......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Senin, 20 Desember 2010

Teknologi Membran untuk Produktifitas dan Efisiensi Industri Gula

Teknologi Membran untuk Produktifitas dan Efisiensi Industri Gula

Oleh : Wisnu EN 

Teknologi proses produksi gula yang digunakan di sebagian besar pabrik gula di Indonesia tidak banyak mengalami perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun, sedangkan komponen biaya produksi semakin meningkat. Hal ini akan berpengaruh terhadap produktifitas dan efisensi proses produksi industri gula. 

Usaha-usaha untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi proses secara umum dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : menekan kuantitas kehilangan sukrosa dan menghilangkan kontaminasi non sukrosa semaksimal mungkin. 

Tahapan proses pemurnian nira merupakan tahapan untuk menghilangkan kontaminasi non sukrosa dari nira mentah. Sebagian besar pabrik gula di Indonesia menggunakan cara sulfitasi dimana impuriti dipisahkan dengan penambahan susu kapur dan asam fosfat pada temperatur tertentu yang dilanjutkan dengan penambahan gas belerang. Endapan yang terbentuk kemudian dipisahkan dengan filtrasi hampa. Selanjutnya nira jernih masuk ke tahap kristalisasi dengan terlebih dahulu dipekatkan dengan mengurangi kadar airnya. Pemurnian dengan metode ini masih dihadapkan pada tingginya impuritas dalam produk dan besarnya kehilangan sukrosa. 

Teknologi memban yang saat ini sedang dikembangkan di berbagai negara sangat memiliki peran yang penting dalam industri. Teknologi membran tidak hanya berhasil menggantikan teknik pemisahan konvensional pada berbagai indutri, namun juga telah berhasil untuk memecahkan persoalan pemisahan massa dimana teknik konvensional tidak berhasil atau sangat mahal biaya operasionalnya. Teknologi membran dipercaya dapat memisahkan padatan terlarut, partikel koloid, senyawa terlarut dengan berat molekul tinggi seperti polisakarida, warna, protein, jamur, dan bakteri. 

Pada proses produksi gula hampir semua tahapan proses merupakan proses pemisahan, karena itu teknologi membran mempunyai potensi yang sangat besar untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi dalam proses produksi gula. 

Selain untuk proses pemisahan, penggunaan teknologi membran memungkinkan langkah diversifikasi produk berbasis gula atau turunan gula yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti alkohol absolut, laktosukrosa, enzim dan turunan gula lain. 

Pemurnian Nira dengan Ultrafikasi 

Ultrafikasi (UF) merupakan proses pemisahan dengan teknologi membran berdasarkan beda tekanan yang telah diketahui memiliki rentang aplikasi yang sangat luas dibidang bioteknologi, biomedikal, pengolahan limbah cair, serta di berbagai industri makanan. Konsumsi energi teknologi ini sangat rendah dengan tingkat kemurnian produk yang tinggi dan ramah lingkungan. 

Para ahli telah melakukan penelitian tentang penggunaan membran untuk pemisahan nira dengan hasil sebagai berikut : (1) Pengotor-pengotor non gula dengan berat molekul rendah dan air dapat terpisahkan dari gula (Zanto, dkk). (2) Menghasilakan juice dengan kemurnian yang tinggi, intensitas warna yang rendah serta bebas pati dan partikel-partikel yang tidak mudah terlarut (Kishihara, dkk). (3) Mampu mereduksi 67% zat warna dan 47% partikel non gula, penurunan viskositas 20% (Day). (4) Campuran nira dan larutan kapur dingin hasil defekasi sangat efisien dipisahkan dengan ultrafikasi pada pH 7,2 (Madsen). 

Walaupun proses pemurnian nira untuk industri gula masih dalam tahap wacana dan uji coba, namun di berbagai literatur unjuk kerja membran untuk clarified juice skala industri menunjukkan peningkatan kemurnian hingga 95%, penyisihan dextran 98%, pati 70%, total polisakarida 80%, dan warna 14%, serta penurunan viskositas 25%. 

Dengan demikian sangat jelas bahwa teknologi membran dapat memisahkan padatan terlarut, partikel koloid, senyawa terlarut berberat molekul tinggi seperti polisakarida, warna dan protein, serta bakteri dan jamur. Pemisahan kotoran ditentukan oleh ukuran pori dari membran yang digunakan, mulai dari 0,45 µm hingga 0,2 µm (mikrofiltrasi). 

Reverse Osmosis (RO) untuk Pemekatan Nira 

Pemekatan nira ditujukan untuk meningkatkan konsentrasi nira dari 13-16 Bx menjadi 55-65 Bx agar gula dapat dikristalkan yang biasa dilakukan dengan menguapkan sebagian besar air yang ada pada nira pada tekanan hampa dan temperatur rendah. 

RO merupakan proses berbasis membran dengan gaya dorong tekanan, biasa digunakan untuk pemisahan zat terlarut dari pelarutnya dengan memberikan tekanan di atas tekanan osmotiknya. 

