......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Minggu, 15 Februari 2015

Johan Bukit : Aren Pohon Masa Depan

Aren, Pohon Masa Depan


Oleh  :  Johan Bukit            
KARENA APA ???

1/. ATM nya Petani, setiap hari menghasilkan air nira bisa dijual dimana saja dan dimasak jadi gula merah .
2/. ENERGY Terbarukan, diproses dengan penyulingan menjadikan Bioethanol pengganti Bensin.
3/. KONSERVASI, menahan air dan erosi tanah di daerah berkemiringan.

Dikenal juga dengan nama Enau dan nama kerennya Arenga Pinnata dapat tumbuh rata hampir diseluruh Provinsi di Indonesia terutama di daerah yang berketinggian 400m sd 1000m diatas permukaan laut, lebih dikenal dengan tanaman Hutan dari pada tanaman Perkebunan.

Banyak keunikan yang dapat kita temui pada sebuah pohon aren yang pasti pohon ini bisa memberikan petani penghasilan tetap per hari dari air nira yang dihasilkan sebuah pohon aren 10 sampai 50 liter per hari yang dapat dijual dengan harga rp 1000 sampai rp 3000 per liter tergantung pola tanam dan pola sadap dan harga nira di pasar. Dan dengan menanam 100 pohon aren seorang patani telah memiliki asset atau kekayaan dalam hitungan milyard (estimasi rp 3,0 milyard) yang dapat disadap tergantung kebutuhan pa Tani.

Disamping itu air nira manis dapat diolah menjadi tuak minuman berkandung alkohol 3/5%, apabila di proses dengan penyulingan ke 60/80% akan menjadi ethanol yang dapat dipergunakan di Industri, Rumah Sakit dan peralatan kecantikan wanitaseterusnya disuling kelevel diatas 90% menjadi Bioethanol pengganti Bensin atauenergy terbarukan.

Jika dimasak dengan cara sederhana maka nira manis menjadi GULA AREN yang sangat unik rasanya cocok ke rasa makanan ala Indonesia, seperti empek2, dodol, cendol, kecap, kopi dll yang hargaya dipasar lebih tinggi dari gula putih dijual di petani rp 12,000/kg sampai di pembeli rp 20,000/kg.

Tidak lupa pada bunga betina ada kolang kaling yang sangat populer pada saat lebaran begitu juga dengan gula aren kedua2 nya menjadi barang langka pada saatlebaran terutama Hari Raya terjadi kenaikan harga di petani.

Magna lain dari pohon aren adalah pohon Konservasi akar pohon aren sifatnya bisamenahan air dan mejaga erosi pada tanah yang berkemiringan dan bisa ikut mendinginkan dunia dari pemanasan global  sebuah label GO GREEN dapat kita berikan pada pohon aren apabila ditanam dengan system agroforest atau hutan buatan dengan pola tanaman bukan tebang tetapi dari hasil panen buah atau sadapan.

Apa yang bisa kita didapatkan dari menanam pohon aren, surprise AIR, ENERGY, FOOD, ALAT RUMAH TANGGA, GO GREEN dan KONSERVASI, yang utama bisa atau dapat MENSEJAHTERAKAN  PETANI dengan berpenghasilan tetap per hari dengan assaet milyard rupiah...............................

maka POHON AREN DAPAT KITA KATAKAN ADALAH POHON MASA DEPAN


Panen Air Nira                                                                                          Bawa Hasil Nira
 
Dari Biji Berkecambah menjadi sebuah pohon Aren

Marilah kita lihat perjalanan, penanaman biji berkecambah menjadi sebuah pohon Aren, setelah memilih biji aren dari pohon induk yang baik dan seleksi biji yang besar dan kemudian diproses untuk bebas dari hama maka kita tunggu agar biji tersebut berkecambah. Sesudah itu kita masukkan kedalam polibag dengan tanah yang gembur dan bebas hama, agar akar pohon dapat tumbuh sempurna tidak dimakan ulat akar pohon aren yang manis. Setelah 2/3 bulan pohon tersebut siap untuk di tanam, seperti kita lihat di foto2 dibawah ini, sebuah pohon aren memerlukan perlindungan langsung dari terik matahari.


