......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Rabu, 12 Maret 2014

Air murni dari pohon Aren : Tren baru air mineral dari tanaman (botanical water)


 AquRen@ 
Air murni dari pohon Aren
Tren baru air mineral dari tanaman (botanical water)

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Botanical water, begitu sering orang menyebutnya untuk air segar yang diperoleh dari tubuh tanaman.  Botanical water sering dimanfaatkan oleh para pecinta alam jika memasuki hutan.  Biasanya para petualang alam ini mencari jenis akar tertentu untuk diambil air segarnya.  Jika bertemu dengan akar tanaman dimaksud kemudian dipotong sepanjang yang diperkirakan cukup airnya.  Air segar dari akar tersebut akan menetes dari ujung potongan akar.  Tetesan air segar ini bisa langsung diminum seperti kita menenggak botol minuman.  Cuma saja mulut kita cukup menganga saja dan akan akar meneteskan the botanical water tersebut.  Segaaaar!!!

Ide tentang AquRen sebagai botanical water ini mencuat pada saat acara Workshop Peningkatan Efisiensi Industri Gula Berbasis Teknologi Membran di Teknik Kimia ITB Bandung.  Nara sumbernya adalah Dr. Ir. I Gede Wenten, sang Ahli Membran Indonesia.  Aquren yang dimaksud ini adalah air murni dan segar yang terdapat di dalam nira Aren yang dipisahkan dengan teknologi membran.   AquRen ini kemudian juga direspon sangat baik oleh seluruh peserta workshop sebagai salah satu produk lain dalam mengolah Nira Aren menjadi banyak produk.

Menurut Pak Wenten, yang sebentar lagi akan dipanggil Prof,  Nira palma termasuk Aren ini memiliki produk hilir yang banyak sekali.  Dalam workshop tersebut Pak Wenten menyebutkan beberapa produk, antara lain :
1.    AquRen, air bersih yang dipisahkan dari nira Aren jika mengolahnya menggunakan alat Reverse Osmosis (RO) dan teknologi membran.
2.    Air Gula Aren dengan kadar brix antara 30-40 % (dengan alat RO).
3.    Nira segar yang jernih dan bebas mikroba, jika nira diolah menggunakan teknologi membran dengan Ultra Filtrasi.  Sedangkan kadar brix dari nira segar ini sesuai dengan aslinya sekitar antara 12-17%.  Atau kemudian disesuaikan dengan standar brix tertentu dengan bantuan alat RO untuk meningkatkan kadar brix, atau dengan penambahan AquRen jika ingin menurunkan kadar brixnya.
4.    Nira fermentasi non alkohol, jika menggunakan alat filter yang bisa mengambil kadar alkohol di dalam nira aren yang terfermentasi.
5.    Alkohol dengan berbagai kadar, yang dipisahkan dari nira Aren yang mengalami fermentasi dan mengeluarkan alkohol.

Selain itu Nira Aren yang sudah terkonsentrasi akan diolah lagi dengan alat Evaporator untuk mengurangi kadar airnya dan sekaligus meningkatkan kadar gulanya.  Adapun produk-produk itu antara lain :
1.    Syrup Aren, yaitu nira yang terkonsentrat, sudah dimasak dan ditingkatkan kadar gulanya hingga brix sekitar 65% hingga 75%.
2.    Syrup Aren Herbal, syrup Aren yang dimasak dengan campuran herbal yang berkhasiat, beraroma dan bermanfaat bagi kesehatan dan kelezatan.  Jenis-jenis tanaman herbal yang bisa dikombinasikan sangat banyak sesuai fungsinya. 

Herbal yang dikombinasikan ke dalam produk gula sirup, gula serbuk dan gula cetak Aren bisa berfungsi untuk khasiat kesehatan, fungsi aroma dan rasa yang khas atau fungsi memberikan warna alami. 
Adapun jenis-jenis herbal  dengan fungsi kesehatan misalnya  jahe (ginger), kencur (curcuma), kunyit, bawang dayak, kulit manggis (mangoos), daun sirsak, jintan hitam (habatus),  dll. 

Sedangkan herbal yang juga sering dikombinasikan untuk aroma, warna dan rasa seperti jahe (untuk aroma dan rasa pedas),  merica (rasa pedas dan panas),  kayu manis (aroma dan rasa manis),  serai, kayu secang (warna merah), daun pandan (untuk aroma pandan),  daun jeruk purut (aroma yang sedap), daun salam (aroma sedap dan gurih), serbuk biji kopi (aroma kopi), serbuk biji cokelat, (aroma dan rasa coklat), santan kelapa (rasa kelapa), dan lain-lain.

Namun diantara herbal-herbal di atas ada juga yang sekaligus berfungsi sebagai pengawetan (preservation) agar produk nira segar, sirup nira, gula cair aren, gula serbuk dan gula cetak Aren ini bisa lebih awet dalam penyimpanan sebelum dikonsumsi.  Beberapa herbal yang juga berfungsi sebagai pengawet alami antara lain adalah kulit manggis (mangoos),  daun sirsak, kayu secang (warna merah), dan lain-lain.

