......Tidak lama lagi AREN jadi primadona perkebunan nasional ........

Senin, 17 Juni 2013

Gula Aren, Pemanis Alami Khusus untuk Penderita Diabetes

Gula Aren Aman Dikonsumsi Penderita Diabetes

Biasanya, penderita diabetes selalu dianjurkan untuk mengonsumsi pemanis buatan sebagai pengganti gula pasir. Walaupun pemanis buatan tidak menaikkan kadar gula darah, namun ia memiliki efek samping yang dapat merusak syaraf. Menurut H. J. Roberts, M.D., efek samping pemanis buatan bisa sangat fatal, yaitu kejang-kejang dan kematian. Efek lainnya yaitu: sakit kepala/migrain, pusing, sakit persendian, mual, mati rasa, kejang otot, kegemukan, gatal-gatal, depresi, kelelahan, lekas marah, tachycardia, insomnia, kebutaan, ketulian, jantung berdebar, sesak nafas, kecemasan, gangguan berbicara, kehilangan indra pengecap, telinga berdengung, vertigo, dan lupa ingatan. Jadi diperlukan pemanis lain yang lebih aman dibandingkan pemanis buatan. Pemanis alternatif yang aman tersebut tiada lain adalah gula aren.


Ada empat keunggulan yang dimiliki oleh gula aren. Pertama, rasanya manis dan lezat, pas dengan lidah orang Asia dan Indonesia. Kedua, gula aren memiliki Indeks Glisemik  yang sangat rendah yaitu IG 35, artinya penyerapan glukosa berlangsung lambat sehingga pankreas  tak perlu kerja keras lagi. Jangankan bagi orang sehat, pada beberapa penderita diabetes terbukti turun kadar gula darahnya setelah mengganti gula putih dengan gula aren. Selain itu IG yang rendah membuat glukosa diserap secara perlahan yang berarti pula, energi tercipta secara perlahan sehingga tubuh bugar lebih lama. Ketiga, selama proses pembuatannya, tak ada sedikitpun bahan kimia yang ditambahkan, sehingga lebih aman untuk dikonsumsi. Keempat, gula aren banyak mengandung unsur farmakologi yang bermanfaat seperti Riboflavin, Thiamin, Niacin, Ascorbic Acid, Kalsium dan lain-lain.

Riboflavin membantu pembentukan antibodi, membantu terbentuknya energi, memperbaiki kerusakan sel saat proses produksi energi, dan memperbaiki jaringan sistem pencernaan. Thiamin berfungsi sebagai koenzim dalam metabolisme energi , membantu tubuh menggunakan protein, serta memperkuat sistem syaraf. Niacin berfungsi sebagai koenzim dalam metabolisme glukosa, lemak dan alkohol. Selain itu Niacin juga meningkatkan fungsi kerja otak dan menurunkan kadar kolesterol LDL. Ascorbis Acid memiliki fungsi antibiotik, mencegah asma dan dapat mencegah kanker.

Jadi jika Anda ingin tetap menikmati manis tanpa takut dengan resiko diabetes, pakailah gula aren. Gula aren adalah solusi hidup sehat yang nikmat dan lezat. Kecap, saus, sirup, serta aneka kue basah maupun kering merupakan jenis-jenis bahan konsumsi yang akrab dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.  Pada makanan atau minuman itu biasanya terkandung pemanis. Sering kali masyarakat kurang menyadari apakah pemanis yang ada dalam bahan konsumsi itu aman bagi kesehatan atau tidak. Padahal, tidak sedikit dari makanan atau minuman tersebut menggunakan pemanis buatan yang notabene membahayakan kesehatan.   Demi menghindari efek negatif dari pemanis buatan, seyogianya masyarakat kembali ke alam alias mengonsumsi makanan dan minuman yang dibuat dari gula asli. Salah satu jenis pemanis natural itu ialah gula dari pati-patian (starch sweetener).