              
                         Proses dari biji aren berkecambah, ke polibag, siap tanam dan ditanam 


Benang merah pada sebuah pohon Aren

Pohon Aren sejak kecil telah memperlihatkan sifat jika terlindung dari panas matahari langsung akan bertumbuh lebih sempurna, dan jika di apit dengan pohon pelindung akan ikut bertumbuh menjadi tinggi mengikuti pohon pelindungnya, sebagai contoh pada saat kecil diapit dengan tanam an sorgum atau jagung, maka perkembangan pohon aren akan lebih cepat tumbuh mengikuti ketinggian pohon jagung atau sorgum yang tumbuh disampingnya, dan hama2 pemakan dan perusak daun akan ke pohon pelindungnya jagung atau sorgum, begitu juga saat sudah besar jika pohon pelindungnya tinggi seperti durian kampung, pete, kemiri karet kampung dll pohon aren akan tumbuh tinggi sampai 25 meter atau lebih. 

Pada sebuah pohon Aren ada benang merah pada akar, batang, daun dan tangkai bunga jantan  yang saling berhubungan, akar pohon aren sifatnya menahan air sangat baik dimusim kering tanah dibawah pohon aren tetap lembab, kemudian di batang aren sebagai pabrik proses air nira dengan pembakaran matahari dari daun aren atau proses foto synthetic (jika kita belah sebuah batang aren akan kita dapat kan sagu) dan kemudian dengan membalbal atau memukul tangkai bunga jantan tersebut sehingga lembam, maka proses penyadapan air nira aren pun dapat dilaksanakan dengan memotong atau menyayat tangkai bunga jantan tersebut secara halus (jangan terlalu tebal penyayatannya akan menyebabkan pohon aren iritasi dan bisa mati) akan meneteskan air nira manis, yg jumlah nya tergantung pola tanam pohon aren bisa diantara 10 liter sampai 40 liter sehari untuk 2 kali penyadapan pagi dan sore hari.


Pola tanam Mono Kultur atau Agroforest kah ?

Menanam sebuah pohon aren ada 2 opsi, disebabkan oleh sifat pohon aren itu sendiri yaitu, ketinggiannya akan mengikuti pohon pelindungnya, maka pola tanam yang tampa pohon pelindung Mono Kultur seperti menanam pohon perkebunan kelapa sawit atau karet bisa terlaksana atau Agroforest dengan berbagai macam pohon2 pelindung yang tinggi2 seperti durian dan karet kampung, pete, kemiri, dll.

Hasilnya juga sangat berbeda; 1/. Mono kultur 160 pohon ha, paska panen 5 sd 6 tahun, pohon pendek2 5 sd 10 meter, hasil per hari 10 sd 15 liter air nira, tangkai bunga jantan berkisar 10, oleh karena pendek lebih mudah memanen nya dan lebih cepat panennya, cuman hasil panen lebih sedikit dan tidak menghutankan lokasi dan sustainable sebagai produk organik dan natural. 2/. Agroforest 100 pohon per ha, paska panen 8 sd 10 tahun, pohon tinggi2 20 sd 25 meter, hasil per hari 20 sd 40 liter air nira, tangkai bunga jantan bisa lebih dari 20 tangkai oleh karena tinggi lebih sulit memanen nya dan lebih lambat paska panen tatapi hasil panen per hari dan per pohon air nira lebih banyak dan kita telah menghutankan lokasi dan sustainable tidak memerlukan pemupukan menjadikan produk organik dan natural. Yang manapun pola tanam di adopsi oleh petani tetap saja akan memberikan penghasilan tetap per hari dan asset per 100 pohon dalam jumlah milyard rupiah.
Paska Panen



Setelah tangkai bunga jantan keluar pada sebuah pohon aren maka pekerjaan berikut dilakukan proses penyadapan dengan keberhatian memukul dan menggoyang tangkai bunga jantan tersebut sehingga menjadi lembam dan siap untuk disadap dengan menyayat secara halus tangkai tersebut dan diujungnya akan meneteskan air nira manis yang akan ditampung pada sebuah bambu.

