Rabu, 28 Oktober 2009

Kisah Petani Aren dari Ciamis Jawa Barat


Orang Kuta Bersanding Adat, Merangkul Alam

(Liputan6.com, Ciamis)

Keseimbangan antara manusia dan alam kerap tercermin dalam adat istiadat Bangsa Timur. Sayangnya, saat ini, tak banyak masyarakat di Tanah Air yang menjaga nilai-nilai harmonisasi kehidupan tadi. Banyak hutan belantara yang diterjang keserakahan manusia dengan alasan klasik: demi kelangsungan ekonomi. Ironis memang. Nah, kehidupan warga Kampung Kuta, Ciamis, Jawa Barat, dapat menjadi sebuah contoh kecil. Betapa tidak, mereka umumnya masih mempertahankan "adat karuhun" untuk melestarikan alam sekitar. Makanya tak heran, wilayah yang berlokasi di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, atau sekitar 45 kilometer dari Ciamis ini mendapat anugerah Kalpataru dari pemerintah, awal Juni silam. Anugerah itu diberikan atas jasa warga Kuta yang memelihara hutan lindung seluas 40 hektare.

Bila mengunjungi wilayah tersebut, sepintas tak ada yang istimewa dari Kampung Kuta. Dan seperti halnya kampung lainnya, suasana pagi di Kampung Kuta juga semarak dengan berbagai aktivitas penduduk. Sebagian warga ada yang hendak menuju Pasar Rancah, sebuah pasar kecil dekat wilayah mereka. Untuk itulah, mereka menumpang sebuah truk kecil yang merupakan satu-satunya sarana transportasi ke dunia luar. Setelah menempuh jarak sekitar 15 kilometer, mereka sampai di Pasar Rancah. Pusat perdagangan ini memang bagaikan urat nadi kehidupan sejumlah desa di Ciamis. Di sinilah, setiap Rabu dan Sabtu, mereka menyalurkan berbagai hasil bumi. Sejumlah hasil industri rumah tangga pun diperjualbelikan. Dari hasil jual beli itulah mereka berharap memperoleh sejumlah uang demi kebutuhan keluarga masing-masing.

Tak terkecuali bagi orang Kuta. Para pedagang asal Kampung Kuta memang terkenal dengan produksi gula aren. Komoditi inilah yang menjadi andalan perekonomian mereka sejak bertahun-tahun silam. Bagi orang Kuta, menyadap aren telah menjadi satu di antara pekerjaan turun-temurun yang masih dipertahankan hingga kini. Bahkan, untuk menjaga kelangsungan profesi ini, mereka memberlakukan larangan menebang pohon aren yang tumbuh di atas tanah kampungnya. Alhasil, jumlah pohon aren terus berlipat ganda. Bukan sulap bukanlah sihir, seribu pohon yang tumbuh beberapa tahun silam, kini bertambah tiga kali lipat. Bisa dikatakan, ini bukan pekerjaan yang mudah di zaman sekarang.

Kendati demikian, penduduk kampung tetap mengatur penyadapan pohon aren dengan tertib. Buktinya, seribu pohon yang kini telah berproduksi atau menghasilkan cairan nira pun dibagi merata kepada sekitar 400 orang. Rincinya, masing-masing kepala keluarga memperoleh bagian rata-rata sebanyak tujuh tangkal pohon aren. Sementara sebagian tajuk aren, dibiarkan di tempatnya untuk kelak dijadikan kolang-kaling. Sedangkan tajuk yang ditebang untuk menghasilkan cairan nira dipasangi tabung-tabung bambu. Bersamaan saat penyadap mengambil nira, tabung-tabung itu pun sekaligus diganti selang dua kali sehari.

