......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Minggu, 21 Desember 2014

Gula yang tidak harus putih, gula Aren lah kalau begitu !!

Gula Yang Tidak Harus Putih

Bila ada produk industri legal yang sangat massif di dunia tetapi penggunaaannya diupayakan ditekan juga oleh lembaga-lembaga resmi di dunia – maka produk itu adalah gula putih. Tahun 2012 United Nation World Health Assembly mencanangkan untuk menurunkan angka kematian dari apa yang mereka sebut Non Communicable Diseases (NCDs) 25 % pada tahun 2025. Saat ini sekitar 35 juta orang meninggal karena NCDs ini diantaranya jantung, diabetes , cancer dlsb setiap tahunnya. Lantas mengapa penggunaan gula putih ikut ditekan ?


Bila penyakit-penyakit itu ditimbulkan oleh rokok atau alcohol, maka biasanya negara-negara di dunia sudah punya aturan untuk menekan produk-produk jenis ini. Tetapi gula putih tidak, produksinya secara resmi diijinkan tanpa batas di seluruh dunia dan menjadi salah satu kebutuhan pokok bahkan untuk negara-negara yang tidak memproduksinya sendiri secara cukup.

Di dunia barat, gula putih sekarang dianggap sebagai musuh nomor satu dalam menu makanan mereka. Saat ini konsumsi mereka sungguh berlebihan sampai ada peneliti yang memperkirakan mencapai 22 sendok teh gula putih per orang setiap harinya.

Padahal menurut mereka sendiri berbeda dengan lemak dan protein yang dibutuhkan tubuh, gula putih tidak memberikan nilai nutrisi pada tubuh. Dia memberikan energi tubuh sesaat tetapi setelah itu dia tidak meninggalkan sesuatu kecuali penyakit bagi orang-orang tertentu.

Karena karakternya yang demikian, WHO didukung oleh kajian ilmiahnya menyarankan kontribusi energi dari gula seharusnya tidak lebih dari 5 % dari energi yang dibutuhkan tubuh manusia – inipun sudah termasuk gula dari buah-buahan, madu dan sumber gula  lainnya.

Bila gula putih begitu banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya tersebut di atas, lantas mengapa dia tetap menjadi produksi industri yang sangat massif di seluruh dunia ? Disinilah masalahnya, industri pada umumnya digerakkan oleh motif mencari keuntungan – sehingga maslahat bagi masyarakat sering menjadi nomor yang kesekian.

Produk industri yang menambahkan zat-zat yang tidak perlu ke tubuh sambil sebaliknya mengambil zat-zat yang sesungguhnya diperlukan tubuh ya antara lain gula putih ini.

Dalam proses produksi gula putih umumnya melibatkan Sulphur Dioxide, Phosphoric Acid,  Calcium Hydroxide dan Carbon Active – yang semuanya sebenarnya tidak diperlukan kehadirannya dalam gula. Sebaliknya zat-zat yang berguna dari dalam tebu malah dihilangkan ketika tebu diproses menjadi gula putih. Zat-zat tersebut adalah  Calcium, Zat Besi, Magnesium, Potassium dan Phosphorus – yang semuanya dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan mineral di dalam tubuh kita.

Dengan proses dan kandungannya tersebut di atas, maka dengan mudah kita sekarang bisa tahu bahwa mengapa penggunaan gula putih berusaha ditekan oleh bahkan lembaga-lembaga resmi seperti WHO, juga Departemen Kesehatan R.I. yang berusaha menekan penggunaan gula, garam dan minyak.

Lantas bagaimana solusinya bagi kita yang terlanjur menyukai rasa manis di hampir semua menu makanan apalagi minuman kita ? Rasa manis bisa datang dari perbagai produk alam seperti madu, buah dan bahkan juga dari tebu itu sendiri.

Tebu yang menjadi salah satu penghasil gula atau rasa manis yang paling efektif, sebenarnya tidak harus dibuat gula putih. Bila tebu diproses menjadi gula yang disebut secara international sebagai brown sugar – gula coklat, maka prosesnya tidak memerlukan begitu banyak zat-zat yang tidak diperlukan – dan sebaliknya mempertahankan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh.

Bagi para juru masak professional, brown sugar sebenarnya lebih mereka sukai karena flavor (aroma) dan teksturnya yang khas – flavor dan tekstur yang khas ini hilang ketika tebu diproses menjadi gula putih.

Jadi selain alasan kesehatan, alasan cita rasa semestinya juga mengunggulkanbrown sugar yang lebih alami ketimbang gula putih – mengunggulkan produk industri yang sederhana dengan tidak melibatkan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh, ketimbang produk industri canggih yang malah melibatkan zat-zat yang tdak memberi manfaat.

Ini mengingatkan kita betapa pentingnya kita memperhatikan petunjuk Al-Qur’an untuk mencari makanan yang lebih murni – Azkaa Tho’aaman, ketimbang makanan yang sudah bercampur baur dengan zat-zat yang tidak jelas peruntukannya.

Dari sisi ekonomi, gula yang diproses alami seperti brown sugar juga akan lebih membuka peluang untuk dikembangkan dalam industri yang skalanya lebih kecil ketimbang gula putih. Ini baik untuk negeri ini yang lahan-lahan perkebunan tebunya banyak yang sempit dan menyebar.

Trend masyarakat dunia yang eager untuk kembali ke produk-produk alami juga bisa menjadi peluang Indonesia di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), bahkan era perdagangan global – bila kita bisa fokus di produk-produk alami, ketimbang kita bersaing secara global dengan industri yang sudah massif seperti industri gula putih.

Maka disinilah peluangnya bagi kita semua, bagi muslim yang mencari makanan yang lebih murni – ini bisa menjadi jalan kita untuk memperoleh makanan yang lebih murni untuk rasa manis/gula yang kita sukai. Bagi perekonomian nasional, bisa menjadi cara untuk mengerem impor gula sekaligus peluang ekspor untuk gula jenis lainnya – yaitu brown sugar.

Lantas bagaimana membumikan ini semua agar masalah tidak tetap menjadi masalah, peluang tidak tetap menjadi sekedar peluang ? Disitulah peran Startup, untuk mengolah suatu masalah menjadi peluang dalam irama kerja yang cepat.

Startup baru yang saya tawarkan kepada para pembaca yang saya sebut Natural.ID misalnya, salah satunya bisa mengolah masalah gula ini menjadi peluangnya, demikian pula masalah tahu tempe yang saya ulas di tulisan kemarin (17/12/14) dan perbagai potensi lain yang terkait dengan hasil bumi negeri ini.

Bila kita bersungguh-sungguh berjuang di jalanNya, seperti berjuang untuk mencari makanan-makanan yang lebih murni ini (QS 18:19) – insyaAllah akan dibukakan perbagai jalan olehNya.

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS 29:69)

Sumber : http://www.geraidinar.com/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1527-gula-yang-tidak-harus-putih

Pohon Aren bisa menahan lahan longsor di Banjarnegara

SATU BUKTI LAGI KEHEBATAN POHON AREN

Berkat Pohon Aren dan Bebatuan Rumah ini Selamat Dari Bencana Tanah Longsor

Bencana tanah longsor yang menimpa puluhan rumah di Dusun Jemblung Desa Sampang Kecamatan Karangkobar menyisaka duka mendalam.
Namun, ada satu hal pelajaran yang bisa diambil dari musibah yang telah terjadi. Sebab, dari 35 rumah yang tertimbun longsor, ada satu rumah yang tetap berdiri kokoh.

Meskipun rumah itu berada di antara rumah-rumah lainnya yang tertimbun longsor. Namun, satu rumah itu masih utuh berkat adanya bebatuan dan sejumlah pohon aren yang berada di samping rumah tersebut.