Air nira manis sudah siap saji untuk diminum dengan rasa sangat menyegarkan terutama dingin dari lemari es atau dijadikan yogurth dengan durian. Di Lombol air nira manis telah mendapat pasar yang baik dari para pelancong yang melewati jalan sepanjang 1 km dari kios para petani aren dengan harga rp 5000/botol aqua 1,5 liter. Atau di Medan sepanjang resto lapo dapat dibeli tuak manis atau pahit (berkadar alkohol) dengan harga rp 2000/gelas. 


Memasak Air Nira menjadi Gula Merah

Proses pemasakan Air nira menjadi Gula Merah cukup sederhana hanya dengan drum bekas pun bisa dan proses pemasakan nya memerlukan waktu yang lama lebih kurang selama 6 jam seperti foto yang tertera dibawah ini. Harga jual Gula Merah Aren Asli sanga bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lain arga dasar dari petani diatas rp 12,000/kg dan Harga jual di pasar dari rp 15,000 sd 25,000/kg.






Bio Ethanol

Apabila air nira sudah menjadi Tuak asam tidak bisa di jadikan minuman maka ethanol nya dapat diambil dengan proses penyulingan yang sederhana seperti di Menado dgn drum bekas dan pipanya memakai bambu, system ini hanya bisa menaikkan kadar ethanol berkisar 20 sd 30%.

Dan dengan proses penyulingan dua tahap dengan harga penyulingan berkisar rp 35jt sudah bisa menaikkan kadar ethanol menjadi 99% dengan kapasitas 100 liter per hari untuk dijadikan pengganti bensin atau energy terbarukan.


Kesimpulan

1/. memberikan penghasilan tetap kepada Petani (income per hari), dan punya asset milyad rupiah.
2/. menghasilkan energy terbarukan (biothanol) pengganti Bensin.
3/. pohon konservasi. (penahan erosi tanah dan penahan air).

Kesimpulan Pohon Aren adalah pohon masa depan menghasilkan Makanan, Energy, Alat RT dan Air yang sangat dibutuhkan dimasa depan kita. Dan tanaman Aren sudah bisa dikembangkan secara masal dengan technik perkebunan Mono dan Agroforest.

Marilah kita jaga bumi kita ini dan sayangi dengan tanaman agar bisa menghasilkan income tetap yang akan mensejahterakan kita                                         


Hormat Saya

JOHAN BUKIT
UD Kelompok Tani Aren Indonesia

Sumber :  http://arenindonesia.blogspot.com/2013/04/aren-pohon-masa-depan.html

Karakteristik Tanaman Aren di Desa Ety Kecamatan Piru Kabupaten Seram Ambon

Karakteristik Tanaman Aren

BBPPTP Ambon
Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati, satu diantaranya adalah tanaamn aren (Arenga pinnata). Aren tumbuh liar dan subur di tengah pepohonan lain dan semak-semak, di dataran, lereng bukit, lembah, dan gunung hingga ketinggian 1.400 mdpl. 

Akar tanaman yang dapat mencapai kedalaman 6-8 meter ini dapat menahan erosi.  Aren termasuk jenis palma yang multifungsi, karena seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan. Buahnya dimanfaatkan sebagai kolang kaling, niranya dimanfaatkan sebagai minuman arak tradisional, dimasak menjadi gula merah, hasil fermentasi nira digunakan sebagai cuka, selain itu dapat dimanfaatkan sebagai sumber biofuel. Selain buah dan airnya serabut yang menempel di batang dimanfaatkan sebagai ijuk yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat sapu, Gula yang dihasilkan  dari tanaman aren dapat dipanen sepanjang tahun. 

Satu pohon aren mampu menghasilkan hingga 20 liter nira/hari, dalam satu hektar tanah dapat ditanami 75-100 pohon.  Karena tumbuh liar di hutan, tanaman aren tidak membutuhkan pemupukan dan tahan terhadap hama penyakit. Sampai dengan saat ini tanaman aren belum dibudidayakan secara luas oleh petani. 

