......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Jumat, 16 Maret 2012

Pohon Aren Berubah menjadi Emas

Pohon Aren Berubah menjadi Emas


Kisah : Pertemuan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang

Kisah islmiah malam ini akan melanjutkan kisah tantang Perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari jati diri, dan dalam pengembaraannya setelah diusir dari Kadipaten Tuban. Setelah Sunan Kalijaga diusir dari Kadipaten beliau menetap di sebuah hutan. Dan di hutan itulah Raden Said bertemu dengan seorang laki-laki yang ternyata adalah Sunan Bonang.



Kisahnya.
Raden Said mengembara tanpa tujuan yang pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi dan selama bertahun-tahun lamanya, Raden Said menjadi perampok yang budiman. Mengapa disebut budiman, karena hasil rampokan yang ia dapat tidak dimakannya, namun diberikan kepada fakir miskin.

Yang dirampoknya adalah hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata dan tidak mau membayar zakat.
Di hutan Jatiwangi, dia membuang nama aslinya, orang-orang menyebutnya sebagai Berandal Lokajaya.

Pada suatu hari, ada seseorang yang berjubah putih melewati hutan Jatiwangi. Dari kejauhan, Berandal Lokajaya ini sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan. Terus menerus diawasinya orangtua berjubah putih itu. Setelah dekat, dia menghadang langkahnya dan tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih.
Karena tongkat itu direbut dengan paksa, maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.

Dengan susah payah orang itu bangun, dan sepasang matanya mengeluarkan air walaupun tidak ada suara rintih tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang dipeganganya, dan ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas. Hanya gagangnya saja yang terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari seperti emas.

Raden Said heran meliat orang tua yang menangis itu. Segera saja diulurkannya kembali tongkatnya sambil berkata,
"Jangan menangis wahai orang tua, ini tongkatmu aku kembalikan."
'Bukan tongkat ini yang aku tangisi," jawab orang tua itu.
"Lalu apa yang membuatmu menangis?" tanya Berandal Lokajaya.
"Lihatlah, aku telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi," kata lelaki tua itu sambil menunjukkan beberapa batang rumput kepada Berandal Lokajaya.

"Hanya beberapa lembar rumput engkau merasa berdosa?" tanya Berandal Lokajaya.
"Ya, memang berdosa. Karena aku mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata aku cabut untuk makanan ternak, itu tak mengapa.Tapi kalau untuk kesia-siaan benar-benar suatu dosa," jawab lelaki tua itu.

Berandal Jayaloka Bergetar Hatinya.
Hati Berandal Jayaloka yang tampan itu tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.
"Anak muda, sesungguhnya apa yang engkau cari di hutan ini?" tanya lelaki tua itu.
"Saya menginginkan harta," jawab Berandal Jayaloka.
"Untuk apa?" tanya lelaki tua itu selanjutnya.
"Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita," jawab Berandal Jayaloka.
"Hemmm...sungguh mulia hatimu, sayang...cara mendapatkannya keliru," ujar lelaki tua itu.



"Orang tua....apa maksudmu?" tanya Berandal Jayaloka.
"Boleh aku bertanya anak muda, jika engkau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?" tanya lelaki tua itu.
"Sungguh perbuatan bodoh, hanya akan menambah kotor dan bau pakaian saja," jawab Berandal Jayaloka.

Lelaki tua itu tersenyum.
"Demikian pula amal yang engkau lakukan. Engkau bersedekah dengan barang yang didapat secara haram, merampok atau mencuri, itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing," jelas lelaki tua itu.
Berandal Jayaloka itu tersentak kaget, namun lelaki tua itu langsung melanjutkan perkataannya.
"Alah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal," tutur lelaki tua itu.

Raden Said makin tercengang setelah mendengar keterangan dari lelaki tua itu. Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini. Di pandangnya lelaki berjubah putih itu dengan seksama. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai menyukai dan tertarik dengan lelaki tua itu.

Pohon Aren Berubah menjadi Emas

Lelaki tua itu kemudian melanjutkan penuturannya.
"Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Engkau tidak bisa mengubahnya hanya dengan memberikan bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin. Engkau harus memperingatkan para penguasa yang zalim agar mau mengubah caranya memerintah agar tidak sewenang-wenang. Engaku juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya," tutur lelaki berjubah putih itu.

Berandal Jayaloka, Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang selama ini didambakannya. Raden Said yang masih dalam keterpanaan, lelaki berjubah putih itu kembali berkata,
"Kalau engkau tak mau bekerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah, maka ambillah itu. Itu adalah barang yang halal, ambillah sesukamu," kata lelaki berjubah putih itu sambil menunjuk ke arah pohon aren.

Sepasang mata Raden Said terbelalak karena seketika itu juga pohon aren itu berubah menjadi emas seluruhnya. Raden Said adalah seorang pemuda yang sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dia kecapnya. Berbagai ilmu-ilmu aneh juga telah dia pelajarinya, dia mengira orang tua itu mempergunakan ilmu sihir. Dari itu dia mencoba menangkal sihir itu, namun ternyata setelah Raden Said mengerahkan seluruh ilmunya, tetap saja pohon aren itu menjadi emas.

Raden Said yakin bahwa orang tua itu tidak mempergunakan ilmu sihir, ia benar-benar merasa heran dan penasaran. Ilmu apakah yang telah dipergunakan orang tua itu sehingga mampu mengubah pohon aren menjadi sebuah pohon arena emas.

Selama beberapa saat, Raden Said terpukau di tempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu, dan ternyata benar-benar berubah menjadi emas seluruhnya. Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu, medadak buah aren itu rontok berjatuhan mengenai kepala Raden Said.
Pemuda itu akhirnya terjerembab ke tanah, roboh dan pingsan.

Ketika Raden Said tersadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti pohon aren-aren lainnya. Kemudian Raden Said bangkit berdiri untuk mencari orang tua berjubah putih itu. Tapi yang dicarinya sudah tidak ada di tempat.

Sumber : http://kisahislamiah.blogspot.com/2011/11/pertemuan-sunan-kalijaga-dan-sunan.html

Kamis, 08 Maret 2012

Teknologi Pembibitan dan Pengolahan Aren Menjadi Triger Sistem Agribisnis Aren di Provinsi Banten

Teknologi Pembibitan dan Pengolahan Aren Menjadi Triger Sistem Agribisnis Aren di Provinsi Banten



Oleh Kardiyono dan Syahrizal Muttakin


“Permintaan bibit dan gula aren terus meningkat setelah Gapoktan mandiri mendapat binaan dan sentuhan teknologi dari BPTP Banten”

Tanaman aren (Arenga pinnata Merr) merupakan salah satu komoditas unggulan di Provinsi Banten serta sebagai sumber ekonomi 13.000 orang petani. luas tanaman aren di Provinsi Banten lebih kurang 1.348 ha yang tersebar di kabupaten Lebak dan Pandeglang. Jenis tanaman palma ini mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh tananam lain yaitu

(a) mengandung kadar gula tinggi (10 - 15%),

(b) tanaman mampu tumbuh pada kemiringan lebih 40ยบ dan dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah

(c) seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai jual seperti ijuk untuk penjernihan air, batang untuk dibuat pati (orang banten menyebutnya aci), buah untuk dibuat kolang-kaling dan nira untuk dijadikan gula.

Umumnya bagian tanaman yang dimanfaatkan secara terus menerus yaitu gula merah baik yang berbentuk gula cetak maupun gula semut. Sedangkan bagian lain dimanfaatkan pada waktu tertentu seperti kolang kaling pada saat hari raya idul fitri, batang untuk dijadikan aci.

Pertambahan luas areal atau populasi tanaman aren setiap tahun tergolong rendah (< 5%) demikian juga dengan produksi gula yang dihasilkan (1.217 ton per tahun). Gula aren yang dihasilkan untuk memenuhi permintaan lokal banten dan Jakarta serta sebagian kecil untuk eksport. Permintaan gula terus mengalami peningkatan tetapi sebaliknya produktivitas cenderung stagnan. Konsumen gula semut cenderung mengalami peningkatan yang sangat tinggi baik baik pasar lokal (super market) maupun ekport. Dengan demikian peluang agribisnis aren sangat prospektif dan perlu didukung agar dapat memberikan keuntungan bagi petani dan pelaku usaha lainnya.

Beberapa usaha yang dilakukan BPTP Banten untuk mendorong pengembangan agribisnis aren adalah melakukan pengkajian di Kabupaten Lebak pada aspek (1) pembibitan tanaman aren (2) teknologi penanganan pasca panen dan pengolahan gula.

Teknologi Pembibitan Tanaman Aren

Usahatani tanaman aren dilakukan masih bersifat tradisional terlihat dari cara penyediaan bibit dan penanaman aren. Tanaman aren yang tumbuh bukan ditanam oleh petani melainkan dilakukan oleh binatang ketika memakan biji aren. Oleh karena itu tanaman tumbuh menjadi tidak teratur dengan jumlah tanaman bervariasi antara 10 – 20 pohon per hektar. Rendahnya jumlah tanaman setiap hektar berpengaruh terhadap kemampuan penyadapan setiap petani. Saat petani mampu menyadap nira aren maksimal 10 tanaman per hari.

Perbaikan cara budidaya dari tradisional yang tergantung dari binatang ke arah lebih maju diharapkan dapat meningkatkan produksi aren dan efesiensi usahatani aren. Idealnya jumlah tanaman setiap hektar berkisar 70 – 100 pohon sehingga mempu menyadap nira 30 pohon / hari. Salah satu langkah yang dilakukan untuk merubah cara budidaya tradisional yaitu dengan melakukan introduksi teknologi pembibitan kepada petani aren.

Teknologi Pembibitan tanaman aren meliputi seleksi buah aren dari tanaman unggul, pelunakan kulit aren dengan diperam, pengupasan kulit, persemaian biji, dan penanaman pada polybag. Pembibitan aren membutuhkan waktu sekitar 1 tahun dan kemudian tanaman siap untuk di pindahkan ke lapangan. Teknologi pembibitan aren yang diintroduksikan kepada petani telah diterapkan Gapoktan Mandiri, Desa Barunai Kecamatan Cihara Kabupaten Lebak. kegiatan pembibitan telah membuka pemikiran petani dalam usahatani aren yang bersifat tradisional ke arah lebih maju. Melalui pembibitan populasi tanaman aren per hektar mengalami peningkatan dari 10 – 20 pohon diarahkan menjadi 70 – 100 pohon. Dengan demikian ke depan akan terjadi peningkatan produksi gula dan efisiensi tenaga kerja dalam penyadapan.