Gula aren atau sering juga disebut gula merah merupakan salah satu jenis starch sweetener. Gula aren kerap diasosiasikan pula dengan segala jenis gula yang dibuat dari nira, yaitu cairan yang dikeluarkan dari bunga pohon keluarga palma, seperti kelapa, aren, dan siwalan.   Salah satu jenis tanaman yang masuk keluarga palma ialah pohon enau (Arenga pinnata). Tanaman itu memiliki akar yang kuat dan menjalar ke mana-mana.   Selain menghasilkan nira sebagai bahan baku gula aren, enau memberikan banyak manfaat bagi manusia. Beberapa di antaranya ialah buahnya dapat dibuat kolang-kaling sebagai campuran makanan atau minuman, serta ijuknya untuk resapan air, dibuat sapu atau alas lantai (keset).   Pohon enau yang sudah berusia 15 sampai 20 tahun dapat menghasilkan nira sebanyak 8 liter per hari dan 25 sampai 35 kilogram kolangkaling.   Namun, pada umumnya pohon enau tidak disukai petani, sebab akarnya menjalar ke manamana sehingga merusak tanaman di sekitarnya. Biasanya pohon tersebut tumbuh dan berkembang biak dengan baik di hutan-hutan.

Dadang Gusyana, Information Officer Indonesian Biotechnology Information Center (IndoBIC), mengatakan gula aren yang dihasilkan dari enau berasal dari bunga (mayang) yang belum mekar.
Bunga tersebut diikat kuat, terkadang ditekan dengan dua batang kayu pada bagian pangkalnya sehingga proses pemekaran pun terhambat.   Sari makanan yang seharusnya dipakai untuk memekarkan bunga akhirnya menumpuk menjadi cairan gula, dan bunga pun membengkak.
Setelah proses pembengkakan berhenti, batang mayang diiris-iris untuk mengeluarkan cairan gula secara bertahap. Cairan biasanya ditampung dengan timba yang terbuat dari daun pohon palma tersebut.

Cairan tersebut kemudian diambil secara bertahap, biasanya dua hingga tiga kali pengambilan. Setelah itu cairan dipanaskan dengan api sampai mengental. Apabila sudah benar-benar kental, cairan dituangkan ke mangkuk-mangkuk yang terbuat dari daun palma.  Gula pun siap dipasarkan. “Secara umum, pemanis yang terbuat dari nira aren terbilang alami dan organik karena diproduksi tanpa memakai zat kimia sintetis maupun pewarna buatan,” papar Dadang yang juga alumnus jurusan biologi Universitas Padjajaran, Bandung.

Berdasarkan hasil penelitian Philippine Food and Nutrition Research Institute, diketahui bahwa gula aren memiliki kandungan makro nutrien yang lebih banyak daripada madu dan gula tebu.
Selain itu, gula aren mengandung nitrogen, klorida (Cl), sulfur, dan boron yang tidak dimiliki pemanis lainnya.   Secara alamiah, gula aren yang biasanya digunakan untuk pemanis pada kecap memiliki Index Glycemic (GI) yang rendah. Hal itu menunjukkan gula aren aman dikonsumsi oleh pengidap diabetes atau efektif untuk menurunkan berat badan.   Gula aren melepaskan energinya secara perlahan (slow energy release) sehingga tidak akan terjadi kenaikan atau penurunan kadar gula secara tiba-tiba, terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Sumber : http://jasapembuatanweb.co.id/keluarga/gula-aren-pemanis-alami-khusus-untuk-penderita-diabetes-gula-aren-aman-dikonsumsi-penderita-diabetes

Rabu, 05 Juni 2013

Pohon Industri dan Peluang Ekonomi Tanaman Aren


Aneka ragam jenis Gula


Beragam Jenis Gula


Gula adalah pemanis yang sangat sering kita gunakan dalam setiap kegiatan di rumah anda, banyak sekali kegunaan dari gula, mulai dari memaniskan minuman, memasak,membuat kue, sampai untuk membuat hidangan lebih gurih kita juga menggunakan gula. Ada beragam jenis gula yang biasa kita gunakan, apa sajakah gula yang biasa kita gunakan, berikut ulasan lengkapnya dari Resep-Komplit

1.Gula Pasir

Gula pasir di benus Asia banyak terbuat dari tebu, namun di Eropa bayak terbuat dai bit. Butiran dari gula pasir ada yang halus dan ada yang kasar. Warnanyapun ada yang putih terang dan ada yang sedikit kecoklatan. Butiran yang lembut dan putih, biasa disebut gula kastor biasa digunakan sebagai bahan pembuat kue, karena gula ini mudah larut dan bercappur dengan bahan lainnya. Sedangkan yang berwarna agak kecoklatan banyak digunakan sebagai pemanis di teh, kopi ataupun pemanis lainnya.