Diperkirakan luas lahan potensial yang dapat digarap untuk lahan aren sekitar 65.000 hektar, tersebar di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur, sedangkan untuk wilayah Maluku belum terdata secara nasional. Penyebaran tanaman aren yang ada di Maluku hampir merata di semua kabupaten, namun jumlah luasan dan pengarapan potensi aren belum maksimal. 
Hanya beberapa daerah yang sudah memanfaatkan pohon aren ini untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagai penopang hasil kebutuhan ekonomi, salah satunya di Desa Ety, Kecamatan Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Sesuai dengan hasil wawancara dengan petani, tanaman aren di desa Ety mampu menghasilkan lebih dari 20 liter/hari, sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan.   Tanaman aren di Desa Ety merupakan tanaman aren asli setempat yang telah ada dan dibudidayakan secara turun temurun. Masyarakat menamakan tanaman aren ini dengan sebutan “Pohon Mayang“. Tanaman ini telah menjadi sumber pendapatan ekonomi petani di Desa Ety dan sekitarnya.

Pada umumnya tanaman aren di Desa Ety tumbuh liar di habitat aslinya di hutan karena tidak pernah dibudidaya. Hal ini menyebabkan pola tanam tidak teratur, tidak pernah dipupuk, dan tidak terserang hama penyakit tanaman. Dari hasil eksplorasi terdapat dua jenis tanaman yakni tanaman jantan dan betina. Pada umur 7 tahun, aren sudah berproduksi dan sudah dapat disadap airnya. Puncak produksi terbaik dari tanaman aren adalah ketika berumur 15-30 tahun, setiap pohon aren dapat menghasilkan 5-30 liter nira/hari, setiap hari  dilakukan dua kali penyadapan yaitu pagi dan sore hari, lamanya sadapan setiap tandan dapat mencapai 4-6 bulan apabila hasil produksi nira menunjukkan makin banyak.
Pada tanaman aren, bunga jantan dan bunga betina muncul pada masing-masing tandan dalam satu pohon yang sama, sehingga aren disebut tanaman berumah satu. Buah bentuk bulat atau lonjong, ujung ke dalam, diameter ± 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 39-42 tangkai, dan setiap tangkai memiliki ± 115 butir dan buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal. 

Tandan buah mula-mula tumbuh dari bagian atas pohon, kemudian makin ke bawah munculnya seiring dengan makin tua pohon aren tersebut, sampai akhirnya tempat pemunculannya hanya serendah 1 meter dari permukaan tanah, maka pohon aren tersebut tidak dapat disadap lagi. Diameter batang pohon aren berkisar antara 100-138 cm. Pelepah melebar dibagian pangkalnya, tetapi makin ke pucuk makin menyempit dan dapat mencapai panjang ± 11 meter dengan panjang daun bagian bawah  ± 158 cm, daun bagian tengah ± 171 cm dan daun bagian pucuk ± 77cm. Adapun tabel hasil pengamatan dari 10 pohon terhadap karakteristik pohon dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel  1.    Pengukuran karakteristik aren Dusun Mata Empat, Desa Ety, Kecamatan Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Pohon
Lingkar batang (cm)
Jumlah malai
Panjang malai (cm)
Jumlah daun/ malai
Jumlah tandan jantan
Panjang Daun (cm)
Lebar Daun (cm)
I
II
III
I
II
III
1
100
20
689
206
4
109
132
57
6
9
4
2
138
15
909
290
8
120
150
53
7
9
5
3
108
12
919
274
5
158
166
129
7
10,5
7
4
110
8
741
205
4
93
149
77
8,5
13
7
5
129
20
689
368
5
41
118
47
8
11
4
6
137
24
895
392
10
53
129
58
9
10
7,5
7
108
15
853
284
8
122
164
54
6
8
5
8
95
6
692
302
5
69
171
59
7
9
5
9
91
15
750
286
5
107
134
51
4
9
3
10
105
12
838
232
1
72
143
50
3
9
3
Rata2
112.1
14.7
797.5
283.9
5.5
94.4
145.6
63.5
6.55
9.75
5.05

Dari diatas dapat dilihat besar lingkar batang tidak berpengaruh terhadap jumlah maupun tingkat pertumbuhan tanaman aren. Tetapi jumlah produksi nira yang dihasilkan rata-rata memiliki produktifitas yang tinggi. Hal ini merupakan keunggulan dari tanaman aren ini, sehingga perlu dilakukan pengolahan yang lebih baik.