Setiap kepala keluarga di Kampung Kuta, minimal memperoleh 2,5 kilogram gula aren per hari. Kemudian sang istri memasak aren tersebut. Setelah itu, suami dan istri biasanya bahu-membahu membungkusnya dengan daun aren kering menjadi bonjor-bonjor yang dilepas seharga Rp 6.000 per satuan. Bonjor-bonjor ini juga kerap dijual kepada sesama warga. Ini dilakukan bila si pembuat gula aren tak mampu menyalurkannya sendiri ke pasar. Tapi, dengan cara inilah mereka menunjukkan ikatan yang kuat satu sama lain dalam upaya mempertahankan hidup dan menjaga tradisi.

Selain produksi gula aren, Kampung Kuta juga terkenal dengan keteguhan penduduknya dalam mempertahankan nilai-nilai yang mereka warisi dari para leluhur. Berdasarkan kisah yang hidup di masyarakat setempat, di Kuta dulu sempat akan didirikan pusat Kerajaan Galuh. Buktinya, terdapat deposit sejumlah material yang memungkinkan untuk kegiatan pembangunan. Antara lain, adanya semen merah dari tanah di Gunung Semen. Serta hamparan kapur seluas 0,25 hektare dan batu soko di Gunung Gede atau Leuweung Ageung.

Konon, Raja Galuh yang mempunyai gagasan membangun pusat kerajaan di Kuta diyakini warga adalah Prabu Ajar Sukaresi. Setelah sang raja berkeliling Kuta, ternyata ia membatalkan rencana tersebut. Alasannya, daerah itu ternyata dikelilingi tebing-tebing. Raja pun berpendapat, pusat pemerintahan tak mungkin akan berkembang bila dikelilingi tebing. Itulah sebabnya, daerah berlembah yang dikelilingi bukit ini sekarang dinamakan Kuta--sesuai bahasa keseharian di Tatar Sunda. Akhirnya, Prabu Ajar Sukaresi memutuskan Karangkamulyan sebagai gantinya. Buktinya, di sana ditemukan situs yang kini menjadi objek wisata sekaligus daerah singgah.

Setelah rencana pembangunan Kuta batal, datang utusan Kerajaan Cirebon, bernama Raksabumi. Versi lain menyebutkan, kehadiran Raksabumi di sana diutus Raja Galuh untuk memelihara atau menjaga barang peninggalan Sang Raja. Tak lama kemudian, datang lagi utusan bernama Batasela, yang kabarnya keturunan dari Solo, Jawa Tengah.

Sedangkan Raksabumi atau Aki Bumi setiba di daerah Kuta, membangun permukiman di sekitar rawa. Lantaran jiwa kepemimpinannya yang tinggi, Aki Bumi akhirnya ditetapkan sebagai pemimpin atau penjaga Kuta hingga akhir hayatnya. Warga menyebutnya sebagai kuncen Kuta pertama. Kuncen berikutnya, Aki Danu, Aki Maena, Aki Surabangsa, Aki Rasipan dan Aki Maryno--kuncen saat ini. Sebelum meninggal dan dimakamkan di Cibodas, Aki Bumi telah membangun Kuta. Makanya, hingga kini, warga Kuta sebagai keturunan Aki Bumi yang meninggal tak ada yang dimakamkan di Kuta. Kesemuanya dimakamkan di Cibodas.

Seperti telah diceritakan, tugas Aki Bumi ke Kuta untuk menjaga bekas peninggalan Prabu Ajar Sukaresi. Peninggalan itu, kabarnya berupa sejumlah punduk domas atau tempat pandai besi membuat senjata dan peralatan pembangunan. Juga tempat menyepuh peralatan perang agar memiliki kesaktian. Tempat-tempat itu bernama Gunung Apu, Gunung Semen, dan Gunung Barang. Sejumlah lokasi tersebut diyakini sebagai persiapan pembangunan kerajaan. Dan semua peninggalan tadi, hingga saat ini, juga diyakini warga Kuta berada di dalam hutan tersebut. Karena itu, mereka hingga sekarang tetap mempertahankan hutan. Tak ada yang berani menebang pohon, bahkan mengambil ranting sekalipun.

