......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Jumat, 14 Oktober 2011

Aren Tembaring aren genjah dari Nunukan

Aren Tembaring aren genjah dari Nunukan

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto






Aren Tembaring aren genjah dari Nunukan

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Pembibitan Aren Genjah Masih Berpola Konvensional

Pembibitan Aren Genjah Masih Berpola Konvensional


Kepala Dinas Perkebunan Kutim, Akhmadi Baharuddin, mengatakan arah kebijakan Disbun adalah merealisasikan hasil penelitian yang menunjukkan keunggulan varietas aren genjah. "Sudah dilakukan penelitian. Dari sekitar 400 pohon yang diteliti, 30 pohon akan dijadikan pohon induk yang menjadi bahan bibit," katanya.

Artinya, pohon tersebut tidak akan diambil niranya. Namun difokuskan pada pembibitan buah mayangnya. "Pembibitan ini penting, karena Kutim ditetapkan sebagai kawasan bahan tanam nasional," katanya.

Disbun juga berupaya memberdayakan petani. "Tentu akan ada nilai tambah pada pendapatan mereka. Bila sebelumnya mereka mengambil nira untuk membuat gula merah dan semut, kini mereka diarahkan sebagai penangkar bibit yang nantinya menjual kecambah," katanya.

Saat ini proses pembibitan masih berpola konvensional. Caranya dengan membuat kecambah dari proses fermentasi atau pelembaban buah mayang yang sudah tua. "Selanjutnya proses pembibitan akan diarahkan pada mekanisasi pertanian, bahkan pola kultur jaringan," katanya.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, pengujian aren genjah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Direktur Tanaman Keras. Pengujian berlangsung di ruang sidang Gedung C, Kantor Kementerian Pertanian Dirjenbun, Jakarta, 12 Juli lalu. Dan varietas ini pun melenggang sebagai salah satu varietas unggul nasional.

"Selama ini kita membuktikan bahwa aren genjah memang unggul. Pohonnya lebih rendah, namun buahnya lebih lebat," katanya. Kualitas air aren yang dihasilkan juga lebih baik dari varietas lain. Selain itu, jenis aren genjah juga "eksklusif" hanya tumbuh di Desa Kandolo.

Menurut Akhmadi, pengembangan Aren Genjah akan mendukung pengembangan ketahanan pangan dan penguatan sektor agribisnis. Khusus untuk Kutim, ia menilai akan menjadi bukti bahwa Kutim tak hanya mengandalkan sawit sebagai komoditi perkebunan.

"Selanjutnya, peningkatan aren jenis ini tak hanya diproyeksikan untuk home industries saja. Namun juga untuk etanol atau bioenergy sebagai sumber energi yang terbarukan," katanya.

Pengembangan varietas Aren Genjah terus dilakukan secara intensif sejak tahun 2009, melalui kerjasama Disbun Kutim dan Balitka Manado. Pada tanggal 15 Maret 2011, varietas ini sudah didaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman di Dirjenbun sebagai hak paten Kutai Timur. (kholish chered)

Sumber : http://medan.tribunnews.com/2011/09/21/pembibitan-aren-genjah-masih-berpola-konvensional

Aren Genjah Kutim Berproduksi Cepat

Aren Genjah Kutim Berproduksi Cepat

Tanaman aren (Arenga Pinnata) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sudah lama dikenal. Tanaman penghasil air nira kerap dimanfaatkan menjadi gula merah. Hanya saja pertumbuhan aren ini memang terbilang cukup lama. Biasanya, sejak aren ditanam baru dapat dipanen 10-15 tahun kemudian. Namun siapa sangka jika aren kini dapat dipanen dalam waktu singkat dari biasanya.

Hal ini sudah dibuktikan pada tanaman aren genjah asal Kutai Timur (Kutim). Tim Peneliti Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur telah mengamati setidaknya di delapan provinsi dengan luas 59.504 hektar. Salah satunya di Kalimantan Timur yang tersebar di sembilan kabupaten dengan luas 1.504 hektar. Sementara itu Kabupaten Kutai Timur, aren ditanam di atas lahan seluas 312,50 hektar.

Tanaman aren genjah sendiri menyebar mulai dari India, Assam Utara, Asia Tenggara sampai ke Papua New Guinea. Selain itu, aren juga menyebar mulai dari kepulauan Ryukyu, Taiwan, Cina Selatan, Pulau Christmas di Lautan Hindia sampai ke Queensland (Australia Utara).
Indonesia sendiri bagian dari Asia Tenggara merupakan salah satu daerah asal aren. Di Indonesia, aren terdapat 10 genus Arenga yang endemik di Indonesia namun telah langka. Aren (Arenga pinnata) ada 2 tipe : tinggi/Dalam/kapur/gajah dan pendek/genjah/kijang/gading. Bagi masyarakat Kalimantan, aren sudah tidak asing lagi. Penelitian bernama Mogea pada tahun 1991 menemukan suatu genus arenga endemik Kalimantan. Aren menyebar di seluruh wilayah Kalimantan.

Aren genjah/pendek terdapat di Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur. Masyarakat mulai menyadap nira aren genjah sejak 30 tahun lalu, karena pohon pendek dan mudah disadap. Masyarakat menanam aren dengan mengambil bibit yang tumbuh di bawah pohon aren genjah yang memiliki produksi nira tinggi. Sementara itu Tim Peneliti Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balitka) dan Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, telah menemukan varietas aren dengan kecepatan produksi yang lebih singkat. Bayangkan, aren genjah Kutim dapat diproduksi sekitar lima hingga enam tahun.

Tim Balitka sendiri sudah mengamati aren sejak tahun 2009. Karena aren ini memiliki keunggulan dibanding aren tipe dalam. Apalagi aren ini memiliki kecepatan berproduksi, yakni sekitar lima hingga enam tahun.

Aren genjah Kutim sendiri sudah lama dikenal dan diusahakan masyarakat di Kabupaten Kutai Timur, dengan penyebaran yang luas di Kecamatan Teluk Pandan. Sifat aren genjah dengan umur mulai berproduksi sekitar 5-6 tahun dan ukuran tanaman yang relatif pendek, menjadi nilai tambah dan pembeda dengan aren tipe dalam.

Sumber : http://mediaperkebunan.net/index.php?option=com_content&view=article&id=10:daerah&catid=11

AREN GENJAH bakal disertfikasi

AREN GENJAH bakal disertfikasi

SANGATTA - Kabupaten Kutai Timur memiliki keunggulan lokal yang diakui nasional. Salah satu komoditas yang sedang diperjuangkan Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balitka) Manado untuk disertifikasi adalah aren genjah. Arena genjah (dalam bahasa Kutai disebut: Bandah/Banda) ditemukan tumbuh pada 9 wilayah kabupaten di-Kaltim.

Peneliti Balitka Manado menyebutkan aren genjah terbanyak di Kutai Kartanegara dan Kutai Timur (Kutim). Peneliti Balitka Manado sudah melakukan penelitian selama 3 tahun (2009-2011) di dua wilayah kecamatan , yakni Sangkulirang dan Teluk Pandan. Selanjutnya penelitian itu lebih terfokus di Desa Kandolo, Kecamatan Teluk Pandan.