Dari kajian yang telah dilakukan, aplikasi teknologi RO untuk peningkatan konsentrasi 20 Bx dapat mengurangi beban evaporasi sekitas 50% sehingga konsumsi energi dapat ditekan. Selain itu beberapa keuntungan lain penggunaan RO adalah : 

1. Kebutuhan energi rendah karena tidak terjadi perubahan fase.

2. Temperatur operasi rendah sehingga dapat mengurangi kerusakan gula.

3. Perancangan sistem sederhana.


Sumber : http://ikagisumatera.com/artikel/artikel2.htm

Selasa, 19 Oktober 2010

Persemaian Aren di Kusuri Tobelo Maluku Utara

Persemaian Aren di Kusuri Tobelo Maluku Utara


Persemaian Aren di Kusuri Tobelo Maluku Utara dari kecambah yang ditanam pada Bulan April 2010, bibit ini sudah berumur sekitar 6 bulan di persemaian.   Kalau toh akan ditanam di lapangan atau lahan kebun sebenarnya sudah bisa.   Karena sebenarnya penanaman lebih awal akan lebih baik, karena akar belum terlalu berkembang memanjang.  Kalau bibit lebih lama lagi di polibag akar sudah berkembang lebih jauh lagi keluar dari polibag.  Bila akan dipindah maka ada resiko menarik akar sehingga akar menjadi terputus.  Hal inilah yang sebenarnya harus dihindari.

Senin, 18 Oktober 2010

Sketsa di Kebun Aren

By dr. Senoaji Wijanarko


Sketsa Pohon Aren dengan bunga dan tandannya yang disadap menghasilkan Nira yang ditampung dalam bumbung bambu.


Sketsa Pohon Aren yang batangnya berijuk dari dr. Senoaji Wijanarko

Sketsa wajah Sang Juragan Bibit Aren

Sabtu, 28 Agustus 2010

Kementrian Koperasi kembangkan UKM Aren di Jawa Barat


Pengembangan daerah aliran sungai untuk bantu usaha kecil

Oleh :  Mulia Ginting Munthe (Bisnis Indonesia) 

JAKARTA Kementerian Koperasi dan UKM bersinergi dengan Institut Ilmu Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) dan BUMN Hijau Lestari untuk mengembangkan kawasan daerah aliransungai (DAS) serta mengoptimalkan potensi tanaman aren.


Muhammad Taufiq, Staf Ahli Pengembangan Iklim Usaha dan Kemitraan Kementerian Koperasi dan UKM, mengemukakan kerja sama dengan dua lembaga tersebut untuk meningkatkan produktivitas masyarakat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).  BUMN Hijau Lestari merupakan konsorsium lima BUMN meliputi Perum Perhutani, PT Pupuk Kujang, PT Sang Hyang Seri, PTPN VIII, serta Jasa Tirta.

"Kerja sama dengan BUMN Hijau Lestari, untuk pengembangan kawasan daerah aliran sungai, khususnya di Jawa Barat.  Kawasan itu akan dijadikan lebih produktif dengan menanam tanaman tahunan maupun pangan," ujarnya kepada Bisnis kemarin.  DAS yang akan dijadikan lahan produktif bagi UMKM mencapai 250.000 ha.  Selain berdampak positif untuk menahan bencana longsor, pelaku usaha mikro dan kecil bisa memanfaatkan lahan itu untuk meningkatkan pendapatannya.

Tanaman produktif yang akan dikembangkan di seluruh DAS Jawa Barat meliputi pohon aren, pohon jati, sengon, buah-buahan, jagung serta tanaman sorgum. Hasil dari berbagai tanaman tersebut diharapkan bisa meningkatkan produktivitas UMKM di sekitar lokasi.  Di antara beberapa komoditas tersebut, ada yang diproyeksikan untuk pengembangan industri gula semut dari aren dan tepung yang dihasilkan dari biji sorgum.  Pengembangan usaha ini memang spesifik, tetapi diyakini berdampak positif.

Untuk pengembangan industri gula semut, Kementerian Koperasi dan UKM merangkul Ikopin untuk mengembangkan bibit tanaman aren yang berasal dari Sibolangit, Sumatra Utara.  Pohon aren dari kawasan tersebut memiliki keunggulan hasil air nira-nya."Pohon aren di daerah lain umumnya hanya memproduksi sekitar 10 liter per hari, sedangkan pohon aren dari Sibolangit bisa mencapai 60 liter per hari.  Oleh karena itu, Ikopin akan melakukan pembibitan tanaman aren dari Sumatra Utara untuk disebar ke DAS seluruh Jawa Barat," ujar Taufiq.  Pembiayaan untuk program pembibitan dilakukan oleh lima perusahaan BUMN Hijau Lestari.

Lahan pembibitan

Sedangkan DAS yang akan dimanfaatkan untuk program tersebut masing-masing di Sungai Citarum, Ciliwung, serta sungai Cimanuk.  Lahan pembibitan yang akan dimanfaatkan di area Kampus Ikopin seluas 5 ha dari total 20 ha.