Kisah tersebut dibenarkan Ketua Adat Warga Kuta Karman. Menurut Karman, leluhurnya memberi sebuah wasiat. Bunyinya, jika hutan itu dirusak, warga akan mengalami kesulitan air. Selain itu, bencana alam berupa tanah longsor akan menimpa perkampungan Kuta. Karman menuturkan, Aki Bumi juga menciptakan aturan-aturan yang kini diwarisi penduduk Kampung Kuta. Satu di antaranya adalah aturan bentuk rumah tinggal yang dihuni para warga. Wasiat itu mengharuskan orang Kuta harus tinggal dalam sebuah rumah panggung persegi yang terbuat dari kayu dan beratapkan sirap.

Selain itu, Karman menambahkan, orang Kuta juga diwajibkan memasak dengan menggunakan tungku. Sedangkan rumah warga Kuta umumnya hanya memiliki dua kamar. Sebab, mereka biasanya adalah sebuah keluarga batih atau kecil. Namun, kekeluargaan yang erat di antara sesama penduduk kampung menyebabkan warga cenderung membuat ukuran ruang tamu agak besar. Ini untuk menampung para tetangga yang acapkali datang berkunjung.

Meski pesan-pesan leluhur berusaha dijaga teguh, penduduk Kampung Kuta tetap terbuka pada perubahan dunia. Buktinya, bentuk pintu geser pada rumah asli kini telah berganti. Demikian pula dengan jendela rumah yang diganti kaca. Bahkan, peralatan elektronik bukan lagi sesuatu yang tabu. Bagi orang Kuta, perubahan adalah hal biasa, asalkan aturan utama tak dilanggar. Seperti mengubah pola dasar rumah atau cara memasak dengan tungku. Soalnya, mereka percaya bila aturan utama dilanggar, Aki Bumi tak segan-segan langsung menegur. Caranya, dengan membidikkan bala bagi si pendosa.

Sedangkan pantangan utama dari Aki Bumi adalah mengusik kawasan Leuweung Gede, hutan keramat tempat ia bersemedi. Makanya tak heran, jika sejak dahulu kawasan seluas 40 hektare ini tak pernah berubah. Di hutan larangan inilah, Karman sebagai Ketua Adat Kampung Kuta yang dipilih warga datang berziarah. Seperti halnya warga lain, Karman selalu datang memohon restu dari sang leluhur bilamana bermaksud melangsungkan sesuatu. Dan ziarah ini hanya bisa dilakukan setiap Senin dan Jumat. Tentunya dengan diawasi Sang Kuncen, keturunan langsung dari Aki Bumi yang hingga kini tetap menjaga kawasan Leuweung Gede.

Sang Kuncen-lah yang menjadi perantara dialog antara peziarah dan arwah leluhur. Biasanya, dia membakar dupa berupa kemenyan bercampur minyak wangi. Di tengah kepulan dupa tersebut, Sang Kuncen akan turut memintakan restu bagi Karman. Sebab, Ketua Adat Kampung Kuta ini bermaksud membongkar rumah lama dan membangun kembali sebuah rumah baru dengan pola dasar yang sama.

Sebagai syarat memperoleh restu, Karman harus pula membasuh wajahnya di kawah. Ini adalah sebuah mata air di tengah hutan yang dipercaya mampu membuat awet muda. Dia pun harus mencampur air kawah dengan air Sungai Ciasih yang dahulu tempat Aki Bumi mandi saat bersemedi. Kelak, campuran ini harus diberikan kepada seluruh anggota keluarganya. Karman sendiri sangat bersyukur atas aturan-aturan yang diwariskan Sang Leluhur yang dirasakan sangat mempermudah hidupnya. Contohnya, aturan untuk menjaga kekeluargaan antarpenduduk dan gotong royong. Berkat aturan inilah, Karman tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membangun rumah barunya.