Di Desa Kandolo menurut peneliti Prof Hengky Novarianto, varietas aren genjah ditemukan tumbuh subur dan disadap petani setempat untuk diolah menjadi gula aren. Aren genjah diduga merupakan tumbuhan asli Kutim, dengan penyebaran yang luas terdapat di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK), tepatnya sekitar 3 kilometer masuk sebelah dari jalan poros Sangatta - Bontang di wilayah Desa Kandolo. Karena tamanan khas itu diduga komoditas unggulan maka perlu dilindungi kepemilikannya sebagai salah satu kekayaan hayati khas Kutim.

Sifat genjah dan pohon yang pendek serta umur mulai berproduksi relative singkat antara 5-6 tahun dibanding aren tipe dalam yang baru bisa produksi pada umur 10-12 tahun. Aren genjah Kutim memiliki manfaat dan nilai ekonomi yang tigngi bagi masyarakat. Setiap mayang dapat menghasilkan nira lebih kurang 12 liter per hari dengan lama penyadapan 2,5 bulan. Nilai tambah tersebut memberi peluang pengembangan di daerah sentra aren lainnya di Indonesia dalam meningkatkan pendapatan petani.

Jumlah pohon induk aren genjah terpilih sebagai sumber benih, adalah 212 pohon tanaman yang sementara disada , 307 pohon aren genjah yang akan disadap, dan 422 pohon aren muda yang kini sedang berumur 3 tahun.

“Pohon induk aren genjah tersebut berpotensi menghasilkan benih 4-32 butir per pohon. Yang berarti tiap pohon aren genjah Kutim dapat digunakan untuk pengembangan tanaman pada lahan seluas 12 hingga 13 hektare,” terangnya.

Namun sebelum dibudidayakan, aren genjah Kutim ini terlebih dahulu harus mendapat pengakuan secara nasional dengan cara sertifikasi. Rencananya, 24 Maret mendatang di Bogor diadakan seminar pengusulan aren genjah Kutim untuk disertifikasi. Berkaitan dengan itu, Balitka Manado bekerja sama dengan Dinas Perkebunan Kutim menggelar presentasi untuk input data guna melengkapi bahan usulan komoditas lokal milik Kutim.

Dalam presentasi yang dilangsungkan di lantai 2 ruang Tempudau Setkab Bukit Pelangi, Kamis (10/3) kemarin, Wakil Bupati Ardiansyah Sulaiman menyarankan agar data pembanding pengembangan aren genjah Kutim harus ada. Berikut, waktu mulai penelitian di Kutim harus lengkap. Termasuk tanggal, bulan dan tahun.

Sedangkan Asisten Administrasi Edward Azran menyebutkan, nama aren dalam bahasa kutai harus disebutkan. Karena ini menyangkut unggulan lokal. “Mudah-mudahan aren genjah Kutim ini diakui hingga memiliki sertifikasi untuk dibudidayakan,” harapnya. (kmf2/san)

Sumber : http://www.kaltimpost.co.id/index.php/main/praca/account_manger_lokalizacja_poznan?mib=berita.detail&id=92867

Seminar Aren Genjah di Bogor

Seminar Aren Genjah di Bogor


SANGATTA- Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Kepala dan Palma Lain (Balitka) Manado Prof Hengky Novarianto mengatakan, pihaknya telah mengidentifikasi tanaman asli khas Kalimantan yang tumbuh tunggal dan berkelompok di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) Desa Kandolo, Kecamatan Teluk Pandan.

Sebanyak 941 pohon aren genjah itu menurutnya adalah milik 15 warga setempat. Abdul Azis memiliki 108 pohon aren genjah. Haji Kile memiliki 137 pohon aren. Mammi 92 pohon, Sakka punya 111 pohon, Haji Tarenre memiliki 53 pohon. Berikut Habba punya 71 pohon, Udin punya 42 pohon, Gunawan 45 pohon, Halim 27 pohon, Ukkase 35 pohon, Betta 50 pohon. Selanjutnya Ardiansyah 40 pohon, Nappase 43 pohon, Haji Baba 137 pohon, dan Gunami punya 32 pohon.

“Tipe aren genjah tumbuh tegak pada lingkungan lahan kering iklim basah, air tanah dangkal pada ketinggian tertentu. Aren genjah mulai produksi pada umur 5 tahun,” ujarnya.



Ciri lain aren genjah, ukuran batang melingkar 138, 2 cm. Daun hijau mengkilap. Bunga mayang betina mencapai 7,20 buah dan bunga mayang jantan 7,90 buah. Produksi nira per mayang per hari 12,14 liter dengan kadar gula 12,74 persen. Jumlah benih per mayang 760 butir. Dalam satu pohon aren menghasilkan benih 4.032 butir. Tiap pohon induk penghasil benih mampu dikembangkan pada lahan seluas 12 hingga 13 hektare.

Aren genjah ini sengaja diteliti Balitka Manado, untuk diusulkan pelepasannya sebagai tanaman khas Kutim. Hanya saja sebelum mendapat pengakuan resmi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Kementerian Pertanian RI, maka terlebih dahulu harus melalui tahapan seminar pelepasan yang rencananya dilangsungkan di Bogor hari Kamis (24/3) lusa.

Bila pelepasan aren genjah sudah resmi, Kutim secara nasional diakui memiliki tamanan khas bahan baku gula merah. Nira aren genjah setelah disadap umumnya diolah menjadi gula, baik gula cetak maupun gula semut. Tiap petani mengolah rata 50 liter nira per hari, dan dapat menghasilkan sekitar 6 kilogram gula semut, atau 12 buah gula cetak. (berat 0,5 kg per buah) dengan harga gula cetak Rp 7.000 per buah. Sedangkan harga gula semut Rp 20.000 per kilogram.
“Saat ini pada umumnya petani mengolah setengah bagian gula semut dan setengah lagi gula cetak. Dengan demikian, pendapatan kotor petani berkisar Rp 84 ribu hingga Rp 120 ribu per hari. Kualitas gula aren genjah setelah dianalisis baik gula cetak maupun gula semut, keduanya memenuhi standar SNI 01-3743-1995,” papar Hengky Novarianto

Sumber : http://perkebunan.kaltimprov.go.id/berita-1060-kamis-seminar-aren-genjah-di-bogor.html

Bibit Aren Genjah Kutim Kian Diburu

Bibit Aren Genjah Kutim Kian Diburu


TRIBUN-MEDAN.com, SANGATTA - Varietas tanaman Aren Genjah yang dikembangkan di Desa Kandolo, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur telah dikukuhkan sebagi varietas unggul nasional pertengahan Juli lalu.

Belakangan, minat berbagai daerah di Indonesia untuk menjajaki varietas aren genjah semakin meningkat. Terutama dari kawasan Kaltim dan daerah Sumatera.

Kepala Dinas Perkebunan Kutim, Akhmadi Baharuddin, mengatakan sejak ditetapkan sebagai varietas unggul nasional, banyak daerah yang menyatakan tertarik pada varietas tersebut.

"Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Bila problem ketersediaan bibit bisa diatasi dengan cepat, maka hal ini menjadi peluang untuk masyarakat. Sedangkan Disbun berfungsi sebagai pembina dan pengawas," katanya.

Akhmadi mengatakan, pembudidayaan aren genjah secara massif dan berskala besar sangat diperlukan. Selain untuk memenuhi permintaan, juga untuk meraih hasil maksimal dari siklus hidup tanaman yang saat ini sudah berproduksi.

