......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Selasa, 23 Juli 2013

PEMANFAATAN GULA BUBUK AREN SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN PERMEN ANTI DIABETES

 

 (Gambar ilustrasi dari berbagai sumber)

PEMANFAATAN GULA BUBUK AREN SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN PERMEN ANTI DIABETES

Di Indonesia gula bubuk aren berpotensi menjadi salah satu komoditas substitusi gula pasir andalan di dalam negeri di samping dapat berperan untuk menekan ketergantungan terhadap impor gula. Persoalan mendasar yang dihadapi adalah adanya kesenjangan antara tingkat produksi di dalam negeri dengan kebutuhan konsumsi gula oleh masyarakat. Menurut Dewan Gula Indonesia (2004) setiap tahunnya produksi gula dalam negeri rata-rata sekitar 2.1 juta ton sedangkan permintaan untuk konsumsi gula masyarakat mencapai rata-rata 2,7 juta ton sehingga setiap tahun diperlukan impor gula minimal 0,5 juta ton.
Konsumsi gula pasir menunjukkan peningkatan tahun ke tahun. Sedangkan peningkatan produksi gula belum dapat memenuhi konsumsi gula dalam negri yang terus meningkat (Koestono, 1991). Sehingga pemerintah perlu mengimpor gula untuk memenuhi konsumsi gula tersebut. Berkaitan dengan masalah tersebut di atas maka diperlukan upaya untuk membantu pemerintah dalam rangka swasembada gula.
Persoalan ini sebenarnya merupakan tantangan bagi para pabrik gula atau koperasi untuk mengantisipasinya menjadi peluang usaha dengan cara memenuhi sebagian dari permintaan pasar terhadap gula. Salah satu diantaranya adalah melalui produk gula yang berasal dari tanaman Aren. Tanaman Aren adalah tanaman yang mirip pohon kelapa yang dapat mencapai ketinggian hingga 20 meter dengan garis tengah batang mencapai 65 cm. Bahan baku pembuatan gula bubuk aren diperoleh dari sari gula atau yang sering disebut nira.
Gula bubuk aren, semula hanya diproduksi sebagai gula cetak, sedangkan pengolahan menjadi gula bubuk atau gula pasir sementara ini masih sangat terbatas. Dibandingkan dengan gula pasir yang berasal dari tebu, gula bubuk aren yang berasal dari sadapan nira pohon aren mempunyai beberapa kelebihan. Produk gula bubuk aren selain dikonsumsi di dalam negeri juga diminati oleh pasar ekspor terutama dalam bentuk gula Semut. Negara-negara tujuan ekspor tersebut antara lain Jepang, AS dan Eropa. Gula bubuk aren dari Indonesia dapat diterima di pasar manca negara karena memiliki kandungan dan aroma yang berbeda dengan produks dari negara lain. Aromanya yang harum dan legit memberikan citra rasa tersendiri terhadap produk pangan.
Proses pembuatan gula bubuk aren
Untuk memperoleh gula bubuk aren yang berkualitas tinggi tentunya sangat tergantung pada kualitas nira yang diproses. Pembuatan gula bubuk aren meliputi proses : (1) Penampungan nira, (2) penyaringan nira, (3) pemasakan (4) pengadukan secara berlahan-lahan sampai berbentuk butiran (5) Pengayakan.