Sesuai dengan sasaran pengkajian Gapoktan Mandiri berhasil membuka usaha pembibitan aren dalam rangka pemenuhan kebutuhan bibit aren yang di programkan pemerintah. Bibit aren hasil pembibtan gapoktan telah digunakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Banten untuk pengembangan aren di Kabupaten Lebak. Pembibitan aren di gapoktan juga telah mendorong beberapa unit kerja untuk dijadikan lokasi studi antara lain Balai Latihan Pegawai Kehutanan Sumatera Utara.

Teknologi Pasca Panen dan Pengolahan Aren

Salah satu permasalahan pada pengolahan gula aren antara lain rendahnya mutu nira karena belum efektifnya bahan pengawet yang di gunakan pada penyadapan sehingga mutu gula yang dihasilkan masuk katagori sedang hingga rendah. Berkaitan dengan hal tersebut maka dilakukan pengkajian penggunaan bahan pengawet mnggunakan asap cair dan melakukan inovasi penambahan jahe pada pembuatan gula semut.

Pengawetan nira dengan menggunakan asap cair merupakan alternatif guna penyediaan pengawet alami untuk menggantikan akar kawao, kulit manggis yang jumlahnya semakin terbatas. Hasil penelitian menunjukan bahwa asap cair memiliki kemampuan sebagai pengawet yang cukup prospektif terlihat dari mutu nira hasil penyadapan. Jika mutu nira tinggi maka gula yang dihasilkan akan bermutu tinggi pula.

Petani merespon cukup tinggi terhadap penggunaan asap cair sebagai bahan pengawet karena dapat mempertahankan mutu nira dan asap cair dapat diproduksi sendiri dengan mengolah tempurung yang tersedia cukup melimpah kawasan pengkajian. Gula yang dihasilkan dengan menggunakan asap cair memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan bahan pengawet yang biasa digunakan ditandai dengan warna, kekerasan dan kadar gula. Inovasi teknologi pembuatan gula semut dengan penambahan jahe telah memberikan harapan untuk meningkatkan keuntungan dari usahatani gula semut jahe.

Produk hasil inovasi telah di promosilkan pada berbagai even pameran baik lokal di Provinsi Banten maupun di Jakarta (Jakarta covensen center) dalam rangka membuka pasar dan jalinan usaha kemitraan juga kunjungan Gubernur dan Bupati. Respon pengunjung sangat tinggi terhadap inovasi teknologi hasil pengolahan gula aren dengan indikator meningkatnya pesanan kebutuhan pada mitra yang dilakukan melalui kerjasama dengan Gapoktan. Sinergitas terjadi dengan BKPD Prov. Banten dengan menjadikan lokasi ini sebagai desa Mandiri Pangan, dan Dinas Perkebunan memfasilitasi peralatan pembibitan dan pasca panen aren.

Sumber : http://banten.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=438:teknologi-pembibitan-dan-pengolahan-aren-menjadi-triger-sistem-agribisnis-aren-di-provinsi-banten&catid=47:success-story&Itemid=66


Rabu, 29 Februari 2012

Palm Wine dari Nira Aren

Palm Wine dari Nira Aren

Palm wine atau anggur palma adalah anggur yang diproses menggunakan nira aren sebagai bahan baku, kemudian difermentasi menggunakan mikroba seperti ragi roti ataupun kultur murni Saccharomyces cereviceae dan S. ellipsoides. Sebagai bahan baku palm wine dibutuhkan nira segar (belum difermentasi), oleh karena itu diperlukan bahan pengawet selama penyadapan nira. Sabut kelapa dapat digunakan sebagai pengawet alami karena mengandung tanin yang dapat menghambat aktifitas mikroba. Nira aren yang menggunakan sabut kelapa sebagai pengawet dapat bertahan lebih dari tiga jam setelah penyadapan dan warna nira berubah menjadi coklat kemerahan, sehingga memberikan warna alami pada palm wine.

Pengolahan palm wine skala laboratorium, terdiri atas dua tahap, yakni pembuatan starter dan pembuatan palm wine. Pembuatan starter diawali dengan penyaringan nira aren, dan pengaturan kadar gula nira dari 11-15% menjadi 2%, nira dipanaskan sampai mendidih dan didinginkan. Nira diinokulasi dengan kultur murni ragi S. cerevisiae atau S. ellipsoides, dengan takaran 3 g/100 ml nira, dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang.

Pengolahan palm wine dilakukan dengan cara menyaring nira dan penyesuaian kadar gula nira aren menjadi 15%. Nira dipanaskan sampai mendidih, didinginkan dan diatur kemasamannya menjadi pH 4,0-4,5 dengan penambahan asam sitrat, kemudian nira aren diinokulasi starter dengan takaran 10% v/v dan difermentasi, dilanjutkan proses penuaan selama 3 bulan. Pada pengolahan palm wine, untuk menghindari kontaminasi selama proses fermentasi dan penuaan. Palm wine yang menggunakan ragi S. cerevisiae berwarna merah, mengandung gula 3,3-3,8%, pH 3,9-4,1 dan kadar alkohol 7 %. Sedangkan yang menggunakan ragi S. Ellipsoides, berwarna merah, mengandung gula 10,4%, pH 4,3 dan kadar alkohol 1,6%. Palm wine mengandung total asam 9,2-12,3 meq/100 ml, total mikroba 6,0-9,2 koloni/ml dan asam volatil sebagai asam asetat 0,01-0,04%. Palm wine yang menggunakan ragi S. Ellipsoides mempunyai rasa seperti hasil fermentasi buah anggur.