Tabel 2.     Jumlah pengambilan nira dalam satu hari
Pohon
Jumlah Nira Siang (ltr)
Jumlah Nira Malam (ltr)
Jumlah Nira Dalam Sehari Semalam
1
20
30
50
2
20
30
50
3
25
35
60
4
27
27
54
5
9
11
20
6
15
4
19
7
15
25
40
8
23
6
29
9
7
27
34
10
49
21
70
Jumlah (ltr) 10 Pohon
210
216
426
Rata-Rata (ltr)
21
21.6
42.6

Berdasarkan pada tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah produksi nira dalam sehari semalam dapat mencapai 426 liter untuk 10 tanaamn aren yang sudah berproduksi. Dengan rata-rata produksi per pohon menghasilkan 42.6 liter dalam sehari semalam. Hal ini merupakan potensi yang besar pada tanaman aren ini yang tepat untuk dimanfaatkan.
Berdasarkan informasi diatas, bahwa tanaman aren di Desa Ety ini mempunyai produktifitas yang cukup tinggi. Namun, pemanfaatan dari tanaman ini belum maksimal. Untuk itu perlu dikaji lebih dalam lagi tentang pemanfaatan tanaman aren ini, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dan untuk kedepannya budidaya aren ini dapat dilakukan lebih baik lagi.
           
Referensi
Anonim. 2012. http://kebunaren.blogspot.com/ Kebun Aren. Diakses pada tanggal 31 Januari 2014.
Anonim. 2011. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/ Diakses pada tanggal 5 Februari 2014.

oleh
Ahmad Ali Imron


Rabu, 28 Januari 2015

Aren punya pola hidup yang terpisah fase vegetstif dan generatifnya, sama dengan pisang habis vegetatif bsru generatif

Salah Paham tentang Tanaman Aren

Bang Pilot


Ada banyak orang yang jadi berminat membudidayakan tanaman aren (arenga pinnata merr) alias enau, setelah menelaah artikel yang membahasnya. Orang tertarik karena membaca tentang hasil besar yang akan didapat bila aren diusahakan secara intensif.

Sebenarnya, bukanlah bualan jika ada yang mengatakan bahwa tanaman aren akan menghasilkan uang empat sampai lima kali lebih banyak ketimbang tanaman kelapa sawit. Tetapi hendaklah disadari, bahwa akumulasi angka itu adalah untuk masa budidaya selama dua belas tahun.Jika untuk masa tujuh delapan tahun, maka kelapa sawitlah yang berjaya, karena pada saat itu masa produksi aren baru saja berawal.

Ada satu hal yang para peminat budidaya aren sering salah mengerti. Yakni tentang rentang masa produksi aren. Banyak orang yang tidak tahu, bahwa aren punya kelainan dalam siklus hidupnya.

Tanaman aren, varietas apa pun, mula-mula tumbuh vegetatif. Untuk varietas genjah, tinggi batangnya akan mencapai tinggi 7-12 meter dalam masa 6-7 tahun. Sedangkan aren varietas dalam akan mencapai tinggi 12-20 meter dalam waktu 8-9 tahun. Ada pun yang varietas tinggi bisa sampai setinggi 26 meter setelah berumur paling tidak 12 tahun.

Setelah tumbuh vegetatif atau tumbuh pohoh, maka aren memasuki fase tumbuh generatif. Tandan betina yang menjadi mayang pergantungan buah akan keluar dari celah pelepah daun. Tandan kedua keluar di bawah tandan pertama, begitu seterusnya. Jumlah tandan betina ini sekitar 4-6 tandan. Jumlah buahnya bisa ratusan ribu butir. Rata-rata satu butir berisi tiga biji. Biji yang masih muda bisa diolah menjadi kolang-kaling atau bargat. Satu pohon aren bisa menghasilkan kolang-kaling sebanyak 250 kg.

Beberapa orang penyadap aren di Bogor menyadap tandan betina ini untuk mendapatkan air niranya. Mereka mengatakan air niranya banyak dan rendemen gulanya baik. Tapi, umumnya penyadap di Sumatera tidak menyadap tandan betina ini. Alasan mereka beragam, mulai yang berbau mistis sampai yang bernada ‘green’. Tapi umumnya alasan mereka tak mau menyadap mayang aren yang keluar mula-mula adalah karena tandannya bertekstur pejal dan keras, sehingga sulit memukul dan menyadapnya.

Sebagai catatan, bila tandan betina disadap, maka kolang-kaling tak akan didapat, karena mayang buah dipotong saat buah masih sangat muda dan kecil.

Setelah habis keluar tandan betina, maka selanjutnya akan keluar tandan jantan. Mayangnya hanya berisi bunga, tidak menjadi buah lagi. Tekstur lengan tandan jantan ini memang lebih halus dan lunak dibanding mayang betina.

Begitu memasuki fase tumbuh generatif ini, tanaman aren tidak akan bertambah tinggi lagi. Daunnya pun tak akan bertambah meski sehelai saja. Pertumbuhan pohon berhenti total. Karena itu, jangan sembarangan memotong pelepah daun pohon aren. Daun yang sedikit akan menyebabkan nira yang diperoleh juga sedikit.

Nah, dari uraian di atas, diketahui bahwa tandan atau mayang aren keluarnya makin lama makin ke bawah, bukan ke atas. Setelah keluar tandan yang mendekati tanah, maka pohon aren akan otomatis mati.

Ini yang sering belum diketahui peminat aren. Hingga sering mereka meminta benih aren ateng, yakni aren yang tingginya hanya 4-6 meter. Nah, jika tinggi pohon hanya 6 meter, maka tandannya juga hanya sekitar 6-7 tandan. Niranya juga sedikit, karena batangnya yang berfungsi sebagai ‘tabung air’ juga kecil. Artinya, si aren ateng ini seumur hidupnya hanya akan menghasilkan sedikit uang.

Adapun aren genjah , termasuk jenis aren yang berpostur pendek, hanya sedikit lebih tinggi dari pada aren ateng. Karena itulah penulis sendiri memilih untuk menanam aren varietas dalam. Meski pun produksinya bermula setelah umur 8-9 tahun, tapi lamanya masa ia berproduksi cukup panjang, karena tandannya cukup banyak. Selain itu, niranya juga lebih banyak karena batangnya tinggi besar dan daunnya lebih banyak, sebab pelepah daunnya lebih panjang.

Menanam aren sebaiknya ditumpangsarikan dengan tanaman lain, semisal sengon. Karakter pohon sengon yang berdaun kecil dan jarang, akan memberi kesempatan pohon aren untuk juga menikmati sinar matahari. Jarak tanam yang bisa diterapkan untuk aren adalah 5x8 meter. Otomatis jarak tanam sengon juga demikian. Sengon sudah bisa dipanen tebang pada umur 8 tahun, saat aren akan mulai berproduksi.

Selain sengon, aren tentu saja bisa ditumpangsarikan dengan palawija, kopi, cengkeh, nilam, kakao dan lainnya.

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/654405/1/salah-paham-tentang-tanaman-aren.html

Membayar hutang negara dengan Aren 4 juta hektar

Aren dan Cita-cita Luhur Prabowo Subianto

Bang Pilot


Kompasianer Bang Pilot pernah menurunkan sebuah artikel di Kompasiana yang bertitel Cara Mudah Membayar Hutang Luar Negeri Indonesia . Kesimpulan dari artikel itu adalah bahwa semua hutang luar negeri Pemerintah Indonesia akan bisa dibayar lunas dalam waktu lima belas tahun, dengan cara menanam satu juta hektar pohon aren.

