......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Rabu, 28 Januari 2015

Aren punya pola hidup yang terpisah fase vegetstif dan generatifnya, sama dengan pisang habis vegetatif bsru generatif

Salah Paham tentang Tanaman Aren

Bang Pilot


Ada banyak orang yang jadi berminat membudidayakan tanaman aren (arenga pinnata merr) alias enau, setelah menelaah artikel yang membahasnya. Orang tertarik karena membaca tentang hasil besar yang akan didapat bila aren diusahakan secara intensif.

Sebenarnya, bukanlah bualan jika ada yang mengatakan bahwa tanaman aren akan menghasilkan uang empat sampai lima kali lebih banyak ketimbang tanaman kelapa sawit. Tetapi hendaklah disadari, bahwa akumulasi angka itu adalah untuk masa budidaya selama dua belas tahun.Jika untuk masa tujuh delapan tahun, maka kelapa sawitlah yang berjaya, karena pada saat itu masa produksi aren baru saja berawal.

Ada satu hal yang para peminat budidaya aren sering salah mengerti. Yakni tentang rentang masa produksi aren. Banyak orang yang tidak tahu, bahwa aren punya kelainan dalam siklus hidupnya.

Tanaman aren, varietas apa pun, mula-mula tumbuh vegetatif. Untuk varietas genjah, tinggi batangnya akan mencapai tinggi 7-12 meter dalam masa 6-7 tahun. Sedangkan aren varietas dalam akan mencapai tinggi 12-20 meter dalam waktu 8-9 tahun. Ada pun yang varietas tinggi bisa sampai setinggi 26 meter setelah berumur paling tidak 12 tahun.

Setelah tumbuh vegetatif atau tumbuh pohoh, maka aren memasuki fase tumbuh generatif. Tandan betina yang menjadi mayang pergantungan buah akan keluar dari celah pelepah daun. Tandan kedua keluar di bawah tandan pertama, begitu seterusnya. Jumlah tandan betina ini sekitar 4-6 tandan. Jumlah buahnya bisa ratusan ribu butir. Rata-rata satu butir berisi tiga biji. Biji yang masih muda bisa diolah menjadi kolang-kaling atau bargat. Satu pohon aren bisa menghasilkan kolang-kaling sebanyak 250 kg.

Beberapa orang penyadap aren di Bogor menyadap tandan betina ini untuk mendapatkan air niranya. Mereka mengatakan air niranya banyak dan rendemen gulanya baik. Tapi, umumnya penyadap di Sumatera tidak menyadap tandan betina ini. Alasan mereka beragam, mulai yang berbau mistis sampai yang bernada ‘green’. Tapi umumnya alasan mereka tak mau menyadap mayang aren yang keluar mula-mula adalah karena tandannya bertekstur pejal dan keras, sehingga sulit memukul dan menyadapnya.

Sebagai catatan, bila tandan betina disadap, maka kolang-kaling tak akan didapat, karena mayang buah dipotong saat buah masih sangat muda dan kecil.

Setelah habis keluar tandan betina, maka selanjutnya akan keluar tandan jantan. Mayangnya hanya berisi bunga, tidak menjadi buah lagi. Tekstur lengan tandan jantan ini memang lebih halus dan lunak dibanding mayang betina.

Begitu memasuki fase tumbuh generatif ini, tanaman aren tidak akan bertambah tinggi lagi. Daunnya pun tak akan bertambah meski sehelai saja. Pertumbuhan pohon berhenti total. Karena itu, jangan sembarangan memotong pelepah daun pohon aren. Daun yang sedikit akan menyebabkan nira yang diperoleh juga sedikit.

Nah, dari uraian di atas, diketahui bahwa tandan atau mayang aren keluarnya makin lama makin ke bawah, bukan ke atas. Setelah keluar tandan yang mendekati tanah, maka pohon aren akan otomatis mati.

Ini yang sering belum diketahui peminat aren. Hingga sering mereka meminta benih aren ateng, yakni aren yang tingginya hanya 4-6 meter. Nah, jika tinggi pohon hanya 6 meter, maka tandannya juga hanya sekitar 6-7 tandan. Niranya juga sedikit, karena batangnya yang berfungsi sebagai ‘tabung air’ juga kecil. Artinya, si aren ateng ini seumur hidupnya hanya akan menghasilkan sedikit uang.