Palm wine yang dihasilkan berwarna merah kecoklatan sebagai akibat tanin yang terkandung dalam sabut kelapa yang digunakan sebagai pengawet pada saat penyadapan nira. Dari aspek bau dan rasa, palm wine dari nira aren yang diolah menggunakan kultur murni S. ellipsoides lebih disukai dibanding dengan palm wine yang diolah menggunakan dua stater lainnya. Palm wine yang diperoleh termasuk minuman beralkohol dengan kandungan asam volatil berada di bawah standar yang ditetapkan, yaitu 0,20%.

Palm wine dari nira aren


Sumber : http://balitka.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=149%3Apalm-wine-dari-nira-aren&catid=46%3Apaket-teknologi-pasca-panen&Itemid=80&lang=en


Sabtu, 04 Februari 2012

Gula Aren Cair

Gula Aren Cair

Pendahuluan

Berbagai variasi Gula dibedakan berdasarkan karakteristik fungsinya yang berbeda-beda, gula digunakan dalam berbagai persiapan makanan, namun secara umum dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan gula yaitu:

Gula putih, yaitu gula yang pada umumnya berbentuk granula dengan berbagai ukuran dan berwarna bening sampai putih yang terdiri dari gula putih biasa, gula buah, gula baker khusus, gula superfine/ultrafine atau gula bar, gula bubuk, gula kasar, dan gula pasir. Jenis guia ini merupakan yang terbanyak digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Golongan kedua adalah gula cokelat pada umumnya memiliki warna kecokelatan, yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah gula turbinado, gula cokelat dari molasse, dan gula demerara. Jenis yang ketiga adalah gula cair yang memiliki fasa cair dengan kekentalan yang berbeda.

Terdapat klasifikasi lain berdasarkan sumber gula itu diproduksi yaitu jenis gula yang berbasis dari sukrosa yaitu jenis gula yang diproduksi dari bahan yang memiliki kandungan sukrosa di dalamnya, contohnya adalah gula bit, gula tebu, gula aren, gula invert, dan gula buah atau fruktosa, dan gula berbasis pati yaitu gula yang diproduksi dari pati dan pada umunya secara enzimatik, contohnya adalah sirup Glukosa, High Fructose Corn Syrup (HFCS) , dekstrosa, dan isoglukosa. Di antara jenis gula ini yang terkenal di masyarakat adalah gula berbasis sukrosa yang pada umunya berbentuk granula dan padat. Sementara gula berbasis pati pada umumnya berbentuk cair dan tidak terlalu umum digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia, aren merupakan tumbuhan yang memiliki banyak potensi dalam bidang pangan dan energy, menurut kajian BPPT Banten, dalam setahun setiap pohon aren bisa memproduksi nira 300-400 liter / tandan bunga. Setiap tandan bunga mampu menghasilkan nira 300-400 liter per musim bunga ( selama 3- 4 bulan). Jadi dalam satu pohon aren mampu menghasilkan nira kurang lebih 900-1.600 liter / tahun.

Di Indonesia, jenis gula yang paling banyak dikonsumsi secara massal adalah gula pasir biasa yang berbasis sukrosa. Jenis gula kristal putih ini biasa digunakan oleh rumah tangga atau industri makanan-minuman skala kecil. Untuk kemurnian yang lebih tinggi, tersedia gula rafinasi, yaitu gula kristal putih yang telah mengalami berbagai proses pemurnian dan penghilangan warna secara kimiawi dan fisik. Gula rafinasi lebih disukai sebagai bahan baku industri makanan-minuman besar karena tidak berwarna dan kemurniannya tinggi. Setelah gula putih Kristal berbahan baku tebu, jenis gula kedua yang banyak digunakan masyarakat adalah gula aren atau disebut juga gula merah atau gula palm.

Gula aren pada umumnya diproduksi secara tradisional dengan skala kecil sampai menengah. Usaha ini dilakukan dalam skala rumah tangga dan tersebar dengan sangat baik di berbagai wilayah Indonesia seperti Jawa Barat misalnya Garut, Sumedang, Sukabumi, dan Tasikmalaya, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan (Bulukumba, Enrekang, Palopo, Tana Toraja, dll) , Sulawesi Tengah (Palu), Toli-toli, Sulawesi Utara (Minahasa Utara, Selatan, Tondano, dll.), Gorontalo, dan berbagai wilayah di Kalimantan. Pabrik berskala besar yang mengelola aren menjadi berbagai produk gula seperti gula merah biasa, gula semut, dan lain-lainnya masih dikatakan belum banyak. Salah satu contoh pabrik gula aren yang sedikit ini adalah pabrik Masarang yang merupakan pabrik pertama di dunia yang mengolah aren dalam skala pabrik.