2. Gula Merah
Sebutan lain dari gula merah adalah gula jawa. Gula ini banyak terbuat dari aren, kelapa atau buah siwalan. Warnanya dari gelapmuda hingga gelap kehitaman. Banyak di pakai sebagai kinca yang dicairkan lalu ditambah dengan daun pandan. Kandungan gula ini sedikit lebih baik dari gula pasir, itu sebabnya gula ini lebih sehat untuk diet.

3. Palm Zuiker
Disebut juga dengan gula palm, gula semut. Karena bentuk gula ini mirip seperti rumah semut yang ada di permukaan tanah. Gula palm ini merupakan versi dari gula merah bubuk yang sering digunakan untuk membuat adonan cake dengan aroma karamel.

4. Gula Batu
Gula batu ini sebenarnya hampir sama dengan gula pasir, hanya saja pengolahan gula batu ini hanya sampai pada tahap kristalisasi. Bentuknya yang berupa bongkahan, membuat gula ini tidak mudah larut dalam air panas. Gula ini sangat tepat untukmenikmati teh bersama keluarga atau oarang terdekat anda.

5. Brown Sugar
Gula inimerupakan produk gula import yang dibubuhi molases atau sisa pemurnian gula. Gula ini berwarna kecoklatan. Anda dapat membuatnya sendriri dari campuran gula pasir dengan gula molases dengan gula palm.

6. Gula Bubuk
Gula bubuk adalah gula pasir yang diproses hingga berbentu bubuk yang halus. Biasa digunakan untuk membuat cake atu kue kering


Mengenal Jenis Gula

-
Gula adalah suatu zat yang termasuk golongan karbohidrat dengan ciri khas punya rasa manis. Tingkat kemanisan berbagai gula sendiri berbeda-beda, tergantung dari kandungan dan jenis karbohidrat yang ada di dalamnya.

Secara garis besar, zat yang punya cita-rasa manis ini dikelompokkan menjadi tiga bagian: gula, gula alkohol, dan pemanis.

Gula dalam bentuk kimianya kita kenal ada beberapa macam, antara lain:
  • Sukrosa (disakarida). Contohnya: gula pasir, gula merah, gula kelapa, gula aren, gula batu. Biasanya digunakan pada minuman, makanan, dan  permen.
  • Fruktosa (monosakarida). Terdapat pada buah, madu, dan beberapa minuman ringan. Selain dikonsumsi secara langsung, kerap kali disertakan juga dalam berbagai jenis masakan, kue, dan minuman.
  • Glukosa (monosakarida). Contohnya: sirup jagung. Disertakan pada minuman dan makanan.
  • Maltosa (disakarida). Banyak terdapat dalam biji berkecambah.
  • Laktosa (disakarida). Gula yang terdapat pada susu dan produk susu.
Gula alkohol. Jenisnya seperti manitol, sorbitol, xilitol. Gula seperti ini banyak digunakan untuk permen diet.

Pemanis buatan. Contohnya sakarin, siklamat, aspartame dan lain-lain. Biasanya banyak digunakan untuk minuman, makanan, permen, suplemen, dan lain-lain.

Sabtu, 18 Mei 2013

Harapan Swasembada Gula Yang Masuk Akal adalah dengan Perkebunan Aren

Harapan Swasembada Gula Yang Masuk Akal adalah dengan Perkebunan Aren

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Gula cair hasil dari Alat VEDE Pak Slamet Sulaiman itu adalah berasal dari Nira Palma Kelapa yang ciri dan karakteristiknya sama seperti nira Aren.  Maka Pak Slamet pun berani memastikan apa yang dilakukannya bisa juga dilakukan untuk Nira Aren.   Dengan brix sekitar 75 ternyata Gula Cair yang di salah satu sampel Pak Slamet itu sudah membentuk kristal putih yang mengendap di dalam botol.  Kristal gula yang mengendap itu berstruktur lembut dan masih halus dengan volume sekitar 65 % bagian.   Sebenarnya angka kristalisasi itu bisa bertambah jika bahan Niranya memiliki pH di atas 7-8,  diproyeksikan  kristalisasi akan mencapai  hingga 75-80 % hingga yang 20-25 % masih berupa gula cair.