Semangat kekeluargaan orang Kuta memang menjadi modal utama mereka. Terutama saling menutupi kesenjangan antarwarga. Bahkan, mereka secara teratur menyumbangkan sebagian padi hasil panen. Dan dibagikan secara bergiliran setiap bulan. Dengan semangat ini pula, pasangan pengantin baru, Yoyoh dan Rustomo, merasakan berkah yang sama dengan Karman. Buktinya, para penduduk dengan sukarela membantu membangun blandongan atau panggung kayu tempat acara tabuhan yang memeriahkan hajat mereka. Tabuhan adalah acara musik dari tumbukan lesung dan alu yang diselenggarakan sebagai tanda syukur atas pernikahan mereka.

Dan saat fajar belum menyinari bumi, penduduk Kampung Kuta telah memenuhi rumah pasangan Yoyoh dan Rustomo dengan semangat untuk membantu. Ini adalah sesuatu hal yang kini sudah semakin jarang ditemui di tempat lain. Para pemain tabuhan pun begitu bersemangat menghentakkan alunya di dalam lesung meski kantuk masih dirasakan. Sesuatu semangat kemanusiaan yang begitu murni layaknya sinar mentari yang mulai menghangati bumi. Sehangat semangat orang Kuta memegang teguh adat warisan leluhur untuk melestarikan alam.(ANS/TIm Potret)

Sumber : http://berita.liputan6.com/progsus/200207/38263/class='vidico'

Laporan dari Daerah Pulau Bawean

Produk Unggulan Pulau Bawean :
Gula Merah atau Gula Aren

(Media Bawean, 17 Mei 2009)


Warga Balikterus Menunjukkan Gula Merah


Seorang Ibu Di Balikterus Mencetak Gula Merah

Warga Datang Mencari La'ang Buat Bahan Gula Merah

Dapur Pembuatan Gula Merah

Pulau Bawean mempunyai produk unggulan yang sudah turun temurun dari nenek moyang, yaitu gula merah atau lebih dikenal gula aren. Bahan baku untuk pembuatan gula merah berasal dari air la'ang dari pohon aren yang dimasak, kemudian dicetak dan dibungkus dengan daun pisang. Kemasannya sangat sederhana, terkesan tradisonal tanpa merk, tetapi pemasarannya sudah sampai ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapore.

Harganya mengikuti banyak tidaknya bahan dasar la'ang yang didapat warga, satu bungkus Rp.3.000 sampai Rp.6.000. Umumnya pembuat gula merah adalah orang Bawean bagian pedalaman seperti di Balikbak, Sungaiterus, Kepongan, Gandariyah dan lain-lain. (bst)

Sumber : http://www.bawean.net/2009/05/produk-unggulan-pulau-bawean-3-gula.html

Pengembangan Perkebunan Aren di Provinsi Sumatera Selatan

Pengembangan Perkebunan Aren di Provinsi Sumatera Selatan

Musi Rawas Sentra Produksi Gula Aren



Bupati Musi Rawas H Ridwan Mukti beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa daerah yang dipimpinnya saat ini sudah sejak lama terkenal dengan Gula Aren yang memiliki kualitas yang sangat baik bahkan ada sebagian diekspor keluar negeri. Untuk lebih meningkatakan produktifitas gula aren ini, Bupati telah memplotkan daerah di kabupaten yang memiliki potensi pengembangan kelapa aren. Menyambut rencana Bupati Mura ini, Dinas Perkebunan Kabupaten Musi Rawas pada tahun 2009 mendatang akan menyalurkan bibit aren unggulan ke kecamatan Karang Jaya, Rawas Ulu dan Ulu Rawas.