Kerugian utama dari proses tradisional adalah produk akhir dan produksi produk samping berupa molasse (tetes) yang mengandung gula tak terproses. Selain itu, untuk menghasilkan gula dalam bentuk Kristal atau padat dibutuhkan energi yang cukup besar baik dari energi panas maupun energi listrik untuk mengoperasikan alat.

2. Berbagai Produk Olahan Aren dan Kegunaannya

a. Gula aren cair

Secara tradisional masyarakat Indonesia menyukai gula aren dalam bentuk cair gula cair ini diperoleh dengan melelehkan gula cetak yang ada di pasaran. Contohnya :
- Gula Juruh atau gula merah yang dicairkan biasanya dipakai untuk pemanis gethuk, srabi, kue cethot,
- Gula cair untuk pemanis Es cendhol, Es Dhawet, Es Degan, Es Teller, dll.
- Gula Cair untuk pemanis bubur kacang hijau,
- Gula cair yang di lumurkan pada krupuk singkong, sebagai pemanis sekaligus penghias
- Gula cair juga digunakan untuk memasak pisang, singkong, serutan kelapa, serutan ubi, dll

b. Gula semut adalah gula merah/ gula aren yang berbentuk serbuk. Secara tradisional biasa digunakan untuk pembuatan kue-kue seperti :

- isi kue klepon,

- isi kue jembhlem (dari singkong yang dimasak),

- isi kue lemet (dari singkong parut),

- isi kue Pilus (dari ubijalar),

- untuk membuat gula juruh atau gula cair, dll.

Berdasarkan penggunaan tersebut, dapat dilihat beberapa kelemahan dan kelebihan berbagai bentuk gula aren yang ditunjukan Tabel 1.

Bentuk Gula Aren

Kelebihan

Kekurangan

Gula Aren Cetak
  1. Mudah dalam transportasi
  2. Tidak perlu pengemasan khusus
  1. Kurang prakstis dalam penggunaan
  2. Tidak efektif jika kemudian digunakan dengan mengembalikan bentuknya menjadi cair
  3. Mudah meleleh
  4. Sulit untuk menakar sesuai kebutuhan
Gula Aren Semut
  1. Mudah dalam transportasi
  2. Tidak perlu pengemasan khusus
  3. Mudah dalam penakaran
  4. praktis
  1. Proses produksinya lebih rumit
  2. Mudah meleleh
Gula Aren Cair
  1. Praktis
  2. Mudah dalam penakaran
  3. Efektif dalam proses produksi, lebih mudah membuatnya

  1. Memerlukan Pengemasan khusus
  2. Belum dipasarkan secara khusus

3. Proses pembuatan gula aren secara tradisional

Secara umum, proses pembuatan gula aren cetak dapat ditunjukan Gambar 1. Perbedaan pembuatan gula cair dan gula semut hanya berbeda setelah pemanasan 1. Gula aren cair sudah bisa diperoleh setelah pemanasan 1 yang disebut dalam istilah bahasa Sunda sebagai wedang. Kadar air wedang atau gula aren cair lebih tinggi dari kadar gula semisolid yang diperoleh dari hasil pemanasan 2. Gula aren cair atau wedang ini diambil sesuai keinginan saja, jarang yang diproduksi secara khusus dan dipasarkan secara khusus misalnya seperti di Pulau Rote dan Pulau Sabu yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT).


4. Gula Aren Cair

Substitusi gula kristal baik gula putih maupun gula merah oleh gula cair (liquid sugar) dapat dijadikan langkah penghematan biaya operasi produksi gula. Pada umumnya, gula digunakan oleh masyarakat dengan cara diencerkan terlebih dahulu. Memproduksi gula cair berarti meringkas penggunaan gula sekaligus mengeliminasi kebutuhan energi untuk kristalisasi atau pemadatan. Kemudian, berbagai modifikasi terhadap proses pengolahan gula yang dilakukan dengan tujuan peningkatan efisiensi adalah langkah strategis dalam rangka memproduksi gula yang lebih berkualitas namun hemat. Dengan memproduksi gula cair dengan bahan baku aren yang diperoleh langsung dari petani aren Indonesia, diharapkan pasar gula aren kembali menggeliat, kelangsungan usaha petani tebu lebih terjamin, dan rendemen gula dalam aren hasil produksi dapat ditingkatkan.

Selain itu, pemasaran gula aren dalam bentuk cair ini akan mempermudah produksi pangan berikutnya. Tidak ada ikhtiar untuk melarutkan gula kemudian menggunakannya untuk pemanis berbagai produk minuman dan makanan. Dengan demikian, selain ongkos produksi terpangkas karena tidak adanya biaya kristalisasi, pencetakan, atau pemadatan, ongkos produksi juga tereduksi karena tidak ada biaya pengenceran. Dapat dikatakan produksi gula cair ini akan membuat produksi pangan yang menggunakan gula aren sebagai bahan bakunya menjadi lebih efektif dan efisien.

Di negeri Jiran Malaysia gula aren cair diproduksi khusus dengan nama Gula Syrup (Arenga Syrup) untuk konsumsi dalam negeri maupun yang diekspor ke Jepang. Perusahaan Pabrik Gula Arenga Syrup di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia adalah perusahan patungan dengan investor dari Jepang. Di negeri ini, gula cair aren diproduksi secara khusus dalam skala pabrik, sementara di Indonesia yang notabene memiliki lahan aren yang sangat luas meskipun liar belum terberdayakan sacara maksimal. Padahal selain memiliki ketersediaan bahan baku yang cukup melimpah dengan produksi nira yang juga melimpah, dan pasar berupa manusia yang demikian banyak jumlahnya dan tentu saja memiliki kebutuhan terhadap pangan yang cukup besar, maka produksi aren dalam bentuk cair dianggap sangat prospektif. Tinggal siapa yang berani mengembangkannya dan memasarkannya.

