......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Rabu, 24 Maret 2010

MENERAPKAN JEMBATANISASI DAN PIPANISASI NIRA AREN PADA PERKEBUNAN AREN

MENERAPKAN JEMBATANISASI DAN PIPANISASI NIRA AREN PADA PERKEBUNAN AREN

Oleh : Dian Kusumanto


Selama ini Aren (Arenga pinnata) ditanam secara alamiah, apa adanya yang tumbuh dari alam. Sangat jarang yang menanamnya secara sengaja dengan jarak tanam yang teratur. Buktinya, sebaran tanaman Aren yang ada selama ini tidak memiliki jarak yang teratur, kadang mengumpul dan rapat di suatu tempat dengan jarak yang saling berdekatan, namun di tempat lain jaraknya saling berjauhan bahkan kosong.

Dengan keadaan yang tidak teratur ini menyebabkan pengelolaan niranya menjadi sangat rumit dan butuh tenaga yang banyak. Penanganan kebun seperti ini akan membutuhkan waktu yang banyak, karena tenaga menjadi kurang efektif dan kurang efisien, akibatnya kapasitas tenaga penyadapannya rendah. Pada keadaan kebun Aren yang tidak beraturan seperti ini setiap orang tenaga penyadap paling-paling hanya sanggup menangani 10-20 pohon Aren saja setiap harinya (pagi dan sore), yang dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan berpengalaman. Kalau tenaga yang baru dan belum berpengalaman mungkin hanya bisa menyadap 5-10 pohon saja.

Selain itu mutu Nira Aren juga relative sulit terjaga mutunya, apalagi jika letak kebun dan tempat pengolahannya jaraknya jauh. Hal ini karena Nira Aren perlu penanganan cepat dan teliti, apalagi kalau tidak diperlakukan khusus, dalam waktu 4-5 jam Nira sudah mengalami fermentasi secara alami. Kualitas Nira Aren yang menurun akibat terfermentasi ini menyebabkan beberapa perubahan, antara lain :
• pH nya menurun atau semakin asam (kecut)
• Kadar gulanya menurun, akibat aktifitas enzimatik yang merubah Sukrosa menjadi
Gula-gula tereduksi dan bahan lainnya.
• Rasa dan aromanya berubah dari aslinya
• Dan lain-lain.

Jika Nira Aren akan diolah menjadi Gula, maka perubahan sifat atau penurunan mutu Nira ini harus dicegah jangan sampai terjadi. Tentu ini akan sangat sulit jika dilakukan pada kebun Aren yang tidak beraturan. Maka untuk membangun industry Aren yang efisien, yang paling utama dan pertama adalah harus dilakukan membangun kebun Aren dengan pola perkebunan yang intensif dan modern. Ciri dari perkebunan yang modern adalah diterapkannya Jembatanisasi dan Pipanisasi Nira di Kebun Aren.
Jembatanisasi Kebun Aren

Ide Jembatanisasi Aren ini sebenarnya terinspirasi dari Jembatanisasi yang dilakukan oleh Petani Siwalan di Tuban Jawa Timur. Disana ada sebagian Petani yang sangat kreatif yang menerapkannya pada tanaman Siwalan yang ditanam secara berbaris dipinggir pematang kebunnya. Jarak antar pohon sekitar 4 - 6 meter, sedangkan jembatan antar pohon dibuat dari 2 lonjor bamboo dan diikat dengan tali dari pelepah daun yang dipilin. Bambu dipilih sebagai bahan pembuatan jembatan karena bamboo banyak tersedia di sekitarnya.

Dari pohon ke pohon yang saling berdekatan (dengan jarak antara 4 - 6 meter) dipasang 2 (dua) baris bamboo yang sambung menyambung dari satu pohon ke pohon lain sampai di pohon yang paling ujung. Penyadap nira hanya memanjat naik pada satu pohon di awal, berpindah ke pohon satu ke pohon berikutnya melalui jembatan bamboo yang dibuat di atas pohon, dan kemudian turun pada pohon yang paling ujung. Sedang untuk naik dan turunnya wadah penampung nira dan niranya, mereka menggunakan tali yang ditarik ulur dari atas atau dari bawah pohon.

Dengan cara jembatanisasi ini petani bisa menghemat tenaganya dan dapat meningkatkan kecepatan dan kapasitas kerja penyadapan sehingga jumlah pohon yang dapat disadap pada rentang waktu tertentu menjadi lebih banyak.

Ternyata metode jembatanisasi ini juga diterapkan di salah satu perkebunan kelapa di Phillippina. Perkebunan ini menanam pohon kelapa genjah dengan agak rapat, karena mengolah nira kelapa untuk aneka produk seperti gula, saguer, dll. Menurut Ir. Larahuna Rauf yang pernah melakukan magang pada tahun 1990-an, Jembatan antar pohon kelapa dibuat dari tali logam yang kuat (kawat seling). Ada tiga tali yang diikat dari pohon ke pohon, yaitu satu tali di bawah sebagai injakan kaki, sedangkan dua tali yang agak berjauhan di sebelah atas sebagai pegangan tangan pada saat menyeberang dari pohon satu ke pohon lainnya.

Kalau Jembatanisasi ini diterapkan pada kebun Aren, maka bahan jembatan bisa dibuat dari bamboo, tali dari Ijuk Aren, kayu dari pohon yang ada di sekitar kebun, atau bahkan kawat seling yang kuat. Kalau dibuat dari tali Ijuk, talinya harus dipilin dengan baik, agak besar dan kuat sehingga aman dan bisa menopang berat badan dan gerakan para pemanjat. Tali yang terbuat dari Ijuk Aren dikenal sangat tahan dan awet tidak lekang oleh perubahan cuaca, kecuali terbakar oleh api.




Namun jembatan atau pegangan tangan bisa juga dibuat dari pelepah daun dari dua pohon yang dipertemukan atau disatukan dan kemudian diikat. Hal ini hanya bisa dilakukan pada awal penyadapan pada saat tandan bunga yang disadap berada di atas dekat dengan letak susunan daun. Namun jika penyadapan nanti dilakukan agak ke bawah dan ke bawah lagi, dimana tidak ada daun yang bisa ditautkan, maka jembatan atau pegangan dibuat dari bamboo atau tali saja.

Jembatan harus dibuat kuat supaya tidak membuat celaka pemanjatnya. Namun jembatan harus dibuat fleksibel supaya bisa diatur (diturunkan) tingkat ketinggiannya disesuaikan dengan letak tandan yang disadap. Hal ini karena sasaran sadap, yaitu tandan bunga yang disadap berpindah dari tandan yang di atas kemudian menurun ke bawah. Jadi jembatan harus bisa mengikuti level dari tandan yang disadap.

Jembatanisasi bisa diterapkan jika pohon ditanam teratur dengan jarak antar pohon cukup dekat. Jarak paling dekat yang bisa ditoleransi berbeda menurut jenis pohonnya. Yang menjadi pertimbangan penting adalah lebar kanopi daun, atau panjang dan bentuk pelepah daunnya. Di bawah ini disajikan table untuk alternative jarak tanam untuk penerapan jembatanisasi beberapa jenis tanaman palem yang dikelola niranya untuk Gula dan lain-lain :



Untuk kebun yang akan menterapkan jembatanisasi sebaiknya dipilih rancangan jarak tanam yang paling pendek, semakin dekat semakin aman bagi pemanjat. Karena jika semakin jauh maka semakin riskan. Namun ini bisa dibuat aman dan tidak riskan dengan :
1. Bahan berpijak yang kuat tidak rapuh, bergoyang dan licin
2. Diikat kuat dan diberi pengamanan yang cukup
3. Dilengkapi dengan pegangan untuk tangan yang tidak mudah goyang dan kuat.
Beberapa pilihan bahan jembatan antar pohon serta keuntungan dan kekurangannya, disajikan dalam table sebagai berikut :



(Insya Allah Bersambung………..Semoga Allah sampaikan umur kita, Amin…)

1 komentar:

senoaji mengatakan...

hehehe keren blognya pak. jadi minder saya. terutama dengan semangatnya untuk meneliti aren hingga saat ini. Inspiratif
regrds