Bupati Musi Rawas H Ridwan Mukti

Wakil Bupati Musi Rawas Hj Ratnawati Ibnu Amin


”tiga kecamatan yang akan disalurkan bibit aren ini akan dijadikan daerah penghasil gula aren terbesar di Kabupaten Musi Rawas bahkan di Sumatera Selatan.”Ungkap Kepala Dinas Perkebunan Ir Jauhari Aswan Den melalui Kepala Bidang Program Disbun Mura Eman Suharman SP

Untuk menumbuh kembangkan tanaman aren ini telah dilakukan sejak tahun anggaran 2007 dan 2008 yang sebelumnya dikelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten Musi Rawas untuk kecamatan Selangit, STL Ulu Terawas, Karang Jaya, Rawas Ulu dan Ulu Rawas.

Alasan beberapa kecamatan ini menjadi focus pengembangnan tanaman aren, Eman mengatakan selain daerah tersebut memenuhi syarat untuk ditanami gula aren juga Bupati Mura telah menfokuskan daerah tersebut sebagai Lumbung Gula Aren.”rencananya bantuan bibit aren tersebut akan disalurkan dalam bentuk bantuan kepada masyarakat dan arahan dinas perkbunan untuk penanaman bibit aren tersebut dengan menggunakan pola agroporestry.”Ujar Eman.

Sumber : http://musi-rawas.go.id/musirawas/content/view/71479/36/

Kisah Petani Aren Kalimantan Selatan

Profil Pengrajin Gula Aren Desa Matang Hanau

Oleh : LPB Adaro Pama (24 Oktober 2008)


Desa Matang Hanau tampak tenteram pagi itu. Sesekali bunyi hewan ternak meningkahi tawa sejumlah anak kecil yang tengah asik bermain di beranda rumah. Di belakang rumah, sang ibu sibuk mengaduk adonan di atas wajan yang sedang mengepul. Selang beberapa waktu datanglah seorang bapak dengan membawa 2 buah jerigen yang berisi air nira dari pohon aren, kehadirannya disambut dengan derai tawa sang anak dan senyum manis sang istri.
Setelah menyerahkan air nira kepada sang istri, bapak ini menawarkan segelas air nira yang baru saja di sadap tadi, menurutnya rasanya agak sedikit asam namun baik untuk kesegaran tubuh, selain itu beliau juga menyuguhkan gula aren yang sudah dipotong kecil-kecil untuk dicicipi. Dikampung ini menyuguhkan air nira dan gula aren memang lazim dihidangkan pada tetamu seperti layaknya menghidangkan segelas teh dan biskuit saja.

Umai, ulun lah pa nang ditakuni masalah gula aren neh. Banyak aja lagi nang lain pa ai, nang labih bapangalaman dari ulun. (Waduh, saya ya pak yang ditanyai masalah gula aren ini. Masih banyak yang lain pak, yang lebih berpengalaman dari saya). Itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulut Bapak Abdul Hakim, saat dia tahu bahwa dirinya akan ditanya mengenai perkembangan kerajinan Gula Aren di desa Matang Hanau, sungguh suatu sikap rendah hati yang selalu diperlihatkan oleh Bapak ini.
Bapak Abdul Hakim ini dilahirkan di Desa Matang Hanau Kecamatan Lampihong, Kabupaten Balangan pada tanggal 12 Januari 1978 adalah merupakan seorang sosok generasi muda yang patut kita teladani.

Sejak tahun 2000 – Sekarang beliau dipercaya oleh masyarakat di desa Matang Hanau untuk menjabat sebagai Kepala Desa. Untuk menjaga kepercayaan yang diberikan kepada beliau, Bapak dari empat orang anak ini mencoba untuk memberikan masukan kepada desa Matang Hanau agar desa tersebut dapat berkembang dan tidak tertinggal dari desa lain. Adapun beberapa kontribusi yang telah dilakukan beliau adalah seperti memprakarsai pembuatan jalan PPK pada tahun 2000, bekerjasama dengan Pemerintah Daerah tentang pengadaan air bersih dan yang terakhir adalah membantu program Pemerintah untuk pelaksanaan program transmigrasi di desa Matang Hanau pada tahun 2008 ini.
Selain menjabat sebagai seorang kepala desa, suami dari Ibu Anida ini juga berprofesi sebagai pengrajin gula aren, profesi pengrajin gula aren ini adalah pekerjaan yang sudah turun temurun. Menurut pengakuan Bapak Abdul Hakim, beliau mengaku miris melihat keadaan pengrajin gula aren sekarang yang tidak bisa berkembang dengan baik seiring dengan perkembangan desa yang dipimpinnya.

Beliau sadar bahwa untuk dapat mencapai sebuah kesuksesan maka ilmu dan teknologi adalah hal mutlak dalam berusaha, hal inilah yang membuatnya bersemangat mengikuti kegiatan maupun pelatihan baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun dari lembaga swasta. Selain menambah pengetahuan, beliau juga melakukan inovasi produksi dengan memperkenalkan produk gula aren yang diolah dalam bentuk yang lebih kecil dari ukuran biasanya, namun inovasi bentuk gula aren dari bapak ini belum begitu dikenal oleh masyarakat hal ini disebabkan oleh kurangnya promosi.
Sudah banyak pelatihan yang beliau ikuti, baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah maupun dari lembaga swasta untuk meningkatkan kualitas SDM pengrajin gula aren untuk mengembangkan kerajinan gula aren ini. Pelatihan yang pernah beliau ikuti yang diselenggarakan oleh Pemda setempat adalah Pelatihan Proses Pembuatan Gula Semut, sedangkan pelatihan yang pernah beliau ikuti beserta anggota kelompoknya yang dilaksanakan oleh LPB Adaro-Pama adalah Pelatihan Dinamika Kelompok, Pelatihan Mentalitas Dasar, dan Pelatihan Kewirausahaan. Sedangkan kegiatan terakhir yang beliau ikuti adalah mengikuti pameran SME’CO Festival Produk Unggulan KUKM Nusantara, yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2008 di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta.

Ketekunan dan kerjakeras beliau ternyata membuahkan hasil, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat yang dipimpinnya. Contoh nyata yang dapat kita lihat adalah sudah berdirinya sebuah tempat percontohan pembuatan gula aren yang higeinis dan aman dari bahaya kecelakaan kerja di desa Matang Hanau yang dibangun oleh Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Adaro-Pama untuk digunakan oleh kelompok gula aren yang ada di desa tersebut. Selain itu, pemasaran gula aren juga sudah mulai membaik, dimana kelompok pengrajin gula aren sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan biskuit dalam pengadaan bahan mentah biskuit dari gula aren.

Satu hal yang menjadi catatan penting bagi kita semua dan patut kita dukung adalah keinginan mulia dari Bapak Abdul Hakim ini, beliau ingin menjadikan Desa Matang Hanau menjadi sebuah Desa penghasil Gula Aren terbesar di Kalimantan Selatan, serta menjadikannya sebagai komoditas unggulan di Kabupaten Balangan. Akhirnya, semoga apa yang menjadi cita-cita beliau dapat menjadi sebuah kenyataan nantinya. Amien. (OD)

Sumber : http://www.lpb-adaropama.org/umumDetail.asp?sNewsUmumId=15

Kisah Petani Aren di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST)

Manisnya Usaha Gula Aren


Disamping bertani sebagai mata pencaharian utama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat Desa Jatuh Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) juga membuat gula merah sebagai usaha sampingan. Pembuatan gula merah di desa tersebut merupakan pekerjaan turun temurun.

Sebelum jadi gula aren, pengrajin terlebih dulu pengambilan air nira yang dihasilkan dari pohon enau yang ditampung dalam sebuah bambu yang ruasannya sudah diberi lobang. Setelah enam jam baru dimasukan dalam wajen besar dan dibawah tungku api yang besar menyala sehingga air nira cepat panas dan mengental, dengan campuran kapur dan batang pohon nangka atau laru yang sudah dikecilkan.