Dengan pHantara  6-7 nira yang sudah sedikit asam masih bisa diolah menjadi gula.  Semakin rendah pH Nira, maka semakin sulit untuk mengolah dan membentuk kristal.  Hal ini terjadi karena pH semakin menurun itu berarti Nira juga mengalami fermentasi semakin lama.  Fermentasi di dalam Nira menyebabkan beberapa perubahan antara ain merubah sukrosa menjadi gula-gula yang lebih sederhana antara lain glukosa dan fruktosa serta gula invert lainnya.  Beberapa gula invert seperti fruktosa tidak bisa mengalami kristalisasi dan selalu dalam kondisi yang cair.  Makanya yang tersisa dari gula yang sedang mengkristal itu karena mengandung bagian-bagian yang tidak bisa mengkristal tersisa dalam bentuk masih cair.  Gula cair sisa pengkristalan ini mengandung fruktosa dan gula invert lainnya yang tidak mengkristal.

Maka jika pH Niranya bisa dijaga di atas angka 7-8 maka fermentasi itu dapat diminimalkan atau dikurangi.  Sehingga terbentuknya gula-gula fruktosa dan gula invert lainnya bisa diminimalkan.  Makanya gula yang tidak mengkristal juga bisa dikurangi, sebaliknya gula kristalnya bisa meningkat dan semakin banyak terbentuk. 

Khusus tentang mengolahan Nira Aren yang akan dijadikan gula putih kristal maka perlu dijaga agar Nira tidak mengalami fermentasi yang terlalu lama.  Dengan sistem pengelolaan tradisional, dimana lama pengumpulan tetesan Nira dari tandan yang disadap itu butuh waktu sekitar 10-14 jam dalam wadah penampungan di atas pohon.  Terjadinya fermentasi akan semakin meningkat jika wadah penampung Niranya tidak bersih dari kemungkinan sisa-sisa mikroba fermentasi terdahulu.  Makanya wadah harus dibersihkan dan sterilkan dari mikroba penyebab fermentasi. 

Mengapa bisa terjadi?   Karena secara alamiah Nira, yang tetesannya itu keluar dari tandan dan kemudian berhubungan dengan udara luar serta menyentuh wadah, akan mengalami fermentasi sendiri setelah 4-5 jam.  Semakin lama mikroba fermentasi terus berkembang biak sehingga fermentasi semakin menjadi-jadi.  Maka bisa dibayangkan jika Nira yang terus menetes itu tertampung di dalam wadah hingga 12-14 jam maka fermentasi pasti sudah terjadi secara alamiah.  Apalagi kalau wadah dan udaranya sudah dicemari mikroba fermentasi, maka fermentasi akan semakin menjadi-jadi.

Dalam sistem perkebunan Aren modern yang akan datang maka Nira Aren yang terus menetes ini tidak perlu harus ditampung dalam wadah di atas pohon.  Nira yang menetes dari tandan yang disadap akan disalurkan dan diteruskan mengalir melalui pipa-pipa dari atas pohon menuju ke bawah.  Nira yang mengalir di dalam pipa itu juga terus mengalir dengan gaya gravitasi.  Nira yang segar dan baru yang terus menerus menetes dari tandan itu seolah juga terus menerus mencuci ruangan di dalam pipa yang dilalui Nira yang selalu segar.  Makanya keadaan pipa itu akan selalu bersih, karena selalu dilewati dan dicuci dengan nira yang selalu segar dan terus mengalir.

Nira yang terus mengalir di dalam pipa itu sudah menjauhi pohon dan terus mengalir di dalam pipa.  Dari pohon yang lain juga mengalir Nira dari tetesan tandan bunga terus menuju pipa.  Seperti Nira dari pohon sebelah, seluruh tetesan Nira dari suatu perkebunan Aren modern itu terus menerus mengalir melalui pipa yang memang berkualitas ‘food grade’ yang diperbolehkan untuk menjaga kualitas pangan.  Semua nira yang mengalir dari masing-masing pohon itu kemudian susul menyusul dan bertemu dalam pipa.  Volume nira yang mengalir semakin banyak karena bertambah dari pohon satu bergabung dengan nira dari pohon sebelahnya.  Maka semakin deraslah aliran nira di dalam pipa itu menuju ke tempat penampungan akhir.