Sumber : Food Review Indonesia
Bambang et al. (2008), pengayakan merupakan salah satu cara untuk memperoleh keragaman. Dalam proses pengayakan dilakukan pemisahan ukuran-ukuran dari butiran partikel gula bubuk aren dari ukuran kasar sampai ukuran yang paling halus. Proses ini dilakukan untuk menentukan ukuran rata-rata setiap partikel dan kelembutan butiran-butiran partikel. Untuk tepung aren, sekurang-kurangnya harus lolos ayakan 80 mesh.
Menurut Joseph et al. (1994), nira yang disadap pada pagi hari memiliki pH lebih rendah dari nira yang ditampung pada sore hari. Nira disadap sore hari. Hal ini, karena pada siang hari penguapan lebih besar dibandingkan pada malam hari. Hasil analisis Joseph et al. (1994) mengungkapkan bahwa perlakuan terhadap penampungan berpengaruh nyata terhadap kadar sukrosa nira yang disadap pada sore hari, tetapi tidak begitu berpengaruh nyata pada sukrosa yang disadap pada pagi hari.
Nira yang digunakan sebagai bahan baku gula sebaiknya berkadar sukrosa di atas 12 persen. Rumokoi (1990) kekhasan gula bubuk aren dari segi kimianya dibandingkan dengan gula lainnya bahwa gula bubuk aren mengandung sukrosa lebih tinggi (84%) dibandingkan dengan gula tebu (20%) dan gula bit (17%).
Proses pembuatan permen dan pengemasan
Hard candy adalah sebutan untuk permen yang mengalami pengolahan pada suhu 140-150 oC. (Hanny et al., 2000). Proses pembuatan permen,menggunakan sukrosa sebagai bahan utama hal ini penggunaan gula bubuk aren yang meliputi proses : (1) Pemberian gula bubuk aren dan air mineral, (2) dipanaskan dan didihkan sampai menjadi gula cair, (3) tambahkan sirup glukosa, (4) penambahan komponen flavor sesuai dengan keinginandan aduk, (5) cetak, dan (6) pengemasan.
Pengemasan mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan mutu suatu bahan pangan. Pengemasan telah dianggap sebagai bagian integral dari proses produksi. Menurut Syarief dan Irawati (1988), kemasan memiliki fungsi sebagai wadah untuk menempatkan produk dan memberi bentuk sehingga lebih memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi, memberi perlindungan terhadap mutu produk dari kontaminasi luar dan kerusakan, dan menambah daya tarik produk. Sehingga nantinya permen gula bubuk aren ini siap dijual dalam skala besar baik dalam negeri maupun di ekspor keluar negeri.
Gula bubuk aren ditinjau dari aspek kesehatan
Gula bubuk aren mempunyai empat keunggulan. Pertama, rasa gula bubuk aren manis dan lezat yang pas dan cocok dengan lidah Asia dan Indonesia. Orang yang pernah mencoba berkomentar bahwa Gula bubuk aren adalah pemanis yang paling lezat. Kedua, gula bubuk aren memiliki Indeks Glisemik yang sangat rendah yaitu (IG 35) , artinya produksi glukosa berlangsung lambat sehingga pankreas tidak perlu kerja keras lagi. Jangankan bagi orang sehat, pada beberapa penderita diabetes terbukti turun kadar gula darahnya setelah mengganti gula putih dengan gula bubuk aren. Selain itu IG yang rendah membuat glukosa terbentuk secara perlahan yang berarti pula energi juga tercipta secara perlahan sehingga tubuh bugar lebih lama. Ketiga, selama proses pembuatannya, tak ada sedikitpun bahan kimia yang ditambahkan, sehingga lebih aman dikonsumsi. Keempat, gula bubuk aren banyak mengandung unsur farmakologi yang bermanfaat seperti Riboflavin, Thiamin, Niacin, Ascorbic Acid, Kalsium dan lain-lainnya. (Anonim, 2010)
Riboflavin berfungsi menghasilkan anti bodi, membantu terbentuknya energi , memperbaiki kerusakan sel saat proses produksi energi, memperbaiki jaringan sistem pencernaan dan lain-lain. Thiamin berfungsi sebagai koenzim dalam metabolisme energi , membantu tubuh menggunakan protein, memperkuat sistem syaraf dan lain-lain. Niacin berfungsi sebagai koenzim dalam metabolisme glukosa, lemak dan alkohol. Selain itu Niacin juga meningkatkan fungsi kerja otak dan menurunkan kadar kolesterol LDL. Ascorbis Acid memiliki fungsi antibiotik, mencegah asthma dan dapat mencegah kanker. Jadi sangat wajar apabila, para pengguna gual pasir aren menyebut bahwa gula bubuk aren adalah solusi hidup sehat yang paling nikmat dan lezat. (Anonim, 2010)
Gula bubuk aren untuk kebutuhan industri
Mutu gula bubuk aren yang diinginkan industri cukup beragam, tergantung pada produk yang hendak dibuat. Salah satunya dengan membuat inovasi gula bubuk aren dari bentuk tradisionalnya, diolah menjadi gula bubuk atau gula bubuk aren, sehingga dapat mendongkrak nilai tambah gula ini. Konsumen tidak perlu lagi mengiris, mengencerkannya dan menyaring sebelum menggunakannya. Dengan begitu pemakaiannya bisa sesuai takaran dan kebutuhan.