Di lain pihak, ternyata seorang Prabowo Subianto sudah terlebih dahulu mencetuskan ide brilyan itu. Prabowo bahkan lebih kolosal. Ia mencanangkan rencana penanaman empat juta hektar pohon aren di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi.

Bila hal itu dapat diwujudkan, maka setidaknya akan ada empat masalah mendasar bangsa yang menemukan solusinya.

1.Hutang luar negeri Pemerintah RI akan dapat dilunasi, sehingga bangsa kita dapat mengembalikan harkat, martabat dan marwahnya di pergaulan dunia antara bangsa. Indonesia akan menjadi satu dari sedikit bangsa yang tidak memiliki hutang luar negeri. Kemudian terciptalah sebuah keekonomian bangsa yang mandiri, berdaulat dan kokoh sentausa.

2.Semua TKI yang bekerja di sektor informal di luar negeri dapat dipanggil pulang ke tanah air dan dipekerjakan dengan upah yang layak di perkebunan aren itu. Demikian juga halnya dengan para buruh urban serta petani gurem yang mau merubah nasib, dapat bergabung, menjadi pekerja di BUMN PT.Aren Sejahtera, Tbk. Mereka menjadi buruh di sana, sekaligus menjadi pemilik 20 pohon aren yang tumbuh di halaman rumah mereka masing-masing. 20 pohon aren itu pada saat berproduksi akan menghasilkan uang 20 x 50% x 15 liter nira x Rp.2.000 = Rp.300.000/hari, selama minimal 4 tahun. Buruh migran mana yang tak mau punya penghasilan sampingan 9 juta rupiah setiap bulannya?

3.Empat juta hektar kebun aren akan menghasilkan bio ethanol fuel grade sebanyak :
4.000.000 hektar x 285 pohon perhektar x 50% kegagalan dan masa tenggang x 15 liter nira x 6,666% rendemen bio ethanol fuel grade = 570.000.000 liter bio ethanol 99,6% (fuel grade) per hari. Bahan bakar sebanyak itu tentu akan sangat membantu penyediaan konsumsi BBM di Indonesia yang mencapai angka 1.400.000.000 liter perhari.

Jika uang yang biasanya terpakai untuk mengimpor BBM bisa dihemat, maka dananya tentu bisa dialihkan untuk membayar hutang luar negeri pemerintah kita, yang jumlahnya setiap tahun makin membengkak.

4.Aren memiliki akar serabut halus yang banyak dan menyebar luas. Hal ini membuat tanaman aren menjadi salah satu tumbuhan yang sangat baik untuk menjadi media penyimpan air. Di Jawa Timur, penduduk menanam aren dengan sistim hutan aren, yakni berjarak tanam 5x5 meter. Empat tahun kemudian, di tanah yang biasanya kering dan tandus itu, timbul mata air. Selain itu, akar aren juga merupakan media yang sangat bagus untuk membantu mempertahankan tanah kritis dari pengikisan oleh air hujan. Karena itu, aren sangat tepat untuk ditanam pada daerah yang kering dan kritis.

Aren juga sangat tepat ditanam pada lokasi bekas hutan yang sudah rusak akibat penebangan liar, atau bekas lahan HPH yang tidak direboisasi oleh pengusaha jahat.

Sungguh, tidak salah jika dahulu Sunan Kalijaga mengisyaratkan bahwa tanaman aren adalah sebagai tanaman yang berbuah emas. Tinggal bagaimana petani kita merubah pola pikir, agar mau mulai menanam aren sebagai investasi masa depan.

Sebagai petani kecil, tentu sulit untuk memproduksi bio ethanol, karena mahalnya alat penyulingannya. Namun karena satu pohon aren dapat menghasilkan satu kilogram gula aren setiap hari sadapnya, maka petani tinggal menghitung berapa pohon yang ia miliki dan berapa harga gula aren di pasaran di daerahnya. Dan membuat gula aren adalah sangat mudah, semudah memasak tumis kangkung....