Adapun aren genjah , termasuk jenis aren yang berpostur pendek, hanya sedikit lebih tinggi dari pada aren ateng. Karena itulah penulis sendiri memilih untuk menanam aren varietas dalam. Meski pun produksinya bermula setelah umur 8-9 tahun, tapi lamanya masa ia berproduksi cukup panjang, karena tandannya cukup banyak. Selain itu, niranya juga lebih banyak karena batangnya tinggi besar dan daunnya lebih banyak, sebab pelepah daunnya lebih panjang.

Menanam aren sebaiknya ditumpangsarikan dengan tanaman lain, semisal sengon. Karakter pohon sengon yang berdaun kecil dan jarang, akan memberi kesempatan pohon aren untuk juga menikmati sinar matahari. Jarak tanam yang bisa diterapkan untuk aren adalah 5x8 meter. Otomatis jarak tanam sengon juga demikian. Sengon sudah bisa dipanen tebang pada umur 8 tahun, saat aren akan mulai berproduksi.

Selain sengon, aren tentu saja bisa ditumpangsarikan dengan palawija, kopi, cengkeh, nilam, kakao dan lainnya.

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/654405/1/salah-paham-tentang-tanaman-aren.html

Membayar hutang negara dengan Aren 4 juta hektar

Aren dan Cita-cita Luhur Prabowo Subianto

Bang Pilot


Kompasianer Bang Pilot pernah menurunkan sebuah artikel di Kompasiana yang bertitel Cara Mudah Membayar Hutang Luar Negeri Indonesia . Kesimpulan dari artikel itu adalah bahwa semua hutang luar negeri Pemerintah Indonesia akan bisa dibayar lunas dalam waktu lima belas tahun, dengan cara menanam satu juta hektar pohon aren.

Di lain pihak, ternyata seorang Prabowo Subianto sudah terlebih dahulu mencetuskan ide brilyan itu. Prabowo bahkan lebih kolosal. Ia mencanangkan rencana penanaman empat juta hektar pohon aren di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi.

Bila hal itu dapat diwujudkan, maka setidaknya akan ada empat masalah mendasar bangsa yang menemukan solusinya.

1.Hutang luar negeri Pemerintah RI akan dapat dilunasi, sehingga bangsa kita dapat mengembalikan harkat, martabat dan marwahnya di pergaulan dunia antara bangsa. Indonesia akan menjadi satu dari sedikit bangsa yang tidak memiliki hutang luar negeri. Kemudian terciptalah sebuah keekonomian bangsa yang mandiri, berdaulat dan kokoh sentausa.

2.Semua TKI yang bekerja di sektor informal di luar negeri dapat dipanggil pulang ke tanah air dan dipekerjakan dengan upah yang layak di perkebunan aren itu. Demikian juga halnya dengan para buruh urban serta petani gurem yang mau merubah nasib, dapat bergabung, menjadi pekerja di BUMN PT.Aren Sejahtera, Tbk. Mereka menjadi buruh di sana, sekaligus menjadi pemilik 20 pohon aren yang tumbuh di halaman rumah mereka masing-masing. 20 pohon aren itu pada saat berproduksi akan menghasilkan uang 20 x 50% x 15 liter nira x Rp.2.000 = Rp.300.000/hari, selama minimal 4 tahun. Buruh migran mana yang tak mau punya penghasilan sampingan 9 juta rupiah setiap bulannya?

3.Empat juta hektar kebun aren akan menghasilkan bio ethanol fuel grade sebanyak :
4.000.000 hektar x 285 pohon perhektar x 50% kegagalan dan masa tenggang x 15 liter nira x 6,666% rendemen bio ethanol fuel grade = 570.000.000 liter bio ethanol 99,6% (fuel grade) per hari. Bahan bakar sebanyak itu tentu akan sangat membantu penyediaan konsumsi BBM di Indonesia yang mencapai angka 1.400.000.000 liter perhari.

Jika uang yang biasanya terpakai untuk mengimpor BBM bisa dihemat, maka dananya tentu bisa dialihkan untuk membayar hutang luar negeri pemerintah kita, yang jumlahnya setiap tahun makin membengkak.

4.Aren memiliki akar serabut halus yang banyak dan menyebar luas. Hal ini membuat tanaman aren menjadi salah satu tumbuhan yang sangat baik untuk menjadi media penyimpan air. Di Jawa Timur, penduduk menanam aren dengan sistim hutan aren, yakni berjarak tanam 5x5 meter. Empat tahun kemudian, di tanah yang biasanya kering dan tandus itu, timbul mata air. Selain itu, akar aren juga merupakan media yang sangat bagus untuk membantu mempertahankan tanah kritis dari pengikisan oleh air hujan. Karena itu, aren sangat tepat untuk ditanam pada daerah yang kering dan kritis.