Kapur dan laru berfungsi agar gula merah yang dihasilkan nanti tidak berasa asam atau kecut. Tujuh jam kemudian barulah air nira dapat dimasukkan dalam cetakan untuk didinginkan. Salah satu pengrajin, Hakim (40), mempunyai tujuh pohon enau (aren). Dia menekuni pekerjaan ini hampir 20 tahun.



Alhamdulillah dapat menyekolahkan anak sampai ketingkat atas. Dalam sehari laki-laki setengah baya ini bisa menghasilkan sampai 7 kg gula aren siap dan dijual per kilonya Rp 9.000. Dengan harga tersebut setahunnya hakim bisa menghasilkan 3-5 juta rupiah setelah dipotong ongkos produksi. Untuk pemasaran tidak begitu sulit karena para pengumpul atau tengkulak datang dan langsung membeli gula merah yang mereka produksi. Kendala yang mereka hadapi hanyalah pada saat musim hujan. Dimana saat itu, pohon nira hanya menghasilkan sedikit air nira atau yang biasa disebut laang.

Sumber : http://www.hulusungaitengahkab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=439&Itemid=2

Kamis, 22 Oktober 2009

Tanaman aren, sumber emas warisan Sunan Bonang







Tanaman aren, sumber emas warisan Sunan Bonang

Oleh Mulia Ginting Munthe & Moh. Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia

Aren sesungguhnya bukan tanaman yang asing bagi masyarakat Indonesia. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa Arenga pinnata ini memiliki potensi besar sebagai pohon yang menyejahterakan?

Potensi tanaman aren tampaknya belum disadari. Di kampung-kampung, Aren umumnya tumbuh alami, bukan dibudidayakan. Pemanfaatan pohon ini terbatas pada ijuknya, atau kolang-kaling buahnya.

Pada masyarakat yang lebih maju, pohon ini diambil niranya sebagai bahan gula merah, gula semut, atau tuak minuman. Nira juga bisa diolah lebih menjadi etanol dan bahan energi alternatif pada masa depan.

Aren dapat tumbuh pada tanah liat, berlumur dan berpasir, tetapi tidak tahan pada tanah berkadar asam tinggi. Aren dapat tumbuh pada ketinggian 9 - 1.400 meter di atas permukaan laut (dpl). Namun yang paling baik pertumbuhannya pada ketinggian 500 - 800 meter dpl dengan curah hujan lebih dari 1.200 mm setahun atau pada iklim sedang dan basah.

Ada dua kategori tanaman aren, yaitu Aren Genjah (pohon kecil dan pendek dengan produksi nira 10 -15 liter per tandan per hari), dan Aren Dalam (pohon besar dan tinggi dengan produksi nira 20 - 30 liter/ tandan/hari). Untuk pohon induk dianjurkan adalah aksesi Dalam.

Lahan 1 hektare dapat ditanam 200 pohon yang bisa disadap mulai tahun keenam. Katakan yang berproduksi 100 pohon, dan satu pohon meneteskan minimal 15 liter nira maka dihasilkan 1.500 liter nira per hari atau senilai Rp3 juta. Begitu seterusnya sampai masa produksi aren hingga usia 20 tahun.

"Aren sangat menjanjikan untuk menciptakan kesejahteraan rakyat," kata Syaefurrahman Al-Banjari, Ketua Umum Komunitas Masyarakat Desa Mandiri (KMDM) lembaga swadaya masyarakat penggiat budi daya aren di Banjarnegara, Purbalingga, dan Kebumen.

Al-Banjari menyarankan untuk memulai investasi tanpa harus dengan lahan luas. Katakanlah dengan 20 pohon. Pada tahun keenam, setiap hari akan dihasilkan 150 liter nira. Apabila harga nira Rp2.000 per liter, pendapatannya Rp300.000 per hari.