Perubahan bentuk inilah yang kian mendorong menggunakan gula bubuk aren untuk memenuhi kebutuhan rasa manis sehari-hari. Kepraktisan ini membuat kalangan industri pangan ikut melirik. Mereka turut berinovasi untuk menciptakan aneka produk baru yang mengandung gula bubuk aren yaitu sebagai bahan utama pembuatan permen. Hal ini, disebabkan permintaan permen dipasaran sangatlah tinggi dari anak kecil sampai orang dewasa karena disamping harganya ekonomis, permen memberikan sensasi yang berbeda terhadap seseorang yang memakannya seperti menghilangkan rasa ngantuk dan kebosanan.
Disamping memberikan sensasi yang berbeda, permen gula bubuk aren dapat mencegah penyakit diabetes sehingga dengan tuntutan zaman maka masyarakat berlomba-lomba mencari makanan yang praktis menyehatkan sehingga prospek industri gula bubuk aren saat ini sangat bagus.
Sementara itu, kebutuhan gula bubuk aren nasional masih dipasok oleh sentra-sentra dan industri kecil rumahan, Perlu adanya pengolahan gula bubuk aren berskala industri besar. Dalam kenyataannya pengembangan agribisnis gula bubuk aren masih menghadapi hambatan teknis, seperti rendahnya keterampilan petani, rendahnya hasil produksi dan nilai tambah. Sejumlah standart ketat juga harus diberlakukan meliputi kadar air, tingkat kelembaban yang diminta industri biasanya 2 – 0.8 % dengan ukuran butiran dalam satuan mesh # 20-30. Setelah itu, produk gula bubuk aren juga harus lolos dalam biological test laboratorium dengan hasil negatif untuk kapang dan khamir, Bacciluscereu, E. Coli, Salmonella, dan lain-lain.
Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah operasional yaitu (1) pelatihan teknis dan managemen, (2) penerapan budaya aren secara sistematis dan prasaran pengolahan (3) penerapan budidaya aren secara sistematis untuk meningkatkan posisi tawar petani dapat ditempuh melalui pemberdayaan kelompok tani aren dengan mewujudkan sistem pemasaran secara kolektif dengan koperasi atau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan),disertai peningkatan keterampilan petani. Dengan pengolahan yang bagus menggunakan konsep ekonomi kerakyatan dilakukan sebagai sebuah strategi untuk membangun kesejahteraan dengan lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat maka diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja yang dapat menanggulangi persoalan bangsa Indonesia dari pengangguran.
Menurut Mubyarto, pada dasarnya, paradigma ekonomi kerakyatan adalah tatanan ekonomi yang berasaskan kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada rakyat yang lemah. Pemihakan kepada rakyat ini seharusnya diwujudkan pemerintah melalui berbagai kebijakan ekonmomi dan regulasi yang dikeluarkannya.
Dengan Inovasi yang dilakukan maka gula aren bisa menjadi produk unggulan dalam negeri yang berskala internasional. Hal ini, di butuhkan kerjasama antara pemerintah pemilik pabrik permen dalam negeri sebagai penyokong dana dan pengelolaan managen pemasaran dan pemilik lahan pohon aren sebagai penyedia bahan utama permen.
Sumber Pustaka
Anonim. 2010. Pencegahan Diabetes. [Terhubung berkala]. Diambil tanggal 13 Mei 2010. http://bandrekpigeons.blogspot.com/2010/04/cegah-diabetes-dengan-gula-aren.html
Anonim. 2010. Gula Bubuk Aren. [Terhubung berkala]. Diambil tanggal 13 Mei 2010 http://www.foodreview.biz/index1.php
Anonim. 2010. Gula Semut. [Terhubung berkala]. Diambil tanggal 13 Mei 2010. http://wb4.indo-work.com/pdimage/95/282395_gulasemut2.jpg
Direktorat Riset dan Kajian Strategis. 2000. Diambil tanggal 13 Mei 2010. http://rks.ipb.ac.id/hki/detail_invensi.php?data=klaim&&judul=41&&smenu=Klaim
Direktorat Riset dan Kajian Strategis. 2000. Diambil tanggal 13 Mei 2010. iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/.../Bambang%20Purwantana2.pdf
Direktorat Riset dan Kajian Strategis. 2000. Diambil tanggal 13 Mei 2010. iirc.ipb.ac.id/.../YandraArkeman_StrategiPeningkatanDayaSaingIndustri.pdf
Lembaga Peneliti dan Pengembangan kepada Masyarakat. 2009. Diambil tanggal 13 Mei 2010. http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php?view=warta/isinews&id=1462
Lembaga Peneliti dan Pengembangan kepada Masyarakat. 2009. Diambil tanggal 13 Mei 2010. http://lppm.ipb.ac.id/lppmipb/penelitian/hasilcari.php?status=buka&id_haslit=51
Kajian Gula Aren KSU Sukamaju. 2005. Diambil tanggal 13 Mei 2010. www.smecda.com/kajian/files/hslkajian/kajian_gula_aren.pdf

Sumber : http://torehan-emas.blogspot.com/2010/05/pemanfaatan-gula-bubuk-aren-sebagai.html

Tidak ada komentar: