrup skala kecil di Canada

Konsep Jembatanisasi dan Pipanisasi di Kebun Aren Modern


MERANCANG PERKEBUNAN AREN INTENSIF DENGAN INDUSTRI GULA YANG MODERN   (Bagian 1)

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Saya sering ditanya tentang skala minimal perkebunan Aren itu?   Ini suatu pertanyaan yang kelihatan simple, sederhana dan pendek saja.   Untuk menjawab pertanyaan ini sungguh bisa sangat panjang, bisa menjadi buku yang sangat tebal.  Namun rasanya penulis akan berusaha menjawabnya  agak singkat  dan pendek saja,  mungkin dalam beberapa tulisan.

Kapasitas Olah Pabrik dan Luasan Kebun

Kalau untuk perkebunan Kelapa Sawit biasanya ada skala minimal, yaitu 6.000 hektar.  Ada juga yang mengatakan bahwa skala minimal suatu perkebunan dan industry Kelapa Sawit ya di atas 10.000 hektar.   Kenapa jawabannya nggak sama?  Ternyata skala luas itu dihubungkan atau tergantung utamanya dari kapasitas pabrik olahannya.  Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit yang dianggap ‘mini’ itu membutuhkan bahan baku tandan buah sawit  20-50 ton tandan buah sawit per jam.  Skala kapasitas pabrik inilah yang menjadi ukuran dari berapa luas minimal perkebunan yang diusahakan.

Katakanlah kapasitas minimal pabrik pengolahan TBS ini misalnya 20 ton/ jam,  maka dalam setiap hari yang bekerja  20 jam/hari akan memerlukan bahan baku TBS sebesar  400 ton/hari.  Dalam hitungan sebulan maka pabrik akan memerlukan bahan baku TBS sebanyak  12.000 ton.   Jika setiap hektar kebun sawit menghasilkan panen TBS sebanyak 2 ton/bulan,  maka untuk memenuhi  kapasitas olah pabrik sebesar 12.000 ton TBS/bulan diperlukan lahan minimal 6.000 hektar.  

Dari hitungan di atas kita sebenarnya sudah menetapkan beberapa asumsi atau patokan angka sementara, yaitu seperti :
1.       Kapasitas olah mesin sebesar 20 ton/jam
2.       Lama bekerja pabrik dalam setiap hari misalnya 20 jam/hari
3.       Hari kerja dalam sebulan selama 30 hari per bulan
4.       Produktifitas lahan sawit yang diasumsikan berproduksi 2 ton/bulan/hektar.

Bagaimana dengan skala usaha perkebunan Aren?   

Dalam hal seperti  ini kita bisa mengukurnya  dimulai dari  kapasitas olah pabrik pengolahan Nira dan Gula Aren.   Masalahnya ukuran kapasitas pabrik gula Aren ini belum ada standard yang sudah diproduksi.   Namun dalam hal pengolahan gula yang berbahan dasar tebu biasanya digunakan ukuran TCD (Ton Cane Day) yang artinya jumlah berat tebu segar dalam satuan berat ton dalam waktu sehari.   Yang pernah penulis ketahui bahwa ada pabrik gula dengan kapasitas 5.000 TCD berarti  pabrik tersebut mampu menggiling tebu sebanyak  5.000 ton per hari.

Jika masa giling tebu itu dihitung 150 hari dalam setahun, maka pabrik Gula kapasitas 5.000 TCD itu akan mampu mengolah tebu sebanyak   750.000 ton dalam setahun.  Menurut beberapa ahli gula rendemen gula dari total berat  tebu itu adalah antara 5% sampai dengan 7,5 %.   JIka hasil gulanya sekitar 5% dari berat tebu tersebut maka pabrik gula kapasitas 5.000 TCD tadi akan menghasilkan gula sebanyak sekitar  37.500 ton dalam setahun musim gilingnya.  Jika hasil gulanya (rendemen) 7,5 % maka kapasitas produksi akan menjadi  56.250 ton dalam setahun.

Kalau lahan tebu dalam sehektar menghasilkan tebu batangan sekitar  75 ton, maka diperlukan kebun tebu  seluas 10.000 hektar  agar pabrik dengan kapasitas 5.000 TCD bisa beroperasi.  Seandainya produktifitasnya dinaikkan menjadi 100 ton tebu batangan per hektar maka  luasan kebun tebu bisa dikurangi menjadi 7.500 hektar.

Kalau dalam sehari mesin bekerja 20 jam (misalnya), maka kapasitas olah pabrik itu adalah 250 ton tebu per jam, menghasilkan NIra tebu separuhnya yaitu sekitar 125 ton per jam.   Artinya bahwa Pabrik Gula Tebu dengan kapasitas 5.000 TCD itu mempunyai kapasitas olah Nira sekitar 125 ton  atau 125.000 liter per jam.  Kalau dihitung jam kerja sehari yang 20 jam, maka kapasitasnya adalah 2.500 ton atau setara dengan 2.500.000 liter per hari.

Kalau misalnya diasumsikan saja bahwa unit pengolahan Nira dari Pabrik Gula Tebu berkapasitas 5.000 TCD ini digunakan untuk Nira Aren, maka  Nira yang diolah juga sama yaitu sebanyak  2.500.000 liter Nira Aren per hari.   Jika setiap hektar kebun Aren itu nanti menghasilkan Nira Aren sebanyak 1.000 liter Nira per harinya, maka  kebun Aren yang harus ditanam seluas  2.500 hektar.  Jika produktifitas kebun Aren ditingkatkan menjadi  2.000 liter Nira per hektar per hari maka kebun
Aren luasannya bisa diturunkan menjadi  1.250 hektar saja.  

Hanya saja kalau bahan bakunya dari tebu dalam setahun Pabrik hanya bekerja selama sekitar 150 hari.   Namun jika menggunakan Nira dari kebun Aren Pabrik pengolahan itu bekerja sepanjang tahun tiada henti, karena Nira Aren terus keluar setiap hari sepanjang tahun.  Yang lebih menguntungkan lagi adalah bahwa dengan bahan baku dari Nira Aren  maka investasi pembangunan Pabrik menjadi sangat murah, karena tidak perlu lagi unit untuk  memeras nira dari batang tebu hingga alat untuk proses pemurnian nira.  Nira Aren sudah demikian bersihnya sehingga tinggal diproses untuk mengurangi kadar airnya dan setelah cukup kental tinggal dicetak atau dikristalkan.  Sedemikian sederhana dan jauh lebih murah.

Dari hitungan di atas kita sebenarnya sudah menetapkan beberapa asumsi atau patokan angka sementara, yaitu seperti :
1.       Kapasitas olah Pabrik Gula 5.000 TCD
2.       Lama bekerja pabrik dalam setiap hari misalnya 20 jam/hari
3.       Hari kerja dalam sebulan selama 30 hari per bulan
4.       Kandungan Nira dari Batang Tebu adalah sekitar 50% w/w
5.       Musim Giling Pabrik Tebu 150 hari
6.       Unit Pengolah Niranya berkapasitas  2.500 NPH (Nira per hari)
7.       Rendemen gula dari batang tebu  antara 5% - 7,5%
8.       Produktifitas lahan tebu  diasumsikan   75-100 ton tebu/musim/hektar
9.       Produktifitas Nira dari kebun Aren diasumsikan  1.000 – 2.000 liter/hektar/hari.

Angka-angka di atas adalah angka asumsi untuk memudahkan penggambaran kita tentang  besarnya skala ekonomis dari suatu pabrik gula yang selama ini sudah lazim.  Mudahan bisa membantu mebuat rancangan infrastruktur pendukung lainnya yang akan kita bangun dalam suatu unit perkebunan dan industry Aren di waktu yang akan datang.

Seandainya kita menggunakan teknologi yang sudah dikembangkan di Pabrik Gula dengan bahan baku tebu, maka  untuk pengolahan berbahan baku Nira Aren akan lebih sederhana.   Dalam Pabrik Gula berbahan tebu setidaknya ada 6 (enam) stasiun proses yaitu :
1. Stasiun Penggilingan
2. Stasiun Pemurnian Nira
3. Stasiun Penguapan Nira
4. Stasuin kristalisasi Nira
5. Stasiun Pemisahan
6. Stasiun Penyelesaian





Dengan bahan baku berupa Nira Aren maka Stasiun Penggilingan dan Pemurnian Nira tidak diperlukan lagi.   Tetapi Stasiun Penguapan Nira, Kristalisasi, Pemisahan dan Penyelesaian tetap diperlukan.   Beberapa alat yang selama ini belum lazim di Pabrik Gula  bahkan akan ditambahkan untuk meningkatkan mutu Nira dan disesuaikan dengan jenis-jenis produk Gula yang akan dihasilkan.  Beberapa alat itu antara lain :
1.       Sistem Pompa dan Storage Nira
2.       Sistem Pengangkutan Nira dari Kebun ke Pabrik
3.       Sistem Pemurnian Nira dengan Teknologi Membaran
4.       Sistem dehidrasi Nira dengan Reverse Osmose (RO)
5.       Sistem Vacum Evaporator Double/ Multiple Effect (Liquid Sugar)
6.       Sistem Pan Evaporator (Karamelisasi)
7.       Sistem Granulator Gula (Brown Sugar)
8.       Sistem Packaging
9.       Dll.

Hebatnya teknologi Membran dan Reverse Osmose

Di dalam paket industry Gula berbasis Aren kita sudah harus menggunakan teknologi yang bisa menghemat energy sekaligus meningkatkan mutu produk dan efisiensi biaya, tenaga dan waktu.  Artinya kita harus adopsi teknologi yang memang bisa memberi nilai tambah yang nyata sebagai suatu perkebunan yang dikelola intensif dan didukung dengan  industry pengolahan  yang modern.  Salah satunya adalah masuknya teknologi Membran dan Reverse Osmose dalam pengolahan Nira Aren.   Teknologi ini diinspirasi dari pengolahan Nira dari pohon Maple di Canada dan Amerika Utara.

Nira Maple yang memiliki kandungan gula hanya sekitar 2%  menggunakan teknologi Membran dan RO untuk mengurangi kandungan airnya dan sekaligus meningkatkan kadar gulanya hingga 30%.  Artinya volume Nira bisa dikurangi airnya hingga sekitar 93%  atau menjadi  7% (seperempatbelas bagian) saja dari volume semula.    Jika kita terapkan untuk Nira Aren yang memiliki kandungan gula sekitar 12 %  kemudian menjadi berkadar gula 30% itu artinya bisa mengurangi kandungan air dari nira Aren itu sebanyak 60% atau menjadi  40 % dari volume semula.  Kalau misalnya hasil Nira dengan kadar gula 12% itu sebanyak 1000 liter kemudian  diolah dengan alat RO,  akan dihasilkan Nira berkadar gula 30% dengan volume tinggal  400 liter saja, artinya yang 600 liter itu adalah berupa air murni biasa.

Bisa dibayangkan betapa mahalnya jika kita menggunakan cara tradisional dengan memasak nira menggunakan cara pemanasan.  Air yang keluar dari Nira dalam bentuk uap air baru bisa terjadi pada suhu di atas 100 derajat Celsius.  Berapa banyak energy panas yang harus diberikan untuk menaikkan Nira hingga bisa menguapkan air sebanyak 60% volume semula.   Selain energy panasnya perlu jumlah yang banyak, juga waktu untuk memanaskan perlu waktu yang cukup lama.  Hal ini bisa menyebabkan Gula yang terkandung di dalam Nira juga mengalami panas yang berlebihan yang menyebabkan karamelisasi atau terbakarnya zat gula  sehingga gula berwarna  kecoklatan atau hangus kehitaman.

Teknologi Membran dan RO ini  hanya mengandalkan energy listrik untuk memompa Nira melewati suatu Membran dari alat RO.   Sebagian air akan mampu menembus membrane sebagai flush liquid   dan sebagian lainnya akan kembali (reject liquid) karena tidak mampu menembus membrane.   Flush liquid itu adalah air murni yang keluar dari membrane RO, sedangkan reject liquid  itu adalah  Nira yang sudah kehilangan sebagian dari kandungan airnya atau Nira yang lebih kental.   Teknologi Membran RO ini sudah sangat familiar di kalangan Perajin Gula Maple di Canada dan Amerika Seriat Bagian Utara.  Makanya mutu gula maplenya, baik itu yang berupa Maple Syrup, Maple Sugar  maupun Maple Candiesnya  sudah terstandar mutunya hingga layak untuk dijual di Super Market maupun diekspor ke manca Negara.   Meskipun itu dikelola oleh para Perajin skala rumah tangga.

Dalam perkebunan Aren kita nanti yang dihasilkan adalah langsung dalam bentuk Nira cair yang langsung diolah menjadi gula.  Nira Tebu dari hasil perasan alat di pabrik Gula itu hampir sama karakteristiknya dengan Nira Aren yang baru saja keluar dari tandan bunga yang disadap.   Dalam pengelolaan on farm perkebunan Aren sudah langsung mempertimbangkan aspek pengolahannya.    Maka mutlak harus dicarikan jalan untuk mengelola Nira Aren dalam jumlah sangat besar itu dengan cara mekanisasi  dan system operasional yang efisien tenaga, waktu dan tetap menjaga mutu Nira tetap terjamin.  Oleh karena konsep  Jembatanisasi dan Pipanisasi (J&P) menjadi pilihan yang sangat cerdas.  Konsep ini menjadi mutlak adanya kalau luasan perkebunan dan produk industrinya  dirancang berkualitas tinggi (high quality product). 


(Insya Allah… Bersambung)