Menurut Taufiq, dari 60 liter produksi air nira dari satu pohon aren, bisa menghasilkan sekitar 30 kg gula semut per hari. "Po-tensinya sangat besar untuk memenuhi permintaan nasional maupun ekspor, karena Jepang sangat menggandmngi gula semut," papar Taufiq.  Kemenkop mulai tahun ini juga mulai mengangkat potensi komoditas gula aren di lima kabupaten Jawa Tengah, yakni Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen (Barling-mascakeb).

Potensi gula aren atau juga dikenal sebagai gula jawa atau gula semut di kawasan Barlingmasca-keb sangat besar, akan tetapi belum digarap serius. Untuk meningkatkan kapasitas produknya, pemerintah akan melakukan fasilitasi serta pendampingan teknis.  Pendampingan tersebut mencakup peningkatan kemampuanpetani aren dalam memproduksi secara tepat guna melalui penerapan teknologi.

Dalam peningkatan kapasitas itu, masyarakat produsen tidak lagi diposisikan sebagai objek, tetapi sebagai subjek.  Dengan sistem ini Kementerian Koperasi dan UKM optimistis gula aren akan dikenal luas sebagai bahan pemanis selain gula pasir.  Potensi gula aren untuk pasar ekspor bahkan sangat terbuka, karena negara-negara maju di Asia seperti Jepang, lebih cenderung mengonsumsi gula aren.

Saat ini pemasok gula aren ke  Jepang adalah Kabupaten Kediri, Jawa Timur.  Ekspor oleh petani dari daerah itu telah berlangsung sejak 1988.  "Barlingmascakeb juga memiliki peluang itu karena Jepang masih kekurangan produk tersebut," tukas Wayan.Kapasitas produksi gula aren dari Jawa lengah saat ini sekitar 5,64 ton per tahun.   Jumlah itu belum termasuk dengan produksi dari Barlingmascakeb. Kementerian Koperasi dan UKM belum memiliki catatan pasti kapasitas produksi gula aren di lima kabupaten itu. (ginting.mimthe8)bis-nis.co.id)

Sumber : http://bataviase.co.id/node/283883

Potensi gula aren lima kabupaten di Jawa Tengah dikembangkan








JAKARTA Kementerian Negara Koperasi dan UKM mulai 2010 mengangkat potensi komoditas gula aren di lima kabupaten Jawa Tengah, yakni Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen (Barlingmascakeb).


I Wayan Dipta, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM Kementerian Negara Koperasi dan UKM, menjelaskan potensi gula aren atau juga dikenal sebagai gula jawa atau gula semut di kawasan Barlingmascakeb sangat besar, akan tetapi belum digarap serius.

"Sudah banyak sentra-sentra produk gula aren berdiri di lima kabupaten tersebut. Untuk meningkatkan kapasitas produknya, kami akan melakukan fasilitasi serta pendampingan teknis," ujar Wayan Dipta, kemarin.

Pendampingan tersebut mencakup peningkatan kemampuan petani aren dalam memproduksi secara tepat guna melalui penerapan teknologi. Selama ini, kata Wayan, perhatian berbagai pihak masih kurang untuk mengangkat potensi gula aren di kawasan tersebut.

Karena itu, Kementerian Koperasi dan UKM berupaya mengembangkan potensi komoditas ini. Metodologinya dengan cara pendampingan teknis serta peningkatan kemampuan SDM-nya.Dalam peningkatan kapasitas itu; masyarakat produsen tidak lagi diposisikan sebagai objek, tetapi sebagai subjek.

Dengan sistem ini Kementerian Koperasi dan UKM optimistis gula aren akan dikenal luas sebagai bahan pemanis selain gula pasir.

Ekspor prospektif

Potensi gula aren untuk pasar ekspor bahkan sangat terbuka, karena negara-negara maju di Asia seperti Jepang, lebih cenderung mengonsumsi gula aren.

Saat ini pemasok gula aren, ke Jepang adalah Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ekspor oleh petani dari daerah itu telah berlangsung sejak 1988. "Barlingmascakeb juga memiliki peluang itu karena Jepang masih kekurangan produk tersebut," tukas Wayan.

Kapasitas produksi gula aren dari Jawa Tengah saat ini sekitar 5.64 ton per tahun. Jumlah itu belum termasuk dengan produksi dari Barlingmascakeb. Kementerian Koperasi dan UKM belum memiliki catatan pasti kapasitas produksi gula aren di lima kabupaten itu.

Adapun rencana fasilitasi dan pendampingan sudah dimatangkan dengan lima pimpinan Barlingmascakeb melalui dinas koperasi setiap wilayah. "Realisasinya akan dilakukan pada 2010," ungkapnya.

Potensi komoditas lain yang didorong Kementerian Negara Koperasi dan UKM adalah batik. Komoditas ini masih kalah bersaing dengan penghasil batik dari daerah lain karena produksinya belum disentuh teknologi serta desain modern.


Sumber : Bisnis Indonesia

Diambil dari : http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=272:potensi-gula-aren-di-lima-kabupaten-dikembangkan-&catid=54:bind-berita-kementerian&Itemid=98