AquRen akan memiliki nilai yang lebih dibandingkan dengan air hasil penyulingan dari sumber-sumber air alam.  Karena AquRen adalah air murni yang sudah melewati akar Aren melalui pembuluh-pembuluh yang ada pada batang dan jaringan daun, tangkai daun dan kemudian mengalir bersama-sama hasil metabolisme yang mengandung banyak gula melalui tandan bunga jantan yang disadap.   Tetesan air yang membawa hasil metabolisme dengan kadar gula yang cukup tinggi ini kemudian dikeluarkan dari permukaan pembuluh yang dipotong.  Tetesan-tetesan ini kemudian disebut sebagai air Nira Aren.

Gambar  Skema perbandingan antara bahan baku Nira (brix 12%) dan hasil Nira pekat (brix 36%) dan AquRen hasil pengolahan dengan alat Reverse Osmosis (RO).

Untuk bisa memisahkan AquRen dari air nira Aren,  digunakan Alat Ultrafiltrasi untuk memisahkan partikel-partikel kotor dan mikroba-mikroba.  Nira yang masih mengandung aneka gula dan mineral yang masih bisa melewati penyaring ultrafiltrasi kemudian dialirkan ke alat dengan teknologi RO.  Dengan alat RO, nira Aren itu akan dikurangi kandungan airnya, air murninya dipisahkan menjadi AquRen.  Kemampuan alat RO dalam memisahkan antara air dengan Nira Aren hingga berkadar gula dengan brix rata-rata 36% dijelaskan sebagai berikut.

Jika ada 1000 liter nira Aren segar yang baru saja dipanen dari kebun dengan kadar gula atau brix 12%, maka jika diolah dengan alat RO akan diperoleh (1) AquRen, berupa air murni sebanyak 666 liter atau dua per tiga bagian, dan (2) Nira lebih kental dengan kadar gula brix 36%  sebanyak 334 liter atau sepertiga bagian.

Adapun gambaran alat RO yang selama ini sudah dikenal adalah sebagai berikut :

Gambar  Alat Reverse Osmoses (RO) yang digunakan untuk memisahkan Air Murni (Aqudes) dari Nira

Rabu, 26 Februari 2014

Petani dan Harta Karun yang Belum Disadarinya

Petani dan Harta Karun yang Belum Disadarinya


Adalah seorang Bahktiar, penyadap aren yang mampu menghasilkan uang rp.120.000 setiap harinya, dari menyadap 5 (lima) batang pohon aren. Dengan uang itu, ia menghidupi seorang istri dan tiga anaknya.

Dari lima batang pohon aren itu, ia memanen sekitar 36 liter nira, yang lalu dimasak dan menjadi 6 kilogram gula aren, yang saat ini dijualnya seharga rp.20.000 per kilogram.
Ada lagi Ramli, yang menyadap 7 (tujuh) batang aren setiap pagi dan sore. Ramli menghasilkan rata-rata 45 liter nira setiap harinya. Berbeda denngan Bahktiar, Ramli tidak memasaknya menjadi gula aren. Tetapi ia menjual nira segarnya ke para penjaja minuman nira manis yang kini menjamur di sepanjang jalan lintas Medan-Kisaran. Satu liter nira seharga rp.3.000. Artinya, Ramli menghasilkan uang sebesar rp.135.000 setiap hari, dan dengan itu ia menghidupi satu istri dan empat anaknya.

Sepengetahuan saya, belum ada pohon lainnya yang bisa menghasilkan uang setara apalagi melebihi penghasilan dari pohon aren, meskipun itu pohon opium ataupun pohon cannabis sativa (ganja). Sebab, dua tanaman penghasil narkoba yang terlarang ini, hanya sekali dipanen dalam sekali tanam.

Keunggulan tanaman aren : jarak tanamnya hanya tujuh meter kali tujuh meter, dapat tumbuh dengan baik di hampir semua jenis dan kondisi tanah, tak punya hama dan penyakit, dapat ditumpangsarikan dengan banyak tanaman lain sebelum berproduksi, memiliki hasil sampingan berupa ijuk dan kolang-kaling, produknya dapat diolah menjadi gula, minuman segar, alkohol, dan methanol fuel grade, akarnya dapat menahan erosi dan menyimpan air, tidak membutuhkan pupuk yang banyak seperti tanaman sawit, dll.
Seharusnyalah, tanaman ini menjadi kultur baru yang dapat memberikan harapan akan perbaikan nasib petani di masa datang.

Umumnya para petani enggan menanam aren disebabkan karena umur produksinya yang lama, sekitar enam tahun. Namun jika dihitung penghasilan rata-rata perhari selama lima belas tahun, maka akan didapat bahwa aren menghasilkan uang enam kali lebih banyak dibandingkan tanaman kelapa sawit.