Bahkan, satu lagi yang membuat takjub adalah, rumah satu-satunya itu lah yang mampu memecah atau membelok arahkan longsoran tanah dari atas bukit Tlogolele.

"Lihat saja satu rumah berwarna putih yang masih kokoh berdiri, tepat di samping kanan rumah itu terdapat sejumlah pohon aren yang juga tetap berdiri kokoh. Ya meskipun juga ada bebatuan, tapi batu itu tidak besar," ujar Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno, Sabtu (20/12/2014).

Menurut dia, rumah satu-satunya yang selamat berkat bebatuan dan pohon aren yang mampu memecah atau membelok arahkan longsoran tanah saat terjadi.

"Memang sungguh luar biasa pohon aren mampu menahan tanah agar tidak bergerak,"kata dia.

Maka dari itu, pihaknya mengimbau warganya untuk menanam pohon aren. Selain bermanfaat menyerap air, pohon itu juga dapat memberikan manfaat ekonomi.

"Apakah anda tau jika tanaman aren itu banyak manfaatnya. Arennya untuk bahan gula, buahnya untuk bahan minuman, daunya untuk sapu lidi, serabutnya untuk sikat, akarnya sebagai penahan tanah," jelasnya.

Selain manfaat ekonomi, penanaman pohon aren juga berdampak positif bagi pelestarian lingkungan.

"Kondisi saat ini sedang menghadapi cuaca ekstrim, banjir, longsor, terjadi di mana-mana. Alam akan semakin ganas kalau kita tidak cinta alam. Saya harap masyarakat agar peduli dengan lingkungan sekitarnya," papar dia. (*)

Sumber : https://id.berita.yahoo.com/berkat-pohon-aren-dan-bebatuan-rumah-ini-selamat-005104835.html