Dalam penerapan pipanisasi nira dari pohon ke pohon di suatu perkebunan Aren yang dikelola secara modern dan bagus, maka aliran nira dijaga terus terjadi dan dihindari nira yang berhenti mengalir atau yang tersumbat.  Menjaga agar nira terus mengalir itu perlu pengawasan terus menerus keadaan instalasi pipanisasi nira dalam kebun.  Bisa saja terjadi pipa terputus karena sambungannya terlepas, atau terpotong karena terkena benda tajam, tertimpa benda yang berat, dan lain-lain.  Bisa jadi nira tidak mengalir karena pemasangan pipanya yang kurang menurun sehingga tidak bisa mengikuti hukum gravitasi dimana air mengalir dari atas atau tempat yang memiliki tekanan atmosfir tinggi ke tempat yang memiliki tekanan atmosfir lebih rendah.  Atau dari tempat yang lebih tingg ke tempat yang lebih rendah.

Namun bisa jadi terjadi penyumbatan oleh partikel-partikel non nira yang terakumulasi di dalam pipa.  Oleh karena itu penting artinya penyaringan nira sebelum nira masuk ke dalam jaringan pipa yang panjang.  Penyaringan bisa dilakukan setelah nira menetes keluar dari tandan, bisa juga penyaringan dilakukan dalam atau ditengah perjalanan yang panjang di dalam pipa.  Penyaringan sebenarnya berprinsip menjebak partikel-partikel non nira yang terikut dalam aliran nira dalam suatu kantong.  Akumulasi kotoran atau partikel-partikel itu mengendap dalam kantong yang dipasang diantara pipa-pipa yang tersambung.    Sehingga petugas pengontrol aliran nira ini tinggal melepas atau mengambil kantong-kantong dan membersihkan kotoran yang terakumulasi sehingga penyaring ini bisa dipasang kembali.

Jika nira mengalir lancar secara terus menerus maka bisa dijamin nira akan tetap segar dan tidak mengalami degradasi karena fermentasi dan cemaran lainnya.  Mungkin nira tidak terlalu lama memerlukan waktu untuk mengalir menuju ke tempat penampungan dan pengolahan selanjutnya.  Jika seandainya lama mulai menetes kemudian mengalir di dalam pipa dan sampai pada tempat penampungan itu kurang dari 1 jam atau 60 menit, maka bisa dipastikan keadaan nira itu pasti masih sangat segar.   Dengan demikian pH masih normal, kandungan gulanya masih asli dan tidak mengalami degradasi oleh sebab fermentasi ataupun proses lainnya.  Maka bisa dipastikan jika mutu niranya sangat prima maka gula yang akan terbentuk itu akan maksimal.

Kalau sudah begitu maka kadar gula yang terkandung dalam nira akan maksimal membentuk gula kristal seperti yang diinginkan.  Seandainya masih ada sisa gula cair yang tidak bisa mengkristal itu memang karena secara alami masih terkandung gula yang tidak terkristalisasi yaitu gula fruktosa namun jumlahnya pasti sangat minimal.  Maka jika kadar gula atau brix nira itu pada angka 12 sedangkan kadar fruktosa dan gula yang tidak bisa mengristal itu minimal, gula kristal yang akan terbentuk akan mendekati brix nira awalnya yaitu sedikit di bawah 12% dari total Nira.

Jika dari setiap hektar kebun Aren yang produkstif nanti bisa menghasilkan 1.000 liter nira setiap hari, maka potensi produksi gula kristalnya akan mencapai 120 kg.   Namun jika brix niranya mencapai 15 maka gula yang akan dihasilkan akan bisa mencapai 150 kg.   Jika rata-rata nira itu brix 12-15 maka peluang produksi gula kristal Aren juga antara 120-150 kg untuk setiap hektar per hari dari kebun Aren tersebut.   Kalau suatu perkebunan memiliki luas efektif 10.000 hektar maka potensi gula kristal yang akan diproduksi akan mencapai 1.200 – 1.500 ton gula kristal per hari.   Atau sekitar 36.000 – 45.000 ton per bulan,  maka dalam setiap tahun potensi produksi akan mencapai  432.000 – 540.000 ton.   Jika dibulatkan sekitar 0,5 juta ton per tahun per 10.000 hektar.