Selain di Malaysia, gula cair juga diproduksi di Meksiko, di sebuah perusahaan pangan bernama Novasep. Adapun dasar pemikiran pembuatan gula cair yang dilakukan oleh Novasep adalah:

  1. Kristalisasi dan pemadatan bukan merupakan jalur yang efektif untuk memproduksi gula.
  2. Penggunaan gula padat baik dalam bentuk tercetak maupun kristal dalam industri memerlukan penanganan yang cukup banyak, misalnya: pelarutan dalam air, filtrasi, pasteurisasi,
  3. Modal dan biaya operasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan gula cair lebih sedikit untuk kapasitas produksi yang sama
  4. Kapasitas optimal untuk pabrik gula cair cukup ideal sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasar minuman ringan. Jika kapasitas diperbesar akan cocok untuk industri permen dan gula-gula

Proses ini cocok digunakan untuk memproduksi: Sukrosa cair, sirups Medium invert, 95% sirups invert, sirup Glukosa, sirups Fruktosa, gula spesial seperti fructo-oligosakarida, dan lainnya).

Pertanian dan industry gula aren cair akan menyebabkan pengaruh yang cukup besar, selain kepada pertumbuhan ekonomi para petani dan pengrajin aren yang biasa berproduksi skala rumah tangga, efek yang ada juga akan berpengaruh kepada industry pangan yang menggunakan gula aren sebagai bahan baku. Selain itu, ketergantungan terhadap gula impor juga akan menurun sehingga industry gula Indonesia akan kembali sehat bahkkan bisa bangkit dan Berjaya lebih dari apa yang bisa kita bayangkan sepert berjayanya sirup Maple di Kanada.

Sumber : http://iinparlina.wordpress.com/2011/10/18/gula-aren-cair/#more-837

Silakan lihat juga artikel di
http://kebunaren.blogspot.com/2009/02/prospek-gula-aren-cair-agar-sehebat.html

Jumat, 03 Februari 2012

MENYONGSONG HADIRNYA AREN DAN LENGSERNYA TEBU DARI TAHTA INDUSTRI GULA NASIONAL


MENYONGSONG HADIRNYA AREN DAN LENGSERNYA TEBU DARI TAHTA INDUSTRI GULA NASIONAL

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto


Pada edisi 17-23 Juni 2009 No. 3308 Tahun ke 39, Tabloid Sinar Tani memuat tulisan mengenai Gula dengan judul “Rendemen Naik, Produksi Gula Meningkat”. Ada salah satu alinea menyebutkan bahwa, Pemerintah berencana membuka perkebunan tebu, pabrik gula baru dan industri berbasis tebu di beberapa daerah.

(Foto kiri : Bapak Presiden SBY sedang meresmikan Pabrik Gula Baru; Kanan : Bapak Ahmad Manggabarani, Dirjen Perkebunan DEPTAN)

Pada tulisan tersebut Dirjen Perkebunan Deptan, Bapak Ahmad Manggabarani juga mengatakan bahwa perbaikan-perbaikan yang dilakukan ini adalah untuk mewujudkan Indonesia menjadi eksportir Gula pada tahun 2014 mendatang. Selama tahun 2009 ini, Indonesia sudah memenuhi sepenuhnya kebutuhan atas swasembada gula kristal putih untuk konsumsi dan sudah menghentikan impor.


Bapak Dirjenbun juga melaporkan bahwa luas areal perkebunan tebu bertambah dari 427.178 hektar pada tahun 2007 menjadi 441.318 hektar pada tahun 2009. Produksi tebu naik dari 33,066 juta ton tahun 2007 menjadi 34,756 juta ton pada tahun 2009. Sedangkan produktivitas tebu berhasil ditingkatkan dari 77,4 ton/ha menjadi 78,8 ton/ha.

Pada tahun 2008 yang lalu saya juga pernah menulis tentang hal semacam ini dengan judul ”Pabrik Gula Berbasis Aren, Kenapa Tidak? Adalah berawal dari repotnya Pemerintah kita yang memaksakan diri untuk tetap menjadikan tebu sebagai harapan utama produksi Gula Indonesia. Ibarat makan Buah Simalakama, susah sekali menggantikan tebu sebagai bahan baku pabrik gula kita. Pemerintah seolah tidak berniat mencari solusi atau alternatif bahan baku gula selain tebu.

Mari kita coba untuk menghitung dan menimbang kelayakan tebu sebagai andalan gula Indonesia. Pertama dari sisi produktivitas yang rata-rata hanya mencapai 78,8 ton/ha, taruh kata rendemennya mencapai 10%, maka gula yang diperoleh hanya sekitar 7,88 ton/ha/musim. Padahal rendemen gula kita sangat sulit sekali mencapai angka dua digit itu, paling-paling hanya sekitar 8 - 9 %. Jadi hanya menghasilkan gula antara 6 – 7 ton/ha/musim.

Upaya-upaya sudah terlalu banyak dilakukan, hasil-hasil penelitian juga yang mana lagi yang belum dijalankan. Semua untuk mendongkrak produktivitas tebu menjadi naik dan berproduksi tinggi. Namun sampai sekarang masih belum mampu merubah keadaan, ternyata produktivitas tebu malah semakin menurun. Padahal pada jaman Kolonial dulu sekitar tahun 1930-an produktivitas tebu mencapai puncaknya yaitu sebesar 17 ton gula/hektar/musim.

Waktu itu memang bisa terjadi karena dengan tanam paksa, pihak kolonial bisa memaksakan untuk menanam tebu di lahan-lahan sawah nomor satu, di lahan-lahan yang paling subur, kalau perlu penanaman padi dialihkan dulu dan dipentingkan tanaman tebu. Maka wajar saja pada era itu Belanda menikmati hasil yang sangat besar dari Gula yang berbasis tebu, sehingga mereka bisa membiayai perang, membangun negerinya dengan memeras tebu untuk menjadi gula. Namun tidak hanya tebu yang diperas, lahan-lahan sawah kita yang dulu subur makmur diperasnya, tenaga-tenaga petani kita juga diperas dengan kerja paksa. Memang penjajah Belanda sangat kurang ajar!!!

Sepeninggal kolonialisme Belanda industri dan perkebunan tebu diambil alih oleh Pemerintah Indonesia yang dikelola oleh BUMN bidang perkebunan tebu dan pabrik gula. Pengambilalihan secara penuh baru selesai pada tahun 1950-an, yaitu tepatnya 1957, pada hal kita merdeka pada 17 Agustus 1945, jadi baru setelah 12 tahun dari kemerdekaan kita baru bisa mengambilnya.

(Foto : Pabrik Gula berbasis Tebu)

Yang kedua tebu juga mengambil alih lahan pangan yang lain. Sampai sekarang pun lahan-lahan tebu ini masing saling bersaing dengan tanaman pangan, yaitu dengan sawah-sawah yang mestinya ditanami padi dan palawija, di lahan-lahan kering atau tegalan yang juga biasa ditanami sayuran, kacang-kacangan, ubi-ubian, dan bahkan buah-buahan. Jadi lahan tebu yang 441.318 hektar tadi secara nasional, sebenarnya seluruhnya bersaing dengan lahan tanaman pangan lainnya.

Maksud saya begini, seandainya tanaman Aren bisa menggantikan peran tebu untuk memenuhi kebutuhan dan produksi gula selama ini, maka lahan-lahan tadi yang luasnya hampir 450 ribu hektar bisa ditanamai tanaman pangan, seperti padi, palawija, kacang-kacangan, sayuran dan tanaman pangan lain yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan tebu.

Seandainya setiap hektar lahan dalam satu tahun dapat ditanami padi dua musim dan satu musim palawija dengan hasil misalnya 6 ton beras dan 4 ton jagung, maka ada bahan pangan tambahan dari 450 hektar, yaitu 2,7 ton beras dan 1,8 juta ton jagung. Ini peluang yang sangat berarti untuk mendukung kecukupan pangan dan bahan baku pakan dan mengurangi ketergantungan impor bahan pangan dan pakan.

Dari sisi petani pun penerimaan dari usaha tani tebu juga sudah kalah dengan komoditi pangan lainnya. Hanya untuk petani yang tidak punya modal, pilihan yang paling mudah adalah menyerahkannya kepada pihak lain untuk ditanami tebu, dan nanti petani tinggal mendapatkan hasilnya meskipun tidak seberapa. Kalau untuk usaha tani komoditi lain sendiri modal kurang, walaupun hasilnya memang lebih tinggi. Keadaan inilah yang banyak dialami oleh petan sehingga harus menyerahkan lahannya pada pihak perkebunan tebu dan pabrik gula atau KUD-KUD. Sebenarnya kalau petani punya modal dan tenaga dalam usaha tani mereka pasti memilih komoditi lain yang lebih menguntungkan.

Lalu apa Aren bisa diolah menjadi gula putih? Untuk yang hal ini Saudara saya Bapak Slamet Sulaiman sudah membuktikan dengan alat mesin pabrik gula mininya. Pabrik gula mini dengan bahan baku nira aren sudah dibangun antara lain di Minahasa Selatan. Uji coba untuk menghasilkan gula putih telah berhasil dilakukannya. Artinya tidak masalah seandainya nira aren diolah menjadi gula putih.

Namun secara perhitungan sebenarnya tidak menguntungkan sebab untuk mengolah gula menjadi putih memerlukan bahan yang lebih banyak, siklus proses yang lebih panjang dan lebih rumit. Dengan demikian biaya produksi jauh lebih tinggi, nilai rasio konversi bahan baku menjadi produk jadi lebih kecil. Dilihat dari harga jual juga tidak jauh berbeda antara gula putih dan gula merah tradisional. Namun kalau gula putih pangsa pasarnya sangat besar dan seolah tidak terbatas, karena selama ini memang kebutuhan gula didominasi oleh gula putih.

Berbeda dengan gula merah atau brown sugar dari tanaman palma, yang selama ini belum menjadi produk massal dunia karena keragaman produknya sangat luas dan terbuka. Nilai jualnya juga sangat beragam harganya. Seolah harga dapat diciptakan sedemikian rupa tergantung pada pemilik brand atau merek. Karena memang pangsa pasarnya juga belum luas.

Berbeda dengan Gula dari pohon Maple. Di Negara aslinya Canada dan Amerika bagian utara, gula tersedia kebanyakan dalam bentuk cair, berupa syrup dari pohon Maple, atau sering disebut sebagai Maple Syrup. Di sana justru gula putih kalah populer dengan Maple Syrup. Gula putih yang berasal dari tebu dianggap gula tingkat rendah, yang kurang nilai gizinya. Bahkan gula putih dianggap biangnya penyakit diabetes di seluruh dunia. Oleh karena itu mereka lebih memilih Maple Syrup dari pada Gula Putih yang asalnya dari Brazil itu.

Trend beralihnya pola konsumsi gula dari gula putih hablur ke gula berbentuk cair atau syrup sudah terjadi di luar negeri. Jepang, Korea, Eropa seperti Belanda dan Jerman juga sudah lama mengevolusi pola konsumsi gulanya. Di dalam negeri sendiri sebenarnya juga sudah lama terjadi, khususnya pada industri makanan dan minuman. Maka lambat atau cepat trend itu akan terjadi, artinya kita harus mengantisipasinya dengan penyiapan industri gula palma kita juga mengarah ke gula cair atau Sugar Palem Syrup, Coconut Sugar Syrup dll.

Kalau dilihat potensinya sebenarnya Aren yang punya peluang besar menggantikan peran tebu sebagai bahan baku Gula atau bahan pemanis. Sebab Aren memiliki produktifitas paling hebat, paling tinggi dalam menghasilkan Gula. Dalam setiap hektarnya Aren bisa menghasilkan Gula sampai 77 ton per/tahun/hektar. Bagaimana bisa terjadi ? Uraiannya sebagai berikut :
a. Dalam satu hektar ditanam 200 pohon Aren.
b. Setelah 6-7 tahun dapat dipanen air nira dari sekitar 75 % populasi pohon, atau 150 pohon. Atau ada 25 % pohon yang beristirahat menghasilkan nira.
c. Jika produksi nira rata-rata adalah 10 liter/phon/hari, maka nira yang dihasilkan adalah 10 liter/pohon x 150 pohon/ha = 1.500 liter/hektar/hari.
d. Jika untuk membuat gula 1 kg diperlukan nira 7 liter, maka jika semua nira diolah akan menjadi gula sebanyak : 1.500 liter/ha/hari : 7 liter/kg = 214,3 kg/hektar/hari.
e. Produktivitas Gula dari setiap hektar kebun Aren adalah :
Setiap hari : 214,3 kg/hari;
Setiap bulan : 6.428,6 kg/bulan;
Setiap tahun : 77.142,8 kg/tahun; atau 77 ton/tahun.

Keunggulan tidak hanya pada aspek produktivitas, sebagaimana hitungan di atas, tapi juga banyak keuntungan-keuntungan di aspek yang lain, yaitu :
a. Dengan menggantikan tebu dengan Aren, maka lahan yang diperlukanlebih sedikit (seper sepuluhnya) kita sudah dapat memenuhi swasembada gula nasional.
b. Kontinyuitas produksi pabrik berjalan sepanjang tahun, dan pabrik tidak ada masa istirahat karena bahan baku tersedia secara koninyu setiap hari sepanjang tahun. Pada Pabrik Gula berbasis Tebu biasanya hanya beroperasi selama sekitar 150 hari atau 5 bulan dalam setahun, berarti 7 tahun pabrik tidak beroperasi.
c. Biaya investasi pembangunan pabrik gula berbasis Aren jauh lebih murah dibandingkan dengan pabrik gula berbasis tebu. Bahkan seandainya Pabrik besar belum dibangun pun, industri gula rakyat sudah bisa mengatasi masalah pengolahan bahan baku yang dihasilkan masyarakat.
d. Lahan tanaman tebu sekarang juga sangat bersaing dengan tanaman pangan. Maka di era dimana ketahanan pangan menjadi prioritas baik karena program pemerintah, atau permintaan pasar yang terus meningkat. Maka cepat atau lambat komoditi Tebu diperkirakan akan terdesak oleh dorongan ekonomis dan politis yang semakin kuat.
e. Beda dengan tanaman Aren yang sangat fleksibel, bisa ditanam di lahan-lahan miring, lereng lereng bukit, tepi-tepi sungai, daerah bekas hutan yang ditinggalkan, atau lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif. Maka dengan kehadiran tanaman Aren bisa menjadikan lahan lebih produktif dan berfungsi ganda sebagai penyelamat linkungan dan pencegah longsor.
f. Dll.

Jadi tinggal kemauan dan kesadaran politik saja yang akan merubah kebijakan industri gula nasional ini berhijrah dari yang semula berbahan baku tebu ke arah pada pabrik gula berbasis perkebunan Aren. Maka sebelum terjadi keterpaksaan dalam merubah kebijakan tersebut, sebaiknya dengan sadar para penentu kebijakan itu mengambil tongkat komando untuk secara bertahap menyiapkan lengsernya tebu dalam tahta industri pergulaan nasional. Dan segera menyiapkan segala sesuatunya untuk menyongsong perkebunan Aren yang tampil dalam tahta tertinggi industri gula nasional kita.