......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Selasa, 06 Oktober 2009

MERAWAT POHON AREN




Seri Pengalaman Petani Aren
MERAWAT POHON AREN

Oleh : Ir. Dian Kusumanto

Hari minggu pagi tadi (27/9/2009) penulis berkunjung ke kebun pekarangan salah satu warga di kelurahan Mansapa Nunukan, yaitu Pak Said (35 tahun). Sebagai warga perbatasan negara dia pernah juga berkerja di kebun salah seorang warga Malaysia, di wilayah Kubota , Tawau. Negeri Bagian Sabah 4,5 batu dari Kota Tawau.

Pada tahun 90-an yang lalu dia melihat ada warga Malaysia dari suku Bugis yang menanam Aren di tengah-tengah perkebunan kakao. Bibit Aren dibawa dari Sulawesi Selatan, tepatnya Enrekang. Enrekang memang terkenal sebagai daerah endemik Aren yang cukup luas dan banyak. Banyak warga Enrekang yang mengusahakan tanaman Aren untuk diambil niranya sebagai bahan baku gula merah cetak.

Tanaman Aren yang dia lihat pertumbuhannya sangat bagus dan subur, ditanam dengan jarak tanam seperti kelapa sawit, bahkan lebih rapat. Pemiliknya memupuknya dengan pupuk yang biasa digunakannya untuk tanaman kakao dan kelapa sawit, mereka menyebutnya sebagai ’Baja Subur’. Baja Subur yang dimaksud sebenarnya adalah jenis pupuk NPK 15-15-15. Pemupukan tanaman Aren dilakukan dengan cara membuat lubang/ parit kecil mengelilingi pokok pohon berjarak sekitar 1 meter dari pohon.

Pak Said memang tidak sempat melihat perkembangan selanjutnya dari tanaman Aren di Batu 4,5 wilayah Kubota Tawau itu. Namun dia percaya kesuburan, kecepatan tumbuhnya tanaman Aren beda dengan yang dia tanam tanpa perlakuan apa-apa.

Di Mansapa Nunukan dia juga menanam Aren di kebun pekarangannya. Namun kondisinya tidak seperti yang dia saksikan di Tawau waktu itu. Dia tanam Aren di tengah tanaman lain di pekarangan, setelah agak besar Pak Said lalu membersihkan, memotong tanam lainnya yang ada di sekitar pohon Aren. Setelah cukup mendapat sinar matahari tanaman Arennya terlihat lebih cepat berkembang. Berbeda dengan tanaman Aren yang tumbuh di bawah pohon yang lain. Dengan sinar matahari yang cukup daun aren terlihat lebih segar dan mengkilat. Ini merupakan tanda baik tanaman aren.

”Kalau tidak dibersihkan sekelilingnya tanaman Aren kurang cepat tumbuhnya”, timpal Pak Said. Pak said juga melakukan pembersihan ijuk yang menyelimuti batang Aren. Dengan perlakuan pembersihan dari awal pertumbuhan tanaman aren lebih cepat besar, batang menjadi lebih besar diameternya.

Seperti Pak Said, di kampung Sei Jepun kelurahan Mansapa juga ada Pak Muhammad (60 tahun) dia adalah ketua RW 01. Di dampingi Pak Amiruddin (39) Ketua Kelompok Tani Hidup Bersama, berbincang-bincang dengan penulis seputar pengalamannya mengelola tanaman Aren pada usia muda dulu saat dia masih di kampungnya di Sulawesi.

Pak Muhammad berasal dari Sinjai Sulawesi Selatan, sedangkan pak Amiruddin berasal dari Bone. Waktu kecil Pak Muhammad di Sinjai dia selalu membantu orang tuanya merawat dan menyadap nira Aren. Sekaligus membuat gula masak. Makanya beliau tahu betul bagaimana cara mengelola pohon Aren yang dilakukan oleh orang tuanya waktu itu.

Waktu di kampung dulu tanaman aren tidak pernah dirawat dengan baik. Kalau toh ada perawatan ’paling-paling’ membersihkan pokoknya dari rumput dan menebangi pohon-pohon yang menaungi Aren. Itu pun dilakukan kalau tanaman Aren sudah mulai tumbuh agak besar. Perawatan yang lain sebelum tanaman berubah adalah membersihkan pohon dari ijuk yang menyelimuti batang aren dan memotong daun bagian bawah yang terlihat kurang sehat.