Kendala lainnya adalah : pameo. Diantara pameo itu adalah :
1.Aren tidak dapat tumbuh dengan baik jika ditanam. Ia hanya tumbuh dari kotoran musang. Pameo ini jelas tidak masuk akal, karena sekarang sudah banyak orang yang membibitkan aren, termasuk penulis, untuk kemudian menanamnya dan berhasil tumbuh dengan baik.
2.Penyadap aren tidak boleh berganti pakaian sepanjang bekerja menyadap aren.
3.Penyadap aren tidak boleh bercanda dengan perempuan lain selain istrinya.
4.Penyadap aren tidak boleh bertengkar dengan siapapun.
5.Penyadap aren harus membaca mentera tertentu dan menyanyi/bersiul saat akan menyadap aren.

Untuk poin 2 sd. 5, penulis sudah menyelidikinya dari beberapa teman yang bekerja sebagai penyadap, dan dari beberapa mantan penyadap aren. Mereka semua mengakui bahwa itu semua hanyalah trik saja, agar tidak banyak orang yang menjadi pesaing mereka bekerja sebagai penyadap aren.

Sebenarnyalah, menyadap aren itu adalah sangat alami, tak membutuhkan ritual, sama seperti menyadap karet, kemenyan, kapur barus dan lain lain.
Sudah saatnya petani kita, terutama yang hanya memiliki lahan sempit, untuk beralih menanam aren. Sementara menunggu masa produksi, petani bisa menanam ubi kayu sebagai tanaman tumpang sarinya.

Beberapa petani ubi kayu dekat rumah penulis, menanam ubi okulasi di lahan mereka. Steknya adalah ubi jenis ubi roti, dan mata tunasnya adalah ubi karet atau ubi bunga yang biasanya jadi tanaman peneduh di halaman rumah. Jarak tanam adalah satu meter kali dua meter, dan bisa menghasilkan ubi kayu segar 2 - 2,5 ton per rantenya.  Usia panen minimal sebelas bulan.

Agar petani bisa berpenghasilan seperti Ramli di atas (rp.135.000/hari), maka paling tidak harus menanam aren sebanyak 14 pohon, karena pohon aren mengeluarkan tandan buahnya, yang disadap, secara bergantian. Dan bila anda ingin menjadi petani aren tanpa menjadi penyadap aren, maka bisa memparuhduakannya dengan penyadap lain. Untuk itu petani harus menanam 28 batang pohon aren. Adapun lahan yang dibutuhkan adalah 28 x 49 meter persegi = 1372 m2 atau setara tiga setengah rante lahan.

Artinya, jika anda punya tanaman aren seluas tujuh rante saja, maka anda bisa berpenghasilan rp.270.000/hari dengan ongkang-ongkang kaki saja di rumah. Paling anda hanya melayani agen nira manis yang datang membeli nira ke rumah anda.
Tapi kalau anda mau bersusah payah membuat gula semut, maka penghasilan anda bisa bertambah 50 persen, karena harga jual gula semut jauh lebih tinggi.
Nyatalah, bahwa aren adalah sebenar harta karun yang belum disadari para petani kita.
Mau menggali harta karun itu?

Kalau tidak mau, ya sudah, silahkan tanam kelapa sawit, dan anda juga akan mendapat penghasilan rp.270.000 dari lahan tujuh rante itu. Hanya saja, yang ini :  setiap dua puluh hari sekali.

Salam tani.

Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2013/09/13/petani-dan-harta-karun-yang-belum-disadarinya-589527.html

Bang Pilot terimakasih tulisannya!  Teruskan untuk menulis tentang Aren....  (Dian Kusumanto@Aren Foundation)

Senin, 24 Februari 2014

MENGHEMAT BIAYA PROSESING GULA DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN

Reposting

Kamis, 15 Juli 2010

MENGHEMAT BIAYA PROSESING GULA DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN









MENGHEMAT BIAYA PROSESING GULA DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN

Oleh : Dian Kusumanto

Minggu malam tanggal 4 Juli yang lalu saya berhasil kontak dengan Dr. Ir. I Gede Wenten, seorang ahli membrane kelas dunia yang dimiliki Indonesia. Kontak lewat telepon itu saya manfaatkan untuk berkonsultasi tentang kemungkinan penerapan teknologi membrane untuk pengolahan Nira Aren menjadi Gula Aren. Beliau sangat respon dengan antusiasme penulis akan teknologi yang diyakini akan membangkitkan optimisme baru dalam industry Gula Aren di negeri ini.
Saya menanyakan kepada Beliau kira-kira kemampuan Alat RO dapat mengurangi kandungan air murni dari Nira Aren, maka beliau menjawab hingga kadar Gula dari Nira mencapai 30 %. Lalu saya juga menanyakan tentang harga Alat RO dengan kapasitas 1000 sampai 2000 liter per hari yang sudah bisa dirakit di Indonesia sendiri, yaitu tepatnya di Bandung dengan harga sekitar Rp 40 juta. Alat ini umur ekonomisnya bisa mencapai 5 tahun atau lebih. Adapun tentang Cartridge Membrane beliau mengatakan perlu diganti sekitar setahun sekali dengan biaya sekitar Rp 2,5 sampai Rp 3 juta per unit.
Nira asal dengan kadar gula 10-12 % akan diolah dengan alat RO yang dijalankan dengan tenaga listrik, karena dalam alat RO ini ada pompa bertekanan tertentu yang menekan masa larutan nira ini melewati atau menembus membrane. Namun karena nira terdiri dari gula dan air murni, maka yang bisa melewati (flush) membrane adalah hanya sebagian air saja, sedangkan gula tidak bisa menerobos membrane atau tertolak (rejection). Dengan demikian nira menjadi kental , menurut Dr. Ir. I Gede Wenten, yaitu sampai nira berkadar gula sekitar 30 %. Artinya ada sekitar 60% dari volume awal nira yang berasal dari masa air murni yang dipisahkan dari Nira, maka Nira menjadi lebih kental.
Kita patut berterima kasih dengan para Peneliti seperti Dr. Ir. I Gede Wenten ini, yang telah menghasilkan penemuan yang sangat berarti bagi Industri Gula pada umumnya, dan para perajin Gula Aren khususnya, karena teknologi ini akan dapat secara revolusioner merubah paradigma Industri Gula yang lebih hemat, efisien, berkualitas dan berdaya saing di masa datang.
Para Ahli dan Peneliti teknologi membrane yang lain juga sudah banyak yang memperhatikan pengolahan Nira. Para ahli telah melakukan penelitian tentang penggunaan membran untuk pemisahan nira dengan hasil sebagai berikut :
1. Pengotor-pengotor non gula dengan berat molekul rendah dan air dapat terpisahkan dari gula (Zanto, dkk).
2. Menghasilakan juice dengan kemurnian yang tinggi, intensitas warna yang rendah serta bebas pati dan partikel-partikel yang tidak mudah terlarut (Kishihara, dkk).
3. Mampu mereduksi 67% zat warna dan 47% partikel non gula, penurunan viskositas 20% (Day).
4. Campuran nira dan larutan kapur dingin hasil defekasi sangat efisien dipisahkan dengan ultrafikasi pada pH 7,2 (Madsen).

Secara hitungan ekonomis bisa kita bandingkan begitu sangat efisiennya teknologi membrane ini untuk mengolah Nira Aren menjadi Gula Aren yang berkualitas. Penulis mencoba menghitung dengan asumsi-asumsi yang sudah pernah disampaikan sebelumnya, yaitu sebagai berikut.
Biaya pengolahan Nira secara tradisional yang menggunakan tungku ala kadarnya dengan bahan bakar kayu limbah untuk mengolah 1000 liter Nira, kurang lebih sebagai berikut :
1. Kayu Bakar sebanyak 1 truk (4 ton) Rp 375.000,- - Rp 400.000,-
2. Tenaga kerja 5 HOK @ Rp 40.000 = Rp 200.000,-
3. Biaya penyusutan tungku, wajan, alat-alat masak, dll. (Sengaja tidak dihitung).
4. Jumlah biaya sekitar Rp 600.000 per 1000 liter Nira, atau Rp 600 per liter.
5. Jika 5 liter Nira bisa diolah menjadi 1 kg Gula, maka biaya pemasakan dengan cara tradisional mencapai : Rp 600/liter x 5 liter/kg = Rp 3.000 /kg gula.
Pemekatan nira ditujukan untuk meningkatkan konsentrasi nira dari 13-16 Bx menjadi 55-65 Bx agar gula dapat dikristalkan yang biasa dilakukan dengan menguapkan sebagian besar air yang ada pada nira pada tekanan hampa dan temperatur rendah. RO merupakan proses berbasis membran dengan gaya dorong tekanan, biasa digunakan untuk pemisahan zat terlarut dari pelarutnya dengan memberikan tekanan di atas tekanan osmotiknya.

