......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Rabu, 15 Mei 2013

Nira Aren bisa dibuat menjadi Gula Putih

Swasembada Gula dengan Nira Aren

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Kebutuhan gula konsumsi nasional kita adalah gula putih atau gula kristal yang terbuat dari tebu.  Masyarakat Indonesia sudah sangat biasa mengkonsumsi Gula putih sebagai kebutuhan makanan dan minuman sehari-hari.   Bahkan di restauran, warung dan cafe-cafe selalu menggunakan Gula pasir untuk bahan pemanis dari minuman dan juga makanan.

Dominansi tebu sebagai bahan baku gula sedemikian akut, masif  dan terstruktur, sehingga sudah menjadi budaya dan hampir menjadi 'idiologi' dalam menu minuman dan makanan Indonesia.   Gula-gula lain yang sebelumnya ada menjadi dilupakan dan ditinggalkan bahkan diremehkan.  Sebelum jaman kolonialisme Belanda, tepatnya masa-masa kerajaan dulu, gula yang dikenal adalah gula merah, gula kelapa atau gula Aren.

Selama ini gula palma hanya dikenal sebagai Gula yang berwarna merah atau cokelat.  Dan bahkan akhirnya muncul anggapan bahwa hanya tebu lah yang bisa diolah menjadi gula putih,  sedangkan Nira dari Palma seperti kelapa, Aren dan Nipah tidak bisa menjadi Gula Pasir atau Gula Putih.  Anggapan ini akhirnya seolah menjauhkan tanaman Palma mendampingi Tebu dalam menyumbang bahan baku Industri Gula Pasir dan Gula Putih.  Jadi sampai sekarangpun belum diperhitungkan bisa menggantikan fungsi Tebu sebagai bahan baku utama Gula Pasir.

Seminggu yang lalu saya ditunjukkan oleh Pak Slamet Sulaiman bahwa Gula Aren bisa dibentuk menjadi Gula Kristal, Gula Pasir maupun Gula Putih seperti Gula yang ada di pasaran.   Sudah lama hal ini diketahui oleh Pak Slamet, bahkan hasil uji cobanya selama ini di Pabrik Gula Mininya yang ada di Jombang Jawa Timur.   Kenyataan ini membuat keyakinan Penulis semakin besar bahwa tanaman Aren nanti bisa diandalkan sebagai bahan baku utama Gula Nasional kita menggantikan tanaman Tebu selama ini.

Dari Areal Tebu yang hampir mencapai 400 ribu hektar di seluruh Indonesia dengan produktifitas sekitar 6 ton Gula Pasir per hektar lahan maka sebenarnya produksi nasional kita hanya sekitar 2,4 juta ton.  Maka bisa dimengerti kalau saja Indonesia masih terus mengimpor Gula.   Dalam hal industri Gula dengan bahan baku tebu, sesungguhnya Indonesia sudah mengalami masa-masa jenuh yang amat sangat :

1.  Sudah sangat sulit untuk bisa menambah areal tanam Tebu.  Karena selama ini areal tebu selalu mengesesr areal lahan tanaman pangan, sawah dan lahan-lahan palawija dan tanaman semusim lainnya.
2.  Mengatasi industri yang umur mesinnya sudah sangat lama agar bisa lebih efisien dan tidak banyak mengalami kehilangan produksi.
3.  Sistem manajemen industri dari hulu dan hilir sudah menjadi kebiasaan dan budaya yang mendarah daging.
4.  Sistem tata niaga dan perdagangan gula serta adanya kepentingan terhadap langgengnya usaha importasi yang selama ini berjalan secara mapan, tentu akan sulit untuk merubah diri ke luar keadaan yang sudah nyaman.
5.  Budaya dan pola makan serta pola konsumsi yang terjadi akan memerlukan waktu dan energi yang panjang dalam merubah kebiasaan masyarakat.



Beberapa tulisan sebelumnya Penulis juga sudah banyak menguraikan tentang kehebatan produksi Nira dari tanaman Aren.  Nira Aren juga bisa diolah menjadi Gula putih sebagaimana Nira Tebu.  Produksi Nira Aren dari suatu perkebunan Aren yang dikelola secara intensif mampu mengalahkan dan bahkan melipatgandakan hasil Gula pada luas areal yang sama pada tanaman Tebu.   Produksi Nira Aren bahkan dapat dihasilkan setiap hari  sepanjang tahun.    