Senin, 13 Oktober 2014

Kisah tentang si manis gula Aren di Kabupaten Kayong Utara


SI MANIS YANG MENGGIURKAN
March 15, 2012
Banyak tumbuh dikayong utara. Arenga Pinnata yang lazim disebut pohon aren memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Pemerintah Kabupaten Kayong Utara (KKU) membidik peluang ekonomis yang menjanjikan. Pohon aren dimanfaatkan untuk diambil airnya sebagai bahan membuat gula aren, 
“Masyarakat kita lebih mengenal pohon aren sebagai pohon Nau dan banyak liar namun tidak digarap optimal,” Kata Sekretaris Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kabupaten Kayong Utara, Ir H Wahono ditemui Equator diruang kerjanya, Pengelolaan Guala aren oleh masyarakat di Kabupate Kayong Utara masih di lakukan secara tradisional. padahal jika dikelola secara maksimal bisa menghasilkan nilai ekonomi yang memuaskan. 
Pohon tersebut mudah tumbuh termasuk di KKU sangat cocok tak hanya dapat menghasilkan gula merah, daun pohan nau juga bisa dijadikan rokok dan lidinya bisa dibuat sapu lidi. Sedangkan kulitnya dari batang pohon itu bisa diolah menjadi ijuk. Sejauh ini, pohon aren yang terdapat di sebuah lokasi di Kabupaten Kayong Utara baru sebatas dijadikan gula merah. Gula merah ini dihasilkan dari nira atau air dari buah aren. 
“Jadi nilanya yang diolah menjadi gula merah. kalau nira atau airnya agak sudah rusak maka bisa dibuat bahan atau produk alkohol dan jika nira rusaknya sudah parah dapat dijadikan cuka tetapi kalau dijadikan cuka tidak bisa tahan lama.” papar Wahono. Wohono optimis ekonomi masyarakat akan meningkat jika pohon aren dikembangkan. Pasalnya, harga gula merah atau gula aren di pasaran sekarang mencapai Rp 16.000 perkilo. 
“Saya sudah survey harga gula aren di pasar di daerah kita yang menembus angka Rp 16.000 perkilo,”ucapnya. Satu pohon aren, kata Wahono bisa menghasilkan sebanyak 15 sampai 20 liter nira. Sedangkan jika dimasak menjadi gula dapat menghasilkan 4 sampai 6 Kg. 
“Jika disesuaikan dengan harga pasar sekarang, maka untuk satu pohon aren dalam sehari bisa menghasilkan Rp 60 ribu. Ini kita hitung minimal jika niranya dalam sehari hanya 4 liter untuk satu pohon.” ujar dia. 
Proses pengambilan nira dilakukan pada pagi dan sore hari. Ketika pagi hari biasanya dimulai pukul 05.00 hingga 07.00. Sedangkan sore hari dimulai pukul 17.00 hingga 19.00. Melihat potensi pohon aren yang cukup menjanjikan, dilanjutkan Wahono, dishutbun Kabupaten Kayong Utara pada tahun ini akan mencoba memulai mengembangkan  pohon aren yang rencananya dilakukan di Desa Pampang harapan, kecamatan Sukadana.
”Untuk tahun ini, kita coba menanam sebanyak 3.000 pohon aren di Desa Pampang Harapan sebagai percontohan.’ ujarnya. Nilai ekonomi yang dari pohon aren diakui Wahono, bisa mengalahkan sawit dan juga karet. Betapa tidak semua yang terdapat di pohon aren bisa diolah dan pemiliki nilai ekonomi. “hanya saja, panen pohon aren agak lebih lama jika dibandingkan dengan sawit atau karet. sebab pohon aren baru bisa dipanen selam 6-7 tahun setelah ditanam, ” katanya. masa produktif pohon aren hanya sekitar 20 tahun niranya bisa diproses setiap hari selama 4-5 bulan. “Setelah 4-5 bulan, maka ada masa istirahat, hanya saja saya belum begitu tahu persis masa istirahatnya berapa lama.” Ucap Wahono. 
Tanaman aren yang masih bertahan sekarang ini, umumnya tumbuh karena jasa baik binatang munsang atau luak (paradoxurus hermaprodites) yang selain menggemari biji kopi juga menyantap buah aren. Biji buah aren yang tidak tercerna inilah yang di buang melalui ” pintu belakang” kemudian berkecambah lalu tumbuh menjadi pohon aren dengan penyebaran yang tidak teratur. Oleh karena itu, binatang munsang itu sendiri semakin banyak dimusnahkan oleh teror ternak ayam maka kelanjutan budi daya secara teknis buatan belum layak dilakukan instansi terkait. sedangkan beberapa negara tentangga seperti malaysia dan muangthai telah melakukan proses pembibitan secara intensif dengan skala besar.
Sumber Equator, Kamis 15 Maret 2012

Sumber : http://dishutbun.kayongutarakab.go.id/?p=233

Dengan tambahan Ijuk Aren, bangunan Beton lebih kuat, lebih ringan dan lebih murah

Dalam suatu penelitian ini yang mengangkat pemanfaatan ijuk (serat alam) sebagai alternative bahan pembuatan beton yang diaplikasikan dalam bangunan, semakin menunjukkan bahwa  ijuk adalah serat alami yang sulit busuk karena tidak ada decomposer yang dapat menguraikan ijuk tersebut.

Di Indonesia banyak sekali tumbuhan aren dimana ijuk diambil dari pohon aren tersebut.  Ijuk adalah serat aren yang kuat dan tahan lama. Sehingga jika Ijuk Aren dimasukkan dalam struktur pembuatan beton, maka beton akan lebih kuat, lebih ringan dan mempunyai nilai ekonomis yang relative rendah (murah). Para developer, para perencana bangunan sampai para tukang bangunan akan bisa memberikan ijuk atau serat aren dalam beton sebagai pendamping besi. Ini barangkali suatu inovasi yang mendapat hasil yang menakjubkan dan pertama di dunia yakni pemanfaatan ijuk dalam beton.

Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu mencari ijuk. Setelah mendapatkannya, ijuk tersebut dibuat berulir dengan tujuan untuk menyatukan kekuatan materi campuran semen dan pasir dengan ijuk tersebut. Ternyata beton yang memakai campuran ijuk lebih murah, kuat, dan lebih ringan dibandingkan dengan beton yang tidak memakai campuran ijuk di dalamnya. Hal ini dikarenakan pemakaian ijuk dapat memperkecil jumlah penggunaan pasir dan semen pada beton. Selain itu ijuk menambah kekuatan beton karena sifatnya yang lentur dan kuat

Menurut hasil suatu penelitian bahwa beton yang memakai campuran ijuk dapat menopang beban yang lebih kuat dari pada yang tidak memakai ijuk. Hal ini dapat disimpulkan bahwa beton yang memakai campuran ijuk lebih kuat dari pada yang tidak memakai campuran ijuk. Begitu juga berat beton yang memakai campuran ijuk lebih ringan dari pada yang tidak memakai campuran ijuk. Sehingga ini sangat efisien dalam inovasi bangunan pada masa sekarang.

Penggunakan ijuk selama ini masih belum maksimal jika dilihat dari melimpahnya ijuk, jadi dengan adanya produk ijuk pendamping besi dalam beton ini, akan membantu memanfaatkan ijuk yang melimpah dengan hasil yang lebih bagus dan menguntungkan. 

Ijuk dapat dijadikan penguat pada beton karena sifatnya beton dapat ringan kuat serta elastis.   Bahwa serapuh-serapuhnya beton yang memakai ijuk masih rapuh yang tidak memakai ijuk serta sekuat-kuatnya beton yang tidak memakai ijuk masih kuat beton yang memakai ijuk. Sehingga kekuatan beton maupun dak yang memakai penguat perpaduan ijuk dengan besi lebih kuat jika dibandingkan dengan beton dan dak yang memakai penguat besi saja.  Penggunaan campuran ijuk pada beton dan dak terbukti lebih kuat, lebih ringan serta mempunyai tingkat ekonomis yang tinggi.

Bagi arsitektur, ketekniksipilan dan semua masyarakat, dalam bangunan harus memperhatikan kekuatan, biaya serta keringanan beton dalam bangunan. Sehingga disarankan agar lebih baik menggunakan ijuk sebagai pendamping besi dalam beton untuk keefektifan beton.

Disarikan dari hasil penelitian Sofyan Ali Wardana, Poltek Malang.



Kisah Eksportir Sapu Ijuk Aren ke Manca Negara

Sempat Dikalahkan Teknologi, Jepang Masih Jadi Langganan



Kisah UD Wartono, Pengekspor Sapu Ijuk ke Manca Negara

Sapu ijuk, mungkin barang yang biasa-biasa saja. Tapi di tangan ahlinya, sapu itu menjadi barang layak ekspor dengan pangsa pasar yang jelas. Salah satunya, Jepang yang sangat membutuhkan. UD Wartono menangkap peluang itu.

AWALNYA hanyalah penjual sapu keliling. Modal sapu buatan sendiri, yang jumlahnya tak lebih dari 10 batang setiap produksi. Jika beruntung mendapat tempat, sapu ijuk dan sapu lidinya, bisa mejeng di Pasar Besar. Si penjual pun tak perlu bersusah payah menjajakan sapu keliling mengendarai sepeda jengki. 

Siapa sangka, belasan tahun kemudian, rata-rata 5.000 batang sapu buatannya, selalu ditunggu penduduk Jepang setiap bulan. Tradisi ekspor sapu dari Malang ini pun, berlangsung hingga saat ini.

Tentu bukanlah hal mudah bagi Judy R Wartono, pemilik UD Wartono, untuk mewujudkan cita-citanya. Dibutuhkan tidak sedikit tenaga dan biaya, serta keberanian, untuk sekadar memulai usaha berjualan sapu. Pria kelahiran Surabaya 64 tahun silam ini, merintis usahanya dengan modal nol rupiah. 