Bila terlambat, dikhawatirkan tanaman induk sudah tidak produktif, bahkan mati. Dengan demikian, agenda pembudidayaan bisa terancam gagal. (khc)

Editor : Sofyan Akbar

Sumber : http://medan.tribunnews.com/2011/09/21/bibit-aren-genjah-kutim-kian-diburu

VARIETAS UNGGUL AREN GENJAH KUTIM: AWAL KEBANGKITAN TANAMAN AREN

AWAL KEBANGKITAN TANAMAN AREN

Tanaman aren merupakan jenis tanaman palma yang penyebarannya cukup luas di Indonesia. Data dari Ditjenbun (2010), pada tahun 2010 luas tanaman aren sekitar 59.388 ha dengan produksi sekitar 33.181 ton gula aren. Namun demikian, pada umumnya tanaman aren masih tumbuh secara liar walaupun ada beberapa daerah yang telah mulai membudidayakan. Hal ini disebabkan tanaman aren yang berkembang saat ini umumnya merupakan Aren Dalam dengan umur mulai produksi lebih dari 10 tahun dan tinggi tanaman sekitar 14 meter.


Pada tanggal 12 Juli 2011, hasil sidang Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V) memutuskan bahwa Aren Genjah Kutim memenuhi syarat untuk dilepas sebagai varietas unggul oleh Menteri Pertanian. Hal ini menjadikan Aren Genjah Kutim sebagai varietas aren yang pertama dilepas.

Aren Genjah Kutim ini merupakan hasil kerjasama eksplorasi dan karakterisasi antara Balitka dengan Pemda Kabupaten Kutai Timur. Tanaman Aren ini memiliki keunggulan dari segi umur mulai produksi yang cepat, yaitu 5-6 tahun, tinggi tanaman yang hanya sekitar 3-4 meter sehingga mudah dalam upaya penyadapan nira dan memiliki produksi nira yang cukup tinggi. Rata-rata jumlah mayang betina pada setiap tanaman sebanyak 7 mayang dan jumlah mayang jantan sebanyak 7 mayang dengan total produksi nira rata-rata sebanyak 5.987 liter dan waktu penyadapan sekitar 2,5 bulan/mayang. Sehingga umur tanaman sekitar 7-8 tahun.





Aren Genjah Kutim, memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Dari produksi nira yang dihasilkan hingga tanaman berumur 7-8 tahun, rata-rata dapat dibuat gula aren sekitar 120 ton per ha tanaman, dengan harga pokok produksi gula aren sekitar Rp 5.285/kg. Sehingga apabila harga gula aren sekitar Rp 7.000/kg maka akan didapat keuntungan sekitar Rp. 205 juta per ha hingga tanaman berumur 7-8 tahun atau sekitar Rp 29 juta per ha per tahun.


Nira aren juga dapat diolah menjadi bio-ethanol. Dari produksi nira yang dihasilkan hingga tanaman berusia 7-8 tahun, rata-rata dapat dibuat bio-ethanol sekitar 68.000 liter per ha tanaman.


Saat ini telah terpilih pohon-pohon induk dengan potensi benih per pohon sekitar 4.000 butir yang dapat digunakan untuk pengembangan tanaman aren seluas 2-3 ha. (Else Tenda).

Sumber : http://balitka.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=157%3Avarietas-ungul-aren-genjah-kutim-awal-kebangkitan-tanaman-aren-&catid=37%3Aberita&Itemid=160&lang=en



Aren Genjah Kutai Timur Resmi Jadi Varietas Unggul Nasional


Aren Genjah Kutai Timur Resmi Jadi Varietas Unggul Nasional

SANGATTA, tribunkaltim.co.id -

Varietas tanaman Aren Genjah yang dikembangkan di daerah Kandolo, Kabupaten Kutai Timur akhirnya resmi menjadi varietas unggul nasional. Hal ini diketahui setelah tim penguji mengumumkan hasil sidang pelepasan varietas Aren Genjah Kutim menjadi varietas nasional, Selasa (12/7/2011) malam.

Pengujian Aren Genjah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Direktur Tanaman Keras. Pengujian berlangsung di ruang sidang Gedung C, Kantor Kementerian Pertanian, Dirjenbun, Jakarta.

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kutim, Akhmadi Baharuddin, didampingi anggota Tim Disbun, Aliansyah Saragih, menyambut gembira keberhasilan ini. Kutim pun siap untuk terus mengembangkan perluasan area tanam di Kutim, sekaligus menyiapkan sumber bahan tanam untuk daerah lain.



Sidang ini merupakan sidang kedua yang digelar selepas 23 Maret 2011 lalu. Dalam sidang sebelumnya, Tim Disbun Kutim yang bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balitka) Manado, diminta melengkapi paparan dengan asal usul maupun perbandingan dengan aren dari daerah lain.

"Setelah dilakukan penelitian, Aren Genjah Kutim berbeda dengan daerah lain, dan memiliki beberapa keunggulan," kata Aliansyah. Keunggulan tersebut antara lain umur berproduksi lebih cepat, kandungan gula yang tinggi, buah yang lebat, dan ketinggian pohon yang relatif lebih rendah.

"Umur berproduksinya cepat, yaitu sekitar 5 tahun. Sedangkan jenis aren lain hingga 10 tahun. Kandungan gulanya lebih tinggi atau di atas standar. Ketinggian dari tanah sekitar 2,5 meter. Sedangkan jenis lain sekitar 8 meter," katanya.

Selain itu, buahnya juga lebih lebih lebat. Sehingga potensial menjadi sumber bahan tanam dalam skala luas. Dalam 1 mayang diperkirakan bisa menjadi bahan tanam untuk 12 Hektar.

Atas berbagai keunggulan dan diferensiasinya, Aren Genjah Kutim menjadi varietas aren pertama yang menjadi varietas unggul nasional. "Selanjutnya, peningkatan aren jenis ini tak hanya diproyeksikan untuk home industries saja. Namun juga untuk etanol atau bioenergy sebagai sumber energi yang terbarukan," katanya.

Menurutnya, pengembangan Aren Genjah akan mendukung pengembangan ketahanan pangan dan penguatan sektor agribisnis. Khusus untuk Kutim, ia menilai akan menjadi bukti bahwa Kutim tak hanya mengandalkan sawit dan karet sebagai komoditi perkebunan.

Pengembangan varietas Aren Genjah terus dilakukan secara intensif sejak tahun 2009n, melalui kerjasama Disbun Kutim dan Balitka Manado. Pada tanggal 15 Maret 2011, varietas ini sudah didaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman di Dirjenbun sebagai hak paten Kutai Timur. (khc)

Keunggulan Aren Genjah
1. Umur berproduksinya cepat, yaitu sekitar 5 tahun. Sedangkan jenis aren lain hingga 10 tahun.
2. Kandungan gulanya lebih tinggi atau di atas standar.
3. Ketinggian dari tanah sekitar 2,5 meter. Sedangkan jenis lain sekitar 8 meter.
4. Buahnya lebih lebih lebat. Potensial menjadi sumber bahan tanam dalam skala luas. Dalam 1 mayang diperkirakan bisa menjadi bahan tanam untuk 12 Hektar.
5. Atas berbagai keunggulan dan diferensiasinya, Aren Genjah Kutim menjadi varietas aren pertama yang menjadi varietas unggul nasional.
6. Peningkatan aren jenis ini tak hanya diproyeksikan untuk home industries saja. Namun juga untuk etanol atau bioenergy sebagai sumber energi yang terbarukan. (*)

Penulis : Kholish Chered
Editor : Fransina

Sumber : http://kaltim.tribunnews.com/2011/07/13/varietas-aren-genjah-kutim-resmi-jadi-varietas-unggul-nasional

Selasa, 16 Agustus 2011

Kolang kaling rejeki dari buah yang gatal

Rezeki dari Boh Joek

Matahari belum turun tanah, saat Nurmalawati bersiap-siap mengantar dagangannya ke pasar Lambaro Kaphe, Aceh Besar. Perempuan 45 tahun itu sudah harus tiba di pasar sebelum salat Subuh kelar. Di pasar, ia menjajakan kolang kaling, yang sering dicari warga di bulan mulia ini.
Butiran putih-kenyal ini menjadi primadona. Ia disuguhkan menjadi berbagai macam jenis olahan: sebagai isian kolak, manisan, atau campuran minuman dingin saat berbuka puasa. Kendati tak bernutrisi hebat, kolang-kaling menjadi pelancar pencernaan.
Nurmalawati memanfaatkan betul ceruk pasar kolang-kaling di bulan suci ini. Saban hari, warga Lam Aling, Kecamatan Kutabaro, ini mampu menjual 50 kilogram kolang-kaling. Tapi, ia tak menjual eceran. Ia hanya menjual ke pengecer. Per kilogramnya dihargai 1.500 rupiah. Sebenarnya, puluhan warga Lam Aling mendadak jadi pedagang kolang-kaling pada bulan Ramadan.
Kolang-kaling (dalam bahasa Belanda disebut glibbertkjes) dibuat dari buah aren. Sebelum menjadi butiran putih-bening, buah aren nyaris tak bernilai. Sebelum Ramadan, buah aren sering dibuang begitu saja. Apalagi getahnya gatal menyengat.
Untuk menghilangkan getah gatal ini, Nurmalawati –dan juga pembuat kolang-kaling lain—terlebih dahulu merebus buah aren. Setelah direbus, buah aren dibelah dan isinya dikeluarkan. Butiran putih itu kemudian dibersihkan, sebelum akhirnya dijual ke pasar: dan kita santap!
Bagi warga Lam Aling, memproduksi kolang-kaling sudah menjadi tradisi. Saban tahun mereka memproduksi dalam partai besar. Ini menjadi penopang ekonomi keluarga menyambut lebaran –yang sudah di depan mata. []





Sumber : http://supartaphoto.blogspot.com/2009/09/rezeki-dari-bohjoek.html

Senin, 15 Agustus 2011

Obat Hama Tikus di lahan padi sawah dari Buah Aren

Buah Aren Dalam Pertanian Padi Organik

Buah Aren dari Tangkai Bunga Jantan

Pertanian organik adalah sebuah metode pertanian yang menggabungkan pengetahuan ilmiah tentang ekologi dan teknologi modern dengan praktek pertanian tradisional yang didasarkan pada proses biologis alami. Sedang pertanian konvensional adalah metode pertanian yang menggunakan pestisida sintetis dan larutan pupuk sintetis yang dimurnikan. Peraturan membatasi kaum petani organik yang hanya boleh menggunakan pestisida dan pupuk alami. Prinsip utama dari pertanian organik meliputi rotasi tanaman, pupuk hijau dan kompos, pengendalian hama biologis, dan budidaya mekanis.


Dalam metode pertanian organik pengendalian hama dilakukan secara berbeda. Dalam pertanian kimia, insektisida tertentu digunakan dengan cepat untuk membunuh hama serangga yang secara dramatis dapat mengurangi populasi hama untuk jangka pendek. Sebaliknya, dalam pertanian organik cenderung mentolerir beberapa populasi hama dengan tujuan jangka panjang. Pengendalian hama organik melibatkan efek kumulatif dari banyak teknik seperti : menggunakan tanaman yang bisa mengendalikan hama, pestisida biologis dan herbisida. Sumber : Wiki


Nah dalam kaitan pemakaian tanaman dalam pengendalian hama ini, beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seorang petani padi organik dari Jawa Tengah. Menurut Bapak itu orang di desanya sudah lama menggunakan buah aren sebagai pengendali tikus yang suka mengasah giginya dengan memotong batang-batang padi muda . Caranya dengan memecah buah aren segar untuk dimanfaatkan getahnya yang gatal dan beracun. Setelah direndam berapa hari, air yang sangat gatal bila terkena kulit tersebut akan disiramkan disekitar lubang persembunyian tikus. Atau dengan membuat parit di sekeliling sawah dengan mencemplungkan buah aren ke dalamnya. Melalui metode ini diharapkan para tikus “kegatelan” dan ogah mampir lagi ke sawah tersebut.

Aren memang tumbuhan serba guna. Tidak hanya bernilai tinggi sebagai sumber gula (aren), demi masa depan umat manusia yang memproduksi makanan dari hasil pertanian yang berkelanjutan, nampaknya kearifan lokal yang memanfaatkan buah ini sebagai pengendali hama perlu dipertahankan. Semoga!

Salam,
-- Evi Indrawanto
Arenga Palm Sugar Organic Sugar for All Purpose Sweeteners
Sumber : http://gula-aren.blogspot.com/

Senin, 09 Mei 2011

Cenreangin produksi Gula Merah terbesar di Sidrap Sulsel

Perempuan dan Gula Merah Cenreangin


Salah satu dampak pelestarian hutan oleh masyarakat setempat adalah selain masih terjagannya hutan dari aktivitas perambahan, kebakaran, juga dapat berpotensi sebagai sumber-sumber penghasilan masyarakat non kayu.

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) ini terdiri atas penyadapan pohon enau sebagai gula aren, rotan, ataupun hasil buah-buahan lainnya.
Untuk memperkuat sistem penjagaan terhadap kawasan hutan ini, maka masyarakat membentuk kelompok pelestari hutan.

Fungsinya, menjaga kelestarian hutan, mengembangkan penghasilan ekonomi masyarakat dari hutan buka kayu, dan sejumlah kegiatan penelitian lainnya.
Lasamu, bersama masyarakat Desa Cenreangin mendapat kepercayaan dari pemerintah, utamanya BKSDA dan Dinas Kehutanan, untuk menjaga kelestarian hutan yang ada di dalam wilayahnya.

Kawasan hutan di Desa ini terbagi atas dua, yakni kawasan khusus untuk konservasi, dan kawasan hutan produksi terbatas. Khusus kawasan konservasi, dia diberi mandat untuk menjaga kawasan ini, termasuk menjaga para perambah yang ingin mengambil kayu atau menebang pohon dari kawasan konservasi ini.

“Sekitar 246 hektar hutan konservasi menjadi tanggungjawab masyarakat untuk menjaganya, dan sekiap harinya, bersama dengan patroli dari kehutanan saya menelusuri seluruh lekuk-lekuk kawasan hutan ini,” katanya.

Kawasan ini terdiri atas ekosistem hutan Jati yang ditanam masih zaman Penjajahan Belanda. Menurut cerita orang, bibitnya didatangkan dari Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara. Selain jati, juga terdapat berbagai macam dan jenis kayu-kayuan yang sudah berusia ratusan tahun.

Sementara di hutan produksi, juga terdapat tanaman perkebunan, seperti mangga, kelapa, kemiri, pohon aren, durian, rambutan dan lainnya. Malah terdapat sedikit perkebunan jagung yang dimanfaatkan masyarakat disela-sela tanaman jangka panjang.
Masyarakat lebih senang memanfaatkan kawasan hutan ini untuk kegiatan ekonominya pembuata gula aren.

“Cenreangin sejak dahulu dikenal sebagai produksi gula terbesar di Kabupaten Sidrap, malah tidak disedikit produksi gula merah ini dipasarkan ke Makassar atau kota-kota lainnya di Sulsel,” ungkap Lasamu.

Beberapa Tahapan Pembuatan Gula :
1.Air nirah yang baru saja diambil dari pohon enau dengan menggunakan timpo (bambu besar dan panjang)
(2)Siapkan wajan besar lalu diletakkan diatas tungku api.
(3) Tuangkan Air nirah dari dalam timpo ke dalam wajan,
(4)Diaduk dan biarkan mendidih hingga beberapa jam lamanya,
(5) Dites tingkat kekentalannya. Pada fase ini air nirah ini sudah berwarna merah bata,
(6) Setelah dianggap kental dan sudah berwarnah mera bata tua, kemudian digarusu / digaruk hingga beberapa menit,
(7) Wajan besar itu diangkat menjauhi tungku,
(8)Digaruk lagi hingga 1 jam atau lebih,
(9)Setelah air dan gelumbung atau busa putih menyatu dengan cairan merah bata tua, lalu dituangkan ke dalam cetakan,
(10) Menunggu hingga dua atau tiga jam lamanya, gula merah yang berbentuk sesuai ukuran cetak diangkat dengan hati-hati, agar tidak patah, atau retak, karena hal ini turut menentukan harga gula merah perbijinya.
(11) Sesudah itu, dibungkus dengan daun jati. Lalu dimasukkan ke bakul siap dijual ke pasar. (Sultan Darampa)

Gula Aren Rakyat Tumohon Sulut dijadi Gula Semut

Gula Aren Jadi Gula Semut di Tumohon


KEKER, sebuah LSM yang ada di Gorontalo, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tumohon Gorontalo, dengan support dari Sulawesi Community Foundation (SCF) menginisiasi pengelolaan gula aren semut di Kelurahan Rurukan dan Rurukan I.

“Selain itu, tujuan yang lain adalah terehabilitasinya daerah-daerah resapan air yang kritis di wilayah kedua kelurahan tersebut, dan yang tak kalah pentingnya adalah tebentuknya jaringan belajar bersama di 3 kelurahan yang menjadi site program,” jelas Jefri Polii, Direktur Eksekutif KEKER.
















Menurtunya, dari tujuan tersebut akhirnya telah terbentuk 2 kelompok tani Esa Toroan dan Idola yang berfungsi untuk mengumpulkan dan memasarkan gula. Saat ini dlm proses pengurusan akte Koperasi.

“Dari target yang ingin dicapai seluas 50 ha, yang tercapai saat ini baru 6 ha, dan ke depan, kita akan terus bekerja mewujudkan target tersebut,” lanjutnya
Selain itu, juga sudah terbentuk organisasi JARKAM (Jaringan Kampung) DAS Tondano, dimana anggota JARKAM ini telah terfasilitasi sebanyak 40 desa dan kelurahan.

Oleh karena itu, dari proses-proses dan mimpi yang mau dicapai seperti yang tersebut diatas, maka saat ini kita tengah melakukan sejumlah penguatan, diantaranya adala pengurusan ijin Produksi Gula ke Departemen Kesehatan, menegosiasikan kembali bentuk dukungan dari Pemerintah Kota untuk rehabilitasi daerah kritis dengan pohon aren.

“Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam di 3 Kelurahan, pemetaan partisipatif, dan usaha lebah madu,” kunci Jefry. (Sultan Darampa/Januari 2010)

Rabu, 27 April 2011

Manfaat Palm Sugar bagi Kesehatan

Manfaat Palm Sugar bagi Kesehatan




Oleh : Mohamad Nur


Gula merah atau gula Jawa biasanya diasosiasikan dengan segala jenis gula yang dibuat dari nira, yaitu cairan yang dikeluarkan dari bunga pohon dari keluarga palma, seperti kelapa, aren, dan siwalan, orang bule menyebutnya Palm Sugar. Bunga (mayang) yang belum mekar diikat kuat (kadang-kadang dipres dengan dua batang kayu) pada bagian pangkalnya sehingga proses pemekaran bunga menjadi terhambat. Sari makanan yang seharusnya dipakai untuk pemekaran bunga menumpuk menjadi cairan gula. Mayang membengkak. Setelah proses pembengkakan berhenti, batang mayang diiris-iris untuk mengeluarkan cairan gula secara bertahap.

Cairan biasanya ditampung dengan timba yang terbuat dari daun pohon palma tersebut. Cairan yang ditampung diambil secara bertahap, biasanya 2-3 kali. Cairan ini kemudian dipanaskan dengan api sampai kental. Setelah benar-benar kental, cairan dituangkan ke mangkok-mangkok yang terbuat dari daun palma dan siap dipasarkan.

Perbandingan antara Gula Pasir dan Gula Merah dapat dilihat pada table berikut.

NO

GULA PASIR

(CANE SUGAR)

GULA MERAH

(PALM SUGAR)

1

Manis

Manis dan lezat

2

Tidak mengandung garam mineral

Mengandung garam mineral

3

Kandungan glukose tinggi

Kandungan glukose jauh lebih kecil

4

Kurang mengandung nutrisi

Mengandung Thiamine, Riboflavin, Nicotinic acid, Ascorbic acid, protein dan vitamin C.

5

Kurang mengandung unsur terapi kesehatan.

Untuk terapi asma, kurang darah/anemia, lepra/kusta, dan untuk mempercepat pertumbuhan anak.

6

Dapat memicu batuk dan demam bila menkomsumsi berlebihan.

Bagus untuk mengobati batuk dan demam

7

Terkadang gula tebu membuat efek sakit pada tubuh, misalnya radang tenggorokan.

Bagus untuk makanan awal bagi orang yang terkena penyakit typhoid.

8

Tidak berkhasiat untuk kesehatan.

Sangat baik bagi orang yang ingin menurunkan Berat Badan, mengurangi panas pankreas, menguatkan jantung, membantu pertumbuhan gigi kuat.

9

Hanya sebagai pemanis

Mempunyai khasiat seperti madu.

Gula merah dapat membantu dalam proses penurunan berat badan bagi orang yang sedang melakukan program diet. Caranya yaitu mengganti konsumsi gula pasir/gula tebu dengan gula merah atau palm sugar. Gula merah dapat memberikan rasa kenyang, sehingga Gula Merah dapat menekan nafsu makan yang berlebihan.

Gula pasir, gula batu, dan gula merah adalah makanan yang manis dan disukai banyak orang. Walau pun sama-sama manis, tetapi ketiga jenis gula di atas dapat memberikan dampak yang berbeda untuk kesehatan tubuh dan organ pankreas kita. Organ tubuh yang memproses gula menjadi energi adalah pankreas.

Ketika kita memakan makanan yang mengandung karbohidrat, akan diubah terlebih dahulu menjadi gula darah. Selanjutnya pankreas perlu menghasilkan insulin untuk mengubah gula darah menjadi energi. Saya akan menggunakan Indeks Lelah Pankreas atau tubuh untuk mengukur dampaknya. Sebagai referensi, pankreas dan tubuh akan merasa lelah bila Indeks Lelah bernilai +3 atau lebih besar. Indeks Lelah ini diukur dengan menggunakan metoda Energi 5 Elemen.