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/660893/1/aren-dan-cita-cita-luhur-prabowo-subianto.html

Produk Nira Aren di Kabupaten Batubara untuk Gula dan Minuman Tradisional

Cara Mengoplos Minuman Tuak ala Sontoloyo

Oleh : Bang Pilot

Diketahui bahwa hasil sadapan satu pohon aren yang dibudidayakan secara intensif akan menghasilkan rerata 10 liter nira perharinya.

Jika dijual langsung dalam bentuk nira segar atau pun dalam bentuk minuman beralkohol tuak, maka akan di dapat uang 10 x 5.000 = Rp.50.000.-

Sedangkan bila nira itu diolah menjadi gula aren,maka akan didapat gula aren seberat 1,3 kg. Di pasaran lokal kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, harganya adalah 1,3 x 25.000 = 32.500 Rupiah.

Nilai jual akan bertambah sedikit jika nira aren 10 liter itu diolah menjadi gula semut, karena harga gula semut sedikit di atas gula aren. Kesulitannya adalah, konsumsi gula semut kebanyakan adalah untuk pasaran ekspor.

Petani mau jadi pengekspor gula semut? Siapkan uang setengah goni untuk mengurus izin dan segala sesuatunya.

Bagaimana jika diolah menjadi bio ethanol atau pun methanol fuel grade?

Satu liter bio ethanol atau methanol didapat dari mengolah 10 liter nira aren. Jika diasumsikan untuk bahan bakar, maka paling tinggi harga jualnya adalah setara dengan Pertamax Plus, yakni sekitar Rp.9.300/liter.

Dari perbandingan di atas, tanpa perlu lagi menghitung biaya operasional, maka diketahui adalah nyaris tidak mungkin bagi petani Indonesia untuk bermimpi mengolah nira arennya menjadi bio ethanol atau pun menjadi methanol. Selain harga destilatornya yang relatif mahal, harga jual produknya pun adalah yang paling murah.



Harga bio ethanol atau methanol sebagai bahan bakar hanya akan ada harapan membaik ketika bahan bakar fosil sudah tiada. Dan itu masih sekitar 25-35 tahun lagi.
Karena itulah, sebagian besar petani penyadap aren kita saat ini masih bergumul dengan tungku masak gula aren.

“Biarpun hasilnya lebih sedikit dibandingkan dengan membuat tuak, yang penting halal.” Setidaknya demikianlah yang dikatakan oleh Pak Bahtiar Sinaga, saat penulis temani memasak nira aren hasil sadapannya.

Hari itu Pak Bahtiar memasak 35 liter nira hasil sadapan dari 5 pohon aren miliknya. Ketika proses memasak selesai dan hasilnya ditimbang, didapat 5,1 kg gula aren asli kwalitas terbaik.Dari menjual 5 kilogram gula aren itulah Pak Bahtiar menghidupi istri dan anak-anaknya.

Aren di daerah kami memang terkenal tinggi rendemennya. Tetapi air niranya cenderung sedikit. Itu bagus, karena tak membutuhkan terlalu banyak bahan bakar untuk mengolah niranya menjadi gula aren.

Beda halnya dengan pembuat tuak. Karena niranya sedikit itu, biasanya mereka mencampur tuak yang sudah jadi dengan air leri atau air cucian beras. Lalu ditambah tepung bir. Ada juga yang menambahkan sedikit alkohol 70% pharmacy grade.


Biasalah, tuak oplosan, ciri keserakahan kita.

Eits, nanti dulu! Penulis pernah memergoki seorang agen pengecer tuak yang sengaja mencampur tuak jualannya dengan air sungai yang sedang banjir dan keruh. Bapak gendut itu menciduk air sungai dengan sebuah tempurung kelapa, lalu menuangkannya ke dalam jerigen yang berisi tuak. Dan, terciptalah suatu tuak oplosan super gawat made in sontoloyo.

Pantas saja banyak peminum tuak yang tidak mabuk, tapi malah sakit perut.

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/719798/1/cara-mengoplos-minuman-tuak-ala-sontoloyo.html