‘’Saat itu saya nganggur, miskin, tidak punya rumah, tidak punya uang. Karena berteman dengan tukang sapu, saya minta diajarin buat sapu. Saya ngutang ijuk ke tukang sapu dan ngutang kayu ke toko kayu. Semua utang saya bayar lunas selama dua bulan saja,’’ kisahnya pada Malang Post saat bertamu di kediamannya beberapa saat lalu.  

Berbekal keberanian melihat kesalahan diri sendiri, pria yang dikaruniai satu buah hati ini, terus mengembangkan usahanya. Sapu ijuk dari pohon aren, yang dirangkai sendiri dengan tangannya, dijajakan berputar kota Malang hingga Dau, setiap hari dengan sepeda jengki. 

Malangnya sepeda yang digunakan sejak awal usaha itu, raib tak lama setelah hutangnya berhasil dilunasi. Yongki lantas menyewa becak, untuk menjajakan sapunya yang semakin banyak. 

‘’Saat itu, saya punya 1 pegawai. Setelah itu berkembang jadi 7 di tahun 1982 saat saya membuka usaha UD Wartono dan mendapatkan izin dari Pemkot Malang waktu itu,’’ jelasnya sembari menunjukkan papan perizinan yang masih tertempel di salah satu dinding di kediamannya tersebut.

Usaha pun mengikuti pasang surut jaman. Bahan baku yang kian langka dan mahal, tak menyurutkan niatnya untuk tetap fokus di usaha sapu. Sampai kesempatan untuk menjual sapi di negeri lain pun masuk.

‘’Dari banyak jalur, saya mendapat kesempatan berjualan sapu ke Eropa dan Asia. Dulu ada banyak negara yang mau beli sapu, tapi setelah teknologi semakin maju, pengguna sapu ijuk semakin menyusut. Tinggal Jepang saja sampai sekarang,’’ tuturnya. Walaupun enggan menyebutkan data, berapa jumlah sapu yang di ekspor, namun catatan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang menyebut, rata-rata ekspor UD Wartono mencapai angka diatas 5.000 unit per bulan. Perkiraan nilainya USD 65 ribu. UD Wartono pun tercatat sebagai satu dari sedikit perusahaan yang mengimpor barang setiap bulannya dari Malang.

Sapunya cap dua macan, dikenal memiliki kualitas terbaik di pasaran lokal. Harga rata-rata di pasaran untuk sapu ijuk berlambang dua harimau mengapit sapu ini, berkisar antara Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribu. 

Sementara sapu untuk Jepang, dibuat dengan standar yang berbeda. Karena harus memenuhi keinginan asosiasi pedagang sapu Jepang. Sapu ijuk alami buatanya, banyak diminati negeri matahari terbit itu terutama sepanjang musim dingin.
‘’Sapu dari plastik sintetis, sudah banyak di Cina dan Jepang. Tapi sifat plastik mengeluarkan medan magnet saat musim dingin. Jadinya kotoran malah lengket. Di Jepang masih menggunakan sapu ijuk untuk menyapu teras depan tempat sandal dan jaket dilepas dan digantung. Kalau bagian dalam sudah pakai penyedot debu,’’ bebernya ramah.

Ijuk milik Yongki, didapat dari Jawa Barat dengan sistem bayar di depan. Setiap bulannya, bisa dipastikan armada angkutan barangnya selalu mengusung ijuk dari Jawa Barat ke Malang. Yongki lebih memilih tetap menetap di Malang ketimbang harus hijrah ke Jawa Barat mendekati bahan baku sapunya.
Alasannya sederhana. ‘’Di Malang saya bisa pulang makan, tidak terlalu macet dan fasilitasnya lengkap. Saya sudah disini sejak awal membuat sapu dan akan tetap membuat sapu sampai nanti,’’ ucapnya jelas. (Dyah Ayu Pitaloka)  

Sumber : http://www.malang-post.com/features/58437-sempat-dikalahkan-teknologi-jepang-masih-jadi-langganan