Jika ada beberapa perusahaan perkebunan Aren yang sama hingga mempunyai areal 50.000 hektar, maka akan bisa diharapkan ada produksi gula kristal putih dari tanaman Aren sebanyak 2,5 juta ton.  Ini artinya kita hanya memerlukan 50.000 hektar saja untuk bisa memenuhi kekurangan kebutuhan gula yang selama ini kita impor.  Rasanya lahan seluas itu masih tersedia di beberapa Pulau besar kita seperti Kalimantan dan Papua.  Ini merupakan peluang yang sangat besar bagi daerah-daerah yang ada di Kalimantan dan Papua untuk menjadi penghasil gula terbesar di Indonesia, yang akan menjadi solusi bagi negeri ini untuk memenuhi swasembada gula dan mensubstitusi gula yang selama ini diimpor dari luar.

Bagaimana menurut Anda???

Rabu, 15 Mei 2013

Nira Aren bisa dibuat menjadi Gula Putih

Swasembada Gula dengan Nira Aren

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Kebutuhan gula konsumsi nasional kita adalah gula putih atau gula kristal yang terbuat dari tebu.  Masyarakat Indonesia sudah sangat biasa mengkonsumsi Gula putih sebagai kebutuhan makanan dan minuman sehari-hari.   Bahkan di restauran, warung dan cafe-cafe selalu menggunakan Gula pasir untuk bahan pemanis dari minuman dan juga makanan.

Dominansi tebu sebagai bahan baku gula sedemikian akut, masif  dan terstruktur, sehingga sudah menjadi budaya dan hampir menjadi 'idiologi' dalam menu minuman dan makanan Indonesia.   Gula-gula lain yang sebelumnya ada menjadi dilupakan dan ditinggalkan bahkan diremehkan.  Sebelum jaman kolonialisme Belanda, tepatnya masa-masa kerajaan dulu, gula yang dikenal adalah gula merah, gula kelapa atau gula Aren.

Selama ini gula palma hanya dikenal sebagai Gula yang berwarna merah atau cokelat.  Dan bahkan akhirnya muncul anggapan bahwa hanya tebu lah yang bisa diolah menjadi gula putih,  sedangkan Nira dari Palma seperti kelapa, Aren dan Nipah tidak bisa menjadi Gula Pasir atau Gula Putih.  Anggapan ini akhirnya seolah menjauhkan tanaman Palma mendampingi Tebu dalam menyumbang bahan baku Industri Gula Pasir dan Gula Putih.  Jadi sampai sekarangpun belum diperhitungkan bisa menggantikan fungsi Tebu sebagai bahan baku utama Gula Pasir.

Seminggu yang lalu saya ditunjukkan oleh Pak Slamet Sulaiman bahwa Gula Aren bisa dibentuk menjadi Gula Kristal, Gula Pasir maupun Gula Putih seperti Gula yang ada di pasaran.   Sudah lama hal ini diketahui oleh Pak Slamet, bahkan hasil uji cobanya selama ini di Pabrik Gula Mininya yang ada di Jombang Jawa Timur.   Kenyataan ini membuat keyakinan Penulis semakin besar bahwa tanaman Aren nanti bisa diandalkan sebagai bahan baku utama Gula Nasional kita menggantikan tanaman Tebu selama ini.

Dari Areal Tebu yang hampir mencapai 400 ribu hektar di seluruh Indonesia dengan produktifitas sekitar 6 ton Gula Pasir per hektar lahan maka sebenarnya produksi nasional kita hanya sekitar 2,4 juta ton.  Maka bisa dimengerti kalau saja Indonesia masih terus mengimpor Gula.   Dalam hal industri Gula dengan bahan baku tebu, sesungguhnya Indonesia sudah mengalami masa-masa jenuh yang amat sangat :

1.  Sudah sangat sulit untuk bisa menambah areal tanam Tebu.  Karena selama ini areal tebu selalu mengesesr areal lahan tanaman pangan, sawah dan lahan-lahan palawija dan tanaman semusim lainnya.
2.  Mengatasi industri yang umur mesinnya sudah sangat lama agar bisa lebih efisien dan tidak banyak mengalami kehilangan produksi.
3.  Sistem manajemen industri dari hulu dan hilir sudah menjadi kebiasaan dan budaya yang mendarah daging.
4.  Sistem tata niaga dan perdagangan gula serta adanya kepentingan terhadap langgengnya usaha importasi yang selama ini berjalan secara mapan, tentu akan sulit untuk merubah diri ke luar keadaan yang sudah nyaman.
5.  Budaya dan pola makan serta pola konsumsi yang terjadi akan memerlukan waktu dan energi yang panjang dalam merubah kebiasaan masyarakat.