Dari kajian yang telah dilakukan, aplikasi teknologi RO untuk peningkatan konsentrasi 20 Bx dapat mengurangi beban evaporasi sekitas 50% sehingga konsumsi energi dapat ditekan. Selain itu beberapa keuntungan lain penggunaan RO adalah :
1. Kebutuhan energi rendah karena tidak terjadi perubahan fase.
2. Temperatur operasi rendah sehingga dapat mengurangi kerusakan gula.
3. Perancangan sistem sederhana.
Sedangkan perkiraan biaya pengolahan Nira dengan menggunakan membrane filtrasi dan Pan Evaporator untuk pengolahan lebih lanjut terhadap 1000 liter nira, adalah sebagai berikut :
1. Biaya penyusutan alat RO dan membrane Rp 45 juta selama 5 tahun dan Cartride Membrane Rp 3 juta pertahun untuk kapasitas 300 hari x 1.000 liter nira/hari. Jadi unit cost alat RO = Rp 45 juta : 5 tahun : 300 hari/tahun = Rp 30.000 per hari, sedangkan untuk cartride membrane = Rp 3 juta : 1 tahun : 300 hari/tahun = Rp 10.000, jadi jumlah penyusutan sekitar Rp 40.000 per hari/ 1000 liter atau Rp 40/ liter nira. Biaya untuk Alat RO ini bisa mengurangi air murni dari nira hingga nira lebih kental dan berkadar gula 30 % atau berkadar air 70%.
2. Biaya pemasakan menggunakan Pan Evaporator yang hemat bahan bakar hingga menjadi Gula Kental yang siap dicetak atau diserbukkan sekitar 20% dari 4 ton kayu, atau sekitar 0,8 ton kayu dengan nilai sekitar Rp 80.000/hari/1000 liter nira, atau dengan unit cost sekitar Rp 80 per liter Nira. Sedangkan penyusutan untuk Pan Evaporatornya sendiri dihitung dengan harga sekitar Rp 30 juta selama umur ekonomis sekitar 5 tahun, yaitu Rp 6 juta per tahun atau sekitar Rp 20.000 per hari, atau dengan unit cost Rp 20 per liter nira. Jumlah unit cost bahan bakar dan alat Pan Evaporatornya menjadi Rp 100 per liter nira.
3. Tenaga kerja untuk alat RO dan Pan Evaporator 1 HOK @ Rp 75.000 = Rp 75.000 per hari/1000 liter nira, atau dengan unit cost Rp 75 per liter nira.
4. Tenaga listrik untuk pengoperasian alat RO dan yang lainnya sekitar Rp 450.000 per bulan atau Rp 15.000 per hari atau dengan unit cost Rp 15 per liter nira.
5. Jumlah biaya pemasakan menjadi sekitar Rp 230 per liter Nira.
6. Jika 5 liter Nira bisa diolah menjadi 1 kg Gula, maka biaya pemasakan dengan cara teknologi membrane dan Pan Evaporator Rp 230/liter x 5 liter/kg = Rp 1.150 /kg gula.

Sedangkan secara kualitas maka hasil produksi dengan alat RO ini akan lebih bersih, lebih cerah warnanya, lebih menarik, lebih hiegenis, dst. Maka akan dapat dengan mudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) bahkan standard dunia alias berkualitas ekspor. Dengan demikian nila harga juga akan mampu menembus harga yang lebih tinggi seperti produk serupa yang sudah beredar di pasaran dunia. Beberapa jenis palm sugar (Gula Palem) seperti Gula Kelapa Organik dari Big Tree Farm, atau Sweet Tree atau Gula Siwalan Organik dari Kamboja dibandrol dengan harga sekitar 9 US$ untuk 240 gram atau sekitar 36 US$ untuk 1 kilogram, jika dirupiahkan menjadi sekitar Rp 360.000 per kilogram.

Bagaimana pendapat Anda?

Workshop dan Seminar Peningkatan Efisiensi Industri Gula Berbasis Teknologi Membran




Workshop dan Seminar Peningkatan Efisiensi Industri Gula Berbasis Teknologi Membran

Senin, 24 Februari 2014
Institut Teknologi Bandung

Industri gula di Indonesia hingga saat ini masih menggunakan peralatan pengolahan gula yang konvensional.  Selain unit proses yang mahal, unit konvensional ini juga membutuhkan energi yang tidak sedikit.  Salah satu teknologi yang efisien dalam industri gula adalah teknologi membran.  Proses berbasis membran memberikan keunggulan dalam kualitas produk yang sangat baik, ukuran yang kompak, kebutuhan energi yang rendah dan sedikit menggunakan bahan kimia.

Workshop bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai teknologi membran dalam industri gula.  Program ini menjelaskan aspek teoritis dan praktis mengenai pengembangan pengolahan gula pada saat ini.  Selain itu, workshop difokuskan pada teknologi pengolahan gula baik secara pemilihan proses, operasional, maupun troubleshooting yang dapat meningkatkan efisiensi industri gula secara keseluruhan.

Jadwal Kegiatan


Waktu
Kegiatan
07.30 – 08.00
Pendaftaran Ulang
08.00 – 09.30
Materi I Pengenalan Teknologi Nira
09.30 – 10.00
Coffee Break
10.00 – 11.30
Materi II Teknologi Membran
11.30 – 13.00
Makan Siang + Demo Kit
13.00 – 14.00
Materi III Troubleshooting
14.00 - selesai
Kunjungan Workshop

Outline
1.    Pengenalan Teknologi Nira
-      Pendahuluan Nira
-      Diskripsi Proses Nira
-      Sekilas Teknologi Membran
-      Teknologi Membran Prospek Masa Depan
2.    Teknologi Membran
-      Karakteristik Membran
-      Preparasi Membran dan Fabrikasi
-      Sistem Desain Membran
-      Permasalahan dalam Teknologi Membran
3.    Troubleshooting
-      Troubleshooting
-      Fouling Control
-      Membrane Cleaning
-      Troubleshooting in RO, MD, EDI.

Registrasi
Biaya Registrasi per peserta (dalam Rupiah) : Rp 1.500.000
Pembayaran dapat dilakukan dengan pembayaran melalui bank, transfer rekening atau tunai satu hari sebelum registrai ulang workshop.