Aren juga sangat tepat ditanam pada lokasi bekas hutan yang sudah rusak akibat penebangan liar, atau bekas lahan HPH yang tidak direboisasi oleh pengusaha jahat.

Sungguh, tidak salah jika dahulu Sunan Kalijaga mengisyaratkan bahwa tanaman aren adalah sebagai tanaman yang berbuah emas. Tinggal bagaimana petani kita merubah pola pikir, agar mau mulai menanam aren sebagai investasi masa depan.

Sebagai petani kecil, tentu sulit untuk memproduksi bio ethanol, karena mahalnya alat penyulingannya. Namun karena satu pohon aren dapat menghasilkan satu kilogram gula aren setiap hari sadapnya, maka petani tinggal menghitung berapa pohon yang ia miliki dan berapa harga gula aren di pasaran di daerahnya. Dan membuat gula aren adalah sangat mudah, semudah memasak tumis kangkung....

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/660893/1/aren-dan-cita-cita-luhur-prabowo-subianto.html

Produk Nira Aren di Kabupaten Batubara untuk Gula dan Minuman Tradisional

Cara Mengoplos Minuman Tuak ala Sontoloyo

Oleh : Bang Pilot

Diketahui bahwa hasil sadapan satu pohon aren yang dibudidayakan secara intensif akan menghasilkan rerata 10 liter nira perharinya.

Jika dijual langsung dalam bentuk nira segar atau pun dalam bentuk minuman beralkohol tuak, maka akan di dapat uang 10 x 5.000 = Rp.50.000.-

Sedangkan bila nira itu diolah menjadi gula aren,maka akan didapat gula aren seberat 1,3 kg. Di pasaran lokal kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, harganya adalah 1,3 x 25.000 = 32.500 Rupiah.

Nilai jual akan bertambah sedikit jika nira aren 10 liter itu diolah menjadi gula semut, karena harga gula semut sedikit di atas gula aren. Kesulitannya adalah, konsumsi gula semut kebanyakan adalah untuk pasaran ekspor.

Petani mau jadi pengekspor gula semut? Siapkan uang setengah goni untuk mengurus izin dan segala sesuatunya.

Bagaimana jika diolah menjadi bio ethanol atau pun methanol fuel grade?

Satu liter bio ethanol atau methanol didapat dari mengolah 10 liter nira aren. Jika diasumsikan untuk bahan bakar, maka paling tinggi harga jualnya adalah setara dengan Pertamax Plus, yakni sekitar Rp.9.300/liter.

Dari perbandingan di atas, tanpa perlu lagi menghitung biaya operasional, maka diketahui adalah nyaris tidak mungkin bagi petani Indonesia untuk bermimpi mengolah nira arennya menjadi bio ethanol atau pun menjadi methanol. Selain harga destilatornya yang relatif mahal, harga jual produknya pun adalah yang paling murah.



Harga bio ethanol atau methanol sebagai bahan bakar hanya akan ada harapan membaik ketika bahan bakar fosil sudah tiada. Dan itu masih sekitar 25-35 tahun lagi.
Karena itulah, sebagian besar petani penyadap aren kita saat ini masih bergumul dengan tungku masak gula aren.

“Biarpun hasilnya lebih sedikit dibandingkan dengan membuat tuak, yang penting halal.” Setidaknya demikianlah yang dikatakan oleh Pak Bahtiar Sinaga, saat penulis temani memasak nira aren hasil sadapannya.

Hari itu Pak Bahtiar memasak 35 liter nira hasil sadapan dari 5 pohon aren miliknya. Ketika proses memasak selesai dan hasilnya ditimbang, didapat 5,1 kg gula aren asli kwalitas terbaik.Dari menjual 5 kilogram gula aren itulah Pak Bahtiar menghidupi istri dan anak-anaknya.

Aren di daerah kami memang terkenal tinggi rendemennya. Tetapi air niranya cenderung sedikit. Itu bagus, karena tak membutuhkan terlalu banyak bahan bakar untuk mengolah niranya menjadi gula aren.

Beda halnya dengan pembuat tuak. Karena niranya sedikit itu, biasanya mereka mencampur tuak yang sudah jadi dengan air leri atau air cucian beras. Lalu ditambah tepung bir. Ada juga yang menambahkan sedikit alkohol 70% pharmacy grade.


Biasalah, tuak oplosan, ciri keserakahan kita.

Eits, nanti dulu! Penulis pernah memergoki seorang agen pengecer tuak yang sengaja mencampur tuak jualannya dengan air sungai yang sedang banjir dan keruh. Bapak gendut itu menciduk air sungai dengan sebuah tempurung kelapa, lalu menuangkannya ke dalam jerigen yang berisi tuak. Dan, terciptalah suatu tuak oplosan super gawat made in sontoloyo.

Pantas saja banyak peminum tuak yang tidak mabuk, tapi malah sakit perut.

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/719798/1/cara-mengoplos-minuman-tuak-ala-sontoloyo.html

Sabtu, 27 Desember 2014

Perkebunan dan Industri Aren Akan Menjadi Daya Tarik Bagi Perbankan

Perkebunan Sangat Menarik Bagi Bank










Posisi Indonesia sebagai raja kelapa sawit saat ini tidak lepas dari adanya Kredit Likuiditas Bank Indonesia yang disalurkan oleh bank-bank pemerintah pada masa lalu. Perbankan mempunyai jasa yang tidak sedikit dalam pengembangan sektor perkebunan Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini banyak keluhan soal perbankan dari stakeholder perkebunan, seperti perbankan yang mau enaknya saja, perbankan yang tidak berpihak pada petani dan lain-lain. Bagaimana sebenarnya kiprah perbankan dalam perkebunan saat ini dan bagaimana pandangan perbankan soal perkebunan, Media Perkebunan mengadakan wawancara khusus dengan Sunarso, Direktur Commercial & Business Banking, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Bagaimana pandangan Bank Mandiri soal perkebunan ?
Sebelum membahas bagaimana pandangan kami soal perkebunan, kita lihat dulu sejarah Bank Mandiri. Bank ini merupakan hasil merger dari 4 bank pemerintah. Empat-empatnya termasuk dalam 6 bank pelaksana program pengembangan perkebunan pada masa lalu seperti PBSN, PIR Trans, KKPA PIR Trans, PIR Bun, PIR NES dan PIR SUS. Dengan sejarah seperti itu, kami punya pengalaman, kompetensi dan  resources  yang memadai untuk melakukan assessment terhadap sektor perkebunan. 

Bank memandang perkebunan sebagai bagian dari sektor pertanian dalam arti luas, yakni semua usaha memanen energi matahari, baik melalui tumbuhan maupun hewan. Jadi kesimpulannya, pertanian itu meliputi kehutanan, tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan dan perikanan.
Menurut kacamata bank, dari semua subsektor pertanian, perkebunan adalah subsektor yang paling berpotensi untuk tumbuh pesat. Perkebunan sudah membuktikan diri menjadi growth generator. Potensi terbesar ada di perkebunan karena alam menyediakan sumbernya, kebutuhan teknologinya tersedia dan kualifikasi manusia untuk mengelolanyapun ada. Sekarang tinggal bagaimana cara mengeksploitasinya?
Bisa diceritakan pengalaman Bank Mandiri dalam perkebunan ?
Tahap-tahap awal dulu, pembangunan perkebunan di Indonesia sangat didorong dan difasilitasi oleh kebijakan pemerintah. Kenapa demikian? Waktu itu, jika sektor ini dilepas langsung ke market, belumlah menarik. Investasi masih mahal, dan tidak semua investor punya pengalaman sehingga berisiko bagi bank. Dan pula, harga komodoti perkebunan belumlah sebagus sekarang.

Kebijakan pemerintah pada saat itu, intinya adalah memberikan tiga area kemudahan. Pertama, kemudahan untuk memperoleh konsesi lahan, ini merupakan syarat utama. Kedua, kemudahan untuk memperoleh perijinan, dan yang ketiga, kemudahan untuk memperoleh permodalan. Di akhir tahun 1980-an sampai periode 1990-an, hampir semua perkebunan besar di Indonesia dibangun menggunakan skim kredit program. Di dalamnya ada unsur KLBI (Kredit Likuiditas Bank Indonesia) dan disalurkan melalui  6 bank pemerintah, yang empat di antaranya bergabung menjadi Bank Mandiri.
Perjalanan selanjutnya ?
Dalam perjalanannya, meskipun sudah dibantu oleh pemerintah dan mendapat dukungan permodalan dari perbankan, sektor ini kemudian tidak bebas dari permasalahan. Puncaknya di sekitar pertengahan 1990-an, tepatnya di tahun 1994 dan 1995. Saat itu, banyak perusahaan perkebunan yang membutuhkan restrukturisasi kredit. Hasilnya, banyak bank yang harus fokus kepada restrukturisasi ataupun penyehatan aset kredit perkebunan.
Kita rangkum biaya restrukturisasi itu sebagai biaya “sekolah”. Bahwa sektor perkebunan bisa bagus seperti hari ini, itu karena biaya “sekolah”-nya dulu mahal. 
Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, perusahaan perkebunan yang direstrukturisasi di tahun 1994-1995 mulai bangkit dan berjalan dengan bagus.  Sampai akhirnya, pada tahun 1997 – 1999 terjadi krisis moneter. Krisis ini malah mengangkat harkat dan harga komoditi perkebunan. Bagi perusahaan perkebunan yang direstrukturisasi tadi, tahun 1997-1999 adalah masa-masa panen. Baik panen dari segi fisik komoditi, panen dari segi harga, maupun panen dari segi nilai tukar dollarnya. Maka, kebanyakan dari mereka mampu melunasi kreditnya di tahun-tahun itu.

Di lain pihak, terdapat perusahaan perkebunan yang baru masuk investasi pada tahun 1994-1995 dengan pola KKPA PIR Trans. Di tahun 1997-1998, investasi baru oleh pemain-pemain baru tadi belumlah panen, malah lagi butuh-butuhnya duit. Adanya krisis moneter menyebabkan mereka bermasalah, dan terpaksa harus direstrukturisasi, atau sebagian harus masuk ke BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) dengan biaya “sekolah” yang tidak murah. Keluar dari BPPN di sekitar tahun 2000-2002 kembali ada restrukturisasi dan lain-lain. Selesai dari situ, aset-aset tadi sudah ganti kepemilikan dan mulai panen ditahun 2005-2006. Pada tahun 2007, harga komoditi perkebunan di pasar internasional naik. Maka, mereka yang lulus ”sekolah” di BBPN pada 2000-2002 tadi mengalami panen, baik fisik maupun harga. Memang siklus di perkebunan ini luar biasa.

Mengulang pola sebelumnya, terdapat juga perusahaan yang mulai menanam di tahun 2000-2002. Pada periode ini, di antaranya banyak yang menggunakan kredit komersial dari bank, atau kalau tidak, menanam dengan duit sendiri. Pada tahun 2005-2006, mereka mulai terengah-engah, sudah tidak kuat. Cash terbatas namun kebun masih membutuhkan biaya. Di lain pihak, tanaman masih belum atau sedikit yang sudah bisa dipanen. Saat-saat itu, sebenarnya juga terjadi restrukturisasi. Bukan dengan bank, melainkan secara alami di pasar melalui merger dan akuisi. 
Akuisisi dilakukan oleh perusahaan perkebunan yang sudah ”lulus” duluan, yang sedang menikmati panen tingginya harga komoditi, atau diakuisisi oleh pemodal-pemodal besar yang sebelumnya belum sempat masuk ke sektor ini.
Sekarang perkebunan sedang puncak-puncaknya berjaya. Itulah yang dilihat orang, bahwa perbankan ikut panen raya. Bagi kita Bank Mandiri, tidak tepat kalau dibilang tinggal enaknya saja. Karena saat ”sekolah” tiga kali itu, kita ikut ”sekolah” di dalamnya. Tidak hanya cost -nya saja yang mahal, mentalnya juga harus siap. Kalau hari ini kita syukuri sebagai masa kejayaan komoditi perkebunan, itu tidak terlepas dari beratnya masa ”sekolah” yang dijalani, termasuk juga banknya. Tiga periode ”sekolah” itu adalah proses yang  panjang. 

Melihat kondisi sekarang, seharusnya kita bisa bersyukur dan terus jauh melihat visi ke depan. Menjaga dan mengamankan sektor ini, agar tetap punya ketahanan terhadap market risk dan commodity risk, artinya produk-produk perkebunan kita jangan sampai jadi bulan-bulanan berbagai pihak yang merasa tidak nyaman dengan pertumbuhan di sektor ini.
Sumber :  http://www.mediaperkebunan.net/index.php?option=com_content&view=article&id=277%3Aperkebunan-sangat-menarik-bagi-bank&catid=9%3Aopini&Itemid=5



Gambar Mesin-mesin Pengolahan Nira Menjadi Gula Semut Modern

Foto-foto ini kiriman dari Teman FB Arenga Pinnata