Gula Pasir:

Gula pasir merupakan makanan yang paling sering digunakan dalam makanan dan minuman sehari-hari. Kopi dan teh rasanya pasti kurang nikmat tanpa gula. Demikian pula pada minuman ringan atau jus, pasti umumnya menggunakan gula pasir.

Tetapi ternyata gula pasir mempunyai dampak yang kurang baik bagi kesehatan pankreas dan tubuh. Gula pasir merupakan karbohidrat sederhana yang sulit dicerna dan diubah menjadi energi. Untuk mengubah gula pasir menjadi gula darah, tubuh hanya memerlukan waktu 3 menit. Tetapi untuk mengubah gula darah menjadi energi yang dapat disimpan dalam otot, pankreas memerlukan waktu kira-kira 140 menit. Selain itu, Indeks Lelah pankreas mencapai nilai +5. Nilai ini berlaku untuk 1/2 sendok gula atau 1 sendok gula.

Dengan demikian, mengolah gula pasir menjadi energi merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan bagi pankreas. Pankreas yang normal hanya mampu mengubah 1/2 sendok makan gula pasir menjadi energi setiap hari. Berat 1/2 sendok makan gula pasir kira-kira 5 gram. Bila kita mengkonsumsi lebih dari 1/2 sendok gula, maka sisanya akan menjadi gula darah dan lemak tubuh. Akibatnya adalah orang menjadi bertambah gemuk, dan lama-kelamaan akan menderita diabetes. Dengan demikian, gula pasir merupakan makanan yang tidak sehat.

Gula Batu:

Bagi pankreas dan tubuh, gula batu mempunyai efek yang berbeda dengan gula pasir. Untuk mengkonversi gula batu menjadi gula darah, membutuhkan waktu yang sama, yaitu 3 menit. Untuk mengubah gula darah menjadi energi, juga dibutuhkan waktu 3 menit.

Indeks Lelah pankreas juga jauh lebih rendah, yaitu +0,0005! Ini berarti lebih rendah 10.000 x dari gula pasir! Pankreas hampir tidak merasa lelah mengkonversi gula batu menjadi energi. Ini berarti gula batu masih merupakan karbohidrat kompleks yang sehat. Dengan demikian, gula batu merupakan makanan yang jauh lebih sehat dari gula pasir. Pankreas yang normal mampu mengkonversi 6 sendok makan gula batu menjadi energi setiap hari atau kira-kira 60 gram.

Gula Merah:

Gula merah juga mempunyai efek yang berbeda dengan gula pasir. Untuk mengkonversi gula merah menjadi gula darah di dalam tubuh, dibutuhkan waktu yang relatif sama, yaitu 3 menit. Selanjutnya, untuk mengubah gula darah menjadi energi, juga dibutuhkan waktu yang singkat, yaitu 3 menit juga.

Indeks Lelah pankreas dalam menghasilkan insulin untuk mengubah gula darah menjadi energi +0,00005! Ternyata lebih rendah kira-kira 10x dari gula batu! Ini berarti gula merah masih merupakan karbohidrat kompleks yang sehat. Dengan demikian, gula merah termasuk dalam makanan sehat. Pankreas mampu mengkonversi 9 sendok makan gula merah menjadi energi setiap hari atau kira-kira 90 gram.

Indeks Manfaat:

Dengan menggunakan metoda Energi 5 Elemen diperoleh Indeks Manfaat terhadap pankreas dari ketiga jenis gula di atas. Gula pasir menghasilkan nilai negatif, baik bagi tubuh maupun bagi pankreas, yang berarti merugikan bagi kesehatan. Gula batu dan gula merah memberikan hasil positif bagi tubuh dan pankreas, yang berarti bermanfaat bagi kesehatan.

  • Gula pasir: Indeks Manfaat terhadap tubuh = -15, terhadap pankreas = -5.
  • Gula batu: Indeks Manfaat terhadap tubuh = +5, terhadap pankreas = +3.
  • Gula merah: Indeks Manfaat terhadap tubuh = +5, terhadap pankreas = +3.

Agar pankreas tidak kelelahan dan tetap sehat, sebaiknya kita lebih banyak mengkonsumsi gula merah dan gula batu yang masih merupakan karbohidrat kompleks yang sehat. Dengan mengkonsumsi banyak gula pasir yang merupakan karbohidrat sederhana yang tidak sehat, pankreas akan cepat lelah dan akibatnya akan sakit dan selanjutnya rusak.

Selain itu juga akan menyebabkan kegemukan dan diabetes. Selain itu, sebaiknya jangan mengkonsumsi gula secara berlebihan, sekalipun gula merah maupun gula batu, karena pankreas juga mempunyai batas kemampuan untuk mengkonversi gula menjadi energi.

Gula pasir merupakan makanan yang tidak boleh dikonsumsi dalam jumlah banyak, apalagi untuk yang sudah berumur 30-an ke atas, sebab gula pasir ini sudah dipanaskan pada temperatur 400° C, sehingga sulit dicerna oleh pankreas.

Makanan yang dipanaskan pada temperatur tinggi, akan semakin sulit dicerna. Jadi bila dikonsumsi dalam jumlah banyak, akan menumpuk sebagai plak gula darah di pembuluh darah dan organ-organ tubuh, terutama di pancreas, sehingga dapat menyebabkan diabetes.Kalau gula yang masih dalam bentuk asli seperti di dalam buah, masih mudah dicerna oleh tubuh.

Sumber : www.5elemen.com

http://dinkes-sulsel.go.id/new/index.php?option=com_content&task=view&id=562&Itemid=102

Membuat Ekoenzim yang Ramah Lingkungan dengan Gula Aren

Ekoenzim yang Ramah Lingkungan

Jurnalis & Fotografer : Ivana


Ekoenzim memanfaatkan sampah organik yang dicampur dengan gula aren dan air. Proses fermentasinya menghasilkan gas O3 dan hasil akhirnya adalah cairan pembersih serta pupuk yang ramah lingkungan.
“Ini paling mudah, modalnya murah lagi, cukup gula aren saja,” Suryadi Kurniawan, relawan Tzu Chi.

Tahun 2003, seorang doktor dari Thailand menerima penghargaan dari FAO (lembaga PBB yang mengurus soal pangan–red) Regional Thailand untuk penemuannya yang bernama eco-enzyme. Dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya ekoenzim. Penemuan ini merupakan suatu upaya yang dilakukan Dr. Rosukon Poompanvong, nama doktor itu, bagi lingkungan dengan membantu para petani di sana memperoleh hasil panen yang lebih baik sekaligus ramah lingkungan.

Eco-enzyme memiliki manfaat yang berlipat ganda. Dengan memanfaatkan sampah organik sebagai bahan bakunya, kemudian dicampur dengan gula aren dan air, proses fermentasinya menghasilkan gas O3 dan hasil akhirnya adalah cairan pembersih serta pupuk yang ramah lingkungan.

Tidak Lengket dan Berbau

Tanggal 6 Juni 2010, Suryadi telah mempersiapkan pembuatan ekoenzim bersama relawan Tzu Chi cukup lama. Sepetak lahan kosong di samping kantin Aula Jing Si, PIK telah dimanfaatkannya untuk membangun sebuah posko kecil. “Ini adalah posko pupuk organik, awalnya memang dari membuat enzim dulu,” ucapnya bersemangat. Tiga belas relawan berkumpul bersamanya hari itu. Suryadi juga membawa sampel ekoenzim yang sudah berhasil dibuatnya. Proses fermentasi sempurna ekoenzim membutuhkan waktu 3 bulan. Meski dibuat dari sampah yang dicampur gula aren, cairan yang dihasilkan sama sekali tidak berbau busuk ataupun lengket mengundang semut.

“Caranya siapkan air dalam botol atau jerigen, masukkan gula aren, lalu sampah kulit buah atau sayur. Perbandingan air, gula, dan sampah, adalah 10 : 1 : 3,” Suryadi menjelaskan, disimak oleh 12 relawan lain. Hari itu mereka menggunakan jerigen berkapasitas 20 liter. Mereka mengisinya dengan air 12 liter, lalu dimasukkan 1,2 kg gula aren, disusul 3,6 kg sampah buah.

Setiap hari, proses fermentasi ekoenzim ini akan menghasilkan gas, jadi sebaiknya setiap hari botol atau jerigen tempat fermentasi dibuka tutupnya. Bila tidak, gas ini akan terus menekan botol hingga bisa berakibat retak atau pecah. Setelah lewat 3 bulan, air di dalam botol tersebut telah berubah menjadi cairan pembersih yang dapat digunakan untuk pembersih lantai, sabun cuci piring, sabun pakaian, pengharum ruangan, bahkan juga sabun mandi dan pencuci rambut. Masing-masing dengan takaran pencampuran air tertentu.

Keterangan :
- Perbandingan antara air, gula, dan sampah organik untuk membuat ekoenzim adalah 10 : 1 : 3 bagian. (kiri)
- Suryadi, relawan yang mengoordinir pembuatan enzim pada hari itu telah mempersiapkan posko pupuk organik ini jauh-jauh hari, termasuk mengambil sampah buah dari toko buah yang disumbangkan relawan Tzu Chi. (kanan)

Para relawan langsung bergerak mencoba membuat ekoenzim ini dengan alat dan bahan yang sudah ada. Sebagian menyiapkan air, sebagian lagi memotong gula aren dan sampah buah menjadi potongan kecil-kecil. Untuk pembuatan hari itu, secara khusus Suryadi telah meminta sampah buah dari sebuah toko buah yang dikelola seorang relawan Tzu Chi. Alhasil, mereka membuat 7 jerigen ekoenzim ditambah beberapa botol plastik 1 liter, dilabeli tanggal hari itu.

Tiga bulan mendatang, cairan dalam jerigen ini dapat digunakan untuk beragam fungsi, dan ampas sampah buahnya dapat digunakan sebagai pupuk organik. “Saya sudah coba pake di rumah untuk pel lantai, hasilnya sih lantai nggak licin meski nggak pake sabun. Padahal anak-anak kalau makan ya biasalah suka jatuh di lantai,” kata Ani Wijaya, relawan yang ikut hari itu. Biasanya ia hanya memakai 2 tutup botol enzim dicampur 1 ember air. Ani juga pernah mencoba membuat sendiri di rumah, namun tidak kontinu karena sering kehabisan botol plastik. “Saya tidak terpikir untuk ambil botol plastik di depo daur ulang,” terangnya.

Keterangan:
- Nathalia (kiri) dan Aini (kanan) antusias ikut membuat ekoenzim yang baru mereka kenal hari itu. "Ini namanya daur ulang sampah buah," kata mereka. (kiri)
- Jerigen yang telah dihasilkan ditempel tanggal pembuatannya. Tiga bulan kemudian, cairan yang dihasilkan dapat menjadi pembersih dan ampasnya menjadi pupuk organik. (kanan)

Beberapa relawan baru pertama kali mendengar tentang ekoenzim ini. “Tertarik aja. Caranya nggak susah ya, cuma memang perlu kesabaran. Kan katanya tiap 2 hari sekali harus dibuka,” kata Aini sambil memasukkan potongan buah ke dalam jerigen. Nathalia ikut nimbrung, “Ini bagus ya, sampah-sampah buah bisa jadi bermanfaat lagi, ini namanya daur ulang buah,” katanya. Tren pembuatan ekoenzim sesungguhnya sudah berlangsung cukup lama di negara lain seperti Malaysia, Australia, Taiwan, juga Amerika Serikat. Suryadi berharap dapat membawa budaya ini ke dalam lingkungan Tzu Chi Indonesia. “Saya pikir ini bagus untuk menjadi salah satu budaya humanis yang kita jalankan dalam kompleks Aula Jing Si ini,” katanya.

Sumber : http://www.tzuchi.or.id/view_berita.php?id=1176&misi=Lingkungan

Sabtu, 16 April 2011

Gula Aren Pulau Bawean, Go Mancanegara

Gula Aren Pulau Bawean, Go Mancanegara

OLEH : ASEPTA YP


Pulau Bawean terkenal dengan gula aren. Produk unggulan ini diminati orang-orang di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Di sana, gula aren Bawean dibuat untuk minuman, dicampur dengan kelapa muda.

Membuat gula merah atau yang biasa disebut dengan gula aren menjadi mata pencaharian utama warga Desa Balikterus Kec. Sangkapura Kab. Gresik. Hampir semua penduduknya melanjutkan warisan keluarganya dengan membuat gula aren untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehar-hari. Warga Balikterus, baik laki-laki maupun perempuan, setiap pagi dan sore tidak pernah takut pergi ke tengah hutan untuk sekedar memasang atau mengambil bumbung bambu di tangkai buah aren yang telah dipotong.

Gula aren berbahan dasar nira aren yang oleh warga setempat sering disebut la’ang. Adenan (52) warga Balikterus tetap lincah memanjat pohon aren untuk mengambil bumbung yang telah berisi nira. “Setiap pagi dan sore kami selalu memasang dan mengambil bumbung di pohon aren. Untuk satu buah tangkai buah aren ini bisa diambil la’ang-nya hingga dua bulan, sedangkan sekali ambil, satu tangkai buah aren ini bisa menghasilkan hingga lima liter la’ang” kata pria yang sudah penuh keriput di raut mukanya itu.

Menurut Adenan, nira yang diambil dari tangkai buah aren yang baru dipotong sangat bagus kualitasnya dijadikan gula aren. “Warnanya merah bersih, tapi jika nira diambil daru tangkai buah aren yang sudah lama dipotong, hasil gulanya agak gelap,” kata Adenan. Selain itu, dia menambahkan, nira aren di dari pegunungan di Desa Balikterus ini sangat segar untuk diminum langusug, apalagi bila dicampur dengan es.

“Rasanya sangat segar, biasanya pada saat bulan puasa, orang Bawean banyak yang membeli nira untuk dinikmati ketika makan buka, dipercaya la’ang juga bisa meningkatkan stamina dan kejantanan lelaki,” jelasnya.

Sepulang dari mengambil nira aren di hutan, Adenan langsung menuju rumah sore itu. Dan sesampainya di rumah yang sangat sederhana itu, Masriyah (40) istri Adenan menyambut dan langsung membawa bumbung berisi nira ke dapur khusus yang disiapkan untuk memasak gula aren. “La’ang langsung dipanaskan di atas wajan, selama beberapa jam hingga kental hingga berwarna kemerahan. Setelah itu, la’ang yang telah mengental dicetak dicetakan berbahan bambu yang dipotong dengan lebar dan diameter bambu empat sentimeter,” papar Masriyah.

Kemudian didiamkan selama beberapa menit hingga mengeras, tambahnya, setelah mengeras, gula aren langsung dilepas dari cetakannya dan dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Per bungkus isinya sepuluh biji gula aren, sedangkan untuk harga satu bungkus gula aren saat ini sekitar Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu, agar bisa menghasilkan satu bungkus gula aren dibutuhkan nira sekitar dua liter. Lebih lanjut dia menjelaskan, gula aren ini mampu bertahan lama, bisa berbulan-bulan asalkan disimpan di tempat yang hangat biar tidak meleleh.

Hampir semua penduduk yang tinggal di Balikterus, berjumlah hingga ratusan kepala keluarga memanfaatkan gula aren sebagai penghasil pendapatan utama, biasanya mereka menjual gula aren ke pasar-pasar. Tapi seringkali, turis mancanegara atau orang bawean yang bekerja di Malaysia saat pulang ke Bawean membawa gula aren untuk dijual atau sekedar dinikmati bersama teman-teman di negeri jiran itu.

“Di Malaysia biasanya gula aren Bawean ini dicampur dengan kelapa muda. Jadi pesanan akan meningkat pada saat musim libur atau hari-hari lebaran, bahkan tekadang saking banyaknya pesanan, kita kekurangan barang,” imbuh Masriyah.

Tak ayal jika pada saat pesanan ramai, warga Balikterus kehabisan stok, sebab meskipun jumlah keluarga yang memproduksi gula aren ini ratusan, cara mereka mengolah masih tradisional, jadi tidak mumpuni untuk memproduksi gula aren dalam jumlah massal.

Sebenarnya, penghasil gula aren di Bawean tidak hanya di Desa Balikterus di beberapa daerah lainnya juga terkenal dengan produksi gula arennya, tapi penghasil gula aren dengan kualitas terbaik di Bawean adalah di Balikterus. Desa yang berjarak sekitar lima kilometer dari kecamatan Sangkapura itu berada di daerah datarang tinggi, pegunungan di Balikterus sangat lebat dengan tanaman aren. Jadi, bahan baku gula aren di Balikterus sangat berlimpah, karena itu kualitas gula aren Balikterus terbaik.

Sumber : http://www.bawean.net/2011/04/gula-aren-bawean-go-mancanegara.html

Sabtu, 02 April 2011

Gula Organik vs Gula Putih (versi Malaysia)

Gula Organik vs Gula Putih



Sejak bertahun yang lalu, saya telah berjaya mendidik keluarga saya supaya tidak lagi menggunakan gula putih dalam minuman ataupun makanan. Saya akan cuba elakkan menggunakan gula putih mengikut apa cara yang termampu saya lakukan. Cuma kadang-kadang apabila minum di kedai, terpaksa juga minum air yang dicampur dengan gula putih. Itupun, saya selalu membuat pesanan minuman "kurang manis" apabila memesan teh, kopi atau jus buah-buahan. Kadang-kala, bila ada minuman yang dibuat terlalu manis (walaupun sudah diberitahu), saya akan minta pembancuh minuman tersebut membuat semula minuman tersebut supaya ia jadi kurang manis. Itu hak saya sebagai pelanggan.

Biasanya mereka yang mengidap diabetes sahaja yang selalu memesan minuman kurang manis. Tetapi saya tidak mengidap penyakit diabetes. Ada sahabat yang bertanya sama ada saya mengidap diabetes setelah memesan minuman kurang manis, saya jawab "sebagai langkah pencegahan" sahaja. Sepatutnya, pesakit diabetes tidak boleh membuat pesanan air kurang manis, sebaliknya minuman tanpa gula. Kalau jus buah-buahan, rasa manis buah-buahan cukup sebagai pemanis minuman, tidak perlu ditambah gula putih walau sedikitpun.



Perbezaan Gula Organik & Gula Putih
Gula tebu organik diperbuat dari perahan jus tebu dan dikeringkan. Kandungan pekat dari perahan jus tebu atau disebut nira (molasses) tidak dibuang menjadikan warnanya perang. Ia berbeza dari gula putih kerana ia diproses (refined) secara kimia. Gula putih adalah sukros, ia adalah kristal putih yang terhasil setelah proses membuang semua vitamin, molasses, mineral, protin, serat dan lain-lain kandungan yang berfaedah terkandung di dalam air tebu. Ia tidak terdapat di alam semulajadi, sangat merbahaya kepada manusia, malah tidak sesuai untuk dimakan. Bagi saya, gula putih adalah racun yang merbahaya.

Gula Semulajadi
Selain itu, terdapat juga gula dari sumber semulajadi yang lain seperti fruktos (di dalam buah-buahan), laktosa (susu), maltosa (dalam makanan seperti oat, jagung dan lain-lain). Ia mempunyai faedah yang baik dalam bentuk nutrien.

Gula Perang
Terdapat juga gula perang (brown sugar) yang banyak terjual di pasaraya. Gula perang tidak mempunyai apa-apa faedah kepada manusia, malah ia sama bahaya seperti gula putih. Ia diproses (refined) terlebih dahulu, kemudian dicampur semula dengan sedikit molasses untuk menjadikan warnanya perang semula.





Di sini, saya ingin berkongsi jenis gula yang saya gunakan sejak bertahun yang lalu (lihat gambar-gambar yang saya ambil sendiri di rumah). Untuk mengenali gula organik dan gula perang adalah sangat mudah. Anda hanya cium baunya, gula organik mempunyai aroma seperti bau nira tebu atau kelapa manakala gula perang tidak mempunyai aroma. Gula tebu organik biasanya diimport dari luar negara.

Paraguay adalah pengeksport terbesar gula tebu organik. Filipina juga ada mengeluarkan gula organik. Walaupun harganya agak mahal dari gula putih, gambar pertama di atas menunjukkan kuantiti yang saya gunakan untuk stok yang boleh bertahan selama lebih sebulan. Terdapat 3 peket dan 1 botol gula organik di dalam gambar, jumlah perbelanjaan untuk stok tersebut tidak sampai tiga puluh ringgit. Jika harga sepeket 1kg sekitar RM6 ~ RM6.50, sebulan saya hanya perlu belanjakan hanya RM26 untuk kesihatan dan kelazatan minuman di rumah.

Jika dahulu, saya hanya belanjakan RM6 untuk 4 peket gula putih, tetapi kini saya sedar, sebenarnya saya membayar harga kesihatan saya dengan harga yang begitu murah untuk mengundang penyakit diabetes. Sekali penyakit itu datang, anda perlu membayar kos untuk suntikan insulin setiap hari, berulang-alik ke hospital untuk pemeriksaan berjadual, kadang-kadang terpaksa bermalam di hospital sehingga doktor memberi kebenaran untuk pulang, makan pula ubat-ubatan yang diberi oleh doktor sampai bila pun boleh sembuh, hanya Tuhan saja yang tahu. Kalau nasib anda tidak baik, mungkin akan kehilangan sebahagian anggota tubuh sebab dipotong. Itulah kos yang sebenarnya jika anda menggunakan gula putih, bukan RM6 untuk 4 peket.

Sumber : http://thesecretmedicines.blogspot.com/2009/03/gula-organik-vs-gula-putih.html