Dengan demikian nanti pabrik gulanya akan beroperasi setiap hari.  Tidak seperti pada Pabrik Gula berbasis Tebu seperti selama ini,  pasti ada upacara untuk memulai musim giling tebu.   Karena panen tebu tidak bisa dilakukan sepanjang tahun dan akhirnya menggiling tebu juga tidak bisa dilakukan sepanjang tahun.   Musim tanam tebu dan musim panen tebu dibatasi oleh keadaan iklim, apakah musim kemarau atau musim penghujan.

Sedangkan kebun Aren setiap hari akan selalu menghasilkan Nira Aren sepanjang tahun, tidak pernah berhenti baik musim kemarau ataupun musim penghujan.   Maka nanti kalau Pabrik Aren beroperasi, maka tidak dikenal dengan upacara Panen Tebu, Buka Giling atau Upacara Pabrik Gula  lainnya.  Ritual yang biayanya juga besar itu nanti akan menjadi kenangan saja.

Maka pabrik Gula pun akan dibangun lebih murah.  Biaya investasi untuk membuat Pabrik Gula berbasis Aren akan jauh lebih murah dibanding membuat Pabrik Gula berbahan Tebu.   Dari kebun Aren lang sung akan diperoleh Nira yang sudah siap diolah.  Sedangkan kalau dari kebun Tebu akan dihasilkan batang-batang tebu yang penuh dengan kotoran.  Nira dari Tebu akan diperoleh jika batang-batang Tebu yang berat itu diangkut dari kebun hingga menuju pabrik dengan menggunakan truk-truk pengangkut, atau lori-lori yang melewati rel-rel seperti kereta api.  Di Pabrik batang-batang tebu itu kemudian digiling dengan alat-alat yang besar dan amat berat.   Nira yang diperas dari alat mesin itu kemudian masih harus dimurnikan dan dibersihkan.  Memang Pabrik Gula dari Tebu ini terlihat sangat rumit dan biasanya agak kotor.



Maka jika Pabrik Gula berbahan baku Nira Aren yang dihasilkan dari kebun Aren, akan terlihat begitu sederhana dan tidak terlalu rumit.  Pabrik Gula berbasis Nira Aren nanti akan lebih simpel dan lebih praktis.  Penggunaan teknologi Mikro-Ultra Filtrasi, Teknologi Membran dan Reverse Osmose pasti akan menyumbang kondisi pabrik yang lebih Smart.    Demikian juga teknologi Vacuum Evaporator Multiple Effect dan turunannya pasti akan dapat mewujudkan Gula Aren menjadi berbagai jenis Gula sekehendak kita mau,  apakah gula cair, gula cetak, gula serbuk ataupun gula kristal putih.

Peluang itu amat besar.  Swasembada Gula tidak akan menjadi mimpi-mimpi abadi seperti selama ini karena harapan dengan bahan baku Tebu sangat sulit mewujudkannya.   Aren akan menjadi jawaban yang paling masuk akal agar mimpi swasembada Gula menjadi kenyataan.  Memang akhirnya AREN akan menjadi solusi swasembada gula Indonesia bahkan dunia......

Bagaimana menurut Anda??





2 komentar:

Cholilul Rohman mengatakan...

Saya sangat kagum dengan semangat dan ide Bapak dalam memajukan pergulaan di tanah air kita yg kaya ini, sebelumnya saya jg aktif membaca tulisan Pak Slamet Sulaiman dan belakangan jg membaca tulisan mengenai teknologi membran karya Dr I Gede Wenten yg sangan fenomenal dan revolusioner, bila diperkenankan izin saya bisa menjalin silaturahmi dengan Bapak guna menimba wawasan, salam Cholilul Rohman.

Rahmat Tan mengatakan...

saya setuju pak aren adalah solusi swasembada gula nasional... tp dinegri ini ada namanya mafia yg sengaja menciptakan kondisi seperti ini dengan upaya pembodohan yg sistematis sehingga rakyat khususnya petani tidak tahu bahwa aren juga bisa jd gula putih (kristal),, krenanya pak jagan pernah berhenti untuk terus sebarluaskan informasi ini agar seluruh rakyat bisa tahu... karena saat ini begtu cara yg bisa kita lakukan untuk melawan kepetngan bisnis para mafia2 itu... salam perjuangan pak... ditunggu pembinaannya buat kami rakyat sumatera utara (salam sada roha)