Nira itu juga bisa diolah lagi menjadi 39 kg gula. Apabila gula dihargai 8.000 per kg, diperoleh Rp312.000 per hari. Ini penghasilan per hari dari 10 pohon aren!

Sonik Jatmiko, pemerhati agribisnis dari Purwokerto, menilai program jangka panjang agribisnis yang sering ditinggalkan pengurusnya tidak akan terjadi pada aren, karena ide dasarnya dari masyarakat.

Mereka menanam untuk anak cucu, kalaupun tidak ada pabrik gula atau bioetanol, mereka masih dapat membuat gula aren. Selain itu, aren bisa diambil kolang-kalingnya, ijuknya bisa untuk atap rumah, dan batangnya menjadi sumber tepung.

Nilai ekonomi

Indrawanto, CV Diva Maju Bersama-produsen gula aren organik di Tangerang, Banten, mengemukakan yang lebih memiliki nilai ekonomis dari aren adalah niranya.

Apalagi jika harga jualnya mencapai Rp2.000 liter per hari. Dengan rata-rata produksi 15 liter per hari per pohon maka nilai jualnya Rp40.000. Jika petani memiliki 20 pohon omzetnya menjadi Rp80.000 per hari.

"Sayangnya daya tahan nira hanya sekitar 5 jam, setelah itu akan terjadi proses fermentasi sehingga tidak bisa dijadikan gula. Karena itu nira aren lebih banyak dijadikan gula merah atau gula semut," ujar Indrawanto.

Untuk memproduksi gula aren atau semut, Diva Maju Bersama menggandeng petani di Jawa Barat dan Lampung, yang mengolah nira menjadi bahan setengah jadi. Pola ini lebih praktis ketimbang langsung membeli nira ke petani karena risiko kerusakan tinggi.

Menurut dia, harga gula semut di pasar rata-rata Rp10.000 per kg. Dengan asumsi harga nira aren mencapai Rp2.000 per liter, nilai jualnya tidak jauh berbeda dengan gula semut.

"Gula aren bisa menjadi primadona ekspor karena harga ritel di mancanegara mencapai 2 euro, atau setara dengan Rp25.000 untuk bobot 250 ons. Berarti nilai jual 1 kg mencapai Rp100.000," tandas Indrawanto.

Namun, nilai ekonomisnya tidak terlalu tinggi bagi perusahaan ekspor karena dibebani biaya tambahan seperti pajak dan biaya administrasi. Pasar ekspor juga mensyaratkan standar ketat. Itu sebabnya Diva berkonsentrasi di dalam negeri.

Indrawanto mengakui potensi ekspor tetap terbuka karena kadar glysemix gula semut rendah, sehingga aman dikonsumsi penderita diabetes. Tidak heran, komoditas ini menjadi incaran masyarakat internasional.

Pohon aren juga menjadi sumber bahan baku bioetnol yang bernilai tambah tinggi. Dengan instrumen inilah, Ketua Umum HKTI Prabowo Subianto akan mengatasi kelangkaan energi yang 18 tahun lagi minyak bumi akan habis.

Selaku capres beberapa waktu lalu, Prabowo juga berjanji akan membuka 4 juta hektare kebun aren untuk mengatasi energi, yang juga akan menyerap tenaga kerja 24 juta orang.

Bila membaca sejarah, sesungguhnya potensi aren untuk kesejahteraan rakyat itu sudah diisyaratkan 500 tahun silam oleh Sunan Bonang, salah seorang Walisongo yang hidup pada 1465 - 1525 M di Tuban, Jawa Timur.

Dalam sebuah legenda, Sunan Bonang yang hendak dirampok oleh Lokajaya (belakangan berubah menjadi Sunan Kalijaga) hanya berkata sambil menunjuk buah kolang kaling, "Ambil saja itu emas." (ginting. munthe@bisnis.co.id/fatkhul.maskur@bisnsis.co.id)

Sumber : http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/ritel-ukm-mikro/1id141267.html