Beberapa tulisan sebelumnya Penulis juga sudah banyak menguraikan tentang kehebatan produksi Nira dari tanaman Aren.  Nira Aren juga bisa diolah menjadi Gula putih sebagaimana Nira Tebu.  Produksi Nira Aren dari suatu perkebunan Aren yang dikelola secara intensif mampu mengalahkan dan bahkan melipatgandakan hasil Gula pada luas areal yang sama pada tanaman Tebu.   Produksi Nira Aren bahkan dapat dihasilkan setiap hari  sepanjang tahun.    

Dengan demikian nanti pabrik gulanya akan beroperasi setiap hari.  Tidak seperti pada Pabrik Gula berbasis Tebu seperti selama ini,  pasti ada upacara untuk memulai musim giling tebu.   Karena panen tebu tidak bisa dilakukan sepanjang tahun dan akhirnya menggiling tebu juga tidak bisa dilakukan sepanjang tahun.   Musim tanam tebu dan musim panen tebu dibatasi oleh keadaan iklim, apakah musim kemarau atau musim penghujan.

Sedangkan kebun Aren setiap hari akan selalu menghasilkan Nira Aren sepanjang tahun, tidak pernah berhenti baik musim kemarau ataupun musim penghujan.   Maka nanti kalau Pabrik Aren beroperasi, maka tidak dikenal dengan upacara Panen Tebu, Buka Giling atau Upacara Pabrik Gula  lainnya.  Ritual yang biayanya juga besar itu nanti akan menjadi kenangan saja.

Maka pabrik Gula pun akan dibangun lebih murah.  Biaya investasi untuk membuat Pabrik Gula berbasis Aren akan jauh lebih murah dibanding membuat Pabrik Gula berbahan Tebu.   Dari kebun Aren lang sung akan diperoleh Nira yang sudah siap diolah.  Sedangkan kalau dari kebun Tebu akan dihasilkan batang-batang tebu yang penuh dengan kotoran.  Nira dari Tebu akan diperoleh jika batang-batang Tebu yang berat itu diangkut dari kebun hingga menuju pabrik dengan menggunakan truk-truk pengangkut, atau lori-lori yang melewati rel-rel seperti kereta api.  Di Pabrik batang-batang tebu itu kemudian digiling dengan alat-alat yang besar dan amat berat.   Nira yang diperas dari alat mesin itu kemudian masih harus dimurnikan dan dibersihkan.  Memang Pabrik Gula dari Tebu ini terlihat sangat rumit dan biasanya agak kotor.



Maka jika Pabrik Gula berbahan baku Nira Aren yang dihasilkan dari kebun Aren, akan terlihat begitu sederhana dan tidak terlalu rumit.  Pabrik Gula berbasis Nira Aren nanti akan lebih simpel dan lebih praktis.  Penggunaan teknologi Mikro-Ultra Filtrasi, Teknologi Membran dan Reverse Osmose pasti akan menyumbang kondisi pabrik yang lebih Smart.    Demikian juga teknologi Vacuum Evaporator Multiple Effect dan turunannya pasti akan dapat mewujudkan Gula Aren menjadi berbagai jenis Gula sekehendak kita mau,  apakah gula cair, gula cetak, gula serbuk ataupun gula kristal putih.

Peluang itu amat besar.  Swasembada Gula tidak akan menjadi mimpi-mimpi abadi seperti selama ini karena harapan dengan bahan baku Tebu sangat sulit mewujudkannya.   Aren akan menjadi jawaban yang paling masuk akal agar mimpi swasembada Gula menjadi kenyataan.  Memang akhirnya AREN akan menjadi solusi swasembada gula Indonesia bahkan dunia......

Bagaimana menurut Anda??