BANK NEGARA INDONESIA (BNI 1946)
014-5747073  atas nama Alief Angga Prasetya

Silakan mengirim form registrasi yang lengkap ke sekretariat workshop :
Laboratorium Proses Hilir
Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesa 10 Bandung 40135
Telp/Faks  +62 22 2511 404

Contact Persos :  Alief Rangga Prasetya
Mobile : +62 856 1076230,  +62 821 27718835

Rabu, 29 Januari 2014

Peluang Industri Gula Aren dalam pengembangan industri gula non tebu



Upaya pengembangan industri gula non tebu

Beberapa jenis tanaman selain tebu yang dapat menghasilkan gula terutama gula merah dan gula cair yaitu kelapa, aren, lontar, nipah, ketela pohon dan beberapa jenis tanaman buah-buahan. Masalahnya, pemanfaatan tanaman alternative penghasil gula selain tebu belum dilakukan secara maksimal dan konseptual. Produk akhir dari pengolahan gula dari tanaman selain tebu bukanlah gula Kristal (gula pasir) tetapi gula merah, gula semut dan gula cair. Sementara itu penggunaan gula merah, gula semut dan gula cair untuk keperluan konsumsi masyarakat sangat terbatas dibanding gula pasir. Di lain pihak, prospek penerapan teknologi pengolahan nira kelapa, aren dan lontar menjadi gula pasir belum tersosialisasi dengan baik  (Rumokoi, MMM. 2004).
Upaya-upaya untuk menggali potensi dan memanfaatkan pemanis alami non tebu telah dilakukan sejak lama terutama oleh masyarakat. Pengolahan gula merah dan gula cair dari aren, kelapa, lontar, nipah dan tanaman lainnya telah berlangsung puluhan tahun dan mungkin berabad lamanya. Pengolahan gula merah di Jawa telah berlangsung lama, pengolahan gula aren di Papua, Maluku dan Sulawesi Utara diperkirakan telah dilakukan berabad-abad, demikian pula dengan pengolahan gula lontar di Nusa Tenggara Timur (Rumokoi, MMM. 2004).
Timbulnya masalah pemenuhan gula dalam negeri secara berulang-ulang menimbulkan pemikiran baru tentang pemanfaatan potensi pemanis alami non tebu sebagai sumber gula dalam negeri di masa depan. Kelapa, aren dan lontar adalah tanaman-tanaman yang sangat potensial penghasil gula merah dan gula cair dari segi areal tanaman, pengolah yang terlibat, dan teknologi pengolahan yang tersedia. Oleh karena itu, potensi tanaman-tanaman ini sebagai alternative penghasil gula pasir, teknologi pengolahan gula pasir dari nira yang dihasilkan tanaman-tanaman ini serta kelayakan sebagai sumber gula alternative perlu diungkapkan untuk memaksimalkan pemanfaatannya  (Rumokoi, MMM. 2004).
Topik tentang peluang perkebunan dan industri gula berbasis non Tebu  dalam mendukung swasembada gula nasional, karena Pemerintah sudah terlalu lama mengusahakannya namun hasil dari revitalisasi ini masih belum mencapai tujuannya.  Disinilah pentingnya kita menginventarisir kembali alternative kebijakan public yang mungkin lebih efektif dalam mengatasi masalah Swasembada gula nasional.   Dengan mempertimbangkan alternative kebijakan yang lainnya menjadikan Pemerintah bisa tidak ‘mati akal’  tidak jumud dan lebih efisien waktu dan anggaran dalam rangka pemenuhan konsumsi gula nasional (Dian Kusumanto, 2010). 

Upaya pengembangan industri gula non tebu dari tanaman bit gula
Potensi bit sebagai bahan baku gula alternatif sangat besar. Bit sebagai bahan baku gula memiliki keunggulan dibandingkan dengan tebu, antara lain kebutuhan air yang lebih rendah yakni sepertiga dari tebu, mudah tumbuh di tempat marjinal, dan nilai rendemen (kandungan gula)  yang lebih tinggi dibandingkan tebu.     Pada tahun 2010 Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) bekerjasama dengan PT. Gula Bit Nusantara (GBN) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mulai mengembangkan budidaya gula bit tropika (Anonimous, 2010).
Namun masalahnya, setelah dilakukan pengujian banyak masyarakat yang kurang menyukai pemanis ini karena ada rasa getirnya. Namun sekarang, telah berhasil ditemukan sebuah tanaman pengganti yang cukup prospektif dan berpeluang sebagai alternatif pengganti tebu. Tanaman bit gula (Beta vulgaris L) yang memiliki potensi produktivitas cukup tinggi yakni mencapai 80 ton per hektar dengan masa tanam hanya 6-8 bulan serta rendemen minimal 10 persen.  Saat ini telah ditemukan varietas gula bit untuk daerah tropik yang berasal dari India (Anonimous, 2010).
Tanaman ini merupakan spesies yang berasal dari Afrika. Karakteristik yang khas dari tanaman Afrika adalah ketahanannya terhadap kekeringan. Menurut penelitian, kebutuhan air bit gula hanya sepertiga dari kebutuhan air pada perkebunan tebu.  Sugar bit ini kadar gula yang dimiliki dua kali lebih tinggi dari tebu,  Bit gula memiliki produktivitas 60-80 ton/ha bahan baku gula engan rendemen 12.  Produktivitasnya lebih kecil dibandingkan dengan tebu yang memiliki produktivitas 100 ton/ha.
Diperlukan peralatan berbeda pada pabrik gula bit dan pabrik gula tebu, khususnya pada peralatan sebelum tahap penguapan.  Untuk rencana pengembangan tanaman Gula Bit  dapat dilakukan di Indonesia dengan persyaratan agroklimat seperti yang sudah disebutkan diatas.    Pengolahan gula bit dapat dilakukan dengan memanfaatkan pabrik gula yang sudah ada dengan menggunakan proses sulfitasi, dimana nira bit diolah bersamaan dengan nira tebu.   Apabila akan dibangun pabrik gula baru berbahan baku bit, disarankan berbasis karbonatasi.  Sehingga Pabrik Gula Rafinasi  yang ada dengan sedikit modifikasi dapat dimungkinkan untuk mengolah gula bit. Dengan demikian tidak perlu mengimpor bahan baku Raw Sugar atau melakukan penanaman tebu untuk diolah menjadi Raw Sugar.   Kedepan Indonesia dapat mengurangi impor raw sugar dengan dapat dikembangkannya gula bit sebagai alternatif komoditi untuk menghasilkan gula.
Upaya pengembangan industri gula non tebu dari tanaman Sorgum

Salah satu alternatif yang diharapkan bisa membantu produksi gula Tanah Air yang sekarang ini mulai dikembangkan adalah tanaman Sorgum. Tanaman serealia ini bukan hanya bisa diolah sebagai bahan penghasil gula, tetapi juga bisa menghasilkan biomas dan jadi pakan ternak.   Pada akhir tahun 2012, P3GI juga melakukan penelitian terhadap 13 varietas gula bit. Dari penanaman dan pengolahan sorgum, setidaknya bisa didapat 4 hingga 5 ton bulir per hektare. Selain itu, didapat 30 ton biomas dan 4.000 liter nira  (Anonimous,  2012).
Pengembangan varietas baru yang dinilai cocok dengan iklim Indonesia itu merupakan hasil kerjasama P3GI dengan Badan Atom Nasional (Batan) dan lembaga di Jepang.   Dari teknik radiasi Batan, P3GI mendapatkan bibit Sorgum yang cukup baik.  Sorgum varietas ini bisa mengeluarkan bulir lebih cepat, berarti biomassa bisa banyak untuk pakan ternak dan bulir bisa untuk tepung.   Kerjasama P3GI  dengan Jepang ini mulai dikembangkan dalam penelitian. Khusus varietas ini nantinya bisa menghasilkan tinggi tanaman sampai 5 meter dan kadar gula tinggi. Varietas ini juga bisa menghasilkan biomassa lebih banyak. Untuk satu ton Sorgum bisa menghasilkan 40 ton biomassa. 
Keunggulan Sorgum lainnya jika dibandingkan dengan tebu antara lain dari sisi umur tanaman saat dipanen yang lebih pendek. Biaya budidaya sorgum juga lebih murah dari tebu dan sorgum cocok untuk ditanam di daerah kering.    Sorgum sudah bisa dipanen dalam 100 hari sampai 120 hari, biaya budidayanya sekitar 1/3 biaya budidaya tebu.

Upaya pengembangan industri gula non tebu dari tanaman stevia

Dewasa ini, sudah dikembangkan pemanis alami non tebu untuk memenuhi kebutuhan pemanis alami, yang baru gencar dikembangkan saat ini adalah pemanis alami yang diperoleh dari tanaman Stevia yang mempunyai tingkat kemanisan 200 – 300 kali gula tebu.  Sebenarnya tanaman yang banyak tumbuh di Paraguay, Kanada, Amerika Serikat, China, Jepang dan Korea ini sudah dikenal selama berabad-abad karena ciri khas pemanisnya yang ringan. Di lndonesia sendiri Stevia banyak dijumpai di daerah Ngargoyoso, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Akan tetapi pengembangannya masih belum terlalu luas  (Anonimous, 2005).
Daun Stevia mengandung senyawa gtikosida diterpendengan tingkat kemanisan antara 200 – 300 kali gula tebu, akan tetapi berkalori rendah.   Kenyataan ini memungkinkan untuk produk-produk olahan makanan maupun minuman kesehatan menggunakan tanaman yang tergolong famili Asteraceaeini. Bahkan di negara Jepang kurang lebih 40% bahan pemanis di pasaran menggunakan bahan dasar dari Stevia ini  (Anonimous, 2005).
Ekstrak Stevia telah terbukti bermanfaat membantu program diet, digunakan juga untuk mereka yang mempunyai penyakit diabetes disamping itu juga dapat membantu keindahan kulit serta berperanan dalam mengatur tekanan darah. Sari dari daun Stevia yang berperanan sebagai pengganti gula ini, sangat cocok untuk dicampur dengan teh atau kopi serta dapat juga dicampurkan ke dalam masakan yang kita makan setiap hari (Anonimous, 2005).

Upaya pengembangan industri gula non tebu dari tanaman nipah  (Nypa fruticans Wurmb)

Secara alami, di Indonesia telah terdapat hutan nipah seluas lebih dari 700.000 ha dengan potensi produksi gula 2,1 juta ton per tahunnya3. Selama ini, pemanfaatan nipah sebagai sumber gula masih dilakukan secara lokal. Baru-baru ini dilakukan perencanaan produksi di Kalimantan Barat direncanakan untuk memanfaatkan 10.000 ha nipah, sehingga prospek pengembangan nipah sebagai sumber gula masih sangat luas. Tantangan untuk pemberdayaan nipah adalah kebutuhan tenaga kerja yang tinggi jika dibandingkan dengan perkebunan tebu, sementara penggunaan mesin yang berat cukup sulit liar karena tanahnya yang lunak dan ketinggian air yang fluktuatif.  Namun getah nipah diperoleh dalam bentuk cair, sehingga tidak memiliki residu berupa bagas seperti halnya tebu  (Anonimus, 2013).

Upaya pengembangan industri gula non tebu dari tanaman Aren
Gula aren salah satu pemanis yang telah diproduksi oleh bangsa Indonesia sejak dahulu kala.  Gula aren sebagai pemanis atau sebagai bahan untuk pemanis makanan merupakan alternatif pemanis yang khasiatnya tidak diragukan lagi.  Ribovflavin merupakan salah satu zat yang terkandung dalam gula aren yang berfungsi untuk melancarkan metabolisme dan memperbaiki sel sehingga membuat tubuh kita tetap prima saat mengkonsumsi gula aren. Disamping itu gula aren mempunyai proses yang lama untuk larut dalam tubuh kita.  Bagi penderita mag sangat baik untuk mengkonsumsi gula aren.  Menurut Jeff Gunnent Dalam bukunya Perma Culture Plants (2004 dalam Anonimous 2012), salah satu unsur pada Gula Aren berfungsi mengontrol dan membersihkan saluran pencernaan, mulai dari lambung dan tenggorokan.
Kandungan Rebopflovin, yang terdapat dalam gula aren melancarkan metabolisme, dan mengoftimaikan fungsi sel. Meski demikian berolahraga dan mengurangi rokok juga perlu dilakukan.  Kalori yang terkandung dalam gula aren juga lebih kecil dari gula putih, dan gula aren memiliki nilai indeks glikemik yang lebih rendah yaitu sebesar 35 sedangkan pada gula pasir indeks glikemiknya sebesar 58.  Sehingga lebih aman bagi penderita diabetes dan atau tidak akan menyebabkan diabetes  (Livestrong, 2011 dalam Anonimous,  2012).
Skala 0–100 digunakan untuk mengukur seberapa besar makanan tersebut meningkatkan kadar gula dalam darah. Indeks glimetik (IG) yang mempunyai skala dibawah 50 disebut rendah, 50 – 70 sedang, sedangkan jika angkanya diatas 70 dianggap skala glimetiknya tinggi. Rendahnya IG ini bermanfaat bagi pengidap diabetes, atau untuk yang ingin menurunkan berat badan (Anonimous, 2012).
Pembuatannya yang alami sehingga gula aren tidak mengalami pengrusakan pada kandungan zat-zat yang terkandung di dalamnya, proses penyulingannya pun tidak berkali-kali. Sehingga kandungan yang bermanfaat seperti thiamine, riboflavin, asam askorbat, protein dan juga vitamin C tidak akan hilang atau rusak.  Selain itu dalam proses pembuatannya, gula aren umumya lebih alami sehingga zat-zat tertentu yang terkandung di dalamnya tidak mengalami kerusakan dan tetap utuh.  Serta tidak membutuhkan proses penyulingan yang berkali-kali atau menggunakan tambahan bahan untuk memurnikannya  (Anonimous, 2012).
Sejauh yang penulis ketahui penelitian tentang Aren memang sudah ada tapi belum sampai pada penawaran alternatif  menggantikan tebu sebagai bahan baku pokok industri gula.  Yang ada barulah sebatas penelitian-penelitian yang bersifat parsial untuk mempelajari potensi Aren itu sendiri.  Oleh karena itu dengan tulisan ini penulis berharap akan ada kajian yang lebih mendalam tentang bentuk pilihan kebijakan yang lebih operasional.
Penelitian ini baru mengkaji peluang dari komoditi Aren ini sebagai alternatif kebijakan baru menggantikan tebu sebagian atau seluruhnya secara bertahap.   Kajian ini diharapkan bisa menjadi bahan pertimbangan untuk memutuskan bagi yang berwenang sebagai solusi program revitalisasi industri Gula Nasional di masa mendatang.   Tentu saja sebagai suatu kebijakan alternatif, diharapkan bahwa kebijakan ini mempunyai nilai lebih sehingga menjamin  revitalisasi gula nasional itu bisa menjawab kesenjangan antara kebutuhan konsumsi gula dengan kemampuan produksi gula nasional selama ini.

(Ini cuplikan dari hasil Penelitian Ir. H. Dian Kusumanto dengan judul  Analisis Peluang Pengembangan Industri Gula Aren mendukung Swasembada Gula Nasional)