Di Nunukan dia mencoba menerapkankan perawatan tersebut pada tanaman Aren yang ada di kebunnya. Dengan membersihkan pokoknya dari tanaman lain dan membuang ijuk sejak awal pertumbuhan, terlihat tanam aren lebih cepat berkembang. Pengalaman yang pernah dia lihat di Mung Balai, Tawao saat dia bekerja di Malaysia ada tanaman aren yang sudah berbuah pada umur 4-5 tahun, karena tanamannya dirawat dengann sangat intensif seperti perlakuannya pada tanaman Kelapa Sawit dan Kakao.

Pak Muhammad sangat percaya bahwa dengan pemupukan sejak awal dan perawatan pembuangan ijuk dan serta pembersihan kebun aren dari tanam yang melindungi membuat tanaman aren cepat berbuah. Dia sudah menyaksikan sendiri di Tawao pada kebun milik orang malaysia dari suku Bugis yang pada umur 4-5 tahun sudah mulai berbuah. Padahal bibitnya sama-sama dari Sulawesi Selatan juga.

Kalau pemeliharaanya baik selain lebih cepat menghasilkan maka semua ketiak daun akan mengeluarkan tandan bunganya. Dengan demikian maasa panen tanaman Aren juga semakin lama. ”Aren bisa disadap niranya sampai selama 5-8 tahun”, timpal Pak Muhammad, satu tandan bunga yang bagus, besar dan panjang bisa disadap sampai 6 bulan. Sebelum tandan habis disadap airnya kadang sudah muncul tandan lainnya yang siap sadap. Sehingga seolah-olah tidak ada masa tanaman Aren berhenti berproduksi selama 5-8 tahun tersebut.

Tandan bunga yang sangat baik dalam menghasilkan nira bahkan cukup di sayat sangat tipis, setipis kertas. Kadang-kadang dengan mengerik atau menggosok permukaan sayatan tandan, air nira sudah bisa keluar lagi dengan deras. Di kampungnya dulu ada salah satu tanaman yang mempunyai daun dengan permukaan yang kasar seperti kertas gosok (amplas). Daun itulah yang biasa digunakan untuk menggosok permukaan sayatan tandan bungan aren itu. Dia lupa apa namanya tanaman itu. Oleh karena itulah maka satu tandan bisa diambil niranya sampai 6 bulan.

Pak Muhammad juga menyatakan bahwa tidak semua tandan hasilnya baik, ada juga yang hanya beberapa minggu saja sudah berhenti mengeluarkan nira. Menurutnya cara merangsang tandan aren juga harus diperhatikan seperti :
1) Kapan waktu mulai menggoyang tandan
2) Cara menggoyang tandan
3) Cara memukul tandan
4) Awal memotong tandan yang siap mengeluarkan nira

Waktu mulai menggoyang tandan jantan untuk diambil niranya adalah saat bunganya sudah mulai terlihat kuning serbuk sarinya, bahkan serbuk sarinya jatuh sehingga warna kuning yang jatuh di permukaan tanahnya. Saat itulah menggoyang dan memenuhi tandan dilakukan orang-orang tua dulu bahkan melakukannya dengan penuh perasaan, seolah-olah sedang merayu pohon agar dapat mengeluarkan air nira dengan derasnya, ibarat seperti meminta seorang ibu yang akan mengeluarkan susu untuk anaknya.

Saat yang tepat untuk memotong tandan biasanya ditandai dengan banyaknya lebah atau serangga yang mengelilingi tandan tadi. Seolah-olah tandan sudah mengeluarkan aroma khusus ’feromon’ sebagai tanda bahwa air nira yang manis itu sudah akan keluar. Pemotongan tandan itu pun biasanya masih menunggu masa yang disesuaikan dengan keadaan air laut. Pada saat pasang puncak air laut, saat itulah dilakukan pemotongan tandan itu. Harapan mereka agar nanti airnya melimpah seperti saat air pasang dilaut mencapai puncaknya.

Biasanya adalah saat Bulan pada berisi tanggal 14-15 atau pada tanggal 22 sedangkan jam melakukan pemotongan tandan memperhatikan puncak pasang air laut yang biasanya siang hari. Kebiasaanya seperti ini dipercaya turun-menurun bahkan ketika dia tidak di kampungnya. Dia percaya ini ajaran orangtua yang harus ditiru dan dilestarikan karena memang sudah terbukti.

Pak Muhammad dan Pak Amiruddin juga sepakat bahwa setiap tandan mempunyai peluang yang sama banyak mengeluarkan nira tergantung dari :
1) Cara perawatan tandan sebelum di sadap dan selama penyadapan.
2) Pemberian pupuk yang cukup pada saat penyadapan sebelum dan sesudahnya secara periodik
3) Kesehatan pohon yang meliputi jumlah daun, kesehatan daun, dll.

Dia seolah membantah pernyataan atau anggapan yang berkembang selama ini bahwa semakin ke bawah, tandan bunga akan mengeluarkan air nira semakin sedikit. Pak Muhammad membantahnya, sebab jika perawatan pohon dilakukan dengan cukup dan dengan cara yang baik tandan akan mengeluarkan air nira dengan stabil baik tandan yang di atas sampai tandan yang paling bawah.

Namun dia memaklumi anggapan tersebut. Karena kondisi di atas bisa terjadi jika para pekebun Aren tidak melakukan perawatan yang baik, yang bahkan gampang memotong daun. Kalau daun semakin sedikit air nira juga akan semakin berkurang. Sebab kalau pohon Aren sudah dewasa yang ditandai bahwa pohon sudah berbunga, maka daun baru tidak akan tumbuh lagi. Oleh karena itu daun yang ada seharusnya dihemat dan dipelihara sebaik-baiknya, jangan mudah memotong daun tanpa alasan yang kuat.

Oleh karena itu dia menyarankan agar daun tidak dipotong terus menerus. Kecuali jika daun itu tidak sehat yang dilihat dari warnanya yang kotor tidak cerah atau kusam karena adanya jamur yang menempel seperti ‘panu’ atau ‘kurap’ pada kulit manusia. Daun-daun yang kusam dan tidak sehat ini karena kita terlambat melakukan kebersihan kebun (sanitasi) dari pohon yang menaungi daun tanaman Aren. Oleh karena itu kebersihan kebun sebaiknya dilakukan sejak awal, sejak tanaman aren mulai mengeluarkan ijuknya.




“Menanam Aren sebaiknya jangan tanggung-tanggung”, begitu kata Pak Muhammmad dan Pak Amiruddin. Jika sedikit malah membuat masalah karena orang akan membuat tuak untuk mabuk-mabukan saja. Sebaiknya jika Aren ditanam dalam jumlah yang banyak akan membawa kebaikan karena bisa dibuat gula merah. Kalau semua dibuat gula merah maka akan dapat sangat baik bagi ekonomi masyarakat. Apalagi kalau Pemerintah Daerah membuat Perda khusus yang mengatur agar nira Aren tidak dikelola menjadi minuman keras yang membuat mudhorot bagi masyarakat itu sendiri.

Akan sangat baik jika nanti Aren cukup banyak, didirikan Koperasi yang membeli dan menampung nira dari pemilik kebun aren dan mengelolanya menjadi gula. Dengan demikian petani tidak repot–repot lagi mencari kayu dan memasaknya. Semua akan dikelola oleh koperasi agar mutu gula aren bisa lebih seragam dan bagus kualitasnya. Kalau pengolahan dilakukan oleh para petani, dikhawatirkan mutu kurang terjamin dan akibatnya harga pasaran akan jatuh dan tidak bisa bersaing dengan gula merah dari daerah lain.

Pak Muhammad berharap Aren sudah menjadi program pemerintah agar masyarakat semakin semangat dalam mengusahakannya. Bahkan kalau ada biaya dan bibitnya dia berencana akan membuka kebun aren seluas 20 ha di lahannya yang ada di Pulau Iting-iting Kabupaten Nunukan. Beliau membuka diri seandainya ada yang mau bermitra dengannya maka akan diikuti oleh warga yang lain dengan lahan yang lebih luas lagi. Sebagai tokoh masyarakat maka mudah bagi Pak Muhammad untuk mengajak warganya sama-sama menanam Aren.

Kalau ada yang serius beliau dan kelompoknya sanggup membuka kebun sampai ratusan hektar di Pulau Iting-iting itu. Sepengetahuan penulis luas lahan di Pulau Iting-iting lebih dari 1.500 ha yang siap untuk dibuka kebun.

Hayo... Siapa yang berminat investasi atau kerjasama?

Tidak ada komentar: